
Hubungan antara Jarvis dan Floretta tidak menampakkan kemajuan. Floretta terus berusaha menjauhi Jarvis.
Tidak jarang Floretta tidur di kamar Rosalie dan Dael secara bergantian. Hebatnya, mereka bisa menyembunyikan dari pekerja di rumah dan kedua anaknya.
Mereka menunjukkan sikap akur cenderung diam saat berada di depan anak-anak dan orang lain.
Pada Sabtu malam, Floretta bersiap bersama anak-anaknya untuk memenuhi undangan jamuan makan di kediaman keluarga Meyer.
Bertepatan Jarvis tidak ada di rumah, pria itu tadi memberitahu Floretta akan pulang sesegera mungkin agar mereka semua bisa pergi bersama. Jarvis mengatakan ada keperluan penting mendadak.
Floretta yang mengenakan busana A-line midi dress warna hijau lime melihat jam dinding telah menunjukkan arah pukul setengah tujuh malam. Bila menunggu Jarvis, maka dipastikan mereka akan terlambat tiba di kediaman keluarga Meyer.
"Rayya, sampaikan pada Walden kita berangkat." Rayya sedikit meragu, tetapi tetap melaksanakan permintaan Floretta.
"Ayo, anak-anak kita ke tempat Mima Stephanie."
Dael dan Rosalie melonjak kegirangan, setelah menunggu ayah mereka selama satu jam. Kedua bocah itu tidak lagi menanyakan ayah mereka selama perjalanan.
Setibanya di kediaman Meyer, Floretta dan kedua anaknya disambut langsung di depan pintu dengan senyum lebar Stephanie.
"Mimaaa," seru kedua bocah kecil sembari memeluk kaki nenek yang mereka panggil mima dalam bahasa Filaneey.
"Mima sudah merindukan kalian, cucu kesayangan mima." Stephanie menciumi mereka secara bergantian.
"Masuk sana, kalian sudah ditunggu elopa," suruh Stephanie untuk menjumpai suaminya yang dipanggil elopa oleh cucunya.
Dael dan Rosalie meluncur masuk ke dalam rumah, berlarian memasuki ruang dimana elopanya tengah menunggu.
"Flo, menantu mama, kau sangat cantik sekali." Senyum Stephanie merekah indah yang membuatnya terlihat awet muda. Stephanie memutar tubuh Floretta dan mengagumi kecantikan menantu perempuan satu-satunya itu.
Pipi mereka saling menempel, tidak lupa pelukan hangat Stephanie untuk Floretta.
Saat bersamaan, ada perasaan Floretta seperti akan kehilangan momen akrab bersama mama mertuanya. Cepat-cepat ia buang pikiran yang bisa merusak suasana hatinya.
"Sepertinya tubuhmu semakin berisi, Flo?" Pertanyaan usai pelukan itu, membuat Floretta salah tingkah. Selanjutnya, hanya senyuman yang menjadi jawaban Floretta.
"Mana Jarvis?" Stephanie bertanya setelah melihat di belakang Floretta tidak ada putranya.
"Jarvis tadi ada keperluan mendadak, Ma," jawabnya.
__ADS_1
"Ugh, anak itu dari dulu juga sering terlambat mengikuti jamuan makan di keluarganya sendiri. Tidak berubah-ubah."
Stephanie merangkul Floretta sembari memegang tangan sebelahnya, membawa masuk hingga ruang keluarga.
Di sana telah berkumpul Jarish Meyer yang dipanggil elopa oleh kedua cucunya, Dael dan Rosalie, Mandy Meyer adik ipar perempuan Floretta, dan calon pasangannya - Kavi dari keluarga Oster yang terkenal.
"Halo kakak ipar." Mandy menyapa Floretta, begitu juga dengan Kavi. Mandy dan Floretta berpelukan, hubungan keduanya harmonis.
"Halo, papa. Apa kabar?" sapa Floretta mendekati Jarish Meyer, papa mertuanya. Floretta menyalami dan memeluknya.
"Seperti yang kau lihat, Flo. Papa masih setia duduk di kursi roda ini. Kursi yang telah menjadi teman setia papa, setelah Stephanie," canda Jarish pada nenantunya.
Floretta tertawa mendengarnya. "Benar, Pa. Kesetiaan itu sangat penting, mendukung seseorang."
Floretta seakan-akan mencurahkan perasaannya tanpa memburukkan seseorang yang tidak setia.
Jarish dan Stephanie saling memandang dalam diam seolah-olah mereka menangkap pesan dari kalimat menantu satu-satunya.
"Ah, oke... mari kita semua ke ruang makan. Jadden dan Jarvis akan menyusul, kita bersiap dulu di sana."
Seluruh anggota dan calon anggota keluarga Meyer menuju ke ruang makan. Di sana telah terhidang menu makanan khas kota Heligore dan lainnya.
"Selamat malam semuanya." Seseorang menginterupsi di ruang makan, di saat mereka sedang sibuk untuk duduk dan membuka serbet makan.
Floretta melihat siapa yang datang, seorang pria dengan pakaian santai dibalut jas kasual. Ia tidak mengenali siapa sosok pria berbadan tegap itu.
Tidak terlalu lama, Stephanie menyambutnya. "Oh, anak mama, Jadden, mari ke sini. Ini tempat dudukmu." Stephanie menyentuh satu bangku untuk Jadden.
