
Erlangga sudah duduk bersama seorang wanita yang berparas cantik. Dengan penampilan yang cukup elegan. Pandangan matanya seakan tidak berkedip melihat wajah Erlangga dari ujung rambut hingga ujung kaki.
" katakan Diana! Apa yang hendak kamu sampaikan padaku?" tanya Erlangga kepada wanita yang berambut pendek itu yang tidak lain adalah Diana. Diana sahabat Andini kenapa bisa duduk bersama Erlangga?
" Mulai sekarang kamu harus memperhatikan Andini deh, Erlangga." kata Diana memulai percakapan nya.
" Mulai sekarang? Dari dulu pun aku sudah dan selalu memperhatikan istri aku itu, Diana. Apa pula yang kau bicarakan?" ujar Erlangga mulai ketus.
" Bukan itu maksud aku. Kemarin waktu Andini ke rumah aku, dia cerita bahwasanya di hati nya ada laki-laki lain. Dan laki- laki itu tentunya bukan kamu." cerita Diana.
" Kamu jangan mencoba merusak hubungan kami lagi, Diana." sahut Erlangga.
" Astaga! Memang aku akui aku dari dulu menyukai kamu dan menggilai kamu tanpa Andini tahu akan hal ini. Tapi ini sungguh kenyataan nya. Andini yang bilang dan cerita hal ini padaku. Jika perlu kamu selidiki saja ulah istri kesayangan kamu itu." Diana memprovokasi Erlangga.
" Kamu ini, Diana! Bukankah Andini pun juga sahabat kamu. Sahabat macam apa kamu ini?" sahut Erlangga.
" Justru aku menyayangi Andini dan juga kamu. Maka aku tidak ingin hubungan diantara kalian berdua di dalam nya ada kebohongan dan pengkhianatan."alasan Diana.
" Baiklah! Akan aku pastikan kalau apa yang kamu sampaikan adalah kebenaran nya. Lalu dengan siapa Andini berkhianat? Laki- laki mana yang bisa membuat Andini jatuh cinta? Andini bukanlah tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Dia memiliki pendirian yang kuat." puji Erlangga.
" Itu yang belum di ungkapkan oleh Andini. Andini belum jujur soal hal ini padaku." sahut Diana.
" Bagiku itu sangat mudah untuk menyelidiki masalah ini. Setiap pergerakan Andini sudah aku pastikan masih terjangkau oleh pengawasan aku. Lagi pula, Andini tidak cukup kuat jika harus meninggalkan aku." kata Erlangga membanggakan diri.
" Andini bukan wanita karier seperti aku. Andini tidak akan cukup nyali ketika harus memilih meninggalkan kamu, Erlangga. Kamu kaya raya serba kecukupan. Lagipula kamu memiliki kesempurnaan sebagai seorang pria yang ganteng, penuh pesona, kharismatik. Kalau Andini meninggalkan kamu. Aku siap menggantikan dia, Erlangga." ungkap Diana serius.
" Memang tidak ada otak nya kamu, Diana!" sahut Erlangga keras bak logat Medan.
" Hahaha, awak sangat berharap hal itu tiba Erlangga. Memiliki kamu seutuhnya tanpa Andini yang menghalangi klasik kita lagi." kata Diana.
__ADS_1
" Itu mau kamu. Tapi aku gak mau dengan kamu." ucap Erlangga.
" Tapi kamu menikmati segala tubuhku ketika kencan seperti ini, Erlangga." sahut Diana.
" Ini kasus lain. Kamu jual dan aku beli. Kamu suka dan aku suka, apa ada yang salah. Setelah usai tidak perlu kau bahas lagi kencan semalam seperti ini, Diana." ucap Erlangga.
" Sial! Sebenarnya aku tidak mementingkan uang yang kamu beri Erlangga. Aku sudah cukup puas dengan apa yang aku dapatkan dari hasil keringat aku." kata Diana.
" Kami jangan terlalu naif! Wanita dimana - mana masih belum cukup dan puas akan satu permata. Dia akan menginginkan berlian yang lebih menyilaukan mata." ungkap Erlangga.
" Karena kamu belum mendapatkan hati aku, Diana. Jadi kamu bisa bicara seperti itu." imbuh Erlangga.
" Hehehe. Tapi tidakkah sedikit ada rasa untuk aku, Erlangga?" tanya Diana penuh harap.
