
Untung saja Jarvis menggunakan pelindung layar pada ponselnya, kalau tidak dipastikan retak atau pecah akibat terjatuh dari ketinggian.
Jarvis sedang sibuk membalasi pesan dari sekretaris dan mitra perusahaannya. Sementara itu, Floretta sedang membasuh tubuh dibantu oleh Rayya.
Ya, Rayya tiba tepat waktu saat Jarvis bingung harus menjawab apa pada istrinya.
Bukannya Jarvis takut pada Floretta, hanya saja ia belum sanggup kalau mendadak Floretta split pada kepribadian yang lain.
Jarvis mendapat panggilan dari Maureen.
"Jarvis, kalau kau ada waktu David ingin bertemu denganmu sekarang juga. Dia tidak ada praktek pagi ini," ungkap Maureen langsung pada intinya.
Jarvis terdiam, berseliweran pikiran berlebih yang menghajar otaknya. Rasa cemburu sebagai seorang suami kembali terbit dalam dirinya. Jarvis jadi ragu untuk meneruskan perawatan istrinya pada David.
"Bisa kau memberikan saran padaku?"
"Kau ingin apa?" Maureen kembali bertanya.
"Rasanya aku tidak nyaman membiarkan Floretta didampingi oleh dokter David. Bagaimana kalau aku mencari dokter perempuan saja agar Floretta merasa netral?"
Maureen mengernyitkan keningnya, bingung mendapati kalimat Jarvis yang menyiratkan pandangan negatif terhadap David dan Floretta.
"David adalah dokter terbaik dalam bidang kesehatan mental
Meskipun dia tergolong dokter spesialis baru, tetapi usahanya belajar dan berlatih menyembuhkan pasien sangat dipuji di kalangan dokter."
Jarvis seakan mengerti maksud Maureen.
"Ya sudah, aku hanya bertanya, siapa tahu kau ada rekomendasi dokter lain."
Maureen menerka makna lain dari kalimat Jarvis.
"Kau merasa kalah saing dengan David?" tanya Maureen lalu tergelak merasa lucu dengan kalimatnya sendiri.
Ketahuan maksud hatinya, Jarvis mengalihkan pada hal lain.
"Aku harus pergi memenuhi panggilan dokter David."
Sisa tawa renyah Maureen masih terdengar di telinga Jarvis.
"Jangan khawatir, David orang yang profesional dalam bekerja, tapi... aku tidak menjamin istrimu." Kalimat itu menohok hati Jarvis seolah-olah memperingatkannya tentang kemungkinan buruk pada istrinya, terutama pada Edith.
Usai percakapan mereka selesai, bertepatan Floretta keluar dari kamar kecil. Wajahnya ditekuk seperti orang yang sedang kesal.
Floretta melihat ada Jarvis berada di kamar, ia mengungkapkan kejengkelannya.
"Lihatlah pakaianku ini, aku seperti orang lanjut usia mengenakannya," gerutu Floretta menghentakkan kakinya.
__ADS_1
Jarvis melihat ke arah belakang, Rayya menundukkan kepala seolah menandakan kesalahan ada padanya.
"Ada masalah apa dengan pakaianmu?" Jarvis memandang dari kaki hingga ke leher, tidak ada yang harus dipermasalahkan.
Floretta yang mengenakan gaun tertutup hingga ke mata kaki dan lengan yang panjang merasa seperti dibungkus. Floretta tidak suka dengan pakaiannya.
"Aku masih muda, untuk apa aku berpakaian tertutup seperti ini? Hanya di dalam ruangan. Apa kekangan itu masih mau dilanjutkan?" Floretta yang semula berdiri lalu melangkah duduk ke samping Jarvis.
Jarvis menelan ludahnya, ia teringat akan panggilan David. "Sudah, kau bisa menggantinya bila tidak suka." Jawaban itu sebagai pamungkas agar hati Floretta tenang.
Mendengar hal itu Rayya meringis, pakaian yang dibawakannya semua jenis pakaian lengan panjang, paling pendek 7/8.
"Semua pakaian yang dibawakan jenis itu semua. Ayo, belikan aku pakaian yang ku senangi." Floretta mengguncang lengan Jarvis manja.
"Rayya kau boleh keluar. Pesankan pakaian yang sebatas lutut atau dibawahnya sedikit, lengannya juga jangan terlalu panjang." Jarvis meminta Rayya melakukannya langsung. Rayya pun keluar.
Kalimat Jarvis itu mendadak dihadiahi pelukan erat Floretta pada lengannya.
Pikiran Jarvis sedikit tidak tenang dengan sikap manis Floretta.
"Bersabarlah. Aku harus pergi dari sini menemui dokter David. Kau istirahat sendiri dulu."
Sewaktu Jarvis akan berdiri, Floretta masih mengungkung lengannya.
"Tidak mau, temani aku di sini." Floretta bergelayut sembari mengusapi lengan Jarvis, bahkan pipinya bergesekan dengan lengan Jarvis.
"Tunggulah sebentar, aku ingin mengganti pakaian dan membersihkan tubuh."
"Loh, bukannya kau ingin menemui dokter David. Sekarang kau malah ingin mengganti pakaianmu. Ooh, aku mengerti, apa kau butuh bantuanku, Jarvis?" Pertanyaan biasa itu terdengar sensual di pendengaran Jarvis.
