
Pagi itu Floretta bangun dari tidurnya. Ia terkejut mendapati tubuhnya dikekang dengan pakaian serba tertutup alat di ranjangnya.
Floretta menggerakkan tubuhnya ke kiri kanan, sayangnya pakaian itu benar-benar erat.
Pikiran Floretta mencoba mengingat-ingat hal apa yang terjadi hingga sampailah dia di tempat yang dugaannya adalah rumah sakit. Namun, Floretta tidak menemukan pengalaman mengapa bisa menjadi pasien rumah sakit dengan tubuh dikekang seperti saat ini.
Floretta menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan hingga berhenti pada seseorang yang sedang tidur di ranjang penunggu pasien berjarak beberapa meter dari tempat tidurnya.
"Jarvis," panggil Floretta beberapa kali. Jarvis yang didera rasa penat tertidur nyenyak sampai tidak mendengar panggilan Floretta.
Floretta memastikan bahwa itu adalah Jarvis, terlihat dari pakaian kerja yang masih sama dengan waktu suaminya mengobati kaki yang luka.
"Susah sekali bergeraknya," keluh Floretta.
Floretta tidak menyerah, ia memanggil lagi nama Jarvis. Terakhir panggilan kencang dari Floretta membangunkan Jarvis. Seketika itu Jarvis langsung berdiri lalu menghampiri Floretta.
"Ada apa? Bagian mana yang sakit?" tanya Jarvis langsung terucap begitu saja.
Floretta memandang Jarvis lekat-lekat, tatapan khawatir Jarvis membuat kening Floretta mengerut. Floretta merasa Jarvis seperti orang panik.
"Jarvis, bisa kau terangkan, mengapa aku mengenakan pakaian seperti ini?" tanya Floretta. "Bisa aku dilepaskan? Ini sangat menyakitiku," sambung Floretta mengungkap keluhannya.
Jarvis memproses kalimat Floretta, sepertinya Floretta tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Apakah kau Edith?" tanya Jarvis memastikan kepribadian mana yang mengambil alih istrinya.
"Iya, Jarvis. Tapi tolong, ada apa ini?" Floretta-Edith tidak nyaman.
"Sebentar, aku akan panggilkan perawat." Jarvis menekan tombol emergency yang terletak di dinding di atas kepala Floretta.
Tidak lama kemudian perawat mendatangi kamar inap Floretta. Jarvis memberi tahu permintaan istrinya, didukung pula dengan perkataan Floretta.
"Maaf Tuan dan Nyonya, untuk melepasnya, kami harus berkonsultasi dengan dokter David," ucap perawat. "Mohon menunggu sebentar."
Perawat meninggalkan ruangan inap Floretta, tinggallah kembali mereka berdua.
"Jarvis, aku haus." Alih-alih marah, Floretta-Edith memintanya dengan sirat manja dan senyum samar.
Mendadak Jarvis merasa seperti tengah dipermainkan oleh keadaan. Bagaimana kontras sikap kepribadian istrinya yang berhasil membuat Jarvis kalang kabut meresponnya. Jarvis menarik nafasnya panjang, Floretta-Edith sepertinya membuka peluang untuk berteman dengannya.
"Jarvis, kau tidak mendengarku? Aku benar-benar haus seperti orang berpuasa berhari-hari." Floretta kembali mengajukan permintaannya yang direspon tawa kecil oleh Jarvis. Permintaan Floretta terdengar seperti lelucon oleh Jarvis.
Jarvis memegang gelas berisi air dan sedotan, sementara sebelah tangannya lagi menopang kepala Floretta agar lebih tinggi dari tubuhnya.
Floretta sungguh haus, segelas air mampu ditandas hingga habis. Terdengar nafas lega di telinga Jarvis saat ia menaruh kembali kepala Floretta-Edith ke kasur pasien.
"Sabarlah, dokter akan tiba sebentar lagi. Apa kau lapar?" Jarvis memperhatikan kebutuhan Floretta.
"Sangat. Aku sepertinya belum makan dari kemarin pagi sepulang dari lari mengelilingi komplek," ingat Floretta-Edith.
