Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
KE RUMAH MALIK


__ADS_3

Andaikan aku bisa merubah keadaan. Mengenali mu lebih awal. Bukan seperti sekarang yang menjadikan ruang gerak ku terbatas. Memiliki kamu seperti terhalang tembok tebal. Aku tidak berdaya walaupun hanya meraih jemari mu yang lentik nan indah. Aku tiada berdaya merengkuh mu walau sebentar. Bantu aku dengan derita panjang karna rasa yang tak tertumpah.



Andaikan bunga ini bisa ku selipkan di telingamu. Kan ku bisikan pelan kata indah. Kata cinta di seluruh dunia ini hanyalah untuk kamu seorang. Wanita ku yang sangat ku puja. Kamulah laksana bidadari surga. Tiada celah dan lemah. Dimata ku engkau begitu sempurna. Menjadikan bola mata ini tak mampu memalingkan wajah. Duhai kekasih hati. Bantulah aku dalam dahaga ini. Aku dalam kesakitan yang tak disembuhkan. Hanyalah kamu obat mujarab pengobatnya. Ulurkan tanganmu dan genggam lah dengan hangat. Agar aku dapatkan damai dan tentram ketika bersamamu dekat.


" Malik!" panggil Andini.


" Hem?" sahut Malik dengan penuh kelembutan.


" Kita mau kemana lagi?" tanya Malik.


" Ke rumah aku!" jawab Malik.


" Hah?" sahut Andini dengan bola yang membulat.


" Jangan kwatir! Aku tinggal di rumah sendiri. Sudah satu tahun ini aku membeli rumah baru dan terpisah dengan kedua orang tua ku. Keberhasilanku dalam menangani proyek itu, menjadikan kesuksesan yang gemilang di kerjaan ku. Sekarang atau nanti, aku bakal siap jika hidup dan menghidupi kamu Andini." ungkap Malik dengan semangat.


Andini menatap lekat bola manik Malik yang bersemangat bercerita.

__ADS_1


" Syukurlah! Aku ikut senang akan keberhasilan dan kesuksesan usaha mu, Malik." ucap Andini dengan senyuman manis nya.


" Apakah kamu ikut senang mendengar nya, Andini?" tanya Malik.


" Tentu saja! Kamu sukses dengan segala usaha - usaha kamu. Apalagi jika kamu sudah menemukan kebahagiaanmu." ungkap Andini jujur.


" Kebahagiaan ku sekarang adalah jika aku bisa memiliki kamu seutuhnya. Tidak seperti sekarang ini, terbatas oleh tembok yang tinggi dan tebal. Terhalang gunung tinggi yang menjulang. Aku sungguh tidak berdaya." kata Malik dengan pandangan ke depan.


Laju mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang. Andini hanya mampu menatap Malik yang menyetir dengan pandangan ke depan.


" Aku minta maaf, Malik!" ucap Andini pelan.


" Tidak apa-apa. Aku yang salah." sahut Malik sambil melirik Andini yang duduk di sampingnya.


" Iya! Kenapa tidak sedari dulu aku mencari kamu dan mengejar kamu lebih dari awal. Ketika aku berhasil menemukan kamu, kamu sudah menjadi milik orang." cerita Malik.


" Oh. Apakah kita belum berjodoh yah?" tanya Andini.


" Saat ini kita sudah berjodoh. Jodoh bertemu. Hehehe. Iya hanya sebatas itu." ungkap Malik lesu.

__ADS_1


Jalanan masih lenggang. Mobil merah itu lancar melewati jalan lurus dan berkelok. Malik dengan konsentrasi mengemudikan mobilnya ke jalan menuju kediaman nya.


" Di rumah kamu, sungguh - sungguh tidak ada orang selain kamu, yah?" Andini bertanya lagi.


" Ada! Pak Didik yang membantu dan menemani aku di rumah itu. Selain itu, Pak Didik, bertugas bersih - bersih rumah dan pekarangan. Kamu jangan kwatir! Pak Didik tidak suka ikut campur segala urusan pribadi aku, Andini." cerita Malik.


" Tentu saja! Siapa yang berani melawan majikannya? Kalau tidak ingin dipecat?" sahut Andini.


" Hehehe." Malik terkekeh sambil melihat ke arah samping.


" Aku ingin sate kambing, boleh tidak?" kata Andini sedikit memohon.


" Oh ho! Tentu saja boleh!" sahut Malik dengan tersenyum.


" Selain itu, aku mau kelapa muda." tambah Andini sambil tersenyum.


" Boleh! Sekalian pohon nya tidak?" sahut Malik sambil tersenyum.


Andini dengan refleks mencubit pinggang Malik.

__ADS_1


" Eh Andini! Awas! Aku lagi nyetir loh!" kata Malik.


" Eh maaf!" sahut Andini sambil tersenyum.


__ADS_2