
Pagi telah pergi. Mentari pun sudah tiada bersinar lagi. Awan gelap sudah mulai berarak-arak menyusun kegelapan malam. Taburan bintang - bintang sudah mulai kelap - kelip cahayanya. Alam mulai memperlihatkan keindahan nya. Suasana semesta ceria menyongsong semangat yang membara.
Malik dan Andini masih terbaring di hotel, dimana mereka melepaskan segala kerinduan dan api asmara nya yang sudah sekian lama terpendam. Dalam peraduan yang mewah dan empuk itu, Andini membenamkan kepalanya di atas dada bidang Malik. Malik dengan puas memeluk Andini dengan hangat. Mereka seperti sepasang kekasih yang tidak ingin terpisah kan lagi. Bagi mereka berdua dunia ini harus dinikmati. Api kerinduan yang memuncak itu harus ter padam kan. Dan saat ini lah, mereka sudah meluapkan dan meredamkan segala api itu dalam hasrat yang tak terbendung kan.
" Kamu tidak lapar, sayang?" tanya Malik kepada Andini.
" Nanti saja! Masih tanggung!" jawab Andini.
" Kamu mau lagi?" tanya Malik sambil tersenyum nakal.
Andini melotot tajam matanya. Senyum nakal Malik makin terlihat menggoda Andini. Kini Andini mulai bereaksi. Tidak ada celah lagi bagi Malik. Andini mulai menguasai Malik. Malik hanya tersenyum melotot melihat reaksi Andini yang nakal dan brutal.
__ADS_1
" Sayang! Jangan kamu kuras tenaga kamu hari ini. Masih ada hari esok yang bisa kita lalui bersama - sama loh." ucap Malik sambil terkekeh.
" Besok belum tentu ada kesempatan. Waktu kamu, akan banyak tersita dengan menjadi sopir perusahaan. Dan kamu akan menjadi sorotan Erlangga." kata Andini.
" Oh ya! Aku akan menculik kamu sesekali waktu, jika kamu sangat sibuk dengan kerjaan kantor." sahut Malik tidak mau kalah.
" Kamu memang nakal!" kata Andini sambil menggigit leher jenjang milik Malik.
" Aduh! Sayang, jangan kau sakiti aku dong!" teriak kecil Malik sambil terkekeh.
" Tidak! Tidak! Aku tidak akan sanggup melihat kemesraan kalian berdua. Melihat kamu dengan Erlangga duduk bermanja-manja an di kursi sofa maupun sedang duduk santai di taman." alasan Malik.
__ADS_1
" Seperti itu saja, apakah cemburu?" tanya Andini.
" Tentu saja! Kamu tidak akan merasakan penderitaan ku ketika mengingat akan hal bahwasanya kamu sudah milik Erlangga. Ketika kemarahan itu muncul, rasanya aku ingin menikam jantung Erlangga yang sudah berani mengambil nama mu di hatinya. Dia mencuri hatimu. Aku sungguh tidak rela." ucap Malik.
" Weleh. Itu sangat berlebihan sekali. Bohong banget loh kamu, Mas!" sahut Andini.
" Andini! Bukankah aku sudah katakan. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku sudah menggilai mu sejak lama dan sampai kini pun. Penderita asmara ini, jangan sampai kamu merasakannya. Aku sungguh tidak ingin kamu menderita karena cinta semacam ini. Ini sungguh - sungguh menyiksa Andini." cerita Malik.
" Hahaha! Kamu bohong banget mas! Terlalu pandai merangkai kata - kata dan merayu. Cukup! Aku akan kerjain kamu sampai pingsan." kata Andini sambil tersenyum dan menguasai Malik.
Mereka kembali melakukan sesuatu yang pernah mereka lakukan sewaktu di Semarang. Awalnya, mereka selalu menjaga hubungan asmara itu tanpa ada hubungan badan. Tetapi ketika sudah terjadi sekali di Semarang, akhirnya mereka mulai ter candu. Dan ini adalah kali kedua mereka melakukan hal itu.
__ADS_1
Mereka adalah laki-laki dan wanita dewasa. Hubungan asmara semacam apa lagi yang akan mereka lakukan kalau tidak hubungan badan. Itulah jalan akhir dalam menyelesaikan rasa rindu dan cinta. Di aplikasi kan dalam bentuk sex yang saling memberi dan menerima. Saling memberikan kenikmatan satu sama lain.
Apakah ini adalah cinta yang sesungguhnya? Pada akhirnya di akhiri tempat peraduan. Saling bersentuhan, saling berbagi, saling bercengkrama, menyatukan dua hati dalam satu rasa.