" Hem? Jangan paksa aku untuk mencintai kamu. Hati aku masih untuk Andini. Aku tidak bisa memberi hatiku untuk kamu Diana." jujur Erlangga.
" Aku tidak percaya! Kamu pun juga menyukai aku kan, Erlangga?" tanya Diana berharap mendapatkan jawaban yang membuat hatinya melayang.
" Terimakasih banyak. Tidak masalah bagi aku. Yang terpenting aku masih bisa berkencan dengan kamu, Erlangga." kata Diana tersenyum puas.
" Iyalah, kau masih menang banyak dari pada Andini. Diana!" kata Erlangga.
" Apa yang akan kau rencanakan untuk menyelidiki, Andini?" tanya Diana.
" Bagiku ini adalah suatu penghinaan bagi aku. Jika aku temukan laki- laki yang berani menggaggu istri aku ini. Akan ku buat dia cacat seumur hidup. Rasanya aku tidak rela. Merebut jantung istriku dari aku." Ancam Erlangga.
" Gila! Akan kau buat cacat laki- laki itu? Tidak kah lebih baik kamu bunuh saja, Erlangga. Itu lebih baik bukan?" kata Diana.
" Itu terlalu enak dan sangat mudah bagi aku untuk melenyapkan nyawa seseorang. Tinggal bayar seseorang untuk membunuh laki- laki itu. Beres masalah. Tapi aku akan membuat lebih sakit lagi Andini dan laki-laki itu." ancam Erlangga.
__ADS_1
" Erlangga! Tidak aku sangka. Kamu lebih kejam dari penjahat!" sahut Diana.
" Jika terbukti, Andini mengkhianati aku. Bukankah ini akan lebih menggoreskan luka di hatiku? Sedangkan aku sangat mencintai Andini lebih dari apapun juga. Bagi aku sosok Andini adalah seperti bidadari surga ku. Dialah yang membuat aku lebih bersemangat dalam hidup." kata Erlangga dengan tatapan yang tajam dan penuh serius.
" Kalau aku? Kau anggap aku apa Erlangga?" tanya Diana.
" Kamu? Kamu salah satu dayangku yang mampu membuat aku senang...hahah." jawab Erlangga.
" Astaga! Tapi terimakasih banyak itu sudah membuat aku senang." kata Diana.
" Tapi aku bisa membuat kamu jatuh cinta kepadaku Erlangga." imbuh Diana.
" Sudahlah! Jangan bermimpi. Aku sudah mencintai Andini sampai kapan pun juga." sahut Erlangga.
" Iya! Cukup aku sudah tahu itu. Andini. Andini saja yang ada dalam pikiran dan hati kamu." kata Diana ketus dan cemberut.
" Yuk! Kita kembali ke villa saja! Aku masih ada rencana untuk memantau Andini. Dengan beberapa suruhan beberapa orang." ajak Erlangga.
" Kamu tidak pulang malam ini, Erlangga?" tanya Diana.
" Aku lagi malas! Temani lah aku malam ini." jawab Erlangga dengan serius.
" Dengan senang hati, Erlangga! Tapi bayaran nya mahal yah!" sahut Diana.
" Katanya cinta padaku! Tapi kamu masih mau jika aku bayar, Diana!" ucap Erlangga menggoda.
" Hahaha! Tidak! Aku hanya bercanda." kata Diana sambil menggandeng Erlangga yang sudah berjalan dengan langkahnya yang lebar.
Aku tidak akan mengira. Aku tidak akan menduga. Jika permainan ini akan semakin menjerumuskan aku dalam dunia yang penuh kebebasan. Apakah hukum Tuhan sudah tidak di hiraukan lagi? Apakah aturan masyarakat sudah tidak diperhatikan lagi. Manusia hanya mencari kesenangan diri. Kesenangan yang sesaat yang menuruti hasrat dan hawa nafsu. Aturan dan norma tidak di anggap. Lalu apa tujuan hidup manusia jika tidak ada lagi pengontrol langkah kaki manusia.
__ADS_1
Tuhan! Anak Adam sudah banyak mengutamakan hasrat dan keinginan. Terlalai kan akan janji nya untuk patuh dan taat kepada Nya. Tidak bisa berbicara kalau sudah begini.