
Perasaan Jarvis tidak tenang, bergerak lalu lalang di depan kamar operasi menunggu proses selesai.
Tadi, Kazem menemukan posisi Floretta lalu menghubungi Jarvis dan mengabarkan kalau Floretta pingsan dan perdarahan. Jarvis panik menuju ke lokasi tepat di mana Floretta tidak sadarkan diri.
"Kazem, minta ambulan dari rumah sakit," perintah Jarvis. Dia sampai bingung harus berbuat apa sambil menunggu ambulan. Jarvis takut bila menggendong Floretta yang terjadi malah membuat istrinya memburuk.
Jarvis merasa gelisah hanya menunggu, meyakinkan diri sendiri diangkatnya Floretta dengan rib dress warna krem berlumur darah.
"Aku mohon kau kuat, Flo," ucap Jarvis mengafirmasi Floretta berkali-kali, memandangi paras pucat istrinya.
Setibanya di rumah sakit ibu dan anak, Floretta dibawa ke unit gawat darurat. Hasil pemeriksaan dokter kandungan menyatakan kalau Floretta harus segera melahirkan dalam usia kandungan tujuh bulan.
Jarvis menyetujui arahan medis dari dokter.
Mengeluarkan anak dari rahim Floretta menjadi jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa keduanya. Tim dokter sempat mengatakan tentang resiko kemungkinan yang dihadapi dalam proses persalinan.
Meski demikian, Jarvis tetap bermohon pada ketua tim dokter agar menyelamatkan istri dan anaknya.
Butuh waktu satu jam melakukan operasi.
Jarvis gegas ke pintu operasi mendapati dokter yang keluarĀ lalu menanyakan keadaan istri dan anaknya.
"Selamat Tuan Jarvis, anak Anda laki-laki. Karena kondisinya lahir prematur, langsung dirawat di ruang khusus agar mendapatkan perawatan suportif."
Jarvis merasa lega dan senang mendengar berita gembira, sekalipun anaknya terlahir prematur.
"Keadaan istri bagaimana, dokter?"
Dokter yang menangani Floretta terlihat memikirkan jawaban sebelum menyampaikan keadaan nyata di ruang operasi tadi agar Jarvis bisa memahami kondisi.
Brankar keluar dari kamar operasi, Jarvis bisa melihat kalau Floretta masih menutup mata dan langsung dibawa ke ruangan pasien intensif.
"Dokter, tolong jelaskan, ada apa dengan istri saya?" Jarvis panik melihat keadaan Floretta dengan alat-alat medis masih melekat di tubuhnya.
"Tuan... Nyonya Floretta masih dalam keadaan koma. Ia perlu mendapat perawatan intensif dan berkelanjutan."
Usai menjelaskan keadaan Floretta, dokter kandungan yang menangani meninggalkan Jarvis yang membeku di tempat.
Dokter tidak bisa memastikan kapan Floretta akan sadarkan diri.
Jarvis tidak menduga liburan inisiatif pertamanya akan berakhir sebagai petaka di rumah tangganya. Niat baiknya untuk melacak anak Alleta menuai penderitaan panjang bagi Floretta yang diduganya telah salah paham dengan aksi Alleta di parkiran rumah sakit kanker tadi.
Jarvis menyeret tubuhnya di dinding ke lantai. Apakah yang harus dikatakannya pada Dael dan Rosalie, serta keluarga besar Meyer yang tidak mengetahui rencana liburan mereka di Kowabuda.
Jarvis tertunduk lesu, sesekali kepalanya dibenturkan ke dinding. Ada perasaaan takut kehilangan yang mencengkram hatinya, bahkan rasa bersalah tidak terelakkan mencerca terus-terusan batinnya.
__ADS_1
"Flo... maafkan aku." Setitik demi setitik air mata tumpah di pipi Jarvis si suami dingin yang kerap abai pada keadaan istri.
Jarvis seperti kehilangan tenaga dan semangat, pikirannya penuh dengan dugaan-dugaan buruk paska operasi Floretta.
"Jangan tinggalkan aku, Flo," isak Jarvis sembari memukul lantai melampiaskan sesal hatinya.
Seorang perawat laki-laki keluar dari kamar operasi merasa iba dengan penampakan seorang suami yang tidak berdaya akan kondisi koma istri.
"Tuan, semoga Anda tabah menghadapi keadaan ini. Sebaiknya, Anda didampingi oleh keluarga atau orang yang bisa Anda andalkan."
Perawat yang berpengalaman menghadapi keluarga pasien yang terpukul memberikan nasihat pada Jarvis. Usai melakukannya, Jarvis kembali sendiri.
Dengan tenaga yang hampir habis, Jarvis berusaha berdiri, mengambil posisi duduk di bangku penunggu pasien. Jarvis meraih ponselnya lalu menghubungi Kazem.
"Kazem...," ucap Jarvis tidak tahan menahan isakan. Setelahnya, Jarvis diam seribu bahasa.
"Halo, Tuan. Apakah Anda baik-baik saja?" Kazem turut merasakan adanya aura sedih dari isakan tertahan tuannya.
"Kazem, Nyonya Floretta masih keadaan koma dan tidak diketahui kapan akan sadarkan diri." Jarvis menjeda kalimatnya tanpa disela oleh Kazem.
"Anakku lahir dengan selamat, kini di ruangan NICU. Anak laki-laki." Lagi-lagi kalimat Jarvis tersendat-sendat keluar, derai air mata tidak kuasa ditahannya.
"Beritahukan keadaan ini pada Nyonya Stephanie dan juga Rayya serta pengasuh. Aku di sini masih harus mengurus keperluan anakku dan Floretta."
