
Aku bukan lah wanita sempurna yang kau angankan. Aku tidak seindah khayalan yang kau impikan. Aku hanya sekumpulan tulang yang berbalut daging kering kerontang. Aku bukan bidadari yang menarik matamu. Aku hanya wanita biasa yang memiliki hati dan rasa. Rasaku akan sakit sesakit derita cinta kita yang tak bertepi. Menahan kerinduan yang tak berujung.
Aku pulang! Membawa kekecewaan atas segala hasil cintamu terhadap ku. Penyebab dendam mu karena cintaku yang berpaling dari mu. Semua bukan inginku. Karena aku tidak mampu menepis gejolak rasa cinta yang baru selain dari mu. Tapi biar lah! Tak akan ku sesali lagi karena aku sudah memilih mu dan mulai meninggalkan mu.
" Andini!" kata Ibu yang sudah mulai berkeriput di wajah dan kulitnya.
" Iya, bunda!" sahut Andini dengan sopan.
" Apakah kamu mau menceritakan semuanya? Kenapa kamu bisa seperti sekarang ini?" tanya wanita yang dipanggil Andini dengan sebutan Bunda.
" Iya Bunda! Nanti akan saya ceritakan semuanya, tidak lebih dan kurang." jawab Andini dengan ramah.
" Bunda sangat prihatin dengan keadaan kamu saat ini." sahut Wanita itu lalu merengkuh tubuh kurus milik Andini.
" Bunda! Alhamdulillah saya masih bisa sampai di rumah ini dan bertemu dengan Bunda." ucap Andini yang terdengar serak karena kesedihan dan keharuannya di dalam pelukan Bundanya.
" Iya, kamu benar nak! Sudah satu tahun ini kenapa kamu tidak pernah memberikan kabar. Kiriman uang darimu tidak sampai juga. Bukan uang yang bunda harapkan dari kamu Andini, tapi kabar dari kamu yang membuat Bunda mengkhawatirkan dirimu." ungkap wanita itu yang tidak lain adalah ibu kandung dari Andini.
" Maafkan saya bunda. Bunda menjadi mengkhawatirkan saya. Nanti akan saya ceritakan semuanya, yang pasti bermula dari sayalah yang melakukan kesalahan itu. Sehingga semua ini terjadi." cerita Andini sambil meneteskan air mata nya.
" Sudahlah nak! Kita makan dulu yah, nak! Kamu seperti tidak terurus dan terawat. Dan wajah kamu kenapa menjadi seperti ini, anakku?" kata wanita itu dengan wajah yang penuh iba dan prihatin.
" Tidak apa-apa, bunda! Saya akan baik-baik saja, yang terpenting Bunda sehat dan tidak kurang suatu apa. Saya setelah ini akan bekerja keras untuk bunda." kata Andini.
" Oh anakku, Andini!" sahut Bunda itu tangisan nya pecah sampai suara tangisannya mengisi ruangan rumah yang sederhana itu.
" Bunda! Jangan menangis lagi! Saya tidak sanggup jika melihat Bunda sedih dan menangis begitu. Saya tidak apa-apa Bunda. Saya baik-baik saja." ucap Andini sambil mengusap punggung milik wanita tua itu.
" Anakku, kenapa kamu jadi begini nak!" teriak bunda itu semakin kencang tangisnya.
__ADS_1
" Bunda! Jangan seperti itu. Sudah..sudah Bunda! Saya baik- baik saja, apa yang di sedih kan lagi." sahut Andini sambil mengusap punggung dan tangan milik. bundanya.
Wanita tua itu akhirnya berhenti dengan tangisan histerisnya. Ia lalu menyeka air mata yang mengalir deras di pipinya. Ditatapnya wajah putri kesayangannya itu dengan kasih dan kelemahannya. Tangan yang mulai keriput itu mengusap lembut wajah putrinya yang masih banyak luka sayatan di wajah itu. Perban nya sudah dilepas nya sehingga terlihat jelas luka sayatan yang masih baru itu.
" Baiklah nak! Mari kita makan dulu. Setelah ini aku akan memijit dan me lulur tubuh kamu, agar lebih segar." kata Bunda Andini.
