Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu

Maafkan Aku Suamiku, Aku Mengkhianatimu
TIDAK PULANG?


__ADS_3

Dunia yang seperti apa yang kau cari, wahai manusia? Dunia yang akan mengantarkan kamu kedalam kebahagiaan sejati. Sejatinya adalah hanya dirimu yang akan bisa menemukan semua. Letak kebahagiaan yang hakiki itu. Cobalah dengarkan suara hati kecil kamu yang gelisah, ketika kamu berlumur dan berkecamuk dalam lembah kenistaan. Segala yang kau lakukan menuruti keinginan dan nafsu belaka. Kebahagiaan yang seperti apa yang kamu inginkan? Ketika kamu sendiri masih diliputi kegundahan dan kekhawatiran.



Peluklah hatimu ketika kerinduan menyeruak dan menyerukan namanya. Ketika diam dan bimbang, gelisah itu akan melanda. Kenyataannya manusia akan dikuasai oleh energi yang meleburkan jiwa. Apakah kamu tidak akan bisa mengendalikan rasa. Rasa dendam yang semakin memuncak. Cinta akan berubah menjadi dendam dan kebencian. Akhirnya ter buta kan oleh tindakan yang menyakiti jiwa yang lainnya.


"Mbak Ita! Apakah Andini sudah pulang?" tanya Erlangga melalui sambungan telepon genggam nya.


" Belum tuan!" jawab Mbak Ita di seberang sana.


" Baiklah! Terimakasih banyak Mbak Ita. Jangan bilang kalau saya telepon mencarinya ya, Mbak Ita." kata Erlangga.


" Baik tuan!" sahut Mbak Ita lalu.


Erlangga melemparkan ponsel genggaman nya jauh dari tempat tidur nya. Tatapan nya tajam dan penuh kemarahan.


" Sudah jam sembilan malam tapi masih juga belum pulang." kata Erlangga sambil melihat Diana yang masih berbalut handuk usai dari kamar mandi.


" Kenapa sayang?" tanya Diana lalu mendekati Erlangga.


" Andini belum sampai di rumah." jawab Erlangga.


" Oh! Sudah telepon langsung Andini, istri kesayangan kamu itu? Atau coba hubungi saja Malik, sopir baru kamu itu." kata Diana.


" Oh iya! Aku hubungi Malik saja. Mana ponsel ku?" ujar Erlangga.


" Kebiasaan kalau lagi marah, lempar- lempar barang." sahut Diana sambil mengambil ponsel milik Erlangga yang ada di dekatnya.


" Halo Malik! Kamu dan Andini dimana?" tanya Erlangga setelah terhubung dengan nomer milik Malik.


" Maaf Pak Erlangga. Ponsel Bu Andini mati karena nge drop. Kami masih di pusat pembelanjaan Pak. Bu Andini tadi mengajak ke studio film dulu." cerita Malik di seberang sana.


" Oh ya? Coba kasih ponsel nya ke Andini." pinta Erlangga.


" Baik Pak!" jawab Malik yang langsung memberikan ponselnya kepada Andini.


" Halo mas!" sahut Andini setelah ponsel milik Malik sudah ada ditangannya.


"Kamu sudah makan, sayang?" tanya Erlangga kepada Andini.


" Sudah, Mas! Tadi makan di kafe." jawab Andini.

__ADS_1


" Oh. Lihat film apa?" tanya Erlangga basa- basi.


" Film action romantis, Mas! Aku masih butuh referensi juga mas untuk karya - karya ku nanti." cerita Andini.


" Baguslah! Oh iya Andini! Aku tidak pulang malam ini. Besok lusa baru pulang ke rumah." kata Erlangga.


" Mas! Katanya tadi menginginkan aku, mas!" kata Andini pelan melalui sambungan ponselnya di seberang sana.


" Hahaha! Jangan khawatir! Nanti kalau aku sudah pulang, lihat saja pembalasan aku di ranjang kita." kata Erlangga dengan penuh semangat. Diana yang mendengar ucapan Erlangga kepada Andini yang penuh keintiman mencubit keras pinggang milik Erlangga.


" Aduh!" teriak Erlangga.


" Ada apa mas?" tanya Andini masih di seberang sana.


" Tidak apa-apa sayang! Ada yang jatuh ke kepalaku." jawab Erlangga dengan kebohongan nya.


" Ya sudah Andini. Cepat pulang ya sayang. Tidak bagus angin malam menusuk kulit dan tubuh kamu, sayang." nasihat Erlangga.


