MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Ada Apa dengan Floretta?


__ADS_3

"Apa yang menurut Anda aneh dari sikap nyonya Floretta, Tuan? Bukankah seharusnya Tuan senang kalau nyonya Floretta menyambut kehadiran Anda?" tanya dokter kandungan yang menangani Floretta dengan heran.


Jarvis jadi salah tingkah untuk menjelaskan permasalahan hubungan yang terjalin antara dirinya dan istri. Jarvis menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal.


"Relasi saya dan istri sedang tidak baik-baik saja, mungkin dokter mengetahui kasus yang sedang viral mengenai saya saat ini." Jarvis merasa percaya diri untuk tidak perlu menceritakan detailnya kembali.


Dokter kandungan tersenyum canggung. Kini, ia mengerti kalau kasus yang tengah menimpa Jarvis membuat Floretta tidak bersikap sebagai seorang istri yang manis.


"Baik, Tuan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mengenai tindakan yang akan dilakukan mengikuti hasil pemeriksaan."


Jarvis merasa lebih tenang mendengar penuturan dokter. Dia keluar dari ruangan lalu menuju taman rumah sakit.


Jarvis duduk bermenung memikirkan apa hubungan perdarahan sebelum melahirkan dengan pikiran Floretta? Istrinya terlihat kosong tidak seperti beberapa bulan belakangan, seperti hilang ingatan.


Di kamar rawat inap baru, Floretta membuka matanya, setelah tidur siang. Dia pun merasa ada yang janggal pada dirinya sendiri.


Jarvis mengatakan kalau mereka memiliki anak ketiga. Kapankah dirinya mengandung? Adakah yang terlewatkan dalam pikirannya.


Sewaktu memikirkan ucapan Jarvis, kepala Floretta mendadak pusing kembali seperti ada rekaman kusut pada ingatannya. Floretta memegang kepala sembari kesakitan.


Bersamaan dengan itu, dokter kandungan bersama perawat masuk ke ruangan eksklusif Floretta, tepat di jam kunjungan rutin.


"Apa yang terjadi nyonya Floretta?" tanya perawat sigap mendekati Floretta.


"Sakit kepala seperti ada yang menekan." Floretta sampai sulit membuka matanya sebab menahan rasa sakit.


"Coba berusaha tenangkan pikiran dengan memusatkan pada pernapasan." Floretta mengikuti instruksi dokter, beberapa saat kemudian ia mulai kembali tenang hingga sakit kepalanya berangsur menghilang.


Dokter memandang Floretta, teringat pada kejanggalan yang dikatakan Jarvis. Dokter perempuan bernama Shannon menanyakan Floretta tentang identitas diri sendiri, Floretta mampu menjawab tiap pertanyaan.


"Apakah Anda tahu mengapa dirawat di rumah sakit?"


Floretta menatap dokter, mulai mengulang memori terakhir mengapa sampai bisa menginap di rumah sakit.


Floretta tahu kalau Jarvis mengatakan dia melahirkan seorang anak, tetapi Floretta tidak percaya. Ia pun belum bisa memeriksa jejak luka bedah karena tubuhnya terasa kaku seakan-akan berbaring begitu lama.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat," ucap Shannon. "Kami akan memberitahu Anda."


"Nyonya satu setengah bulan lalu melahirkan seorang anak laki-laki secara prematur. Dilakukan tindakan bedah pada nyonya karena sempat mengalami koma sebelum melahirkan."


Floretta terhenyak mendengar apa yang diucapkan oleh dokter Shannon. Tidak lama kemudian, Floretta menggelengkan kepalanya.


"Jangan mengarang dokter, anak ku hanya dua orang, namanya Dael dan Rosalie, tidak punya anak lain."

__ADS_1


Dokter dan perawat saling berpandangan, sepertinya ada gangguan pada otak Floretta sampai-sampai tidak mengingat putra yang masih dirawat di inkubator.


"Maaf nyonya, baiklah kalau begitu, kami harus memeriksa pasien lainnya. Anda perlu beristirahat, bila nanti mengalami sakit kepala ringan, bisa fokus pada pernapasan. Namun, bila sudah tidak kuat, tolong nyalakan tombol emergency agar perawat kami bisa segera ke ruangan Anda."


Shannon tidak memaksakan kebenaran tentang putra yang dilahirkan Floretta. Shannon berencana melibatkan seorang dokter bidang kejiwaan dan saraf untuk memahami apa yang terjadi pada Floretta.


Keadaan Floretta semakin membaik. Meskipun demikian, hubungan antara Jarvis dan Floretta tidak kembali seperti sedia kala. Floretta malah seperti menjadi orang lain bagi Jarvis.


Floretta telah mampu duduk tidak sekaku sebelumnya. Jarvis selalu menemani Floretta di ruangan rawatnya, meski dia selalu diabaikan oleh Floretta. Floretta tidak banyak bicara, bahkan menolak bertemu dengan putra kandungnya.


Keanehan demi keanehan dalam diri Floretta dirasakan Jarvis sebagai bentuk balas dendam istrinya. Begitulah, dugaan terburuk yang dibatinkan Jarvis terhadap Floretta.


Seperti kejadian penolakan bayi Adam Meyer yang disampaikan oleh Shannon, peristiwa itu pun terjadi saat Jarvis membujuk Floretta.


"Flo, apakah kau tidak ingin melihat anak kita?" tanya Jarvis penuh harap.


Floretta langsung menyorot tajam Jarvis, dia tetap menolak disebut telah melahirkan, meski ada bekas bedah di perutnya.


