
Apakah kamu sudah menjadi tawanan cintaku? Terborgol oleh rasa yang sulit di singkirkan. Terpenjara oleh tembok tinggi tebal.
Kekuatan bukan hanya berasal dari pukulan, tendangan, tamparan ataupun yang lainnya. Kekuatan terhebat datang dari hati yang besar. Bahkan angin yang lembut pun bisa menghancurkan semesta. Seperti kokohnya pondasi gunung tertinggi,mampu hancur dengan guncangan dahsyat nenek bumi yang menggeliat. Demikian halnya cinta. Jika cinta itu sudah menguasai jantungnya, di bawah sadar pikirnya tidak mampu berakal sehat. Dunia bak cacing kepanasan, jika rasa rindu itu menggelitik jiwa. Sehari tidak berjumpa serasa kehausan sepanjang masa. Dahaga yang tak kunjung terpuaskan karena kasihnya yang belum di lihatnya.
*******
Di dalam kamar tamu, Malik masih dalam kegelisahannya di atas kasur itu. Mata nya menerawang ke langit-langit kamar itu. Sesekali menghidupkan televisi yang di pajang di dinding ruangan kamar itu. Sejauh ini tekadnya makin jelas, hanya terpaku pada sosok Andini. Perasaannya masih sangat jelas. Hatinya masih belum berubah, terpaut dan terpatri pada wajah putih bersih yang menyimpan kelembutan dan kasih sayang.
Di ambilnya ponselnya yang ada di genggaman nya. Tangannya mulai usil mengetikkan sesuatu di sana. Satu nama masih jelas tersimpan didalamnya, di ponsel pribadinya itu. Andini yang di sebutnya dengan 'My queen'. Malik, begitu sangat memuja Andini dalam segala hal. Entah apa yang membuat mata Malik ter buta kan oleh asmara.
" Sudah tidur?" tulis Malik ke nomor ponsel Andini.
Hampir setengah jam belum ada tanda chating itu dibaca oleh Andini. Mungkin saja, Andini sedang bercengkrama dengan suaminya, Erlangga. Oh Tuhan! Betapa pilunya dan sesaknya kalau mengingat hal itu. Andini bercengkrama dan bermesraan serta memadu kasih dengan Erlangga.
" Andini! Kamu telah membakar api kecemburuan hati ini." gumam Malik sambil melempar ponselnya ke samping tempat tidurnya.
Beberapa kali, Malik gelisah dalam pembaringannya. Mata nya tidak juga mau di pejamkan. Pikirannya masih bertraveling kemana saja. Menelusuri jalan - jalan penuh dengan kemarahan dan kesepian. Akhirnya, Malik bangkit dari tempat tidur nya dan melangkah keluar dari kamar tamu itu dan duduk di depan teras rumah yang cukup mewah milik Erlangga.
Malam sudah semakin larut. Suara malam mengiringi kesunyian di depan rumah itu. Di depan masih ada dua satpam penjaga rumah masih asyik berjaga sambil bermain catur. Dengan aroma kopi hitam yang menusuk hidung.
Salah satu satpam itupun mulai berjalan dan duduk mendekati Malik.
" Belum bisa tidur yah, Mas?" tanya Satpam itu yang bernama Pak Budi.
" Eh, iya Pak. Mungkin belum terbiasa tidur di rumah yang mewah." jawab Malik asal.
Jawaban Malik yang penuh kebohongan. Bukankah selama ini Malik hidup dalam kemewahan juga di kota Semarang. Malik anak dari anak konglomerat juga di kota besar itu. Hanya saja Malik selalu berusaha mandiri dalam segala usaha - usaha dan bisnis yang di jalani nya. Malik tidak menghendaki bekerja di perusahaan yang dikelola oleh ayahnya. Memang semua berawal dari modal ayahnya untuk menjalankan segala bisnisnya. Pada akhirnya memang Malik bisa membuktikan kalau dia bisa mengelola segalanya tanpa campur tangan orang tua nya.
" Mau kopi mas? Biar saya buatkan." tawar Pak Budi dengan ramah.
" Oh boleh! Tapi tidak merepotkan bapak kan?" ucap Malik basa- basi.
" Tentu saja tidak! Oh iya, kenalkan saya Budi. Panggil saja Budi saja mas." kata Pak Budi sambil mengulurkan tangannya mengenalkan dirinya.
" Oh iya, mas Budi." sahut Malik.
" Baiklah! Saya bikinkan kopi dulu yah, mas!" ujar Pak Budi sambil masuk ke dalam rumah dan melangkah ke dapur.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian tiba- tiba Diana keluar dari dalam rumah itu lalu duduk di kursi dekat dengan Malik.
