MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Bertelepon


__ADS_3

Dael menghempaskan tasnya ke lantai di kamarnya. Bocah tujuh tahun itu menangis di dekat meja belajarnya.


Meskipun bukan orang dewasa, Dael bisa merasakan perubahan-perubahan kecil di rumahnya. Dael biasa melihat bagaimana ibunya kerap bersikap manis pada ayahnya, tetapi semakin hari Dael merasa kehilangan momen itu.


Dael merasa ada yang tidak beres terjadi dengan ayah dan ibu, tetapi Dael tidak pandai mengutarakan isi kepalanya.


Begitu mendengar kalau ayah bahkan ibunya akan sibuk bekerja, Dael merasa apa yang dirasakannya tentang hubungan ayah ibu yang sedang tidak baik-baik saja benar adanya.


"Dael...." Floretta memanggil-manggil nama putranya yang langsung turun dari kendaraan lalu berlari masuk kamar.


Floretta tidak bisa masuk sebab Dael menguncinya dari dalam. Floretta cemas pada perilaku putranya.


"Dael, ibu bisa menjelaskan apa yang kita bicarakan tadi."


"Jangan ganggu aku!"


Bujukan Floretta ditanggapi teriakan Dael dari dalam kamar. Sementara itu, Rosalie langsung diminta untuk disibukkan dengan aktivitas lain setelah berganti pakaian.


Floretta tidak ingin Rosalie menyerap emosi dan perasaan Dael saat ini. Rosalie sangat sensitif perasaannya bila melihat kakaknya bersedih. Bisa-bisa bocah perempuan itu turut tantrum melihat kondisi kesedihan Dael.


"Ibu ingin bicara baik-baik padamu, Dael. Marilah keluar." Floretta kembali merayu Dael agar bersedia menemuinya.


"Aku tidak ingin bicara pada ibu. Aku ingin ayah," ucap Dael sembari terisak-isak.


Dael anak baik yang dikenal Floretta mulai menampakkan sisi egosentrisnya. Kebingungan yang melanda Dael membuat dirinya sulit diajak berbicara.


"Baiklah, ibu akan membiarkanmu sendirian. Ibu mohon, bila kau lapar, segeralah keluar."


Dengan berat hati Floretta menjauhi kamar anaknya. Kalimat terakhirnya tidak mendapat respon apa-apa lagi dari Dael.


"Perhatikan Dael, tanyakan setiap 15 menit, apakah ia lapar dan ingin makan. Dael sedang mengalami perasaan yang berat." Floretta menugaskan pengasuhnya untuk berjaga di dekat kamar Dael.


Floretta masuk ke dalam kamarnya, ia hendak menghubungi Jarvis memberitahukan masalah perilaku Dael. Sedari pagi hingga siang, Floretta lupa membawa ponselnya sebab aktivitasnya cukup padat dengan mengantar jemput putra-putrinya dan melakukan pertemuan bersama Alice.


Sebelum Floretta sampai menghubungi suaminya, Floretta membaca notifikasi masuk pada aplikasi direct message sosial medianya.


Floretta langsung menyalakan televisi dan mengakses link dari sana. Judul dibuat semenarik mungkin "Keromantisan Pengusaha J Membuahkan Seorang Anak." Meski sudah tahu siapa yang akan tampil, Floretta mencoba menjawab rasa penasarannya akan konten yang akan dibahas.

__ADS_1


Kenyataannya, menonton tayangan langsung Alleta membuat Floretta jijik sekaligus sedih hati.


"Romantis dan loyal," ujar Floretta mencibir ucapan Alleta.


Floretta merasa tidak perlu menonton drama Alleta sampai selesai, reaksi tubuhnya tidak nyaman sehingga Floretta tidak perlu menyakiti diri sendiri dengan meneruskan tayangan tidak bernilai seperti itu.


Floretta mengubah niat semula untuk menghubungi Jarvis, menjadi mengontak ponsel Kazem.


"Kazem, bagaimana kondisi Tuan Jarvis siang ini?"


"Sudah lebih baik, Nyonya."


"Apakah dokter telah berkunjung?" Floretta sulit untuk mengabaikan keadaan Jarvis yang sedang sakit. Jangankan suaminya, pekerja rumah tangga bila diserang penyakit, Floretta tidak pernah mengabaikan seorang pun dari mereka.


"Apakah ada kabar dari dokter kapan akan pulang?"


"Bila semua semakin membaik, besok siang Tuan sudah bisa keluar dari rumah sakit, Nyonya."


Floretta lega mendengarnya, setidaknya kelegaan itu terkait permintaan Dael untuk bertemu dengan ayahnya.


