
Hari ini tidak ada ide. Ide untuk membuat kamu bahagia. Melihat kamu tertawa atau sekadar tersenyum pun, aku turut senang. Bagaimana tidak? Kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hati dan pikiran aku. Aku akan teriris pedih ketika mendengar kesedihan yang kamu alami. Aku ikut terbakar api amarah, tatkala emosi kamu meluap tak terkendali. Aku ikut tersenyum, saat kamu meluapkan kebahagiaan kamu dalam gelak tawa yang terbahak.
Aku akan menjadi mainan anak-anak, yang memberi kegembiraan. Aku akan menjadi perahu kertas, yang tanpa beban mengikuti arus air yang mengalir. Aku pun akan menjadi awan putih yang menggumpal memberi arti keteduhan. Aku akan menjadi air itu yang mengaliri tanah tandas nan kering. Aku akan menjadi syurga mu, menjadi tempat terindah istirahat mu.
Andini saat ini sedang berada di rumah sahabatnya, yaitu Diana. Diana adalah kawan sekolahnya ketika duduk di bangku SMA. Bersama Diana, Andini sering menghabiskan waktu bersama. Diana memiliki paras yang manis dengan rambut pendeknya. Kebiasaan Diana sejak dari dulu selalu menyukai rambut pendek. Berbeda dengan Andini yang menyukai rambut panjang. Perbedaan jenis rambut mereka terlihat jelas. Andini memilik' rambut yang lurus sedangkan Diana dengan rambut yang agak ikal.
Walaupun sudah bersahabat sudah lama, Andini masih terbilang tipe orang yang introvert. Tidak semua permasalahan pribadinya selalu di umbar dan diceritakan kepada Diana. Apalagi masalah percintaan yang yang terbilang rumit dengan Malik. Tentu saja rumit, karena Andini sudah memiliki suami yaitu Erlangga yang notabene laki- laki yang cukup ideal di mata wanita. Selain mapan, Erlangga memiliki tipe yang romantis, penuh kasih sayang dan sangat perhatian. Dan yang paling utama, Erlangga tidak mudah membuka hatinya dengan sembarang wanita. Tipe setia yang tidak semua laki - laki miliki jika sudah banyak duit.
" Woy! Apa yang sedang kamu pikirkan, say?" sentak Diana yang membuat Andini membelalak matanya lalu tersenyum manis ke arah Diana.
" Tidak ada!" jawab Andini asal.
" Walah! Kamu masih suka main rahasia saja sejak dari dulu." kata Diana sambil melempar bantal kecil yang ada di kursi sofa.
" Eh?? Diana loh!" sahut Andini.
" Hayo cerita dong! Kamu selalu tidak jujur dengan aku dari dulu. Lalu, aku anggap apa hah?" ujar Diana yang pura - pura cemberut dan marah.
__ADS_1
"Walah nanti sajalah aku akan cerita. Aku ingin bakso yang super pedas yang kamu belikan untuk ku tadi. Yuk aku boleh makan sekarang kan?" kata Andini sambil berdiri dan melangkah kaki nya ke meja makan.
Diana mengikuti Andini ke belakang menuju ruangan belakang.
" Benar yah! Awas kalau nanti kamu tidak cerita semuanya padaku! Tidak akan aku kasih pintu keluar dari rumah aku ini." ancam Diana.
" Hahaha! Sejak kapan kamu berani mengancam aku?" tanya Andini.
" Sejak kamu mulai suka melamun dan senyum - senyum sendiri. Seperti orang gila atau lebih tepatnya sedang jatuh cinta." ungkap Diana.
" Iya! Memang aku sedang jatuh cinta!" Andini mulai bercerita.
" Kenapa kamu? Tidak pernah lihat orang cantik seperti aku? Lihatnya sampai tidak berkedip gitu loh!" ucap Andini sambil menikmati bakso yang sudah di siapkan di atas meja.
" Aku tidak yakin saja, kamu soalnya sejak dari dulu tipe nya dingin dan super cuek." kata Diana.
" Aku jatuh cinta lagi, Diana! Tapi bukan dengan suami aku, Erlangga." cerita Andini.
" What??" teriak Diana hampir bakso yang bulatan kecil yang ada di mulutnya itu ke Telen tanpa di kunyah.
__ADS_1
" Hahaha! Kenapa kamu se histeris itu? Ini sudah biasa terjadi dan dialami wanita bukan?" tanya Andini.
" Tapi? Kamu kan sudah memiliki suami dan sudah berkeluarga. Kamu kenapa bisa jatuh cinta lagi dengan pria lain? Kamu sudah gila, Andini." kata Diana.
" Iya! Aku sudah gila!" sahut Andini.
" Lalu siapa pria yang beruntung mendapatkan cintamu itu?" tanya Diana.
" Apa kamu bilang? Pria yang beruntung?" ujar Andini.
" Iyalah! Bukankah selama ini kamu susah sekali untuk jatuh cinta. Dahulu saja dengan Erlangga, karena kasihan menerima cinta Erlangga. Entah sekarang ini, kamu sudah memiliki rasa dan jatuh cinta tidak dengan Erlangga." ungkap Diana.
" Aku sayang dengan Mas Erlangga kok!" sahut Andini.
" Lalu siapa pria itu?" tanya Diana.
" Kamu tidak mengenalnya, Diana!" jawab Andini akhir nya lalu tidak memperdulikan ocehan Diana. Andini lebih tertarik dengan bakso yang ada di depannya. Melahap nya habis sampai kuah nya yang super pedas.
" Andini!!!" teriak Diana yang merasa di cuekin.
__ADS_1