"Aku peringatkan jangan menyinggung soal anak lagi, Jarvis. Aku tidak lagi berniat untuk memiliki anak. Selama delapan tahun pernikahan ini, kau tidak pernah memberikan perhatian seperti seorang suami kepada istri."


Kalimat itu membungkam Jarvis. Bagi Floretta, usia pernikahan mereka masih delapan tahun. Artinya, Floretta tidak mengingat peristiwa setahun kebelakang.


Namun, mengapa bukan kembali menjadi Floretta yang tergila-gila pada Jarvis melainkan seperti memiliki kepribadian yang lain, tanya Jarvis pada dirinya sendiri.


"Setelah melalui pemeriksaan dan wawancara, kami mendapati nyonya Floretta mengalami amnesia disasosiatif." Begitulah informasi yang diperoleh Jarvis.


"Amnesia ini bersifat sementara, meskipun tidak bisa dipastikan lamanya ingatan pasien kembali. Amnesia ini berkaitan dengan trauma psikologis, bisa kita sebut, nyonya Floretta sebelum ini mengalami stres berat, sayangnya tidak ada penanganan," ujar dokter ahli jiwa.


Jarvis teringat dengan pesan teman dokter kandungannya bernama Maureen di Heligore agar membawa istrinya ke dokter ahli jiwa, sayangnya tidak dilakukan oleh Jarvis.


"Mengapa Floretta menjadi seperti orang lain, mudah tersinggung dan marah?"


"Ya, dampak dari amnesia ini salah satunya memiliki kepribadian lain dalam dirinya, disebut juga dengan kepribadian ganda."


Jarvis terbelalak mendengar gangguan yang dialami oleh istrinya. Jarvis teringat akan kejadian berat di masa kecil Floretta, ditambah lagi pengabaiannya pada Floretta selama sembilan tahun pernikahan dan kasus perselingkuhan lamanya, tidak heran tumpukan pengalaman buruk bisa menghapus ingatan tertentu dalam diri Floretta.


Jarvis merasa bersalah pada Floretta. Dia memukuli kepalanya di hadapan dokter ahli jiwa bernama George Tringthon.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan?" George berusaha menghentikan tindakan Jarvis yang berusaha melukai dirinya sendiri.


"Ini semua kesalahan saya," ujar Jarvis tersedu, ia juga khawatir akan nasib anak-anaknya kelak bila Floretta tidak pulih.


"Tuan perlu optimis, ingatan istri Anda bisa sembuh dengan melakukan tahapan pemulihan rutin. Gejala dini dapat kita deteksi, hal itu menjadi peluang baik."

__ADS_1


Meskipun George mengatakan demikian, Jarvis masih memiliki ketakutan lain.


Di ruangan rawat Floretta duduk menyender sembari termenung. Ia menyentuh bekas luka bedah di perutnya.


Floretta merasa tidak bisa menerima kehadiran seorang bayi, apalagi mengingat Jarvis adalah suami yang sulit untuk berpaling padanya.


Floretta berusaha meraba-raba bagaimana bisa ia memiliki anak lagi, Dael dan Rosalie sudah cukup untuknya. Bagi Floretta sekarang seakan-akan ada celah kosong dalam memori ingatannya yang sulit dijelaskan.


Bisa jadi, pembedahan ini karangan Jarvis saja, batin Floretta.


Floretta melihat seseorang yang tidak lain suaminya masuk ke dalam ruang rawatnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Jarvis.


Floretta tidak menjawab hanya melirik, begitulah keseharian Floretta merespon Jarvis.


"Kau ingin makan siang? Aku akan menyuapimu," tawar Jarvis berjalan mendekat ke ranjang pasien.


"Tidak perlu Jarvis. Aku bisa mengurus diriku sendiri, sudah terbiasa seperti itu."


Jalan Jarvis terhenti dengan kepala terasa mengecil mendapat penolakan dari Floretta.


"Kita akan di sini hingga satu bulan lagi, sampai kau benar-benar bisa berjalan. Keadaanmu harus lebih sehat." Jarvis berusaha menegarkan hatinya.


Floretta melirik Jarvis. "Kau katakan aku koma selama satu setengah bulan, kita di sini sampai satu bulan mendatang. Apa yang membuatmu berubah? Bukannya perusahaanmu jauh lebih penting dari apapun?"


Semenjak siuman, Floretta selalu memiliki kalimat menohok pada Jarvis. Jarvis tidak meladeni amarah Floretta.


"Kau juga perlu mempertimbangkan anak yang kau lahirkan butuh kehadiranmu di sampingnya. Namanya Adam Meyer. Tolong, jangan abaikan dia." Jarvis tidak tahan terus-menerus menyimpan harapan tentang Adam pada Floretta.


Sorotan mata Floretta seolah-olah menyiratkan bara api yang terbakar.


"Sudah ku katakan, anakku hanya ada dua orang. Katakan yang sebenarnya, apakah itu anakmu dengan perempuan lain?" tuding Floretta asal bicara.


"FLO!!"


Floretta tersentak mendapat bentakan dari Jarvis. Mereka berdua diselimuti keheningan.


"Maafkan aku karena telah meneriakimu. Makanlah. Aku pergi sebentar."


Jarvis melangkah keluar untuk menenangkan gemuruh perasaannya. Ia marah pada Floretta yang terus-menerus menolak Adam. Namun, hendak bagaimana lagi, Floretta sendiri memiliki ketidakmampuan mengingat kehadiran Adam selama sembilan bulan dalam rahimnya.


"Maafkan kesalahan ayah," lirih Jarvis pada Adam yang masih terlelap dalam ruang penanganan khusus bayi.

__ADS_1


__ADS_2