
"Mohon izin Tuan, Tuan Jarish Meyer datang berkunjung," lapor sekretaris melalui interkom nirkabel yang terhubung ke ruangan Jarvis.
Jarvis memandang dokumen di atas meja dan komputer jinjing yang menunjukkan kalau begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Ditambah lagi, tidak ada dukungan keluarga Meyer padanya, Jarvis rasanya enggan untuk menerima siapa saja yang ingin menemuinya.
Mengingat keadaan kesehatan ayahnya, Jarish, yang telah menggunakan kursi roda, Jarvis merasa tidak beretika bila menolaknya.
"Ya, persilakan masuk."
Jarvis membenahi meja dengan menggeser pekerjaannya ke pinggir, ia perlu fokus pada pembicaraan yang akan dilontarkan oleh ayahnya nanti.
"Jarvis, apa kabarmu?" tanya Jarish begitu masuk ke ruang kerja Jarvis.
Jarvis berdiri dan melangkah ke arah Jarish. "Buruk, Pa. Aku tidak yakin Papa tidak tahu apa yang menimpaku."
Jarvis duduk di sofa ruang kerjanya. Jarish menggerakkan kursi roda otomatisnya mendekat ke sofa.
"Papa bisa melihatnya." Jarish terkekeh geli.
Hembusan nafas kencang Jarvis terdengar, ayahnya berpura-pura menanyakan kabar. Jarvis merasa sedang diledek ayah sendiri.
"Bila Papa kemari untuk memarahiku dan meminta menjauhi Floretta, menantu papa, aku tidak bisa." Jarvis berdiri hendak beranjak kembali ke meja kerja.
"Mengapa kau begitu emosional, anak muda?" Jarish tersenyum melihat gelagat putra keduanya. "Duduklah, Papa hanya ingin berbincang dan tidak akan menyerangmu," sambung Jarish. Jarvis menuruti perkataan Jarish dan melempar dirinya kembali ke sofa.
"Papa mendengar kasus yang menimpamu. Mamamu sangat marah, kita bisa pahami, sebab ia mengasuhmu dengan harapan kau bisa membanggakan keluarga."
"Dan aku gagal. Saat terjatuh, tak seorang pun membantuku," ucap Jarvis langsung murung merasa kecewa.
"Papa rasa jatuh dalam proses hidup adalah hal yang wajar. Selagi nafas menyatu tubuh, kau berjuang bangkit kembali." Jarish mendukung anaknya. Ia memilih tidak menyerap secara emosional, meskipun rasa marah tetap saja ada.
Jarvis menoleh ke arah papanya. "Mengapa Papa berbeda?"
Jarish tertawa mendengar nada curiga dari putranya.
"Papamu ini bukan orang sempurna. Pernikahan kami telah melewati usia 30 tahun, banyak hal telah terjadi. Harta, tahta, dan wanita adalah kelemahan sekaligus kekuatan seorang pria dari kalangan manapun. Namun, itu bukan faktor utama melainkan dari dasar diri sendiri."
"Aku tidak mengerti maksud Papa. Apakah Papa dulu juga terlibat perselingkuhan atau perebutan harta?" tanya Jarvis bingung, ia berharap jawabannya 'tidak.'
__ADS_1
Jarish menghela nafas panjang. "Sudah papa katakan banyak hal terjadi di masa lalu. Kau, sebagai anak kesayangan papa, harus ingat untuk tidak percaya pada siapapun dan apapun. Kau harus melihat bukti bukan ucapan sebatas kata-kata," terang Jarish demi kebaikan Jarvis.
"Pada siapapun termasuk keluarga dan orang kepercayaanmu," sambungnya.
"Apakah maksud Papa semua orang menginginkan kehancuranku?" tanya Jarvis, masih belum begitu paham ucapan Jarish.
"Tidak demikian. Kau hanya perlu berjaga-jaga terhadap siapapun. Tidak terjebak permainan kata-kata," saran Jarish. "Kau akan mengerti seiring waktu berjalan."
Jarvis bergeming memandang papanya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang kemana-mana.
"Papa harus pergi, mama tidak tahu papa kemari." Jarish membalik tubuhnya berjalan keluar tanpa sepatah kata tambahan dari Jarvis yang sedang termangu memikirkan pesan abstrak dari papanya.
Keadaan Floretta semakin membaik, ia mengikuti pesan yang disampaikan oleh Maureen untuk mengonsumsi makanan sehat sesuai kebutuhan dua jiwa.
Rasa rindu pada Dael dan Rosalie membuncah dalam dadanya. Bila menghubungi kedua bocah saat ini waktunya kurang tepat sebab mereka belum pulang dari sekolah.
Untuk mengobati rasa rindu, Floretta menggulir galeri folder favorit berisi banyak foto anak-anaknya.
Senyum manis dan tawa kecil menghiasi wajah Floretta dengan memandang foto Dael dan Rosalie. Sesekali Floretta memberi komentar terhadap foto ekspresi anak-anaknya lucu dan menggemaskan.
Di kala foto keluarga kecilnya muncul, senyum Floretta mendadak pudar. Ia menggulir yang lain malah menemukan foto dirinya sedang berdiri memeluk Jarvis yang duduk tanpa senyum. Pemotretan mereka lakukan di studio foto dua tahun yang lalu, Dael dan Rosalie masih balita.
Kilauan kain tipis dengan tenunan polos dan kosmetik flawless membantu memancarkan pesona cantik Floretta. Sayang sekali, Jarvis bersikap biasa saja.