"Katakan pada Tuan, Dael dan Rosalie merindukannya. Aku tidak bisa menemani di rumah sakit dan tidak pula bisa menjemput."


Tarikan nafas Floretta bergetar, ia akan segera menangis. Floretta menghalau air mata yang segera turun dengan membasuh wajahnya ke kamar kecil sekalian mengganti pakaiannya.


Setelah merasa lebih baik, Floretta keluar berniat untuk memantau Rosalie. Sewaktu akan keluar kamar, ponsel Floretta di meja riasnya berdering.


Floretta meraih ponselnya, nama Jarvis tertera sebagai pemanggil.


Dengan rasa ragu, Floretta menjawab panggilan itu.


"Ha --"


"Apakah kau merindukanku juga?" tanya Jarvis disertai khas kekehan kecil yang membuat telinga Floretta terasa geli.


Floretta mendengkus mendengar gurauan Jarvis yang tidak lucu.


"Sewaktu kau menelepon Kazem, ia berada di dekatku. Kau masih mencemaskanku, hem?"

__ADS_1


Jarvis tersenyum senang begitu mendengar suara Floretta, meskipun yang dihubungi tadi adalah Kazem.


"Kau tidak perlu membuat drama baru Jarvis, seseorang yang akan menceraikan istrinya tidak akan berusaha membuat bercandaan yang tidak penting." Floretta menjawab tegas, meskipun hatinya dilanda rasa malu.


"Aku sedang tidak bercanda dan berdrama, istriku. Aku senang kau menanyakan kabarku."


Floretta menghela nafasnya. "Lagu lama, cara lama. Kau pikir aku sama dengan kekasihmu itu, yang baru saja mereview perlakukanmu saat kalian berselingkuh. Romantis dan loyal," ledek Floretta dengan nada yang dibuat-buat.


Jarvis tergelak mendengar nada suara Floretta. "Sepertinya kau cemburu dengan review Alleta. Kenyataannya, aku bertahan denganmu selama sembilan tahun, Flo." Jarvis mengingatkan Floretta.


Floretta merasa tidak perlu menanggapi perkataan Jarvis, luka hatinya bisa menganga mengingat perlakuan Jarvis yang jauh dari kata romantis dan loyal, sekalipun pernikahan mereka berlangsung sembilan tahun. Floretta bukan hanya dilanda cemburu, tetapi juga tidak dihargai sebagai istri.


"Berilah review-mu terhadap ku," tawar Jarvis masih suasana bercanda.


"Kau suami yang jahat!" ucap Floretta yakin. Isi hatinya ditumpahkan pada Jarvis baik secara langsung maupun melalui telepon. Sepertinya Florettassoh belum puas, batin Jarvis.


"Jadi yang kau butuhkan pengakuan akan cinta, Flo? Lalu, aku akan menjadi suami yang baik di matamu?" tanya Jarvis sembari menebak-nebak jawabannya.


Semenjak rilis Alleta akan perselingkuhan di masa lalu, Jarvis barulah bisa terbuka berbincang dengan Floretta.


"Aku tidak butuh lagi," jawab Floretta cepat. "Aku tidak punya waktu berbincang denganmu, aku ingin mengurus Dael dan Rosalie. Dael merajuk karena jarang melihatmu, ia mengutarakan kekecewaannya padamu."


Terdengar suara helaan nafas dari Jarvis. "Anak itu semakin besar, ia makin menyoroti sikapku," ujar Jarvis mengingat Dael.


"Jagalah Dael, bantulah jelaskan padanya. Besok aku akan memiliki waktu lebih bersama anak-anak."


"Bagaimana cara memberitahu mereka kalau tidak lama lagi kita akan bercerai?" tanya Floretta. Floretta hanya ingin mempersiapkan diri menghadapi keadaan anak-anak yang akan terkejut dengan perpisahan kedua orang tuanya.


"Sebaiknya jangan menyinggung mengenai perceraian, nanti akan ada waktunya."


Floretta menerima usul dari Jarvis untuk menyembunyikan rencana perceraian mereka dari anak-anak sementara waktu.


"Jaga kesehatanmu dan janin dalam kandunganmu, Flo."


Floretta yang hampir memutus percakapan dengan Jarvis dibuat membeku di tempat. Perhatian Jarvis membuat diri Floretta melayang sejenak.


Menyadari itu hanyalah rangkaian kata yang bermakna untuk calon anaknya, bukan bagi Floretta, maka Floretta hanya berdeham menanggapi perkataan Jarvis.

__ADS_1


Floretta segera melangkah keluar kamar dan menghampiri Rosalie di ruang makan. Dael benar-benar mengunci dirinya di kamar, tidak ingin bertemu dengan siapapun.


__ADS_2