MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Stephanie Bach


__ADS_3

Floretta telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Saat mereka bersiap untuk pulang, dokter Maureen berkunjung kembali ke ruangan eksekutif rawat inap Floretta. Sebagai teman, ia ingin mengingatkan Jarvis tentang kesiagaan.


"Kalian sudah bersiap pulang?" Jarvis menoleh pada Maureen yang baru saja masuk ruang rawat.


"Ya. Sedang menunggu Floretta dari kamar kecil," jawab Jarvis mengakhiri kegiatan menyimpan barang milik Floretta ke dalam tas.


"Aku ingin mengingatkanmu kembali Jarvis, tolong perhatikan kesejahteraan emosional istrimu agar bayi kalian bisa lahir dengan keadaan sehat. Vitamin dan nutrisi sangatlah penting, tetapi ketenangan batin seorang ibu hamil tidak kalah penting."


Jarvis menganggukkan kepalanya.


"Aku ada kenalan seorang ahli kesehatan jiwa dan mental, ini kartu namanya, bila kalian membutuhkan bantuan, silakan mendatangi atau menghubunginya." Jarvis menerima kartu nama dari tangan Maureen.


Bersamaan dengan itu Floretta keluar dari kamar kecil.


"Ingat untuk menjaga kesehatan Anda, Ibu Floretta," ujar Maureen saat Floretta mendekat. Floretta mengangguk mengiyakan ucapan dokter Maureen.


Maureen undur pamit dari ruang rawat. Jarvis menunggu ajudan untuk membawakan perlengkapannya dan istri ke dalam mobil.


"Aku akan mengantarkanmu dulu pulang, setelahnya akan langsung ke kantor. Ada rapat pengembangan produk," terang Jarvis.


Floretta mengangguk sebagai bentuk respon pada perkataan Jarvis. Dia semakin irit berbicara, bertolak belakang dengan Floretta yang dulu.


Sepanjang perjalanan pulang pun Floretta hanya diam saja. Jarvis kerap menoleh pada istrinya yang tetap setia memandang keluar jendela mobil. Jarvis seperti tidak dianggap kehadirannya.


Jarvis juga tidak mengatakan apapun selama mobil bergerak menuju kediaman mereka. Ia khawatir bila emosi Floretta menjadi tidak stabil setelah mendengar perkataan Jarvis.


Saat mobil masuk ke pekarangan dan berhenti di depan teras, ajudan merangkap pengemudi gegas keluar lalu menurunkan koper dari bagasi, setelahnya memasukkan ke dalam rumah.


Sewaktu Floretta memegang gagang pembuka pintu mobil, mendadak lengannya dipegang oleh Jarvis. Gerak Floretta terhenti, ia berpaling ke arah suaminya.


"Em... ingat minum vitamin ya. Aku harap... kau bisa menjaga janin dalam kandunganmu, bagaimanapun juga dia --"


Tidak menunggu ucapan Jarvis selesai, Floretta membuka pintu dan menarik lengannya dari pegangan Jarvis. Tidak ada ucapan maupun kecupan perpisahan, Floretta keluar dalam kondisi diam saat turun dari mobil, bahkan perempuan itu tidak menoleh ke belakang memastikan Jarvis telah pergi atau belum.

__ADS_1


Floretta melangkah menuju kamarnya. Dael dan Rosalie masih di sekolah mereka. Para asisten yang melayani menyambut kepulangannya dari rumah sakit, tetapi tidak ada yang berani mengajak bicara. Mereka juga perlahan merasakan perubahan pada nyonya rumahnya.


Floretta kesal dengan Jarvis, ia menganggap kalau Jarvis hanya mempedulikan janin dalam kandungannya. Namun, untuk diri Floretta sendiri minim dukungan dan perhatian dari Jarvis.


Floretta merutuki sikap manjanya, untuk apa dia kesal kalau sebenernya Floretta tahu bila suaminya tidak peduli karena tidak ada rasa cinta yang tumbuh untuknya. Floretta menertawakan dirinya sendiri.


Sekian detik kemudian, air mata Floretta nenitik, sambil menyentuh perutnya ia berujar, "Ibu, minta maaf, Nak. Ibu terpaksa berlaku seolah-olah menolakmu," ucapnya lirih menghapus bening di kedua pipinya. "Ibu... ibu... hanya ingin ayahmu marah dan melepaskan ibu dari pernikahan yang menyesakkan ini. Ibu merasa lemah dan tidak kuat."


Floretta terduduk di lantai karpet kamarnya, bersender ke ranjang tidurnya. Teman setianya hanya air mata, yang selalu muncul berusaha menghapus lara yang mendera batinnya.


Di perusahaan Kireiguzedes, dihasilkan keputusan rapat untuk menciptakan produk baru yakni kosmetik wanita. Perusahaan telah berkembang baik dan ada kesempatan baik untuk mengembangkannya dengan produk kosmetik.


Sebelumnya tim peneliti di perusahaan Kireiguzedes telah melakukan serangkaian penelitian terkait produk dan calon konsumen. Hasilnya banyak calon konsumen yang memunggu akan munculnya produk baru berupa kosmetik dari Kireiguzedes.