" Eh? Kaget aku!" sahut Malik dengan logat Jawa nya yang masih kental.
" Hahaha! Begitu saja kaget loh! Macam kuntilanak saja,aku." sahut Diana sambil tersenyum dan menatap Malik.
" Belum tidur ya mas?" tanya Diana penuh basa- basi.
" Iya nih, belum bisa tidur." jawab Malik sambil terkekeh padahal tidak ada yang lucu.
" Mas Malik, kepikiran ceweknya yang di Semarang yah mas?" tanya Diana berusaha ingin tahu pribadi Malik.
" Eh, mana ada yang mau dengan aku, kak?" sahut Malik dengan ramah.
" Eh, panggil aku Diana saja mas!" sahut Diana sambil tersenyum manis. senyumnya terlihat di bikin semanis mungkin supaya Malik bisa tertarik padanya.
" Mana bisa seperti itu, Kak. Hehehe." kata Malik sambil tersenyum.
" Nah, ini kopi hitam nya mas." sahut Pak Budi yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil membawa dua cangkir kopi hitam untuk Malik dan satu cangkir kopi yang lain entah untuk siapa.
" Eh, Pak satpam. Cangkir kopi yang satu untuk siapa?" tanya Diana sambil tersenyum ramah.
" Aku juga mau loh, Pak Satpam." jawab Diana.
" Ini Kak Diana! Hehe." sahut Pak Budi akhirnya memberikan secangkir kopi itu kepada Diana.
" Bang Budi! Terimakasih banyak yah Bang!" ujar Malik sambil tersenyum.
" Hehehe...jadi saya bikin kopi lagi nih?" ucap Pak Budi lalu melangkah dengan malas masuk ke dalam rumah untuk membuat kopi lagi untuk dirinya.
" Hahaha!" Diana terkekeh melihat reaksi Pak Budi.
Diana menatap tajam kearah Malik yang terlihat tertawa. Tawanya begitu penuh renyah, bak kerupuk.
" Mas Malik kalau tertawa, tambah ganteng nya loh!" ucap Diana penuh rayuan.
" Kak Diana, pandai merayu." sahut Malik tersenyum.
" Tuh kan! Jangan panggil Kakak dong, Mas! Usia kita mungkin sama, atau Mas Malik yang lebih tua kali, dibanding aku." ujar Diana.
__ADS_1
" Usia aku masih, 35 Tahun Mas." imbuh Diana.
" Oh ya? Saya kira masih 17 tahun loh, kak!" ucap Malik mulai bercanda.
" Widih! Mulai kan?" sahut Diana.
" Mulai apa Kak?" tanya Malik menimpali.
" Mulai pandai merayu juga..hehe." jawab Diana tersenyum.
" Hehe.. bukan merayu kak. Memang kenyataannya kak Diana masih terlihat muda loh." ujar Malik.
" Jadi, berapa usia Mas Malik?" tanya Diana penuh selidik.
" 37 tahun, kak!" jawab Malik jujur.
" Tuh kan! Berarti aku benar, harus panggil Mas Malik kan. Dan panggil aku, Diana saja Mas!" kata Diana penuh pemaksaan.
" Hehe. Begitu yah?" sahut Malik sambil menatap ke taman di depan teras itu.
" Semoga betah di kota ini, Mas!" ucap Diana.
" Iya, amin!" sahut Malik.
" Kalau ada kerjaan yang lebih menjanjikan, apakah Mas Malik mau?" tanya Diana.
" Apakah menjadi sopir, tidak menjanjikan?" ucap Malik.
" Bukan! Bukan gitu maksud aku. Di tempat kerja ku, mana tahu ada posisi yang bagus, kira- kira mas mau tidak kerja di sana. Tentunya dengan gaji yang lebih besar." kata Diana dengan iming-iming nya.
" Saya mencari pekerjaan yang halal saja, kak. Eh Diana! Lagi pula, saya hanya tamatan SMA saja, Diana." kata Malik penuh kebohongan.
" Ah jangan khawatir, Mas. Ada aku loh, di kantor itu. Aku pasti bisa membawa kamu ke perusahaan itu. Supaya...supaya kita bisa tiap hari bersama." kata Diana.
" Widih..haha. Ada- ada saja!" sahut Malik terkekeh.
" Tapi, aku serius loh Mas!" kata Diana.
" Terimakasih banyak atas perhatian nya. Tapi aku sudah bersyukur, bisa bekerja dengan Pak Erlangga, Diana." ucap Malik mengakhiri percakapan diantara kedua nya. Karena Malik sudah bosan duduk di serambi itu. Obrolan yang baginya tidak asyik tanpa Andini.
__ADS_1