__ADS_1
Jarvis melirik arloji mahalnya, memasuki pukul setengah tujuh pagi, artinya sebentar lagi sarapan akan diantarkan ke ruangan.
Seseorang mengetuk pintu, benar saja, petugas pengantar makanan masuk dengan nampan di tangannya.
"Apakah kau mau menunggu dokter dulu atau sarapan?" tanya Jarvis memastikan keinginan istrinya.
"Sarapan saja. Aku lapar sekali, perutku mulai sakit," adu Floretta-Edith dengan raut yang ekspresif.
Jarvis tersenyum samar melihat tingkah istrinya. Kemudian, ranjang Floretta sedikit ditinggikan oleh Jarvis.
Untuk pertama kalinya Jarvis menyuapi Floretta. Sebelumnya sewaktu Floretta pernah menginap di rumah sakit, ia selalu berkeberatan kalau Jarvis berniat baik menyuapi. Namun, keterbatasan saat ini membuat Floretta bersedia makan dari suapan Jarvis.
"Apakah enak?" tanya Jarvis memandangi istrinya yang makan dengan lahap.
"Sangat. Mungkin karena aku lapar."
Jarvis terhibur dibuatnya.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Floretta. Saat akan menyelesaikan sarapan, ada remah makanan yang menempel di mulut Floretta dan kuahnya menjelejeh.
"Tunggu, ada sisa makanan di bibirmu." Jarvis mengambil tisu lalu mengusap area bibir dan dagu Floretta.
Floretta-Edith memandang Jarvis lekat dari dekat, mereka tidak bertatapan.
"Kau tampan sekali, Jarvis," ucap Floretta tersenyum yang membuat Jarvis menaikkan pandang hingga mereka berdua saling bertatapan.
Floretta-Edith merasa aneh melihat sikap Jarvis yang kerap dingin padanya.
"Jarvis mengapa kau selalu bermuka datar padaku?"
Sontak Jarvis menoleh ke arah Floretta yang masih dalam posisi kepala lebih tinggi dari tubuh. Floretta terang-terangan menyampaikan penilaiannya pada Jarvis, seperti Floretta di tahun-tahun sebelumnya, bahkan kepribadian ini lebih berani bersuara.
Jarvis masih diam mencerna maksud ucapan Floretta-Edith. "Seharusnya aku bagaimana?" tanyanya kemudian.
Floretta mendengkus. "Kau berlagak seperti tidak pernah mengenal wanita, terlalu datar dan dingin," nilai Floretta terkekeh tanpa merasa Jarvis akan tersinggung.
"Lalu, beri tahu aku caranya ramah," pinta Jarvis.
Floretta-Edith memiliki ide iseng dalam otaknya.
"Kemarilah mendekat aku akan mengatakannya padamu rahasianya."
Ucapan Floretta itu berhasil mempengaruhi Jarvis. Floretta melihat Jarvis mendekatkan kepala ke arahnya.
Tidak disangka-sangka Floretta-Edith malah mengecup pipi Jarvis. Sontak Jarvis memberdirikan tubuhnya, ia melotot melihat Floretta yang terkikik dengan tubuh tak bisa bergerak sembari menatap ke arah Jarvis.
Tawa menggema di dalam ruangan, seolah-olah Floretta baru saja menyaksikan atraksi badut yang menghibur.
"Mengapa kau memelototiku?" tanya Floretta tertawa karena berhasil mengerjai Jarvis.
__ADS_1
"Kalian memang sungguh aneh," ujar Jarvis. "Benar-benar tidak bisa ditebak dan sangat berbeda, membuat kepalaku terasa mau pecah," sambungnya sembari menutup mata dan menggeleng sulit memahami keadaan kepribadian Floretta.
"Kalian siapa?" Floretta-Edith menghentikan tawanya.
"Apakah kau tahu, semalam kau meronta-ronta dan minta ingin mengakhiri hidup, tempo hari kau berlaku kasar padaku, dan sekarang kau berusaha menggodaku dengan kondisi terikat," ucap Jarvis sambil mengusapi dadanya. "Kau tahu itu?"
