MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Anak-anak Pintar


__ADS_3

Jarvis menghabiskan waktu sejam hanya berendam di bath up. Ia mengisi sampai air berlimpah ruah ke lantai, menyisakan bagian kepala dengan mata tertutup.


Apakah yang seharusnya mati adalah dirinya bukan Floretta? Sebab, begitu banyak orang yang mengasihi Floretta. Sementara itu, Jarvis adalah pihak yang dijauhi karena sikap salahnya.


Perlahan tubuh Jarvis merosot tenggelam ke dalam air. Tidak ada tanda gelembung di air, Jarvis menahan nafasnya sudah beberapa menit berlalu.


"Ayah... ayah," panggil Dael dan Rosalie bergantian diiringi gedoran pintu berkali-kali.


Mendadak kepala Jarvis muncul ke permukaan sambil terbatuk-batuk. Wajahnya memerah hingga rasa mual menyerangnya. Laju nafasnya belum beraturan.


Panggilan Dael dan Rosalie masih terus terdengar olehnya. Jarvis memukul air dengan keras sampai tersembur keluar bath up.


Jarvis mendadak merasa ingin menangis. Pria yang selalu tampil kuat dan prima, saat ini berubah cengeng. Jarvis menampar sendiri kedua pipinya, bahkan menjambaki rambut basahnya.


Suara panggilan Dael dan Rosalie nyatanya hanya ada dalam pikiran Jarvis. Saat ia masuk ke kamar kecil saja telah pukul sebelas malam. Jarvis mengalami halusinasi akibat terlalu banyak menenggak alkohol.


Jarvis benar-benar menangis, mengingat kedua buah hatinya dan calon anaknya yang masih dalam kandungan Floretta. Seperti apa nasib masa depan keturunan Meyer itu saat mereka menyadari ayahnya bukanlah suami dan ayah yang bijaksana seperti yang mereka banggakan selama ini.


Dael, Rosalie... maafkan ayah." Jarvis seperti seorang anak kecil yang sedang tantrum akibat permintaannya tidak dipenuhi. Suara kepiluan hanya didengar Jarvis seorang diri dalam ruang pribadi yang dibatasi tembok kedap suara.


"Flo... Flo... pertimbangkan anak-anak kita," isak Jarvis tertunduk, berbisik pada angin.


Mendadak Floretta tersentak, ia terbangun, memindai ruangan putih tempatnya dirawat. Di sudut ruangan, ia melihat sosok Jadden tertidur pulas di atas sofa.


Floretta merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu, hanya mereka berdua di dalam ruangan. Floretta merasa terancam dengan keberadaan Jadden.


Saat seperti ini, Floretta menginginkan kehadiran Jarvis. Namun, egonya menolak untuk meminta suaminya datang.


Floretta gemetaran dalam ruangan dengan suhu kamar 80,6 derajat Fahrenheit. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut putih rumah sakit, menghadap ke arah berlawanan dari tempat Jadden tidur.


Rasa takut, marah, sesal, dan kasihan bercampur menjadi satu dalam hati Floretta. Tiba-tiba selimutnya disentuh dari luar, mata Floretta membelalak, ada dugaan buruk melintas di otaknya.


"Floretta, kau menggigil?" tanya suara itu.


Mendengar suara yang tidak asing, Floretta cepat membuka selimutnya, wajah Stephanie menyambutnya dengan senyuman. Floretta menarik nafas panjang melambangkan kelegaan.


"Ma... mama, masih di sini?" tanya Floretta dengan suara kecil terdengar seperti orang bingung.

__ADS_1


"Ya, mama menungguimu bersama Jadden." Manik Floretta menoleh pada Jadden yang masih terlelap nyenyak.


"Tidurlah kembali," suruh Stephanie menyentuh bahu Floretta.


Stephanie kembali ke arah sofa untuk beristirahat. Pikiran Floretta menerawang ke rumahnya, memikirkan bagaimana Dael dan Rosalie tidak menemukannya setelah pulang sekolah. Floretta menduga pasti mereka mencari-cari dirinya.


Keesokan pagi, Jarvis telah bersiap di ruang makan untuk berangkat ke kantor. Dael dan Rosalie datang dan sontak memeluk Jarvis.


"Ayah sudah pulang dari luar kota, ibu mana?" tanya Dael gembira memutar tubuh mencari ibunya. Sikap Dael ditiru oleh Rosalie.


Jarvis memandang Rayya yang tersenyum canggung padanya. Setelahnya, menatap kedua pengasuh anaknya yang malah menundukkan kepala.


"Maaf Tuan, saya mengatakan kalau --"


Jarvis mengangkat tangannya pertanda tidak perlu meneruskan kalimat itu lebih lanjut, Gaby yang turut hadir dalam ruang makan sedang berusaha menerangkan.


"Ayah dan ibu keluar kota urusan bisnis, Dael, Rosalie," terangnya sembari mengulas senyum.


