
Dengan tergesa-gesa Jarvis berlari melalui lorong rumah sakit. Jarvis terlambat tiga puluh menit dari janjinya untuk menjemput Floretta.
Rapat internal bersama top manajemen mendadak harus diikutinya, itulah sebabnya tidak dapat menjemput tepat waktu.
Ruangan rawat kosong sewaktu Jarvis memasukinya. Ranjang pasien dan nakas telah bersih dan rapi. Jarvis keluar ruangan, bertepatan seorang perawat melewati dirinya.
"Suster, pasien bernama Nyonya Floretta tidak berada di ruangan," lapornya.
"Nyonya Floretta telah meninggalkan ruangan sekitar lima belas menit yang lalu," ungkap perawat lalu berlalu untuk bertugas.
Jarvis menyender ke dinding ruangan dan memegang pelipisnya. Pulang bersama Walden?
Gegas Jarvis mengambil ponsel dan menghubungi Walden.
"Walden, apakah Nyonya Floretta sudah tiba di rumah?"
"Sudah, Tuan. Baru saja masuk bersama nyonya besar."
Jarvis bernafas lega setelah mendengarnya.
Jarvis meninggalkan rumah sakit tidak kembali lagi ke kantor, melainkan pulang menuju kediamannya.
Sesampainya di rumah mewahnya, Jarvis menemukan sosok Jadden sedang bermain bersama kedua buah hatinya yang telah pulang dari sekolah.
Jarvis tertegun menyaksikan Dael dan Rosalie tertawa lepas bersama Jadden, padahal mereka hanya bertemu sewaktu diundang makan malam di kediaman keluarga Meyer.
Bertepatan dengan itu, Jadden menoleh ke arah adiknya.
"Kalian bermain dulu, ya. Paman keluar sebentar."
Jadden menutup pintu ruangan bermain, Dael dan Rosalie bermain diawasi oleh pengasuh masing-masing.
"Ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya Jarvis dengan nada tidak suka.
Jadden tertawa. "Ada apa denganmu? Sejak awal bertemu, kau seperti tidak senang aku kembali," tuduh Jadden dengan mendorong pelan bahu Jarvis.
Jarvis menepuk-nepuk bagian jas yang disentuh Jadden tadi, seolah-olah tangan Jadden telah mengotorinya.
"Seharusnya kau menyambut kedatangan kakakmu. Ku akui rumahmu ini cukup mewah untuk seorang pemilik perusahaan kecantikan Kireiguzedes," ujar Jadden berkacak pinggang sembari menyapu pandangannya ke sekeliling rumah Jarvis.
__ADS_1
Jadden tidak ingin berlama-lama di sana, ia melangkahkan kaki menjauhi Jarvis. Jarvis malahan mengikutinya sebab arah kepergian Jarvis bukan menuju pintu utama melainkan ke ruang pribadi Jarvis.
"Jadden sebaiknya kau pergi dari rumahku," ucap Jarvis tepat di depan pintu kamarnya.
Mulut Jadden terbuka lebar mendengar ucapan tidak hormat adiknya itu.
"Apa masalahmu, Jarvis? Aku tidak datang untuk mencuri, melainkan ingin mengantarkan Floretta dan melihat keponakanku." Jadden mengatakan kalimatnya dengan raut penuh senyuman.
Jarvis menanggapinya dengan tatapan dingin.
"Wajah datarmu itu sangat menyebalkan, Jarvis. Barangkali ekspresi seperti ini yang dilihat oleh Floretta selama sembilan tahun, pantas saja kau digugat cerai."
Darah Jarvis menggelegak mendengar ucapan merendahkan dari Jadden. Jarvis mengepalkan tangan dan melayangkannya ke wajah Jadden sampai pria itu tersungkur di lantai.
Jarvis menduduki kakaknya dan kembali mencoba meninju Jadden. Tubuh mereka hampir sama besar, pergulatan tidak terelakkan.
Jadden berusaha menghindar, menangkis, bahkan menjatuhkan Jarvis ke lantai. Hiasan guci mahal milik Floretta sampai pecah berkeping akibat tersenggol tubuh Jarvis.
Jadden berdiri membalas dengan menggebuki Jarvis dengan tendangan ke arah perut adiknya.
Pintu kamar yang tidak tertutup seluruhnya membuat Stephanie mendengar suara keributan, ia keluar dari kamar Jarvis, tadi Stephanie menemani Floretta buang air dan berganti pakaian di kamar kecil.
Keributan dan jeritan Stephanie mengundang pelayan berdatangan. Mereka kebanyakan perempuan, segera salah seorang memanggil Kazem, Walden, dan penjaga rumah untuk melerai keduanya.
