Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
MALIK TIBA DI MEDAN


__ADS_3

Gelegar suara membangkitkan. Semangat bergelora karena dorongan. Langkah mulai tegas mengayun tujuan. Tidak ada yang dibanggakan jika tanpa mu kurasa. Jiwa kerdil bak debu beterbangan. Jika sudah mengingatkan Kebesaran Nya. Mulai meniti jalan - jalan yang berlubang. Kamu adalah semangat ku dan akan terus menjadi tenaga ku dalam mencapai tujuan hidup. Harapan - harapan nyata bersama mu. Akan terwujud bersamamu. Walaupun masih dengan bayangan mu yang selalu beraembadi dalam ragaku. Walaupun masih dengan mimpi itu yang datang tersenyum padaku. Aku dan kamu harus menang melawan waktu.


Laki - laki tinggi besar dengan membawa tas koper nya berdiri di depan pusat perbelanjaan. Perhatiannya ke kanan dan ke kiri seolah menanti seseorang yang akan di nantikan nya. Kaca mata hitamnya menutupi matanya. Bodylinguistik nya masih terlihat kegelisahan nya menunggu kedatangan seseorang.


Di ambilnya ponselnya yang di dalam sakunya. Dia mencoba menghubungi nomor yang tertera dengan salah satu nama kontaknya yaitu ' Nafasku'. Apakah di zaman sekarang ini masih ada laki - laki yang masih mengutamakan hati dan perasaannya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis? Bukankah zaman sekarang ini, sudah banyak yang mengesampingkan itu semua. Hubungan diantara keduanya berdasarkan suka sama suka, asal mau dan mau lanjut berjalan. Tidak ada komitmen dan hanya mengutamakan kepentingan dan kepuasan sementara.


Sosok laki-laki itu tidak lain adalah Malik. Dari kota Semarang sengaja datang ke Medan untuk menjumpai Andini dan akan bekerja sebagai sopir pribadi nya. Semua dilakukan agar bisa dekat dan tidak terpenjara oleh rasa rindu yang setiap hari menyiksanya nya. Terlihat Malik sudah menghubungi seseorang dan mulai berbicara melalui sambungan ponselnya.


" Aku tunggu kamu, sayang!" kata Malik melalui pembicaraan ponselnya.


" Oke! Sabar! Sebentar lagi sampai kok." sahut Andini melalui panggilan masuk nya.


" Berapa lama?" tanya Malik lagi.

__ADS_1


" Ini ada di seberang jalan. Kamu lihatlah ke depan. Aku bawa mobil jazz warna putih. kata Andini.


" Oh itu yah!" sahut Malik sambil mematikan ponselnya dan berusaha menyeberang jalan ke arah mobil jazz putih yang di maksud.


Di kejauhan, Andini sudah membukakan kaca mobilnya. Tangannya melambai ke arah Malik. Senyuman nya mengembang. Sangat manis sekali. Sang pujaan hatinya tiba demi dirinya.


" Hai!" sapa Malik sambil mengulurkan tangannya dan masuk ke dalam mobil jazz putih itu.


" Maaf yah, telat menjemput nya. Tadi ada meeting di kantor. Harus menemani pak bos dulu dan mencatat dan merangkum semua hasil nya." cerita Andini.


" Erlangga?" tanya Malik ketus.


" Iya! Pak bos nya Erlangga." sahut Andini terkekeh melihat kecemburuan Malik.

__ADS_1


" Aku mau ke penginapan dulu!" kata Malik dengan nada keras.


" Tidak ke kantor dulu. Langsung menjumpai pak bos, agar besok bisa langsung kerja. Lagi pula, nanti kamu bisa tinggal di rumah." ucap Andini.


Malik menatap tajam Andini. Malik tidak percaya. Demi cintanya, ia rela melakukan apa saja supaya dekat dan bisa sewaktu - waktu memeluk wanita yang sudah mencuri jantung nya itu.


" Aku tinggal di rumah kalian? Dan aku harus setiap waktu melihat dan menyaksikan kemesraan kalian berdua. Apakah kamu tidak punya hati, Andini? Aku harus menahan sesak dan cemburu ketika melihat suami kamu ber manja dengan kamu demikian dengan kamu." kata Malik panjang.


" Oke! Oke! Apa mau kamu?" tanya Andini.


Malik menatap tajam ke arah Andini. Setelah lama, pandangan nya mulai me lembut. Bukan kesalahan Andini jika ia harus menyaksikan kebersamaan mereka berdua. Dialah yang menginginkan untuk mendekati Andini di kota Medan itu.


Resiko harus diterima Malik. Hati nya akan selalu tersayat dan tercabik-cabik tatkala melihat keromantisan dan perhatian sepasang kekasih itu nantinya.

__ADS_1


__ADS_2