Jarvis mengusap-usap bergantian kepala Dael dan Rosalie. Ia meminta semua pekerja di kediamannya meninggalkan mereka bertiga.


"Ibumu masih ayah tinggalkan di sana, nanti ayah akan menjemputnya kembali. Ayah dan ibu bisa jadi tidak pulang malam ini, ya anak-anak."


"Apakah ada masalah dengan pekerjaan ayah?" tanya Dael penasaran.


Jarvis seolah-olah tampak berpikir keras. "Ya, ada sedikit masalah. Itulah sebabnya, kami menjadi meninggalkan kalian. Yang pasti, ini tidak akan lama. Ayah berjanji," ucap Jarvis dengan meunjukkan jari kelingkingnya.


Dael dan Rosalie secara bergantian menautkan jari kelingking mereka pada Jarvis.


"Mengapa ibu harus ayah bawa? Dulu tidak begitu?" Dael masih terus mencecar ayahnya dengan pertanyaan lain, meskipun jari mereka telah bertaut.


"Itu karena.... karena.... ayah membutuhkan ibu," sahut Jarvis dengan rasa hangat menjalar di wajahnya.


"Wah, seperti tanaman membutuhkan tanah?" tanya Dael dengan filosofinya sendiri.


Jarvis tercengang dengan analogi anaknya. "Dari mana kau tahu berkata seperti itu Dael?" Jarvis tersenyum, tertarik mendengarnya.


"Dari ibu... sewaktu berkebun, ibu pernah mengatakan kalau bunga di taman membutuhkan tanah yang subur agar ia hidup, itu seperti ibu yang membutuhkan ayah, ibu hidup karena ayah sayang ibu."

__ADS_1


Darah Jarvis sekonyong-konyong berdesir hebat mendengar ucapan Dael, pudar senyuman dari wajah berubah memucat, terasa kepala Jarvis mengecil karena malu.


Jarvis tertegun dan dihantam rasa bersalah.


"Ibu sayang ayah," Rosalie malah ikut-ikutan membenarkan ucapan kakaknya.


Jarvis menutup kedua matanya dan menarik nafas untuk menormalkan kembali perasaannya.


"Suatu saat bila... kalau... ibu menjauhi ayah, kalian harus yakinkan ibu kalau ayah...." Jarvis meragu dengan kata-kata yang akan diungkapkannya.


"Ayah sayang ibu," ucap Rosalie girang dengan sok tahu, ia tersenyum dengan menujukkan barisan giginya yang rapi pada Jarvis.


Mereka bertiga tertawa lepas dan bahagia.


"Kalian anak pintar ayah dan ibu." Jarvis memeluk keduanya dengan erat, seerat rasa yakinnya untuk memperjuangkan Floretta dan rumah tangganya.


Usai Floretta sarapan, Stephanie dan Jadden meninggalkannya. Floretta kini didampingi oleh Rayya.


Jadwal Floretta pagi ini dikunjungi oleh Maureen untuk kontrol pasien.


Begitu Maureen masuk, ia memeriksa keadaan Floretta. Anemia yang diderita Floretta memang tidak membahayakan saat itu juga, tetapi untuk jangka sekian bulan bisa berdampak buruk bagi ibu dan calon bayi.


Maureen menerangkan bahwa Floretta mengalami anemia defisiensi gizi besi.


"Saya harap Anda lebih bisa memperhatikan konsumsi makanan selama kehamilan yang mengandung zat besi tinggi seperti daging, kuning telur, susu, hati ayam, brokoli, ikan."


"Saya telah meresepkan suplemen zat besi dan juga vitamin C untuk membantu penyerapan zat besinya. Sebaiknya hindari stres, karena dapat menyebabkan nafsu makan berkurang."


Floretta menerima saran dari Maureen dengan baik.


"Seharusnya saya menyampaikan hal ini di hadapan suami Anda, saya lihat suami Anda tipe yang siaga," nilai Maureen. "Selama dua kali Anda dibawa ke sini, beliau selalu bertanya banyak hal seputar kehamilan," sambung Maureen menyampaikan fakta yang dilihatnya.


Floretta tersenyum kecut mendengar penilaian Maureen. Dalam hatinya, Jarvis tidak pernah tahu-menahu dengan proses kehamilannya. Floretta tidak yakin kalau Jarvis berubah siaga di kehamilan ketiganya.


Floretta mengingat kalau Jarvis memiliki anak dari rahim perempuan lain, bisa jadi perhatian yang selama ini tercurah untuk Dael dan Rosalie akan terbagi juga untuk anak yang usianya setahun di atas Dael itu.


Floretta menyesali sikapnya yang dikuasai emosi sesaat. Bila dirinya sempat tewas saat itu, maka Dael dan Rosalie akan menjadi korban dari keegoisannya. Tekad Floretta positif untuk menata hidupnya kembali sebagai ibu yang akan memiliki tiga anak dengan menjauhi niat bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2