MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Rencana Berlibur


__ADS_3

"Anak-anak...." Dael dan Rosalie yang sedang bermain setelah makan siang, menoleh bersamaan ke arah Jarvis.


Floretta yang ikut menemani Dael dan Rosalie juga memberi perhatian ke arah sumber suara.


"Besok setelah pulang sekolah, kita akan terbang menghabiskan liburan akhir pekan."


Mendengar kata liburan, sontak Dael dan Rosalie melonjak kegirangan. Lama sekali rasanya mereka tidak berlibur bersama ayahnya, biasanya hanya Floretta serta para pengasuh yang menemani.


"Sekarang kalian pergilah ke kamar, pilihlah pakaian yang akan kalian pakai untuk liburan 3 hari."


"Siap, Ayah...," ucap Dael menaruh tangan di keningnya, diikuti oleh Rosalie yang menirukan kakaknya. Tidak banyak bicara, Dael cepat meluncur keluar dari ruangan bermain.


Lain hal dengan Floretta yang terkejut mendengar rencana mendadak Jarvis. Saat Rosalie akan keluar kamar, dia teringat sesuatu lalu kembali kepada ayahnya.


"Ayah, besok apa aku boleh berenang?" tanya Rosalie yang kegemarannya selain bermain adalah berenang.


"Tentu saja, Ros," jawab Jarvis mengulas senyum tulus sembari mengusap kepala Rosalie.


"Hore... Aku akan membawa baju renang dan pelampung. Terima kasih, Ayah. Aku sayang Ayah." Rosalie mengecup pipi Jarvis. Jarvis semakin senang melihat kebahagiaan anak-anaknya.


Dael dan Rosalie bersama para pengasuhnya telah beranjak ke dalam kamar masing-masing untuk memilih pakaian yang akan mereka kenakan selama pergi berlibur.


Jarvis hanya ingin menyampaikan hal itu pada anak-anaknya. Setelahnya, Jarvis balik badan ingin keluar dari ruangan bermain.


Mendadak Floretta menghalangi jalan Jarvis, kekesalan menanjak dalam otak Floretta.


"Apa yang kau rencanakan? Mengapa... mengapa kau tidak mengatakan rencana liburan sebelumnya kepadaku?" Floretta tidak terima dengan cara komunikasi Jarvis.


Jarvis hanya diam menatap manik Floretta. Jarvis lelah mendengar omelan demi omelan istrinya. Namun, diam lebih baik saat ini daripada melawan Floretta.


"Aku ibu mereka, kau harusnya sampaikan padaku terlebih dulu, Jarvis."


Floretta merasa Jarvis membuat keputusan sepihak tentang anak-anak mereka.


Jarvis menarik nafas panjang, ia tidak mungkin mengatakan rencananya ke Kowabuda terkait dengan pembuktian akan anak Alleta yang diaembunyikan selama ini. Pasti saja Floretta tidak akan percaya apapun yang dikatakan Jarvis.

__ADS_1


"Kau ibunya, aku ayahnya. Aku ingin mengajak mereka berlibur. Kalau kau mau ikut, masih ada satu bangku di pesawatku tersisa. Bila tidak mau, lebih baik kau minta Mandy untuk menemani melewati tiga malam di musim penghujan," terang Jarvis, tidak tahan hanya mematung tanpa sepatah kata.


Jarvis melangkah ingin keluar ruangan. Dengan cepat, Floretta menarik lengan Jarvis.


"Aku belum selesai. Mengapa seperti aku yang bersalah lalu dihukum di sini, dijauhkan dari anak-anakku, padahal aku adalah istri yang jadi korban perasaan," tuding Floretta dengan ketus.


"Flo, pikiranmu sedang tidak jernih. Aku telah menawarkan bila kau bersedia ikut serta, aku tidak keberatan. Tidak ada yang menjauhkanmu dari Dael dan Rosalie."


Jarvis berusaha menerangkan apa adanya.


"Ya... Tapi, mengapa kau tidak mengatakan terlebih dulu padaku?" Floretta seakan-akan menantang emosi Jarvis.


"Beberapa waktu belakangan, kita sedang tidak bisa berkomunikasi secara baik-baik. Kau boleh tinggal di rumah, bila tidak ingin ikut serta," ujar Jarvis menunjuk Floretta denganĀ  tenang. "Tetapi, kau tidak boleh menemui dan ditemui siapapun, kecuali Mandy dan mama," peringat Jarvis tegas.


