MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Musim Penghujan


__ADS_3

Hujan membasahi tanah kota Heligore dengan deras. Petir bersahutan dan kilat menyambar di luar kediaman Jarvis Meyer.


Sudah pukul sembilan malam, Floretta belum kembali ke kamar pribadinya bersama Jarvis. Jarvis telah mengira kalau Floretta meneruskan rajukannya sepanjang hari.


Sepertinya Filaneey memasuki musim penghujan dua bulan menjelang akhir tahun. Biasanya di musim penghujan setiap tahun, Floretta akan menempel pada Jarvis, terlebih bila hujan disertai suara petir. Sekalipun kamar mereka dilengkapi alat kedap suara, Floretta tetap saja menggunakan Jarvis sebagai tempat perlindungan.


Dael dan Rosalie bahkan lebih berani dibandingkan Floretta. Pada masa kanak-kanak Floretta memiliki pengalaman buruk dengan hujan, petir, dan kilat. Floretta pernah mengalami kecèlakaan bersama ibunya pada malam hari. Akibat pohon tumbang yang tidak diperhatikan oleh pengemudi keluarga, kendaraan yang ditumpangi membentur pohon dan menewaskan ibunya bersama pengemudi.


Kenangan buruk itu selalu mengganggu Floretta. Floretta pernah menjalani trauma healing agar rasa takutnya terhadap musim penghujan dapat diredakan. Namun, belum bisa benar-benar pulih seperti sedia kala.


Pada hujan biasa di musim lain, Floretta cukup mampu menghadapinya sebab tidak begitu sedahsyat hujan di musim penghujan.


Jarvis mengetahui phobia Floretta di musim penghujan. Jarvis turun dari ranjang melangkah keluar mencari keberadaan Floretta.


Ini kali pertama selama sembilan tahun Floretta tidak menempel pada Jarvis. Kendati di masa silam Jarvis tidak pro aktif membantu Floretta pulih dari rasa takut, memeluk Jarvis membuat setidaknya Floretta memiliki teman, tidak sendirian di tengah hujan badai, petir, dan kilat.


Siapa teman Floretta malam ini? Malam pertama hujan deras.


Jarvis membuka pintu kamar Rosalie. Kamar remang-remang milik putrinya tidak menunjukkan keberadaan Floretta di sana. Rosalie lelap menikmati bunyi di luar seperti nyanyian malam alam, tidak terganggu.


Jarvis melangkah menuju kamar Dael. Jarvis akan tenang bila menemukan Floretta di sana lalu dia akan kembali ke kamar pribadinya. Keadaan kamar yang hanya dihuni Dael, cukup mengejutkan Jarvis. Tidak ada Floretta di sana, Dael pun tertidur lelap di ranjang berbentuk robot itu.


Kemana Floretta? tanya Jarvis dalam hatinya. Tidak mungkin bila Floretta memilih tidur dengan pelayan. Tidak ada salahnya bila Jarvis menghampiri para pelayan.


Jarvis berjalan menuju ruang besar di belakang khusus untuk para pelayan. Belum tiba di sana, Jarvis mendengar suara pelayan yang sedang bercengkrama dan masih menonton televisi, baik laki-laki dan perempuan.


Di kediaman Jarvis, mereka memang diperbolehkan beraktivitas sendiri hingga pukul sepuluh malam.


Jarvis meneruskan langkahnya.


"Kalian semua belum tidur?"


Para pelayan spontan mengambil posisi tegap, bahkan satu pelayan langsung mematikan televisi saat itu juga.


"Malam Tuan, kami berencana menyudahi percakapan pukul sepuluh malam," jawab Gaby merespon pertanyaan Jarvis.


Jarvis memindai ruangan tidak menemukan Floretta di sana.

__ADS_1


"Di luar kilat menyambar sebaiknya tidak menonton televisi," perintah Jarvis mengingatkan keadaan kurang baik di luar.


Jarvis mulai tidak tenang dan bertanya-tanya ke mana Floretta pergi mencari perlindungan dari keadaan hujan saat ini. Jarvis menyusuri kediaman megahnya, tidak menemukan Floretta. Jarvis enggan untuk meminta bantuan para pelayannya untuk mencari Floretta, Jarvis yakin kalau Floretta tidak melarikan diri dari rumah.


Jarvis menyapukan pandangan ke sekeliling rumahnya hingga terhenti di satu ruangan, yakni kamar bermain anak-anak. Selain kamar pribadinya bersama Floretta, kamar bermain anak-anak juga dilengkapi alat kedap suara.


Jarvis masuk dengan perlahan, menyibak tirai. Lampu remang-remang disertai terang kilat menampakkan seseorang tidur meringkuk di playmate sambil memeluk boneka teddy bear besar.


