
Floretta masih terisak dan berusaha melepaskan diri dari Jarvis. Sayangnya, kekuatan Floretta tidaklah sebanding dengan Jarvis yang rajin melakukan latihan fisik di sela kesibukannya.
Jarvis membiarkan Floretta terisak dalam dekapan sampai membasahi pakaian yang dikenakan Jarvis. Rontaan Floretta dirasa melemah, Jarvis menduga Floretta berangsur lebih tenang.
Jarvis mengurai pelukannya, memandangi Floretta yang kian hari semakin berisi karena kehamilannya. Floretta masih menundukkan kepala, rambut pendek menutupi wajahnya dari samping.
Spontan Jarvis ingin menyibak rambut Floretta ke belakang telinga.
"Jangan menyentuhku," bisik Floretta menjauhkan kepalanya. Tangan Jarvis terhenti di udara hanya mengawai angin.
Floretta menoleh ke arah Jarvis.
"Kau mengambungkan perasaanku ke atas lalu mengempaskannya hingga hancur. Jangan lakukan itu."
Ucapan Floretta menohok hati Jarvis. Meskipun tidak ada niat buruk dari sikap canda dan perhatian Jarvis, Floretta yang telah menyimpan duka cukup lama, tidak lagi menilai keramahan Jarvis sebagai hal yang lumrah bagi suami istri.
Floretta melangkahkan kakinya ke kamar kecil lalu membasuh wajahnya agar kembali segar. Floretta benci sekali menangis di hadapan Jarvis, seperti menelanjangi kelemahan sendiri.
Bila saja waktu dapat diulang kembali, Floretta ingin mengubah alur hidup untuk tidak bertemu Jarvis yang begitu mudahnya dicintai oleh Floretta.
Melawan rasa cinta sangatlah melelahkan sebab Floretta perlu usaha lebih keras mengabaikan perasaannya sendiri. Mengempaskan perhiasan mahal, itulah salah satu cara Floretta melawan rasa kuat dalam hatinya.
Setelah merasa lebih baik, Floretta keluar kamar kecil. Ternyata Jarvis masih duduk di pinggiran ranjang. Jarvis yang terlihat khawatir menghampiri Floretta.
"Apa kau merasa lebih baik?"
Floretta hanya diam saja, ia beranjak ke meja rias dan membubuhkan sedikit kosmetik ke wajahnya yang pucat.
Jarvis masih setia berdiri di belakang Floretta mengamati gerak tubuh istrinya.
"Wanita hamil tidak boleh diceraikan. Itu peraturan di negara Filaneey ini."
Jarvis angkat suara, teringat permintaan Floretta. Floretta juga pernah mendengar hal itu dari Alice.
"Sebelum kita bercerai beberapa bulan lagi, aku ingin kita bersikap seperti suami istri yang harmonis."
Floretta menatap Jarvis dari cermin riasnya. Floretta berhenti berhias.
"Tidak ada pertengkaran, tangisan, dan teriakan. Hanya ada senyum dan tawa. Itu juga kebutuhan janin dalam kandunganmu, ibu yang bahagia."
__ADS_1
"Aku tidak mau." Floretta melanjutkan membubuhkan bedak di wajahnya.
Jarvis geram melihat Floretta yang berubah menjadi keras kepala.
"Lalu apa yang kau inginkan menjelang perceraian?" Jarvis berkacak pinggang, berusaha untuk lebih sabar.
"Pisah rumah." Jarvis terhenyak akan permintaan Floretta.
Jarvis menarik nafas panjang dan membuang kasar. "Bahkan bila proses perceraian itu berjalan, kau atau aku belum boleh meninggalkan rumah."
Floretta membalik tubuhnya menyorot Jarvis. "Apa yang harus dipertahankan dari hubungan kita sampai harus tinggal bersama? Kita hanya menunggu --"
"Dael, Rosalie, dan anak dalam kandunganmu." Jarvis mengubah sikap menjadi bersidekap menyembunyikan tangannya yang terkepal.
"Kau berlindung di balik mereka." Floretta kembali membelakangi Jarvis menghadap cermin.
"Anak-anak memang butuh perlindungan dari orang tuanya." Jarvis terus menanggapi ucapan Floretta.
"Tidak ada yang memikirkan aku," suara Floretta hanya untuk dirinya sendiri. Floretta juga lelah untuk tampil sebagai ibu yang super kuat, ia juga merasa punya kelemahan dan ingin disayangi.
Namun, kebutuhan itu tidak diperoleh dari siapapun. Floretta haus akan kasih tulus dari suaminya. Akan tetapi, mengharapkan Jarvis mencintainya seperti hal mustahil terjadi.