"Baik, Tuan. Laksanakan perintah," ucap Kazem.
Jarvis menutup pembicaraan telepon bersama Kazem. Jarvis berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafas keluar masuk tubuhnya.
Sayangnya, kilasan kenangan akan sikap Floretta yang terbilang baik sebagai istri padanya menari-nari di alam pikiran Jarvis.
Floretta, perempuan sebatang kara, setelah beberapa tahun lalu ditinggal oleh ayahnya yang berpulang karena sakit penyakit. Semua harta benda keluarga Conie diambil alih oleh sang kakak bernama Harry.
Hubungan Harry tidak rukun dengan Floretta diakibatkan keputusan Floretta sembilan tahun lalu meminta bagian warisannya menjelang pernikahan dengan Jarvis, padahal ayah mereka masih hidup, dinilai sebagai sikap kekanakan dan egois oleh Harry.
Semenjak kematian ayah mereka, Harry total tidak menjalin hubungan dengan Floretta lagi, padahal mereka masih berada dalam satu kota.
Itulah sebabnya, saat Floretta keluar masuk rumah sakit, tidak ada dari pihak keluarganya yang datang mengunjungi atau setidaknya menyampaikan dukungan atas kisruh rumah tangga yang tengah membelit Floretta.
Warisan harta benda bagian Floretta itulah dulu yang membantu perusahaan skincare Jarvis bergerak menanjak dari hari ke hari, tahun ke tahun.
Keadaan sama-sama saling memanfaatkan adalah dasar Jarvis dan Floretta hidup berumah tangga. Floretta dengan cintanya yang menggebu dan Jarvis dengan kepentingan perusahaannya.
Kilasan sikap Floretta melintas dalam pikiran Jarvis. Meskipun relasi di antara mereka cenderung asas saling memanfaatkan, Jarvis menilai Floretta menjalankan peran sebagai istri dengan sangat baik.
Jarvis membuang nafasnya kasar. Apakah begini balasan yang diterima oleh suami yang mengabaikan psikis istri selama bertahun-tahun?
__ADS_1
Mengapa terasa sakit, batin Jarvis yang masih mencoba menelusuri perasaannya sendiri.
Ponsel Jarvis bergetar dalam genggamannya. Nama Stephanie tertera di ponsel sebagai orang yang menghubunginya.
"Ma --"
"Jarvis, apa yang terjadi pada Floretta? Kazem mengatakan bahwa kalian berlibur ke Kowabuda. Astaga Jarvis, tolong jelaskan pada mama mengapa bisa Floretta koma. Mengapa Floretta bisa melahirkan secepat ini?" Rentetan pertanyaan dilontarkan Stephanie yang gusar mendapati berita buruk tentang Floretta yang sebelumnya dirasa Stephanie tidak ada keanehan pada menantu perempuannya itu.
"Ma... ceritanya panjang. Bisakah mama datang ke Kowabuda, mendampingiku?" pinta Jarvis mengiba.
Stephanie tidak begitu saja merasa empati pada Jarvis, dia seakan-akan tahu ada sesuatu di balik peristiwa persalinan prematur Floretta.
"Ya, mama akan segera ke sana," jawab Stephanie cepat.
"Tapi... bila ada alasan yang buruk di balik kejadian ini Jarvis, mama tidak akan memaafkanmu," tegas Stephanie sebelum menutup teleponnya.
Jarvis menghela nafas panjang, dia merasa kalau Stephanie akan marah besar padanya bila mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Di tempat lain, Alleta sedang menunggu seseorang yang meminta bertemu. Mereka janjian di sebuah hotel kecil agar tidak mencolok. Beberapa waktu menunggu, yang dinanti datang ke hadapannya.
"Aku ingin melapor, pertemuanku pada Jarvis tadi diketahui oleh Floretta. Mungkin masalah rumah tangga mereka akan semakin besar dan jarak keduanya akan semakin lebar." Alleta sangat senang menceritakannya.
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Alleta. Alleta terkejut bukan main, telinganya sampai mendenging.
"Apa yang kau lakukan!?" hardiknya tidak terima.
"Tindakanmu sangat bodoh! Kau membuat Floretta terpaksa melahirkan prematur dan kini koma," ujar pria yang tidak lain adalah pria misterius yang kerap menemuinya.
"Apa yang buruk bila perempuan itu koma dan melahirkan prematur, bahkan bila perlu dia mati lebih cepat." Alleta tersulut emosi, pipinya masih terasa panas.
"Aku tidak pernah memerintahkanmu untuk membunuh Floretta. Kau melangkah terlalu jauh!"
"Aku tidak peduli. Aku tidak menyukai perempuan itu." Alleta geram tidak terima perlakuan kasar pria misterius yang menjadi rekan baiknya selama ini.
"Tapi, aku peduli!" sergah si pria.
Alleta tertawa dengan senyum miring menghiasi wajahnya.
"Kau tidak seharusnya menyukai istri dari tuanmu sendiri," sindir Alleta. "Aku ingin minta bagian yang selama ini kau janjikan. Kerja sama kita berakhir sampai di sini." Alleta membalik tubuhnya tidak sudi berhadapan lagi dengan pria misterius.
Mendengar ucapan bernada merendahkan, pria yang marah begitu tahu Floretta koma, menarik utas tali tipis dari kantong jaket tebalnya.
Ia melangkah lalu tanpa banyak kata mengalungkan tali itu ke leher Alleta dan menjeratnya hingga kehabisan nafas.
Dia merasa perlu membela Floretta yang diidamkannya diam-diam. Kedua tangannya sendiri telah menggunakan sarung tangan berwarna hitam menghalau rasa dingin sekaligus menyamarkan jejak kejahatan.
__ADS_1