
Di kediaman rumah Erlangga.
Zenna bersama ibunya sudah tinggal di rumah megah dan mewah milik Erlangga. Zenna sudah resmi menjadi istri dari Erlangga. Mungkin bagi Erlangga perkawinan itu hanya kontrak namun untuk pribadi Zenna tidak ada sistem kontrak dalam sebuah janji suci pernikahan. Bagi Zenna sebisa mungkin dirinya tidak akan menyudahi pernikahan nya dengan Erlangga. Dia bertekad supaya seumur hidup hanya sekali dalam menikah yaitu keputusan nya sudah bulat menerima Erlangga menjadi suaminya. Walaupun dirinya belum memiliki rasa cinta kepada Erlangga. Baginya cinta akan tumbuh dengan sendirinya ketika hatinya sudah membuka kepada Erlangga. Tidak terlalu mengecewakan toh Erlangga memiliki segalanya, baik segi fisik yang tampan dan body yang seperti bodyguard. Soal kekayaannya tidak diragukan lagi.
Hari ini Zenna akan memulai hidup nya menjadi istri yang baik untuk Erlangga. Malam ini adalah malam pertama di rumah itu dan malam pertama Zenna akan menyerahkan segala sesuatu yang diandalkan dan berharga bagi seorang wanita.
Di kamar yang cukup luas, megah dengan perabot yang serba mewah. Ruangan yang tentu ber-AC dengan layar plat yang besar menempel di dinding kamar itu menjadikan melongo mata Zenna. Kamar tidur yang empuk dan lebar dengan bedcover yang tebal sudah tertata rapi. Memang kamar itu tidak dihias seperti kayaknya malam pertama bagi pasangan pengantin namun itu sudah cukup membuat Zenna begitu bahagia. Kehidupan nya berasa seperti tuan putri yang tinggal di Kerajaan. Dirinya hanya melayani seorang rajanya sesuai dengan titahnya.
Zenna mendekati Erlangga yang duduk bersandar di tempat tidur itu. Erlangga menyuruh Zenna supaya mendekati nya. Senyuman nakal mulai muncul di wajah Erlangga. Zenna terlihat sedikit gugup karena inilah pertama kalinya dirinya satu kamar dengan seorang pria yang kini sudah menjadi suaminya.
" Apakah kamu gugup?" tanya Erlangga sambil mendongakkan dagu milik Zenna.
__ADS_1
Zenna hanya mengangguk pelan.
" Baiklah! Malam ini biar aku yang lebih aktif." kata Erlangga seraya tersenyum dan dengan cepat menimpa tubuh Zenna hingga Zenna diposisi bawah tubuh Erlangga. Erlangga mulai memberikan sedikit sentuhan- sentuhan lembut sesekali kasar kepada Zenna. Zenna mulai merasakan sesuatu yang mulai menghangat di sekujur tubuhnya. Baginya ini pertama kalinya merasakan sensasi yang menggetarkannya dan ini tidak bisa ia rasakan sebelum nya.
Zenna hanya pasrah karena dirinya adalah istri dari pria yang belum lama ia kenal itu. Dirinya tidak menyangka mengambil keputusan menikah dengan pria yang baru saja dikenalnya. Namun Zenna yakin pria yang mengajaknya menikah ini pasti memiliki sisi baik. Zenna yakin Erlangga akan bisa memberikan kebahagiaan untuk dirinya dan juga ibunya.
Zenna memejamkan matanya, menerima segala perlakuan lembut dan terkadang kasar yang dilakukan oleh Erlangga. Sesekali dalam keluhan suara Zenna mampu membangkitkan gejolak laki-laki Erlangga. Seperti halnya biola yang digesek dan di naik turun kan menimbulkan bunyi dan suara yang berirama. Zenna menikmati alunan dari tangan Erlangga yang selalu menimbulkan nada dan bunyi yang syahdu. Ini mungkin akan menjadi candu bagi Zenna untuk mengulanginya kembali.
" Terimakasih, mas!" ucap lirih Zenna. Senyumnya mengingatkan sosok Andini bagi Erlangga. Air mata Erlangga seketika menjadi memanas sesaat teringat oleh wanita itu.
" Andini!" gumamnya pelan.
__ADS_1
Zenna menangkap sorot mata Erlangga yang tiba-tiba menjadi sedih itu, seketika memberanikan dirinya memeluk Erlangga dengan kuat. Zenna ingin memberikan kedamaian itu pada suaminya.
" Kenapa kamu berterima kasih padaku?" tanya Erlangga.
" Karena kamu sudah menjadikan aku istri kamu, mas!" jawab Zenna pelan.
" Mas? Kamu memanggilku Mas?" sahut Erlangga.
" Apakah boleh?" kata Zenna sambil melihat raut wajah Erlangga yang seperti mulai takluk akan sikap lembut dan perhatian dari Zenna.
Hanya senyum itulah yang tersungging dibibir Erlangga.
__ADS_1
" Mungkin kamu hadir untuk menggantikan Andini dalam kehidupan ku." batin Erlangga.