MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Bingung


__ADS_3

"Aku sangat merindukan ibu," ucap Dael dengan raut sedih. Floretta, Dael, dan Rosalie sedang melakukan panggilan video setelah sekian lama tidak pernah saling terhubung.


Rosalie tampak sesenggukan di samping Dael. Floretta pun tidak mampu menahan derai air mata kerinduan menyaksikan kedua anaknya yang sangat dicintainya.


"Ibu akan pulang. Kalian jangan bersedih." Floretta mengusapi pipinya yang tidak berhenti basah. "Ibu sangat merindukan kalian, sangat rindu." Floretta memeluk selimut ranjang rumah sakit seakan-akan menyalurkan perasaannya.


"Apakah kalian sudah makan?" Dael tampak mengangguk. Floretta berusaha mengulas senyum, dia tidak ingin Dael dan Rosalie menangis terus-terusan. Mereka bisa saja mimpi buruk bila terlalu memikirkan Floretta yang tidak kunjung pulang bersama Jarvis.


Jarvis sedari tadi menguping pembicaraan antara Floretta dan kedua anak mereka dari sofa di seberang ranjang pasien. Floretta tadi menolak kehadiran Jarvis di dekatnya sehingga Jarvis memilih duduk di dalam ruangan.


"Apakah ibu sendirian? Kemana ayah?" tanya Rosalie, linangan air matanya telah berhenti. Rosalie lebih cepat mengubah raut wajahnya sebab ia anak yang lebih sering menunjukkan keceriaan.


Floretta terhenyak mendengar pertanyaan Rosalie. Bagaimanapun juga, Jarvis sudah pasti dirindukan oleh anak-anak mereka. Floretta mengubah arah video ke Jarvis yang sedang duduk memeriksa ponselnya, seolah-olah tidak mendengar percakapan istri dan anak-anaknya.


"Ayah sedang sibuk dengan ponselnya," ujar Floretta. Jarvis yang sebenarnya mendengar pernyataan itu ingin sekali mengangkat kepala dan menegur Floretta.


Namun, karena tadi Floretta telah menolaknya, gengsi sebagai seorang Jarvis menanjak tinggi. Ia bertingkah seperti tidak mendengar apapun.


"Ibu panggilkan ayah," pinta Dael dengan suasana hati berubah semangat.


Floretta tidak kuasa memprotes keinginan anaknya.


"Jarvis," panggil Floretta. Jarvis menulikan telinganya.


"Jarvis." Jarvis masih saja tidak menggubris panggilan Floretta.


Floretta melemparnya dengan bungkusan tebal berisu tisu dari arah ranjang, tepat lemparan mengenai dadanya. Barulah Jarvis menatap Floretta dengan sorotan tajam tanpa senyuman. Bagi Jarvis, Floretta bertingkah seperti orang yang tidak mengenal sopan.


"Dael... Dael mencarimu." Floretta menunjukkan ponselnya berisi wajah Dael dan Rosalie.


Jarvis berusaha meredam egonya. Dia berdiri menghampiri Floretta lalu merebut ponsel istrinya tiba-tiba. Floretta memelototi Jarvis yang tidak merasa bersalah.


Percakapan antara Jarvis bersama kedua anaknya terjalin akrab. Jarvis menjauh lalu duduk kembali di sofa.


Wajah Floretta berubah muram melihat senyum merekah di wajah Jarvis. Ada perasaan tidak senang dalan diri Floretta sewaktu melihat tawa Jarvis.


Dalam ingatan Floretta, selama ini Jarvis tidak pernah hangat sebagai suami padanya.


Floretta pun bingung menjelaskan dari mana dirinya memiliki kepercayaan diri sebegitu tinggi menghadapi Jarvis dengan ketus.


Usai Jarvis selesai bertelepon, ia menaruh ponsel Floretta di meja.


"Kemarikan ponselku," perintah Floretta pada Jarvis. Jarvis hanya melirik dari tempat duduk dengan posisi kaki menyilang.

__ADS_1


"Jarvis, kemarikan ponselku," ulang Floretta.


"Ambil sendiri." Jarvis tidak ingin menuruti permintaan Floretta. "Sudah bisa turun dan berjalan perlahan, bukan? Bahkan dokter menyarankan rajin berjalan agar tubuhmu tidak kaku seperti kayu."


Floretta mendengkus, perlahan ia menurunkan kaki dari ranjang. Selang infus masih terpasang di tangannya. Seharusnya ada tangga kecil untuk membantunya menapak sebelum ke lantai, sayangnya tangga itu masuk ke kolong ranjang.


Floretta tidak mau meminta bantuan Jarvis lagi, pasti saja dia tidak rela membantu, pikir Floretta.


Floretta menyeret duduknya agar kakinya yang menjuntai lebih dekat ke lantai. Saat akan menapak, keseimbangan tubuh Floretta oleng.


