Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
GILA


__ADS_3

Malik terkapar di lantai meringkuk sambil memegang perutnya. Andini yang masih demam tinggi pun,di baringkan oleh Erlangga. Emosi Erlangga sudah mulai mereda. Pisau tajam yang entah mau digunakan untuk menakut-nakuti Andini diletakkan nya di meja rias. Kini Erlangga mengambil ponselnya dan menghubungi anggotanya.


" Kalian cepatlah kemari! Ada sedikit tugas untuk kalian! Tanganku yang suci ini tidak akan Sudi menjadi kotor untuk memberi pelajaran seseorang." kata Erlangga kepada anggota nya melalui sambungan ponselnya.


" Baik tuan! Kami segera ke sana cepat menyelesaikan semua nya." jawab anggota Erlangga itu dengan semangat.


Andini mulai merintih karena demam yang tinggi. Matanya mencari Malik dan memastikan bahwasanya Malik baik- baik saja tapi kenyataannya Malik tidak dalam keadaan tidak baik-baik saja.


" Andini!" panggil Erlangga.


" Maaf aku sudah menyakiti kamu, tadi aku sungguh emosi." tambah Erlangga.


" Mas! Jangan sakiti Malik, mas. Lepaskan dia Mas!" kata Andini pelan.


" Iya baiklah! Tapi berjanjilah kepadaku, kita akan membenahi semua dari awal lagi ya,sayang!" ucap Erlangga.


Andini hanya mengangguk pelan. Dia tidak ingin Malik akan disakiti gara- gara dirinya. Andini masih melihat Malik meringkuk di lantai seperti tidak punya daya. Rasa itu seperti miris dihati ketika pujaan hati nya dalam kesakitan. Seluruh tubuh seolah ikut merasakan kepedihan itu, dan ikut merasa sakit.


Kurang lebih setengah jam, Anggota Erlangga pun sudah datang. Mereka ada tiga orang dengan perawakan tinggi besar bak algojo yang siap menghabisi nyawa seseorang. Mereka masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu dan dibukakan oleh Erlangga. Erlangga mulai membisikkan sesuatu kepada salah satu dari mereka.


" Baik akan saya kerjakan tanpa meninggalkan jejak!" kata salah satu anggota Erlangga yang berkulit hitam legam.


" Aku ingin memastikan semua dengan foto terakhir kalinya." bisik Erlangga juga.


" Siap laksanakan, tuan!" sahut orang yang berkulit putih besar.


" Ya sudah bawa dia keluar!" perintah Erlangga sambil menunjuk ke arah Malik dengan bibir nya yang agak maju.


" Baik tuan!" jawab Beberapa anggota Erlangga sambil menggotong badan Malik yang masih meringkuk di lantai itu.


Mereka dengan cepat keluar dari ruangan itu setelah Erlangga membantu membukakan pintu kamarnya lebar- lebar.


Andini mulai membuka matanya dan pandangan nya berusaha mencari keberadaan tubuh Malik. Tetapi tidak dilihat nya.


" Ada apa sayang?" tanya Erlangga yang melihat Andini mencari- cari keberadaan Malik.


" Mas! Aku mohon! Jangan kau apa- apakan Malik. Semua ini karena kesalahan aku. Akulah yang seharusnya kamu hukum mas! Malik tidak bersalah dalam hal ini." kata Andini pelan.


" Andini! Tidak ada yang perlu di khawatir kan dari Malik, sayang. Malik hanya diantar pulang ke kota nya setelah dibawa ke rumah sakit terdekat sini." kata Erlangga.


" Mas!" ucap Andini pelan.


" Iya sayang!" sahut Erlangga.


" Ceraikan saja aku, Mas! Aku sudah mengkhianati kamu Mas! Bukankah Mas, sudah lihat sendiri, aku dengan ...." ungkap Andini jujur.


" Cukup! Jangan pernah ungkit lagi, Malik! Dan kamu tahu! Kamu tidak akan pernah aku ceraikan Andini! Sampai kapan pun!" ujar Erlangga yang emosi nya tiba- tiba meledak- ledak lagi.


" Lalu?" tanya Andini pelan.

__ADS_1


" Iya! Kita tetap menjadi suami istri, Andini. Tidak ada perceraian dan kamu sampai kapan pun tetap istri aku." kata Erlangga.


" Diana?" tanya Andini pelan.


" Ada apa dengan Diana?" tanya Erlangga malah balik bertanya.


" Kata Diana,....." ucap Andini tidak berani meneruskan.


" Iya benar! Aku dengan Diana menjalin hubungan selayaknya suami istri tapi kami tanpa ikatan. Itu karena suka sama suka." cerita Erlangga jujur.


" Mas! Kasihan Diana! Nikahi saja dia mas!" ucap Andini pelan.


" Lalu kamu minta cerai dan kamu akan mencari Malik, kekasih hati kamu itu?" ucap Erlangga memojok kan Andini.


Andini terdiam dan hanya terbaring menatap Erlangga.


" Aku mohon maaf mas!" Aku sudah mengkhianati kamu, mas! Aku sudah tidak pantas menjadi istri kamu, istri yang baik." kata Andini pelan.


" Sudah aku bilang! Kamu tidak akan aku ceraikan!" teriak Erlangga sambil meninggalkan Andini.


Tapi ketika sampai di depan pintu, Diana tiba- tiba masuk yang membuat kaget Erlangga.


" Kamu ini! Kalau masuk ketuk pintu dulu!" sahut Erlangga.


