Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
KAMU HEBAT


__ADS_3

Rating - ranting kering saksi bisu. Jejak langkah kaki yang terseok tanpa irama. Bisikan angin yang mengusik rambut Mayang mangurai mu. Awan pun ikut serta berarak menyusun harmoni dalam kidung - kidung cinta yang meresahkan.


Hati - hati Dengan hati. Permainan hati selalu berakhir dengan kepedihan yang tak bertepi. Cerita roman yang berakhir tragis. Di lanjutkan ataukan di sudahi.


Di bawah lindungan para prajurit - prajurit tak terlihat mata. Bayangan hitam dengan tinggi besar sebagai perisai jiwa yang resah. Terkadang ingin memberontak lari atau tetap dalam penjara.


Sayap - sayap mulai patah karena harapan. Kembali menatap ke Raja di Raja. Kembali pulang dan bersimpuh menghadap. Ingin cepat berlalu dari derita ujian yang memberatkan langkah. Ingin cepat di cabut segala beban derita dari apa yang dirasa.


Guru Sang Maha Tahu akan kesakitan derita muridnya,hanya tersenyum karena tangisan muridnya. Sampai akhirnya satu titik itu lenyap dan derita itu kini berakhir sudah.



Terimakasih untuk semua yang sudah menjadi bagian dari ujian langkah terberat ini. Maaf!! Aku harus kembali pulang dan bersimpuh di kaki sang maha guru. Karena janji ku yang sudah ku ucap. Aku masih dalam pengabdian yang panjang. Untuk diriku,agamaku, dan dunia.


( Dilema Malik dalam spiritual nya)


" Malik!" panggil Andini pelan sambil memeluk badan atletis milik Malik.


Malik tersenyum membentuk bulan sabit. Hatinya gembira dan bahagia walaupun diliputi rasa berkecamuk di dadanya. Malik adalah laki-laki normal. Jika berdekatan dengan wanita yang sangat dicintainya akan muncul gejolak yang bergelora.


" Iya Andini!" sahut Malik.

__ADS_1


" Aku pulang yah!" kata Andini seperti masih belum ikhlas meninggalkan Malik di kota ini.


" Iya sayang! Baik - baik lah kamu di sana. Bulan depan, kalau aku sehat dan ada kesempatan, aku akan kembali ke kota mu." ucap Malik dengan seutas senyuman.


" Benarkah? Kamu akan ke Medan, Malik?" tanya Andini dengan mata berbinar.


" Tentu saja! Mana aku sanggup menanggung rasa rindu yang menyiksa ini, Andini." ucap Malik sambil melepaskan tubuh Andini yang memeluknya erat. Tangan Malik mulai mengusap kedua pipi Andini yang putih halus. Usapan tangan Malik membuat getaran hangat dalam diri Andini.


" Pesawat nya berangkat jam berapa, Andini?" tanya Malik lagi.


" Hehe...masih besok pagi kok." jawab Andini terkekeh.


" Iya! Jam berapa?" tanya Malik.


" Oke! Kamu perlu beli oleh-oleh tidak?" tanya Malik.


" Mau! Boleh lah!" jawab Andini tersenyum. Ingatannya ke suaminya, Erlangga. Erlangga paling suka bandeng presto dan wingko babad khas Semarang.


" Kamu senyum- senyum gak jelas, Andini. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Malik sambil menatap bola manik mata Andini.


" Hehe. Pasti Erlangga suka bandeng presto dan wingko babad khas Semarang." ujar Andini tanpa mempedulikan perasaan Malik.

__ADS_1


Malik langsung menjauh dari Andini dan duduk bersandar di sofa.


" Eh maaf!" kata Andini pelan sambil duduk mendekati Malik lalu merubah posisi nya duduk dipangkuan Malik.


" Andini! Duduklah yang benar. Bahwasanya, aku laki-laki normal. Kamu selalu membuat aku gerah." ujar Malik.


" Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan terhadap aku malam ini, Malik." kata Andini menantang.


" Tidak Andini! Sudahlah! Bagaimana kalau kita keluar mencari makanan dan oleh - oleh nya sekarang." ajak Malik sambil bangkit dari tempat duduknya yang sebelumnya mengangkat tubuh Andini supaya pindah dari pangkuan nya.


" Kamu kenapa selalu menjauh dari aku sih?" tanya Andini.


" Ais! Andini! Kamu jangan terlalu sering memancing aku. Aku tidak selalu bisa menahan diriku jika dekat dengan kamu. Apalagi aroma tubuhmu yang begitu menggoda. Body seksi kamu yang membangkitkan gairah. Gaya gemulai mu yang membuat aku terpancing ingin menerkam dan memakan kamu habis setulang - tulangnya." kata Malik dengan tatapan tajam.


" Aidah! Mau dong! Aku ingin tahu!" ucap Andini sambil melepas kaos lengan panjang yang melekat di badannya.


Malik menatap Andini yang mulai menggoda. Kini Andini terlihat mengenakan BH berwarna hitam dengan celana jeans panjang yang masih melekat.


" Andini! Jangan bermain - main dengan aku. Ayo pakai lagi kaosnya. Bukankah kita akan pergi keluar mencari oleh- oleh dan makanan." ujar Malik mulai belingsatan.


" Hahaha!" Andini tertawa senang melihat reaksi Malik yang ketakutan dan belingsatan.

__ADS_1


" Sial!" sahut Malik sambil keluar dari kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan keras.


" Eh?? Marah?" gumam Andini lalu bergegas memakai kaos panjangnya dan menyusul Malik yang pergi meninggalkan nya.


__ADS_2