Jantungnya berdetak cepat seperti habis mengikuti perlombaan lari. Jarvis menutup kedua matanya lalu menarik nafasnya perlahan.
"Floretta, Edith, aku harap kau ingat ini dimana? Jagalah sikapmu, kau masih sakit."
Jarvis berubah menjadi datar dan dingin sebagai usaha untuk melawan gelora dalam dirinya sendiri. Tangannya pun dikepalkan seolah menjadi pengingat kesadaran.
Bukan hanya lengan, kini Floretta malah memeluk tubuh Jarvis dari samping. Jarvis berubah menjadi kaku, benar-benar tidak nyaman dan takut salah bersikap.
Floretta hanya mengikuti dorongan dalam dirinya, dia tidak tahu-menahu pengalaman yang dilalui oleh si pemilik tubuh. Dia merasa merindukan sentuhan suaminya.
"Peluk aku, maka aku akan sembuh." Floretta tertawa sambil mendongakkan kepala memandang Jarvis.
"Flo... mohon mengertilah, aku harus pergi. Bersama David kami akan membicarkan tentang kesehatan mentalmu."
Floretta berani memandang Jarvis berlama-lama, bahkan dia tersenyum manis membuat gejolak meninggi pada diri Jarvis.
Seketika Floretta merasakan Jarvis melepaskan diri lalu melangkah besar menuju kamar kecil. Floretta mengentakkan kakinya kesal sampai membuat lututnya sakit kembali.
__ADS_1
Floretta memiliki ide lain untuk memikat suaminya. Ia menunggu dengan sabar sampai suaminya keluar.
Floretta bersembunyi di balik lemari pendingin dekat pintu keluar. Tubuhnya tertutupi.saei arah kamar kecil.
Jarvis keluar usai membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya. Ia tidak melihat Floretta di dalam ruangan, mendadak pikiran buruk melintas dalam benaknya.
"Floretta," panggilnya panik menoleh ke seluruh ruangan. Jarvis khawatir kalau Floretta akan membuat masalah dengan orang lain. "Edith," panggilnya lagi.
Jarvis berjalan ke arah luar, sewaktu akan membuka pintu, sekonyong-konyong Floretta memeluk Jarvis dari belakang.
"Nah, kau mencariku ya."
Floretta bisa merasakan tubuh Jarvis berubah kaku. Floretta berpikir bila pelukan bertambah erat, maka akan menenangkan Jarvis.
Floretta mendekap erat tubuh Jarvis hingga Jarvis merasa kehilangan kemampuan untuk bernapas.
"Jangan malu mengungkapkan kalau kau benar-benar mengkhawatirkan aku."
Jarvis bergeming, ia sampai bisa merasakan kehangatan tubuh Floretta dibalik pakaiannya. Jarvis memejamkan matanya, ingatan akan manisnya sikap Floretta di masa lalu menyapa pikiran Jarvis.
Floretta memainkan jemarinya di dada Jarvis menghasilkan luapan kegusaran pada Jarvis. Dia masih terus berusaha sadar pada apa yang dilakukan oleh Floretta.
"Flo... emh... Edith, aku mohon berhenti. Kau menggangguku."
Jarvis sampai harus mengingatkan dirinya bahwa bukan Floretta asli yang menginginkannya, melainkan kepribadian alternatif yang muncul dalam diri istrinya.
Gerutuan Jarvis hanya dianggap angin lalu oleh Floretta, dia masih melakukan apa yang dikehendaki alam pikirnya.
Sekuat-kuatnya Jarvis tetap saja dia memiliki kelemahan, di saat kini Floretta terus-terusan menggoda pendirian Jarvis.
Dalam waktu pergumulan batin yang cepat, Jarvis membalik tubuhnya lalu memandang lekat mata Floretta. Ia menyentuh cenderung mencengkram kedua lengan Floretta.
Floretta bukannya takut atau cemas pada Jarvis, dirinya malahan menantang tatapan Jarvis sembari melempar senyum menawan yang mampu meruntuhkan pegangan prinsip Jarvis yang kuat.
"Kau menginginkanku?" tanya Jarvis, meskipun dia berharap Floretta asli yang menjawab, tetapi toh Edith ada dalam diri istrinya.
"Sama seperti kau menginginkanku, bukan?"
Jarvis memajukan jarak mendekati wajah istrinya. Otak diperintah olehnya agar mengabaikan panggilan sadar agar berhenti melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsipnya sendiri.
Floretta sendiri membuka peluang agar Jarvis memiliki akses untuk kedekatan mereka berdua.
"Permisi, perawat datang." Ketukan pintu dilanjutkan dengan pintu kamar eksekutif Floretta bergerak terbuka. Mendadak Jarvis insaf pada apa yang akan dikerjakannya di bilik rumah sakit.
Floretta pun turut terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak lain perawat. Mereka berdua menjadi canggung seolah-olah terciduk melakukan sesuatu yang tidak pantas.
"Bapak dan ibu sedang apa di balik pintu?"
__ADS_1
Pertanyaan perawat itu berhasil membuat Jarvis menjadi gabir, kikuk dan tidak enak hati. Namun, Floretta berhasil bersikap lebih tenang dan kembali menjadi Edith yang penuh senyuman.