Hampir saja Floretta terjatuh bila saja Jarvis tidak cepat menangkapnya.


"Kau ingin membunuhku!?"


Floretta memegang pinggiran ranjang lantas menyentak tangan Jarvis yang semula memapahnya.


"Aku ingin membantumu, Flo."


"Kau yang membuat aku harus turun dari ranjang untuk mengambil ponselku!" amuk Floretta dengan binar kemarahan.


Floretta tampak kesal sekali kepada Jarvis.


"Aku tidak butuh bantuanmu."


Ucapan Floretta sangat menohok perasaan Jarvis, tubuhnya beku di tempat. Sementara itu, Floretta berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya dengan menyeret tonggak infus lalu kembali ke ranjang.


Segera Jarvis meraih dan menaruh ke bawah kaki Floretta.  Jarvis tahu dirinya akan diamuk lagi oleh Floretta maka dia diam saja bersiap mendengar celotehan istrinya.


Rupanya Floretta tidak mengatakan apa-apa.


Sewaktu Floretta telah duduk kembali dengan baik, Jarvis bertanya, "Mengapa sikapmu begitu ketus terhadapku?"


Floretta bergeming seolah-olah memikirkan sesuatu, tetapi tidak memiliki jawaban.


"Flo."


"Kau tidak perlu tahu tentangku."


Jarvis terperangah mendengar penuturan Floretta.


Arshaka teringat pada perkataan dokter yang mengatakan kalau Floretta bisa saja berubah-ubah tanpa disadarinya.


"Tapi aku adalah suamimu, Flo. Perempuan Filaneey diajarkan menghormati suami." Jarvis berusaha sabar.

__ADS_1


Floretta tertawa sumbang lalu menatap Jarvis.


"Berapa nilai kau beri pada dirimu sendiri? Jangan selalu menuntut perempuan, sementara laki-laki bisa bertindak seenaknya."


Jarvis tidak menyangka kalau Floretta memiliki kosakata pedas untuk Jarvis sebagai suami.


"Kau berubah, Floretta."


"Ini bukan Floretta."


Floretta membuang tatapan ke arah lain.


"Siapapun kau, tetap saja istriku."


"Istri yang kau abaikan dan menyimpan luka. Aku tidak mau bodoh lagi."


"Apa yang kau inginkan? Perhatian?" tanya Jarvis, Floretta menoleh pada Jarvis, sewaktu ia akan angkat bicara, Jarvis menyela, "Aku akan memberikannya untukmu. Mulai saat ini."


Floretta terhenyak akan apa yang dikatakan Jarvis.


Apakah keadaan koma membuat Jarvis berbeda? pikir Floretta.


Floretta menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, jangan menjadi orang lain." Floretta menyibukkan dirinya dengan mengotak-atik ponselnya.


"Itu juga berlaku padamu, jangan menjadi orang lain. Jadilah Floretta, istriku."


Meskipun Jarvis tahu konsekuensi pemulihan ingatan Floretta akan membuat hubungan mereka merenggang, itu lebih baik, dibandingkan Floretta memiliki kepribadian yang berbeda dari otensitas diri sendiri.


Sejenak Jarvis dan Floretta terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga deretan pintu menyadarkan mereka kembali.


Dokter yang menangani kejiwaan Floretta didampingi oleh perawat datang melakukan pemeriksaan rutin.


"Kondisi ibu Floretta semakin membaik. Lusa dimungkinkan sudah bisa keluar dari rumah sakit."


Berita itu menjadi kabar baik bagi Jarvis, tetapi bukan untuk Floretta. Keluar dari rumah sakit tandanya ia memiliki kembali aktivitas lama yang tidak diinginkannya.


"Saya akan merekomendasikan dokter yang bisa membantu proses penyembuhan Nyonya Floretta di Heligore." Dokter mengetahui kalau Jarvis dan Floretta bukanlah dari Kowabuda.


Dokter dan perawat meninggalkan ruangan eksklusif Floretta, Jarvis mengantarkan dokter hingga ke pintu.


"Tuan harus memastikan Nyonya Floretta untuk mengonsumsi obat yang diresepkan. Anda perlu mendampingi dalam proses pemulihan sebab Nyonya Floretta sendiri memiliki kesulitan untuk mengingat hal tertentu bahkan sampai menjalin relasi dengan orang-orang di sekitar ketika kepribadian alternatif mengambil alih dirinya."


Jarvis menerima pesan dokter ahli jiwa, ia merasa proses penyembuhan Floretta akan menjadi rangkaian tahapan yang tidak mudah mengingat satu temperamen yang muncul dari diri Floretta selalu melawan Jarvis dan menganggapnya musuh.

__ADS_1


Pikiran lainnya adalah bagaimana nasib anak ketiganya selama Floretta tidak menginginkannya?


Sepertinya Jarvis perlu melibatkan keluarganya lagi dalam hal ini.


__ADS_2