Floretta pun penasaran dengan kekacauan yang terjadi di depan pintu kamarnya. Ia melangkah keluar dan turut terkejut mendapati Jarvis dan Jadden terlibat baku hantam.
Refleks sebagai seorang istri Floretta ingin menghalangi Jadden yang berniat untuk memukuli Jarvis.
"Jadden, sudah. Kau bisa membunuh suamiku," teriaknya sambil menarik lengan Jadden.
Jadden yang telah diliputi emosi sama seperti Jarvis tidak bisa lagi mendengar kata-kata dengan baik. Tanpa sengaja Floretta jadi terpental akibat tangan Jadden terus memukul Jarvis.
Walden yang telah hadir di sana seketika menangkap tubuh Floretta. Untung saja, Walden hadir tepat pada waktunya.
Sementara itu, Kazem dan penjaga rumah melerai keduanya, menjauhkan Jadden dari Jarvis.
"Jangan pernah datang ke rumah ini lagi!" teriak Jarvis dengan sudut bibir berdarah dan wajah babak belur.
"Kau memang sudah gila, Jarvis!" balas Jadden semakin menjauh. Kondisi Jadden juga tidak jauh berbeda dari Jarvis.
__ADS_1
"Yang lain silakan bubar!" perintah Stephanie, ia mengikuti arah ke mana Jadden dibawa.
Syukur saja Dael dan Rosalie tidak terganggu dengan keadaan di luar. Ada beberapa ruangan di kediaman Jarvis yang memang sengaja dipasang dinding kedap suara.
Floretta telah melepaskan diri dari Walden yang langsung turut keluar mengamankan Jadden. Floretta mendatangi suaminya yang terduduk menyender ke dinding dekat pintu kamar. Jarvis menutup matanya, memegangi perut yang sakit terkena tendangan Jadden.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Floretta menyamakan rendah tubuhnya, tangannya ragu gemetaran ingin menyentuh Jarvis.
Dengan mata tertutup dan nafas terengah-engah Jarvis menganggukkan kepalanya. Pakaian Jarvis sudah tidak serapi tadi, beberapa kancing kemejanya sudah tidak lagi di tempatnya, tetesan darah juga menodainya.
"Apa... apa... kita perlu ke rumah sakit? Sepertinya kau sangat kesakitan," nilai Floretta cemas, setitik dua titik air matanya turun menyentuh kedua pipi Floretta.
Jarvis menolak lalu menggelengkan kepala, air mata terasa menggenangi kelopak mata bawahnya.
Segera Jarvis berdiri berniat masuk ke kamarnya. Jarvis tidak ingin terlihat lemah di mata Floretta.
Sewaktu Jarvis berdiri lalu berjalan selangkah masuk ke kamar, keseimbangan tubuhnya buruk mengakibatkan Jarvis terhuyung dan terjerembab kembali ke lantai.
Jarvis tidak kuat lagi berdiri, ia merebahkan tubuhnya terlentang di lantai kamar beralaskan permadani lembut.
Floretta menangis melihat suaminya. Meskipun Jarvis telah menyakiti hatinya begitu dalam, walakin Floretta tidak tega melihat Jarvis terkapar kesakitan.
"Jarvis, aku akan meminta dokter untuk datang." Floretta berlutut menyentuh perut Jarvis masih berbalut kemeja.
Mendadak gerak Floretta yang akan berdiri terhambat oleh pegangan tangan Jarvis di pergelangan Floretta.
"Tidak usah," ucap Jarvis berbisik. Untuk mengeluarkan suara pun Jarvis hampir tidak mampu. Ia hanya ingin beristirahat dari beban masalah yang menderanya.
Jarvis merasa dirinya seperti pecundang, kalah mengatur emosi diri sendiri. Setelah hampir saja membunuh Alleta, Jarvis dengan tega menghajar kakaknya walaupun disertai perlawanan dari Jadden.
Jarvis merasa buruk sekali, dengan ketidakmampuan untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Jarvis terbiasa memandang relasi secara transaksional sehingga saat satu kejadian tidak sesuai dengan harapannya, ia akan langsung memutuskan memakai emosi.
Perkataan Jadden tadi seakan-akan menguak fakta bahwa benar Jarvis tidak pantas bersanding dengan Floretta dan layak untuk diceraikan. Selama sembilan tahun, mungkin saja Floretta telah menanggung kesakitan yang bertumpuk.
Jarvis benar-benar berada di titik bawah. Genggaman tangan Jarvis pada lengan Floretta mengendur hingga terlepas sempurna.
Jarvis membuka matanya, tatapan keduanya beradu. Jarvis melihat manik Floretta memerah karena menangis. Jarvis merasa hitam dan kehilangan harapan.
"Flo, aku akan menceraikanmu."
__ADS_1