Tarikan nafas Floretta bergetar sewaktu mengamati foto mereka berdua. Floretta teringat dirinyalah yang membujuk Jarvis agar bersedia melakukan pemotretan foto keluarga.
Butuh waktu sebulan untuk mendapat kata 'ya' dari Jarvis. Itulah sebabnya, file foto disimpan khusus dalam folder 'keluarga kecil JM' oleh Floretta dalam ponselnya.
Ditambah lagi raut datar yang ditunjukkan Jarvis dalam foto itu, bagi Floretta kini melambangkan ganjaran atas pemaksaan pernikahan yang dilakukannya dulu.
Disayangkan, keinginan Floretta lepas dari Jarvis terganjal oleh pria itu sendiri yang enggan mengatakan 'ya' untuk berpisah. Floretta tidak habis pikir mengapa di waktu bisa bebas darinya Jarvis tidak mengambil kesempatan baik ini. Apakah mempertahankan pernikahan mereka sebagai upaya Jarvis untuk membalaskan sakit hatinya pada Floretta?
Floretta berdecih dengan gelengan kepala, mungkin saja itu benar, batin Floretta.
Kebulatan tekad Floretta tidak ingin mundur lagi, suatu saat Jarvis mengetahui masa lalunya pun pria itu pasti akan pergi meninggalkannya dengan rela hati.
Ibu jari Floretta dengan cepat menekan semua foto dirinya dan Jarvis, menyisakan foto keluarga yang ada anak-anaknya. Setelah semuanya dibubuhi tanda ceklis, ibu jari Floretta malah terhenti di udara.
__ADS_1
Ini merupakan file yang tertinggal, Floretta tidak lagi memiliki softcopy foto studio terakhir mereka.
Tanpa bisa membohongi dirinya sendiri, dengan rasa sedih berlinang air mata, Floretta mencari gambar tempat sampah untuk membuang foto kenangan bersama Jarvis secara permanen.
Floretta merasa kalau menyimpan gambar kenangan terlalu lama, bisa jadi dirinya akan sulit untuk berpindah dari rasa sayang pada Jarvis yang masih kuat membelit hatinya.
Setelah semua gambar hilang dari ponselnya, Floretta menyentuh lalu menepuk dadanya dengan kepala menunduk. "Kau harus kuat, Flo," lirihnya pada diri sendiri.
Di saat yang bersamaan, ponsel Floretta berdering, ada panggilan masuk dengan nama 'Suamiku Tersayang'. Floretta lupa untuk mengganti nama orang yang selama ini jadi pemilik hatinya.
Floretta menatapi ponselnya, antara menjawab atau tidak panggilan Jarvis. Namun, bagian hatinya yang tersakiti langsung mengonfirmasi agar tidak perlu menjawab panggilan dari Jarvis. Floretta diperintahkan untuk tetap fokus pada keinginan untuk berpisah dan tidak memberi celah untuk berbaikan.
Floretta menuruti bagian hatinya itu sampai ponsel itu diam dengan sendirinya.
Tidak lama pesan masuk ke ponsel Floretta.
[Bagaimana kabarmu? Maureen mengatakan besok sudah bisa pulang. Aku akan menjemputmu.]
Floretta sendiri baru tahu kalau dirinya esok bisa kembali pulang. Sore nanti Maureen baru akan berkunjung kembali dan mungkin akan menyampaikan berita itu.
[Tidak perlu dijemput. Walden akan menjemputku.]
Jarvis memandang tidak suka pada bunyi pesan Floretta yang singkat tanpa menggunakan ucapan manis seperti beberapa bulan lalu.
[Aku masih suamimu. Menurutlah. Untuk urusan yang lalu, aku akan menjelaskan padamu nanti.]
Floretta mendengkus, ia kenal Jarvis yang berkemauan keras. Sekalipun Floretta menolak, besok Jarvis pasti datang ke rumah sakit.
Jarvis menunggu pesan balik dari istrinya, dia merasa tidak menerima balasan Floretta malah menjadi pertanda baik.
[Terima kasih telah jadi istri penurut.]
Membaca pesan Jarvis, Floretta melempar ponselnya ke tempat tidur arah kakinya. Jarvis pasti tahu kalau Floretta masih punya perasaan lebih padanya. Floretta memilih merebahkan dirinya dan tidak akan membaca pesan siapapun dari ponselnya yang berakhir membuat dirinya kesal.
Floretta harus menyiapkan amunisi untuk melawan Jarvis saat mereka berjumpa besok.
Jarvis senang menerima kabar dari Maureen yang menginformasikan kesehatan istrinya bertambah baik, padahal pada Dael dan Rosalie ia katakan ibunya kemungkinan beberapa hari lagi masih di luar kota. Nyatanya, besok mereka bisa berkumpul bersama. Jarvis merasa anak-anaknya akan senang dengan kejutan yang akan mereka berikan.
__ADS_1
Jarvis menaiki kendaraan roda empatnya keluar dari parkiran rumah sakit. Jarvis secara khusus menemui Maureen untuk menanyakan keadaan kesehatan istrinya.
Dari perbincangan itulah, Jarvis mendapat kabar kemungkinan besar Floretta sudah bisa pulang bila kondisi kesehatannya stabil membaik. Jarvis tidak mengunjungi ruang rawat istrinya, ia menghargai Floretta yang masih menolak untuk bertemu dengannya.