"Aku akan memikirkanmu." Lagi-lagi Jarvis menanggapi gerutuan kecil Floretta.
"Jangan mempermainkanku, Jarvis!" sembur Floretta dingin. Bagi Floretta, berteriak lebih baik daripada percaya pada apa yang dikatakan Jarvis.
"Tidak ada yang mempermainkanmu. Kau bisa pegang ucapanku."
Floretta tidak ingin terbang lebih tinggi karena jatuh pasti terjerembab dan luka lebih dalam.
Floretta tersenyum miring sembari mendengkus. "Janji nikahmu tidak kau tepati, apa alasan aku harus percaya kali ini?"
Jarvis membuka mulutnya, sayang suara tercekat di tenggorokan.
Floretta menyimpulkan kalau Jarvis tidak mampu menjawabnya.
"Keluarlah aku ingin beristirahat sebentar, menenangkan diri," ucap Floretta membuang pandangan ke arah lain.
"Ingin aku temani?"
__ADS_1
"Jarvis!!"
"Oke... oke..."
Jarvis berlagak menutup mulutnya. Kali ini ia mengikuti keinginan istrinya untuk menjauh. Itu lebih baik daripada Floretta pergi meninggalkan rumah.
Jarvis melangkah ke mezzanine, dia juga perlu menenangkan diri sembari menatap taman bunga. Jarvis menyadari kalau taman bunga itu sedikit terbengkalai, tidak mekar seperti biasanya.
Apakah itu melambangkan perasaan pemilik tamannya?
Jarvis menghubungi Rayya, ia memerintahkan asisten istrinya itu untuk menugaskan pengurus kebun untuk merapikan bunga yang layu dan membersihkan gulma yang mengganggu pertumbuhan dan keelokan taman bunga.
Tidak lama setelah itu, telepon Jarvis berdering. Orang yang ditugaskan untuk mencari informasi tentang Alleta menelepon.
"Tuan, putrinya Alleta diketahui berada di kota Kowabuda. Dirawat di sebuah rumah sakit kanker anak."
Bagi Jarvis kabar yang dibawa merupakan kabar baik.
"Pantau terus, besok atau lusa aku akan terbang ke sana. Pastikan posisinya bila berpindah, aku tidak ingin kehilangan jejak."
Jarvis menatap jauh ke taman bunga. Ia merasa harus tenang untuk menyelesaikan masalah, meskipun Floretta terus-menerus merongrongnya dengan kata pisah dan cerai yang sebenarnya membuat kepalanya pening.
Di dalam kamar, Floretta merebahkan diri sambil mengusap dadanya yang bergemuruh sisa dari perdebatan bersama Jarvis.
Floretta merasa perasaannya seperti layangan yang dimainkan oleh Jarvis. Kapan Jarvis ingin bercanda, memberi hadiah, berbicara, memeluk, dan tindakan lain dilakukan sesuka hati.
Harapan Floretta untuk relasi yang saling memberi bukan lagi menjadi prioritas. Kebaikan Jarvis dikhawatirkan jadi jebakan baru bagi hati Floretta yang masih meragu akan perceraian.
Beberapa bulan menjelang persalinan menjadi waktu untuk menguatkan diri menghadapi perceraian. Floretta harus kuat untuk menolak setiap kebaikan yang ditawarkan oleh Jarvis. Berbuat baik pada istri yang tidak dicintai, untuk apa itu semua, batin Floretta.
Floretta menoleh ke arah pintu kamar, bersamaan pandangannya melihat kotak perhiasan tergeletak di lantai.
Kilasan penolakan akan perhiasan kembali masuk ke dalam pikirannya. Floretta menilai tindakan keras seperti itulah yang harus dilakukannya agar mereka sama-sama tidak nyaman menjelang perceraian.
Floretta bangkit lalu turun dari ranjang, ingin merapikan kotak perhiasan. Kakinya menginjak sebutir anting, dipungut dengan perlahan karena perut besar agak menyulitkannya. Tidak jauh dari situ, butiran yang lain juga diraih.
Ditatapnya berlian yang Floretta tahu harganya sangat mahal. Desain sederhana yang langka di luar kebiasaan mode serta potongan dan polesan batu berlian yang hidup. Tidak ada perempuan penyuka permata yang akan menolak jenis sensational pink diamond dalam genggaman Floretta sekarang.
Namun, hati Floretta tidak sedang semeriah pink diamond indah itu.
__ADS_1
Floretta meletakkan anting dan gelang berlian dengan hati-hati ke dalam kotaknya.
"Maaf, aku tidak membutuhkan ini," lirih Floretta menaruhnya di meja dekat sofa. Bila Jarvis kembali, ia bisa mengambilnya di sana.