Itu Floretta.


Wajahnya ditutup ke badan boneka besar itu sehingga dia tidak menyadari ada orang masuk dan melihat pemandangan menyesakkan dada.


Hati Jarvis tercubit melihat keadaan yang terpampang jelas di depan matanya. Saat petir menggelar, terdengar suara jerit tertahan Floretta sembari memeluk lebih erat boneka teddy bear-nya. Floretta tidak berlari mendapatinya, justru memilih boneka mati untuk tempat berlindung.


Setitik air mata membasahi pipi Jarvis. Dia merasa hati Floretta sudah jauh meninggalkan dirinya. Jarvis ingin meraih Floretta kembali.


Jarvis melangkah menuju playmate, turut merebahkan diri di sebelah Floretta yang menyamping memeluk boneka besar.


"Flo, aku ada di sini."


Jarvis tidak peduli Floretta akan menolak dan meronta melepaskan diri. Jarvis memeluk Floretta sehingga posisi Floretta berada di tengah-tengah.


"Kau tidak sendirian, Flo."


Ada pergerakan Floretta seperti dugaan Jarvis. Jarvis tidak melepaskan Floretta yang sedang berperang dengan rasa takut dan marahnya.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Flo."


Di luar kediaman Jarvis, kilat dan petir kembali menampakkan kekuatannya seperti pasangan yang sedang mengumumkan keindahan hubungan mereka.


Tubuh Floretta semakin bergetar disertai isakan ketakutan dan kecemasan. Floretta sontak melepaskan genggaman pada boneka, cepat menggenggam lengan Jarvis.


Jarvis mendorong boneka teddy bear milik Rosalie menjauh dari playmate.


"Peluk aku bila kau menginginkannya."


Mendengar itu Floretta membalik tubuhnya menghadap Jarvis dan menenggelamkan wajahnya ke dada Jarvis.

__ADS_1


"Aku takut," isak Floretta terdengar pilu di telinga Jarvis.


Jarvis berusaha menenangkan Floretta. Dia memeluk, mengecup kening, dan mengusap punggung istrinya.


Hujan badai, kilat, dan petir masih bermain-main di malam gelap. Namun, tidak berpengaruh lagi bagi Floretta yang semakin tenang dalam dekapan suaminya.


Malam itu Floretta ditemani oleh Jarvis menghadapi rasa takutnya. Kali pertama sepanjang tahun pernikahan mereka, Jarvis mendatangi Floretta untuk mengisi kebutuhan Floretta.


Perlahan Floretta masuk dunia mimpi dan bernapas dengan tenang.


Pagi harinya langit cerah meskipun matahari belum begitu terlihat, Floretta terbangun di playmate sambil memeluk boneka teddy bear. Floretta terhenyak, merasa mengalami mimpi yang nyata.


Ia melirik ke sebelah dan seluruh ruangan, hanya dirinya seorang berada dalam kamar bermain anak-anaknya.


Floretta mendudukkan tubuhnya, terasa sakit punggung dan lengan. Dalam mimpinya, ia tidur menyamping dipeluk oleh Jarvis.


Floretta menghela napas panjang, menggelengkan dan menepuk keningnya. Apakah sebegitu besar rasa rindunya pada Jarvis sehingga bermimpi berada dalam pelukan Jarvis yang kenyataannya hanyalah teddy bear?


"Kau sudah bangun?"


Jarvis keluar dari kamar kecil di ruangan bermain. Floretta membelalak mendapati Jarvis menggunakan piyama yang sama persis dengan setelan yang dilihatnya dalam mimpinya tadi malam.


Tidak mungkin kenyataan, bukan? Floretta berusaha menolak pikirannya sendiri.


"Kau... kau... sedang apa di sini?" tanya Floretta gugup sembari menarik lalu memeluk teddy bear ke hadapannya.


Jarvis mencerna ucapan Floretta, sampai menyadari kalau Floretta sepertinya tidaklah ingat dengan kejadian tadi malam.


"Aku tidur bersamamu. Lama aku tidak kau dekap. Terima kasih."


Jarvis mengulas senyum manis pagi harinya. Bagi Floretta ucapan Jarvis seakan menyindir keadaan trauma-nya.


"Kau mengambil kesempatan!?" Floretta menunjuk Jarvis, ia tidak terima dengan perlakuan Jarvis padanya.


"Kau ketakutan, Flo," terang Jarvis sesabarnya.


"Sekalipun begitu, kau tidak berhak melakukannya!"

__ADS_1


Jarvis kesal mendengarnya, tetapi tidak membalas ucapan menusuk Floretta. Jarvis memilih keluar ruangan dan bersiap-siap untuk melakukan aktivitas pribadinya.


__ADS_2