Pelayan keluarga Meyer menarik bangku yang dimaksud Stephanie.
"Terima kasih, mama," ujar Jadden sembari mengecup pipi Stephanie. Stephanie kembali ke tempat duduknya.
Floretta melepas tatapan tercengang melihat perubahan drastis penampilan Jadden. Ia masih memandang Jadden yang duduk tepat di hadapannya, di samping Mandy.
Jadden mengulas senyum pada Floretta, ia tidak mengatakan apapun padanya. Namun, tatapan dan senyum Jadden pada Floretta seperti menyapa dan menanyakan kabar ibu dua anak itu.
Floretta mengerjap-ngerjap, ia baru tersadar memandang seorang pria begitu lama dan lekat. Untuk mengontrol perasaan hati, Floretta menjamah wajahnya dan menutup matanya sejenak.
Keluarga Meyer melewati makan malam yang menyenangkan. Makan malam pertama kali setelah sepuluh tahun Jadden menjauhi keluarga Meyer tanpa terkecuali.
__ADS_1
Usai makan malam, mereka semua kembali ke ruang keluarga. Ruangan itu memiliki pintu yang terhubung langsung dengan taman bunga milik Stephanie. Di sana disediakan tempat duduk dan meja bagi siapa saja yang ingin menikmati udara malam.
Stephanie inilah yang menjadi panutan Floretta dalam kegiatan berkebun bunga, maka tidak heran bila bunga yang ada di rumah Jarvis dan Floretta tidak berbeda jauh dengan yang ada di kediaman Jarish dan Stephanie saat ini.
Dael dan Rosalie sedang bermain dan bercanda bersama mima dan elopanya. Sementara itu, Mandy dengan Kavi sedang berbincang berdua.
Floretta duduk sendiri di luar memandang taman bunga yang disorot lampu agar tetap dapat dinikmati keindahannya meski awan telah menggelap.
Ingatan Floretta kembali ke sepuluh tahun yang lalu saat dirinya masih akrab dengan Jadden. Floretta tidak habis pikir bagaimana penampilan Jadden mengalami perubahan sampai membuatnya tidak mengenali pria itu lagi.
Floretta tentu saja yang tidak bisa menanyakan hal itu seenaknya pada kakak iparnya, mereka terikat norma kesopanan, sekalipun dulu pernah dekat.
"Hai, Flo," sapa seseorang yang membuat Floretta tersentak dan lamunannya buyar. Floretta yang sedang duduk mendongak mendapati Jadden datang membawa dua gelas air.
"Ha... hai," jawab Floretta gugup.
"Maaf mengejutkanmu. Kau ingin minum?" tanya Jadden ramah. Floretta menerima dalam diam bahkan lupa mengucapkan terima kasih. Floretta meminum air yang diberikan Jadden, kebetulan tenggorokannya memang kering.
"Apakah aku boleh duduk, Flo?" tanya Jadden tanpa basa-basi.
Floretta tersedak hingga menyemburkan air ke udara. Ia terbatuk-batuk kecil sembari menyentuh pelan dadanya. Floretta langsung menaruh gelasnya di sandaran tangan.
"Oh, maaf Flo." Jadden menaruh gelasnya di meja kecil dekat kursi, refleks Jadden ingin mengusap dan mengetuk punggung Floretta.
Satu sentuhan membuat Floretta berdiri. "Ti... tidak apa-apa," ujar Floretta masih terbatuk, telapak tangannya menghadap ke Jadden.
Floretta berusaha menarik dan menghembuskan nafas perlahan dengan baik. Jadden menyaksikan dengan seksama.
Setelah Floretta bisa bernafas lebih lancar, Jadden kembali berucap, "Kedua anakmu dengan Jarvis sangat lucu dan ramah, mereka memanggilku yatuwa." Jadden terkekeh mengingat percakapan singkat dengan kedua bocah keturunan Meyer itu.
Floretta mengangguk dan sulit tersenyum, tetapi ia paksakan merespon dengan ramah. Banyak sekali pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Floretta yang ingin ditanyakan pada Jadden sebenarnya.
"Mengapa kalian hanya bertiga, mana pria yang dulu menjadi suami impianmu itu, Flo? Pastinya kalian sangat bahagia," tanya Jadden bermakna satire.
Floretta merasa udara di taman bunga mendadak menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Tanpa disadari Jadden, Floretta menggigil kedinginan.
"Jar... Jarvis akan datang. Ia tadi ada keperluan mendadak." Akhirnya ada kalimat tenang yang terlontar dari jantungbyang berdegup tidak karuan.
Ada perasaan bersalah yang terbit di hati Floretta saat melihat Jadden saat ini, itulah yang membuat detak jantungnya tidak stabil seperti biasanya.
__ADS_1
"Mengapa hanya berdiri, duduklah di samping kakak iparmu, Floretta Conie." Jadden menepuk bangku di sebelahnya. Floretta bergeming, hatinya bermohon siapapun untuk menjeda pembicaraan mereka.
"Flo, kau di sini rupanya." Jarvis datang dari arah punggung Jadden. Floretta langsung menggandeng erat lengan Jarvis dengan kedua tangannya sebab kakinya mulai terasa lemah seperti jeli.