Untuk produk kosmetik sendiri, sama seperti produk skincare, Kireiguzedes memutuskan tetap menjunjung etika dan pemilihan bahan aman untuk segala jenis kulit perempuan. Perusahaan tidak khawatir membandrol harga yang lebih tinggi daripada produk sejenis oleh perusahaan kecantikan lain sebab kualitas produknya bukan abal-abal.


Setelah rapat selesai, Jarvis berkeinginan untuk kembali pulang ke rumah. Jam menunjukkan pukul tiga sore hari. Rapat internal perusahaan tadi dimulai pukul satu siang setelah jam istirahat selesai.


Namun, kepulangannya terganggu karena seseorang datang ke perusahaannya.


Mendadak ibu kandung Jarvis, Stephanie Bach, melempar satu bundel kertas ke meja kerja.


"Apa maksud dari berita yang berkembang saat ini Jarvis? Inisial nama dan dugaan media, apa ini semua benar adanya?" desak Stephanie dengan suara nyaris meninggi.


Jarvis memandang bundelan kertas di hadapannya, ia meraihnya lalu membaca lembaran demi lembaran.


Jarvis menaruh kembali ke atas meja, ia baca tidak sampai selesai.


"Mama duduk dulu," ujar Jarvis. Stephanie mengikuti tawaran Jarvis. Duduk sangat baik bagi dirinya yang sangat terkejut menerima informasi mengenai sikap tidak terpuji anaknya.


"Katakan yang sejujur-jujurnya Jarvis, apa benar yang ditulis di media itu semua? Mama sengaja mencetaknya agar kau bisa mengklarifikasinya pada mama."


Jarvis terdiam dan menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Jarvis!" sergah Stephanie tidak sabar. Diamnya Jarvis tidaklah dimengerti oleh Stephanie.


"Ma... ini sudah masa lalu, tidak ada hubungan apapun lagi antara aku dan perempuan itu," Jarvis berusaha memilih kalimat yang tidak mengejutkan. Ia menyampaikan dengan tenang. Stephanie punya riwayat penyakit jantung dalam lima tahun terakhir, Jarvis khawatir penyakit itu mendadak kambuh.


"Masa lalu?!" Nyatanya, mata Stephanie membelalak, berita di media tidaklah salah. "Berarti pernah terjadi perselingkuhan?!!"


Jarvis memandang ibunya dalam diam, lalu mengangguk samar.


"Anak kurang ajar!!" Stephanie melempar bundel ke dada Jarvis. Untungnya, Jarvis bisa menangkap bundelan itu tanpa mengenai tubuhnya sendiri.


Stephanie menatap sengit putra kedua kebanggaannya itu.


"Keluarga Meyer tidak pernah mendidik anak-anaknya untuk berselingkuh. Pengetahuan dari mana kau dapatkan itu, Jarvis!" Stephanie geram, ia mengucapkannya dengan nada bergetar. Air mata tidak tertahan mengucur begitu saja. Ia teringat pada Floretta, menantu kesayangannya.


Jarvis bangkit dari tempat duduknya pergi menyeberangi mejanya mendapati Stephanie yang tengah terisak.


"Mama... maafkan aku... itu kekhilafan..." Jarvis berlutut di hadapan ibu kandungnya memegang kedua tangan Stephanie yang tergenggam.


Stephanie menarik begitu saja tangannya. "Khilaf? Berhubungan dengan perempuan lain dengan tidak terikat pernikahan selama dua tahun, itu kau sebut khilaf?!"


Stephanie benar-benar marah, ia menampar putra kesayangannya itu. Menurutnya, itu bukanlah kekhilafan atau kekeliruan, melainkan kesenangan yang tidak dipikirkan konsekuensinya.


Wajah Jarvis tertoleh ke samping. Ini perempuan kedua yang menamparnya, setelah sebelumnya Floretta melayangkan tangan pada Jarvis. Stephanie sosok yang sabar, hanya saja kali ini rasa sabarnya tergerus.


Stephanie dan Floretta dekat sebagai mertua dan menantu bahkan sampai saat kejadian ini, Stephanie tidak mendapat cerita apa pun dari menantunya itu perihal perselingkuhan Jarvis.


Padahal, sepengetahuan Stephanie, Floretta yang dikenalnya ร dalah pribadi ceria dengan seribu satu cerita bila mereka berjumpa.


Jarvis berlutut dengan kondisi tertunduk.


"Mama kecewa dengan sikapmu, Jarvis," ucap Stephanie lirih, "betapa sering mama dengar cerita istrimu, kalau dia begitu mencintai dan mengasihi keluarganya. Tidak pernah sedikit pun membongkar keburukanmu. Kenyataannya, kau khianati istrimu pada tahun awal pernikahan!" Stephanie menunjuk-nunjuk anaknya, ia menahan geram ingin mendamprat anaknya itu lagi.


Jarvis hanya diam mendengarkan, kepalanya terus menunduk. Nasi sudah jadi bubur, masa lalu tidak bisa diperbaiki.

__ADS_1


**********


Jangan lupa subscribe cerita ini untuk mendapatkan notifikasi update ya readers. Kiss ๐Ÿ˜˜ ๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2