" Maaf Erlangga! Ini aku buatkan kopi untuk kamu sayang!" kata Diana dengan sikap dibuat semanis mungkin.


" Oh terimakasih, Diana!" sahut Erlangga.


" Diana!" panggil Erlangga yang tiba-tiba halus dan dibuat mesra.


" Ada apa, sayang!" sahut Diana.


" Kunci pintunya! Aku menginginkan kamu sekarang!" kata Erlangga sambil melirik ke arah Andini.


" Oke, baiklah!" kata Diana bersemangat.


" Lakukanlah!" perintah Erlangga dengan senyum nakalnya.


" Disini?" tanya Diana dengan matanya yang membulat dan melotot bak kelereng.


Diana melihat Andini hanya diam dan melihat laki- laki dan perempuan itu mulai saling berpelukan mesra.


" Iya disini! Kamu harus mengajari wanita yang berbaring itu, cara melayani pria dengan baik." kata Erlangga dengan senyum sinis nya.


" Tapi aku sungguh malu, Erlangga! Apakah kamu sudah gila!" kata Diana.


" Bukankah kamu mencintai aku? Lakukan lah kali ini, apa yang kamu mau!" perintah Erlangga.


" Tapi tidak di depan sahabat aku itu, sayang!" sahut Diana sambil tersenyum dan melirik Andini.

__ADS_1


" Sahabat kamu? Hahaha! Kamu itu bohongnya kelewatan. Kamu mendekati dan berteman dengan Andini karena ingin dan berusaha mendekati aku, bukan?" idih Erlangga.


" Kamu benar Erlangga! Dan nyatanya aku benar-benar mendapatkan kamu." kata Diana.


" Kamu sangat licik, Diana!" sahut Erlangga.


" Lakukanlah! Tunggu apa lagi?" perintah Erlangga.


" Baiklah!" kata Diana.


Kini Diana memulai dan sengaja membuat hati Andini memanas dan cemburu. Andini hanya berusaha memalingkan matanya, tidak ingin melihat dan menyaksikan adegan yang akan membuat dirinya semakin terhina.


Diana mulai mengeluarkan suara manja yang bikin menggoda Erlangga. Erlangga hanya menyaksikan gerakan eksotis dari Diana. Erlangga tersendiri sinis menatap Andini.


" Andini! Kamu harus belajar semua dari Diana, sayang!" kata Erlangga.


" Mas! Aku akan keluar!" kata Andini lalu berusaha bangkit dari pembaringan nya. Dengan cepat, Andini berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar kamar,.tapi pintu kamar itu pun sudah di kunci dan kuncinya dengan cepat di ambil oleh Erlangga.


" Mas! Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan,Mas! Kamu bisa dendam karena aku sudah mengkhianati kamu. Tapi jangan dengan begini cara nya, kamu menghukum aku, mas!" kata Andini dengan suara serak dan badan masih lemas.


" Suka-suka aku,hah! Diana! Cepat kemarilah! Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan kepada ku." perintah Erlangga.


Diana dengan cepat membuat semua suasana semakin memanas. Dan Andini hanya berusaha menutup penglihatan nya. Tetapi Diana dan Erlangga sengaja mengeluarkan suara- suara yang membuat Andini bergidik dan penuh dengan penghinaan. Betapa tidak? Sebagai seorang wanita di depannya suaminya sendiri yang dengan sengaja melakukan adegan mesra dengan wanita lain di depannya.


" Cukup! Hentikan!" teriak Andini sambil melempar cangkir kopi dari buatan Diana yang diperuntukkan untuk Erlangga tadi tepat ke kepala mereka.


" Sial!" teriak Erlangga keras sambil menahan sakit.


" Aduh! Aww sakit sekali! Istri kamu itu tidak ada sopan santun nya mas!" kata Diana sambil mendekati Andini dan mulai bertindak kasar dengan Andini. Tangan Diana menjambak rambut Andini.


" Ah! Sakit Diana!" keluh Andini.


" Enak kali kau lempar cangkir itu ke muka kami,hah!" teriak Diana.


" Cukup!" ujar Erlangga lalu menarik tangan Diana menjauhkan dari Andini.


" Kau keluar lah! Jangan sakiti, istri aku!" ucap Erlangga.


" Is..tri...mu? Jelas- jelas dia sudah berkhianat dan berselingkuh dari kamu. Kamu masih bisa memaafkan nya?" ucap Diana tidak kalah.


" Keluar aku bilang!" teriak Erlangga.


" Baik! Baik! Aku keluar!" sahut Diana.


Kini hanya tinggal Andini dan Erlangga diam tanpa kata. Isak tangis Andini masih terdengar di ruang itu. Erlangga hanya diam terpaku, bingung dengan semua yang terjadi. Di lain sisi, masih dengan kecewa, amarah dan emosi nya. Tapi dilain sisi penuh dengan penyesalannya karena telah menyakiti Andini dengan perbuatannya. Kini Erlangga hanya duduk diam tanpa suara. Sesekali menarik dan mengacak-acak rambut nya sendiri.


Tidak berapa lama akhirnya, Erlangga mendekati Andini. Kini Erlangga hanya bisa memeluk tubuh istrinya itu tanpa suara. Tangis Erlangga pecah, butiran air matanya keluar seiring Isak tangis Andini yang masih tidak bisa terbendung.


" Maaf! Maafkan aku Andini." kata Erlangga pelan dengan tetap memeluk istrinya hangat. Dan Andini masih diam dengan air mata yang masih belum tuntas di matanya.

__ADS_1


__ADS_2