" Terimakasih Bunda!" sahut Andini dengan senyuman nya.
*******
" Andini! Ini Putra, anak dari pak lurah. Nak Putra ini lah yang sering menjenguk, bunda mu di rumah ini. Dia sering membawakan makanan untuk bunda." cerita Bunda Andini ketika mereka sedang duduk di kursi kayu depan rumahnya, ada Putra yang datang mengantarkan makanan untuk Bundanya Andini.
" Oh! Terimakasih banyak, Mas Putra!" kata Andini sambil menjabat tangan milik Putra.
" Oh iya, sama- sama." sahut Putra tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan milik Andini.
" Duduklah, nak Putra! Ibu buatkan minumannya untuk kamu. Mau kopi atau teh?" tanya Bunda Andini.
" Tidak, cuma air doang!" sahut Bundanya Andini.
Wanita tua itu masuk kedalam rumah membuat kan minuman untuk tamunya sambil membawa makanan yang dibawakan oleh Putra untuk dirinya.
" Kamu baru datang?" tanya Putra memulai pembicaraan.
" Iya!" jawab Andini singkat.
" Bunda kamu, banyak bercerita tentang kamu." kata Putra sambil menyalakan rokoknya.
" Maaf yah, aku merokok!" tambah Putra.
" Iya tidak apa-apa!" sahut Andini.
__ADS_1
Andini diam menerawang jauh ke langit yang gelap malam ini. Ingatannya masih tertuju pada Malik. Kerinduan itu masih terpendam dan masih belum kuasa di hapus nya. Rasa itu begitu menyiksa dan menyesakkan dada. Andini mulai menghela nafasnya, tatkala menyadari keadaannya sekarang yang sudah tidak mulus seperti dahulu.
Diam- diam Putra mengamati Andini yang sedang melamun. Putra melihat kondisi Andini saat ini.
" Aku punya kenalan di kota, dia punya klinik kecantikan. Kalau kamu ada waktu, aku bisa menjemput kamu dan mengajakmu ke sana. Luka-luka di wajah kamu bisa diobati tanpa ada bekas lagi." kata Putra sambil menatap wajah Andini.
" Eh?" Andini terkejut dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
" Terimakasih banyak! Tapi untuk saat ini, aku masih nyaman dengan wajah ku seperti ini. Luka ini akan mengingatkan aku, akan kesalahan ku terhadap masa lalu. Setidaknya aku akan lebih berhati-hati lagi untuk melangkah." ucap Andini sambil melihat pohon kelapa yang tinggi menjulang yang tidak jauh dari rumahnya berada.
" Apakah kamu menyesali setiap apa yang terjadi terhadap diri kamu? Apakah kamu menyalahkan Tuhan kamu?" tanya Putra dengan tersenyum.
" Tidak, mas! Semua yang sudah aku jalani, aku siap menanggung segala resiko dan konsekuensinya. Aku tidak akan menyesal apa yang sudah menimpaku. Ini adalah pilihan hidupku, mas!" jawab Andini lalu melirik ke arah Putra.
" Baguslah! Kamu wanita yang tegar tampaknya!" sahut Putra.
" Oh iya Mas Putra! Apakah ada pekerjaan yang bisa aku kerjakan?" tanya Andini.
Putra malah melongo tidak percaya kalau wanita muda ini meminta pekerjaan untuk nya.
" Ada!" jawab Putra singkat.
" Benarkah? Apakah aku bisa bekerja besok? Aku ingin memulai segalanya disini. Ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Bundaku di masa-masa tuanya. Aku adalah anak satu-satunya yang diharapkan bisa membahagiakan, nya." kata Andini.
" Jadi asisten pribadi ku, mau?" sahut Putra sambil melihat Andini.
Andini hanya bisa melongo melihat putra berucap seperti itu.
" Mas putra bercanda! Saya sudah berwajah rusak dan penampilan saya sudah berantakan gini." kata Andini.
" Makanya dari itu, besok akan saya bawa kamu ke klinik kecantikan terlebih dahulu. Bukankah kamu ingin memulai karir mu disini, bersama aku. Aku akan membantu kamu." kata Putra serius.
__ADS_1
Andini hanya diam sambil menundukkan kepalanya.