
Tuhan! Seandainya aku dapat memilih. Derita dan kesakitan ini sungguh menusuk- nusuk jantungku. Menggerogoti akal sehat ku. Tidakkah, Engkau cabut segala beban derita karena rasa cinta ini? Cinta yang tiada kuasa aku tepi karena hadir ketika aku sudah ter miliki. Aku ingin lepas dan melarikan diri. Tetapi tangan dan kaki ini sudah terikat akan janji suci. Hidupku sudah terpenjara karena status ini. Sedangkan pikiran dan rasaku selalu terbayang goda akan sosok nya. Apakah derita cinta ini tidak akan pernah berakhir? Apakah Engkau tidak akan mengabulkan permintaan kecil ini? Agar sembuh segala luka yang tak berdarah ini.
" Bagaimana kabar dan keadaan, Malik saat ini? Sudah hampir setahun, kabarmu tidak pernah lagi kudengar. Menghilang begitu saja setelah terungkap akan hubungan kita." gumam Andini yang sedang melamun di rumah sakit jiwa.
Sejak peristiwa itu, Erlangga nekat memasukkan Andini ke rumah sakit jiwa. Mungkin Erlangga sudah sakit hati dengan Andini. Mungkin saja Erlangga sudah menyerah akan sikap Andini yang dingin dan tidak lagi peduli dengan nya.
Erlangga diketahui kabarnya menikah dengan Diana, sahabat Andini. Atas bujukan dari Diana, Andini di masukkan ke rumah sakit jiwa karena depresi yang sangat hebat. Erlangga memperlihatkan foto- foto terakhir Malik setelah penganiayaan yang dilakukan oleh anggota nya. Setelah itu, Malik dikirim ke kampung halamannya. Andini yang melihat foto-foto Malik dengan luka bakar di sekujur tubuhnya menjadi sangat merasa bersalah. Tentu saja, karena Andini merasa semua itu terjadi karena Malik sangat mencintai dirinya.
" Ya Tuhan! Bantu aku untuk bisa berjumpa kembali dengan Malik dalam kondisi apapun aku tidak perduli." kata Andini pelan yang duduk di bangku kayu panjang diletakkan di bawah pohon besar halaman rumah sakit jiwa itu.
Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar dengan berkulit bersih melangkah mendekati Andini yang sedang duduk sendiri. Mata Andini masih terlihat kosong menatap hijaunya tanaman disekitar itu. Laki-laki itu tampak sedih dan iba melihat Andini dalam kondisi murung tak ada gairah hidup. Laki- laki itu akhirnya duduk mendekati Andini di sampingnya. Tangannya meraih tangan Andini. Matanya mulai berkaca-kaca penuh sesal.
" Maaf kan aku, sayang! Setahun ini aku membiarkan kamu sendirian disini. Aku begitu bodohnya mencampakkan kamu disini. Aku begitu bodohnya menceraikan kamu, sedangkan aku masih sangat mencintai kamu. Tetapi bukankah ini yang kamu mau? Kamu sudah tidak mencintai aku dan mengkhianati aku." kata laki-laki itu yang tidak lain adalah Erlangga.
Andini menatap wajah laki-laki itu yang kini berjongkok dihadapan nya. Mata Andini berkaca-kaca penuh dengan sesal dan kecewa. Ada dendam juga disana, tapi tidak mampu ia membalas kan nya.
" Aku tidak menginginkan pengkhianatan itu terjadi. Tetapi aku terlanjur jatuh hati dengan orang ketika aku sudah dimiliki oleh mu. Aku tidak bermaksud menyakiti hati mu tetapi kenyataannya, memang Kamilah sudah membuatmu sangat kecewa. Sehingga kamu yang dahulu aku kenal sangat lemah lembut, menjadi kasar dan jahat. Sanggup melukai dan membuat orang itu tidak berdaya. Mungkin saja, orang itu tidak memiliki semangat hidup lagi dengan luka- luka di tubuhnya. Tetapi aku tidak ingin menyalahkan mu. Karena semua ini adalah kesalahan kami. Aku disini berusaha merenungi dan menerima hukuman dari kamu. Kamu yang aku tahu sangat mencintai aku, sanggup menyakiti aku." kata Andini dengan pandangan ke depan menatap tinggi pohon yang tidak jauh dari tempat nya duduk.
" Andini! Maafkan aku!" sahut Erlangga.
" Kamipun sebenarnya sudah melakukan pengkhianatan itu di belakang ku. Dengan sahabat dekatku yang aku kira tulus menyayangi aku. Kita impas, tapi kamu tidak mau mengakui kalau kamu juga salah melakukan pengkhianatan itu. Padahal aku dengan laki-laki itu, sudah berjanji akan menjaga satu dengan yang lain walaupun dia datang ke kota ku." ucap Andini.
