
Mentari sudah mulai mengintip dibalik awan. Malu- malu sinarnya menembus gumpalan awan. Selimut tebal itu mulai tersingkap diantara dua insan yang terkulai di atas peraduan. Dua insan yang masih polos di atas kasur empuk dikamar sekotak. Keduanya masih menggeliat mengikuti irama yang membentuk gesekan jiwa. Permainan biola dengan ritme maju mundur menimbulkan suara keluhan yang tak bisa diartikan. Sampai merasa letih terkapar lemas dengan senyuman puas diantara keduanya.
Erlangga mulai memberikan kecupan lembut nya di bibir wanita di bawah nya. Namun kembali Erlangga meraup bibir wanita itu hingga ciuman panjang itu terjadi. Pergumulan itupun akhirnya kembali terjadi lagi. Erlangga kembali menguasai tubuh wanita yang masih belum berpengalaman dalam permainan ranjang, hingga tampak pemandangan yang seperti membentuk roti tawar ditumpuk menjadi dua. Ditengahnya dengan toping keju yang meleleh dan berceceran. Gerak- gerakan erotis itu kembali tercipta. Irama gesekan biola itu pun menimbulkan suara yang khas ditelinga. Nyaris membuat merinding jika seseorang mendengar jeritannya.
Zenna memejamkan mata, pasrah dan ridlo menjadi istri dari Erlangga. Sesekali terdengar suaranya karena permainan biola Erlangga yang menghasilkan suara dari Zenna. Hal itu semakin membuat Erlangga lebih bersemangat dengan permainan nya. Bagi seseorang pria ini adalah kesenjangan tersendiri bisa membuat pasangan nya mengeluh dalam kepuasan karena permainan nya. Bagi pria ini adalah bukti dan pembuktian bahwa dirinyalah bisa memberikan kepuasaan dan kenyamanan bagi pasangan nya. Menunjukkan bahwa dirinya luar biasa dalam urusan ranjang. Membuktikan bahwa dirinya pejantan tangguh yang tidak lemah.
Tidak lama akhirnya suara pekikan terdengar keras dari mulut Erlangga seolah bebannya selama ini dia keluarkan dan tuntaskan seharian itu bersama Zenna.
Zenna tersenyum dan mulai merapikan pakaian nya. Zenna mulai memakai pakaian nya yang saat ini masih polos itu. Erlangga melirik betapa seksi sekali istrinya itu. Walaupun saat ini mereka menikah dalam kontrak. Tapi dalam keyakinan Zenna, dia akan berusaha bertahan dengan statusnya. Dia pelan- pelan akan terbiasa dengan setiap keringat dan aroma tubuh Erlangga. Akan terbiasa dengan perhatian nya yang mungkin awalnya terasa kaku. Namun Zenna sangat yakin, Erlangga adalah tipe laki-laki yang bertanggung jawab dan perhatian.
" Tuan! Saya akan membuatkan sarapan pagi untuk kamu." kata Zenna yang sudah berpakaian itu.
__ADS_1
" Jangan panggil aku dengan kata itu. Bukankah kemarin kamu sudah memanggil aku dengan panggilan Mas?" protes Erlangga.
Zenna menatap Erlangga yang masih tiduran di atas kasur empuk itu. Senyumnya dilemparkannya begitu tulus.
" Eh iya, mas!" sahut Zenna.
" Itu terdengar mesra ditelinga aku, Zenna!" sahut Erlangga sambil mengedipkan matanya nakal.
" Zenna!" panggil Erlangga dengan tersenyum.
" Iya, mas!" sahut Zenna setelah membalikkan badannya.
__ADS_1
" Setelah membuatkan sarapan untuk aku, cepatlah kembali lagi ke kamar!" kata Erlangga sambil tersenyum.
" Ada apa mas?" tanya Zenna.
" Aku ingin lagi!" jawab Erlangga dengan memainkan matanya.
Zenna melongo melihat wajah Erlangga yang terlihat begitu tampan pagi itu. Zenna baru menyadari suaminya sungguh begitu tampan dengan kulitnya yang bersih.
" Kamu sudah membuat aku kecanduan." ujar Erlangga.
Zenna hanya memberikan senyuman nya. Baginya kata- kata dari Erlangga membuat dirinya masih malu. Zenna masih belum terbiasa dengan bahasa mesum seorang pria. Walaupun pria itu sudah menjadi suaminya.
__ADS_1