Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
ISTRI SETIA?


__ADS_3

Wajah adalah pancaran hatimu. Ketika kamu bahagia atau sedih akan tersirat di sana. Mungkin sebagian orang tidak memahami akan hal ini. Bahkan cenderung cuek akan derita orang.


" Jadi, seperti itu cerita nya? Ya sudahlah, nak! Semua sudah kamu jalani dan lalui. Perjalanan hidup mu dengan Erlangga memang sudah sampai disini. Dan kamu sendiri yang merusaknya." kata Bunda Andini sambil meraih tangan Andini dengan penuh kelembutan.


" Bunda, maafkan saya! Saya juga tidak menghendaki cerita cinta dan jalan kehidupan saya serumit ini. Saya dahulu berusaha menepis perasaan jatuh cinta dengan Malik itu. Tetapi semakin saya menepisnya, semakin kuat rasa rindu itu. Ditambah lagi, Mas Erlangga yang jarang memberikan perhatian nya kepada saya. Jarang pulang ke rumah juga, alasannya selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Dan ternyata dibalik itu semua, sahabat sayalah yang berhasil menggoda Mas Erlangga. Diana telah berhasil menjerat Mas Erlangga." cerita Andini.


" Sudahlah, Andini! Lupakanlah masa lalu kamu. Kamu sekarang ini, mulailah membuka lembaran baru. Disini bersama Bunda, hidup sederhana yang penting kita mendapatkan ketenangan dan ketentraman hidup." ucap Bunda Andini yang bernama Bunda Tini.


Adinda menatap bundanya yang penuh keteduhan.


" Hari ini kamu mau kemana, nak?" tanya Bunda Tini yang melihat Andini sudah bersiap-siap dan mengenakan pakaian yang rapi.


" Bunda! Saya akan bekerja dengan Mas Putra. Sebentar lagi, Mas Putra akan menjemput saya, Bunda." kata Andini sambil tersenyum senang.


" Saya akan membahagiakan, Bunda!" tambah Andini.


" Andini, anakku! Kebahagiaan bunda adalah ketika bisa melihat kamu tersenyum bahagia, nak." sahut Bunda Tini.

__ADS_1


" Bunda! Terimakasih banyak, Bunda!" ujar Andini sambil memeluk bundanya.


" Iya! Ayo kita sarapan terlebih dahulu, sebelum nak Putra datang menjemput kamu." ajak Bunda Tini sambil memegang tangan Andini dan mengajak nya ke meja kayu dengan kursi kayunya yang dipakai untuk makan bersama.


*******


" Bu, saya pinjam Andini Bu!" kata Putra sambil tersenyum dan menjabat tangan Bunda Tini dan mencium punggung tangan nya.


" Hehehe! Malah bunda yang harus nya bilang, titip Andini yah. Kalau nakal, jewer saja dia!" sahut Bunda Tini sambil terkekeh.


" Bunda!" kata Andini sambil mengambil tangan bundanya dan mencium nya lalu berpindah ke pipi kanan dan kiri nya untuk diciumnya.


" Baik Bunda!" sahut mereka berdua.


*******


" Senangnya Memiliki bunda seperti, bunda mu itu yah?" kata Putra setelah mereka berada di dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


" Iya! Saya sangat bersyukur sekali, mas Memiliki bunda seperti itu. Selalu memahami walaupun anaknya pernah melakukan banyak kesalahan." ucap Andini.


" Kamu melakukan banyak kesalahan? Itu bohong banget deh! Kamu tidak ada tampang- tampangnya menjadi wanita yang banyak salah. Kamu polos dan sangat lugu." sahut Putra.


" Mas Putra salah menilai! Saya tidak seperti itu! Saya wanita yang pernah membuat sakit hati orang karena kesalahan yang telah saya perbuat." sahut Andini.


" Oh begitu yah!" kata Putra akhirnya.


" Tidak ada yang sempurna, manusia hidup di dunia ini, nona!" tambah Putra.


" Setiap orang tidak akan sanggup membuat semua orang bahagia dan berkenan terhadap sikap dan tindakan kita. Apa yang kita buat belum tentu, orang lain menyukainya, bukan? Apalagi orang itu sudah membenci atau tidak suka dengan kita?" imbuh Putra.


" Betul Mas Putra! Seperti nya Mas Putra sangat cocok jika menjadi psikolog saja!" sahut Andini.


" Tidak! Tidak! Aku tetap ingin menjadi pengusaha muda yang sukses saja. Dan Memiliki istri setia yang sayang aku dan anak-anak ku kelak." kata Putra sambil terkekeh.


" Istri yang setia, yah?" sahut Andini lalu menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan penyesalan nya.

__ADS_1


" Kamu kenapa?" tanya Putra akhirnya.


" Tidak apa-apa!" jawab Andini sambil membuang muka nya.


__ADS_2