Mata Floretta membelalak tidak terima. "Mengapa kau menjadi seegois ini, Jarvis?" Floretta geram dengan sikap Jarvis yang berbeda dari sifat sebelumnya.


"Ini semua demi kebaikanmu dan anak kita," tunjuk Jarvis pada perut Floretta.


Setelah itu, Jarvis keluar ruangan. Floretta ditinggal sendirian dengan beragam tanya di benaknya.


"Kebaikanku? Apa masih sempat kau memikirkan kebaikan untukku?" cemooh Floretta dengan suara pelan.


[Suamimu itu aneh sekali. Terlihat seperti tidak peduli padamu, tetapi posesif.]


[Apa pendapatmu, Alice?]


[Ku pikir sebaiknya kau ikut pergi berlibur. Tiga hari tanpa anak-anak, apa kau kuat?]


[Berpisah dengan anak-anak selama satu hari saja barang tentu aku tidak kuat. Tapi Alice, aku akan bebas selama tiga hari tanpa melihat Jarvis.]


[Ya, terserah padamu, Flo. Di liburan nanti kau bisa mengabaikan suamimu. Sibukkan diri dengan anak-anak.]


Setelah berbagi cerita dengan Alice, Floretta memutuskan untuk ikut serta dalam liburan akhir pekan.


"Kazem, aku tidak ingin siapapun tahu kalau perjalanan esok menuju Kowabuda," perintah Jarvis yang sedang menikmati secangkir teh dan pemandangan taman bunga secara langsung.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Jarvis tidak memberi tahu pada keluarga dan pekerja di rumahnya yang akan ikut kalau mereka akan terbang menuju Kowabuda. Jarvis merasa perlu berhati-hati mengucapkan rencana mengingat laporan orang suruhannya mengindikasi ada sosok yang memancing di air keruh rumah tangganya.


Semakin informasi yang diperoleh Jarvis diketahui oleh sedikit orang, maka akan lebih mudah mengetahui siapa yang memberi dukungan pada Alleta.


Jarvis juga menjaga agar keinginanya untuk mencari tahu anak Alleta tidak diketahui oleh siapa pun juga yang dapat merusak rencana pembuktiannya.


Jarvis menyesap teh yang telah dihidangkan oleh pelayan rumah. Jarvis menatap risau cangkir yang dulunya setiap hari disediakan oleh Floretta di sore hari.


Ironinya, ada kerinduan akan perlakuan manis Floretta yang berkecamuk dalam diri Jarvis. Sikap dan permintaan pisah dari Floretta semakin hari membuat emosi Jarvis tidak karu-karuan dan membuat ketegasannya berubah menjadi plin-plan.


Di dalam kamar, Floretta memilih pakaiannya ke dalam koper dibantu oleh Rayya. Floretta telah memutuskan mengikuti saran Alice untuk ikut serta dalam liburan yang entah ke kota mana.


Hati Floretta bergemuruh mengingat Jarvis tidak memberi tahu akan ke kota mana berlibur. Floretta bingung untuk membawa pakaian seperti apa yang cocok untuk kota yang akan mereka kunjungi besok.


Meskipun dalam keadaan hamil, sebagai mantan model, Floretta tetap ingin berpakaian pantas dan tidak ketinggalan zaman.


Floretta enggan untuk bertanya pada Jarvis.


"Masukkan beberapa rib dress maternity, overlay maternity, dan pakaian harian, serta beberapa flat shoes dan sendal, Rayya."


Rayya mengikuti perintah dari Floretta. Koper kecil itu penuh dengan barang Floretta.


Usai membereskan perlengkapan untuk esok, bertepatan Jarvis masuk ke dalam kamar. Rayya berpamitan undur diri dari ruangan pribadi pasangan suami istri itu.


Jarvis menoleh ke arah koper kecil warna merah marun milik Floretta.


"Kau ikut berlibur esok?" Jarvis menyambut baik dan melempar senyuman.


"Aku tidak ingin berpisah dari anak-anakku," jawab Floretta, bersamaan memudar senyum di wajah Jarvis.


"Oh... baguslah kalau begitu." Jarvis mengangguki alasan Floretta.


"Tidak sekalian membereskan perlengkapanku?" Terbersit harapan di hati Jarvis agar istrinya itu bertindak sedikit perhatian padanya, seperti masa silam.

__ADS_1


Sayangnya, Floretta yang telah bertekad mengeraskan hati, tidak mengindahkan perkataan Jarvis.


Floretta keluar kamar dibarengi dengkusan dari Jarvis yang merasa diabaikan.


__ADS_2