" Andini!" kata Erlangga pelan.
" Kalau kamu memang menyesali segala perbuatan mu terhadap ku yang memasukkan aku ketempat ini, maka bebaskan lah aku. Biar kan aku pergi dan lepas dari kehidupan kamu. Lagi pula kamu sudah ada Diana, untuk apa kamu tetap menyakitkan aku lagi?" kata Andini yang kini mulai berani menatap Erlangga yang masih berjongkok di depan nya.
__ADS_1
" Tidak! Aku masih mencintaimu. Setahun ini aku berusaha melawan rindu terhadap mu dan dari kejauhan hanya sanggup melihat kamu. Sungguh aku masih sangat kecewa dan marah tapi rasa cinta ini mengalahkan kekecewaan yang sudah kau perbuat terhadap ku." ungkap Erlangga.
" Lalu, apakah aku tidak boleh kecewa dan sakit hati terhadap kamu? Bukankah kamu juga mengkhianati ku jauh ketika aku mulai merasakan jatuh cinta itu. Ini terlalu egois." ucap Andini.
" Aku akan membawamu pulang ke rumah." kata Erlangga.
" Bolehkah aku, jika aku menolak itu semua? Lebih baik aku tinggal disini selamanya." sahut Andini.
" Andini, aku sungguh- sungguh minta maaf." kata Erlangga sambil meraih tangan Andini.
" Kita sudah bukan lagi suami istri lagi. Untuk apa kamu ingin membawa aku pulang ke rumah lagi? Kembalilah ke istrimu dan bebaskan aku dari kehidupan kamu." ujar Andini.
" Tidak! Aku akan tetap membawa kamu pulang ke rumah. Suster!" kata Erlangga sambil memanggil suster yang tidak jauh dari mereka berada.
" Iya pak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu suster itu.
" Apakah Andini sudah bisa dibawa pulang? Hari ini saya akan membawanya pulang ke rumah." kata Erlangga.
" Andini sudah lebih baik dari kemarin- kemarin. Bukankah begitu, Andini?" ucap Suster itu dengan lembut.
" Tapi saya ingin disini, suster." sahut Andini.
Suster itu memandang ke arah Erlangga.
" Sayang! Kita hari ini pulang yah!" kata Erlangga dengan tetap menggenggam tangan Andini erat.
__ADS_1
Andini akhirnya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.
*******
Di rumah Erlangga, Diana terkejut bukan main dengan kedatangan suaminya, Erlangga yang pulang dengan membawa Andini. Andini di arahkan ke kamar tamu, lalu setelah Andini masuk ke dalam kamar itu Erlangga menguncinya dari luar.
"Kenapa kamu bawa wanita itu ke rumah ini, mas?" kata Diana dengan nada keras.
" Kamu tidak bisa melarang ku, Diana! Aku adalah kepala rumah tangga disini. Jadi keputusan ku adalah mutlak adanya." sahut Erlangga.
Setelah semua kejadian itu, Erlangga menjadi pribadi yang keras, pemarah, dan arogan. Bersama Andini, rumah tangga mereka selalu tidak selembut dengan Andini. Diana pun, terkadang melawan tapi akhirnya tidak berkutik dengan aturan yang dibuat oleh suaminya itu. Diana memang sangat mencintai Erlangga.
" Tapi kamu sudah bercerai dengan wanita itu. Kenapa kamu membawanya pulang ke rumah, mas?" kata Diana dengan protes nya.
" Dia tidak punya keluarga di kota ini. Aku tidak akan membiarkan Andini telantar." jawab Erlangga dengan alasan nya.
" Kalau begitu antar pulang ke kotanya! Aku tidak ingin melihat nya di rumah ini." ujar Diana.
" Kamu tidak perlu melihat nya, Diana. Bukankah Andini di dalam kamar dan telah aku kunci." sahut Erlangga.
" Hahaha. Jadi kamu masih sangat dendam dengan wanita itu mas?" ucap Diana dengan senyum penuh kegembiraan.
Erlangga hanya diam menatap ekspresi Diana yang puas ketika melihat Andini penuh dengan derita dan siksaan.
( Maaf yah, sudah sekian lama baru bisa update. Besok-besok saya usahakan up beberapa episode. Sementara satu chapter dulu. So jaga kesehatan selalu. Jangan lupa minum air putih yang banyak dan perbanyak konsumsi buah yang mengandung vitamin C. Terimakasih yang memfavoritkan novel ini. I Miss you...)
__ADS_1