" Iya mas!" sahut Andini.


" Andini, I love you!" kata Erlangga.


" I love you to!" jawab Andini lalu menutup sambungan ponsel itu.


" Apa hak kamu untuk cemburu? Dia istri aku, Diana." ujar Erlangga ketus.


" Oke! Oke!" sahut Diana sambil seketika menyerang Erlangga yang sudah siap dengan pelayanan Diana malam ini.


*******


" Erlangga tidak pulang malam ini." keluh Andini kepada Malik.


" Queen! Jangan sedih! Bukankah masih ada aku di sini yang menemani kamu." hibur Malik sambil menggenggam tangan Andini.


" Aku terlalu polos dengan hal ini. Berprasangka buruk pun dengan Erlangga pun aku tidak akan berani. Tapi hal ini sering terjadi." keluh Andini.


" Sekarang aku baru tahu! Ketika jauh kamu tidak pernah berkeluh kesah tentang suami kamu. Terkesan hubungan kalian baik- baik saja. Ada keluhan yang kamu sembunyikan dari aku." kata Malik.


" Di depan aku, Erlangga selalu manis. Tidak akan aku pikirkan ketika suatu hari pun ternyata Erlangga pun berkhianat dengan aku." keluh Andini.


" Apakah Erlangga sering tidak pulang ke rumah seperti ini, Andini?" tanya Malik.

__ADS_1


" Iya! Alasannya selalu bertemu klien sampai malam dan menginap di hotel."keluh Andini.


" Queen! Sudahlah sayang! Jangan banyak berpikir. Kita pulang yuk!" ajak Malik.


" Iya! Aku mau sate ikan tuna, Malik!" kata Andini sambil tersenyum.


" Bukankah tadi sudah makan? Apakah ketika kamu stres begini jadi makan banyak?" ujar Malik.


" Aku ingin bahagia dengan hidup aku, Malik!" sahut Andini.


" Aku bahagia ketika melihat kamu selalu tersenyum, Queen!" kata Malik tersenyum menggoda.


" Iya terima kasih atas cinta kamu, Malik!" sahut Andini.


Aku dan kamu tidak akan mengira. Seberapa jauh sayap ini akan terbang di angkasa. Mengikuti angin dan pergantian waktu. Tetapi satu yang menjadi keputusan yang tidak bisa terelakkan. Aku dan kamu masih sama- sama saling peduli.


" Sate ikan tuna nya diganti sate kambing saja gimana, queen." kata Malik setelah mereka masuk ke dalam mobil milik Andini.


" Baiklah!" sahut Andini sambil tersenyum.


" Nah disini saja, queen." kata Malik sambil menghentikan mobilnya.


" Ayo kita turun!" ajak Andini.


" Queen!" panggil Malik sambil menarik tangan Andini lalu dengan cepat mencium kening milik Andini.


Andini terdiam dan menatap lekat Malik.


" I love you, queen!" ucap Malik dengan tatapan penuh kelembutan.


" I love you to, Malik! Terimakasih sudah menyanyangi aku dengan tulus." kata Andini pelan.


" Oh sudahlah! Ayo kita turun!" ajak Andini.


Bayangan ku selalu mengikuti ku kemana aku melangkah. Dia selalu setia menemani ku setiap hembusan nafas dan detak jantung ku. Tapi ketika terdiam mematung menyatu dalam raga ini, sudah terpatri dalam tubuh ini. Jadilah kamu bayangan itu. Menemani aku dalam setiap sedih dan gembiraku. Hangatkan aku dalam dinginnya malam yang angin berhembus kasar menerpa rambut- rambut panjang ku. Selimuti lah aku dalam keadaan sepi ini ketika kesunyian menyeruak ketika aku sendiri dalam sunyi. Temanilah aku! Jangan tinggalkan aku sendiri disini, bersama kasihmu yang tulus.


" Queen! Ayo makanlah!" suruh Malik setelah beberapa tusuk sate kambing yang sudah di sajikan diatas piring itu ada di depan Andini.


" Suka yah dengan sate kambing?" tanya Malik sambil melihat Andini yang sangat lahap memakan sate kambing itu.


" Suka! Seperti aku sangat menyukai kamu, Malik!" jawab Andini asal sambil tersenyum.

__ADS_1


" Hahaha! Mulai lagi kan, nakal nya." sahut Malik yang tertawa senang.


__ADS_2