Floretta-Edith mengendikkan bahunya. "Agak sukar untuk diingat, tetapi aku sering merasa ada waktu seperti celah kosong yang tidak terisi." Menatap langit-langit ruangan.
"Apa kau takut?" tanya Floretta-Edith menaikkan alisnya dan kembali tersenyum pada Jarvis.
"Aku ingin kau bekerja sama denganku untuk pemulihan dirimu sendiri, aku tidak bisa mengharapkan Dolly atau Floretta yang melakukannya tetapi kau bisa Edith."
Floretta-Edith tidak mengerti ke arah mana maksud cerita Jarvis. Tidak lama kemudian, dokter David masuk bersama dua orang perawat.
Floretta kini ditangani oleh dokter ahli jiwa karena laporan kesehatan Floretta terakhir menyangkut kesehatan mentalnya.
"Bagaimana kabar Anda pagi ini, Nyonya?" tanya David ramah, dia belum melakukan apapun.
"Hai, Dokter," sapa Floretta-Edith balik. "Aku tidak bisa bergerak karena kekangan ini. Apa Anda yang melakukannya, Dokter?"
"Mohon maaf, Nyonya. Kami terpaksa melakukannya sebab malam lalu Anda mengalami agitasi, perasaan marah dan gelisah. Kami akan melepasnya."
Setelah pakaian kekangnya dilepas, Floretta-Edith merasa lega dan leluasa bergerak. "Lain kali cari cara lain, Dokter, mengatasi masalah perilaku pasien," kritik Floretta-Edith.
David hanya bisa tersenyum. Apa yang dikatakan Floretta tidak sepenuhnya salah, memang baragam cara bisa dilakukan untuk menghadapi pasien yang sedang mengalami agitasi seperti seklusi dan de-eskalasi.
"Mulai hari ini, saya akan menjadi dokter yang menangani kesehatan mental Anda, Nyonya. Nama saya David." David mengulurkan tangannya pada Floretta. Floretta-Edith menerimanya dengan senang hati.
"Anda tampan, Dokter. Seperti suami saya." Floretta-Edith tertawa sembari memandang Jarvis yang berdiri dekat ranjang bagian kaki pasien dengan tatapan dingin dan datar.
Jarvis terhenyak seketika mendengar pujian istrinya pada ketampanan David, padahal baru pertama kali ini mereka bertemu. Ada perasaan tidak nyaman dalam hati Jarvis saat Floretta memberi penilaian positif pada pria lain.
Ternyata dia menggoda semua pria, tutur Jarvis dalam hati.
Percakapan antara Floretta-Edith dan David berlangsung tanpa melibatkan Jarvis yang hanya diam menonton dokter dan pasien. Jarvis ingin meninggalkan ruangan, tetapi dia tidak rela Floretta-Edith menggunakan keahlian menggoda lalu merusak istrinya.
Jarvis bertahan di sana dengan menghembuskan afirmasi positif mengenai kesembuhan istrinya, meskipun rasa cemburu membakar hatinya.
Hari ini Jarvis memutuskan tidak berangkat ke kantor, ia telah menghubungi sekretarisnya mengabarkan halangan untuk hadir.
Malam lalu sebenarnya Rayya telah membawakan pakaian ganti untuk Jarvis dan juga Floretta. Hanya saja rasa lelah telah lebih dulu membawa Jarvis mengawang ke alam mimpi hingga pagi ini.
"Kau ingin membasuh diri?" tanya Jarvis. "Pakaianmu ada di dalam tas itu, Rayya telah membawakannya semalam."
Floretta melirik ke arah tas yang dipandang Jarvis lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Ya, aku ingin. Tetapi, aku tidak bisa membasuh tubuhku seorang diri, tulang-tulangku serasa remuk karena terlalu lama dikekang. Apa kau bersedia membantu?"
Pertanyaan Floretta-Edith itu membuat ponsel di tangan Jarvis terjatuh ke lantai. Mendadak Jarvis kehilangan konsentrasi, pikirannya bercabang.
__ADS_1