
Keheningan malam. Aroma sehabis hujan. Sendiri di teras rumah. Secangkir kopi hangat dan lamunan kecil. Memikirkan tentang apa dan mengapa hal itu ada.
Aku tahu kamu sudah melakukan banyak perjuangan berat.
Aku tahu kamu sudah berusaha kuat.
Aku tahu kamu sudah sudah begitu hebat. Aku tahu itu.
Ku mohon! Bertahanlah sedikit lagi. Jangan berhenti.
Bahagia yang harus di perjuangkan lebih keras lagi.
Andini duduk melamun di teras rumahnya. Ia duduk memikirkan perjumpaan nya dengan Malik. Begitu singkat tapi sangat membekas di hatinya. Dalam hatinya yang paling terdalam. Dia ingin berlama-lama dengan laki - laki atletis dan ganteng itu. Tetapi Andini tidak ingin menodai kesetiaan nya pada suaminya, Erlangga. Andini tidak ingin menodai rasa sayang nya dengan Malik dengan pengkhianatan terhadap pernikahan nya. Biarlah waktu berjalan dan mengalir sesuai iramanya. Kalaupun Andini berjodoh dengan Malik. Suatu hari nanti pasti akan diberi kesempatan untuk bercengkrama dan hidup bersama. Tapi siapa yang tahu cerita akhirnya. Bukan berarti Andini ingin mengakhiri pernikahan nya dengan Erlangga. Ini adalah suatu dilema. Perasaan itu begitu memonopoli hatinya. Andini terlalu serakah menginginkan ke duanya. Erlangga dan Malik sama - sama masih sangat spesial di hatinya.
Angin ber desir memeluk ku dingin.
Udara segar menusuk pori - pori kulit.
__ADS_1
Daun - daun berguguran bertebaran jatuh di rambut ku membelai lembut kasihnya.
Pikiran melayang menyusuri lorong kecil nan gelap.
Tiada cahaya yang menuntunku ke bayangan kecil yang menggoda.
Tanganmu melambaikan senyuman yang mengembang.
Kerinduan yang menari - nari di pelupuk mata.
Jantungmu berdetak kencang dan semakin kencang menyuarakan namaku.
Jiwamu meronta ingin menjumpai ku dalam hasrat yang terpendam.
Kita bisa apa? Jalanmu dan jalanku sangat berbeda.
Hanya rasa ini yang sama menyeruak api asmara dalam kerinduan yang terpendam dalam.
Aku dan kamu dalam penjara cinta.
__ADS_1
Mampukah menerobos besi - besi sebagai penghalang.
Agar kita bersatu dalam kenyataan.
Bukan hanya halusinasi semata.
Aku dan kamu harus tahu.
Walaupun beda hati kita sama.
Tidak ingin menghapus rasa.
Rasa yang indah menari - nari dalam Sukma.
Andini tanpa sadar meneteskan air mata. Hatinya sangat rapuh karena di dera rasa cinta nya. Rasa yang seharusnya untuk Erlangga satu - satunya. Tetapi kini ada sosok laki-laki lain yang selalu membayangi dirinya. Dia adalah Malik. Malik yang menjadi harapan nya untuk bisa merenggut hati dan perasaannya.
Andini tahu dan sangat sadar. Ini tidak mudah. Ini sangat sulit jika harus menghapus bayangan Malik. Mereka berdua sudah menyatukan hati. Mereka berdua sama - sama menyukai. Tetapi mereka masih tahu batasan nya. Malik sangat menghargai status Andini. Walaupun Malik masih single dan bebas untuk melakukan apa saja. Tetapi tidak untuk Andini. Malik tidak ingin merusak semua nya karena keinginan hatinya. Itulah yang menjadi dan menambah simpati nya Andini terhadap Malik.
" Suatu hari nanti, esok atau lusa, mungkin kita tidak lagi menyapa. Aku berharap, rasa ini akan terkikis dengan sendirinya. Seperti batu karang yang selalu terkena air garam di laut. Lama kelamaan akan rapuh dan hancur. Aku berharap seperti itu dengan mu. Atau kamu akan menemukan wanita lain yang lebih baik dari aku. Namun, apakah aku sanggup dan ikhlas melepas mu? Sedangkan aku sangat menginginkan kamu. Malik! Aku menginginkan hati mu tidak pernah berubah dengan aku. Mungkin ini terlalu egois buat aku. Sedangkan kamu perlu bahagia walaupun tanpa aku." ucap Andini lirih dalam kesendirian nya di depan rumahnya dengan wangi melati di samping rumahnya.
__ADS_1