MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Menggila


__ADS_3

"Saya dan pria J memiliki seorang anak. Kini berusia 8 tahun. Dulu kami melakukannya dengan penuh cinta. Sayangnya, saat anak kami dalam keadaan tidak berdaya karena kanker darah akut." Alleta Nicoline menunjukkan wajah murung mengingat putri satu-satunya yang sedang mendapat perawatan medis di sebuah rumah sakit.


"Apakah pria itu tahu Anda melahirkan seorang anak baginya?" Alleta kembali mengunjungi podcast Brigitta Adams. Akun media sosial Brigitta Adams paling menunjukkan respon warga internet.


Sebagian mencaci maki Alleta, lainnya melemparkan sumpah serapah pada pria berinisial J. Alleta masih menyembunyikan nama, meskipun di kolom komentar warga internet menebak-nebak dengan menuliskan nama-nama pengusaha kenamaan di kota Heligore.


"Dia tidak tahu sampai sekarang. Kalau dia menonton, seharusnya ia akan mencari saya untuk mengunjungi anaknya. Kalau tidak, dia memang bukan pria dan bapak yang baik."


Penilaian Alleta yang memojokkan Jarvis ditepuktangani oleh pria misterius yang pernah mendatangi Alleta di sebuah tempat.


"Perempuan pintar. Kau sangat berguna."


Sementara itu, Floretta yang sedang duduk santai membaca buku tentang kehamilan mendapat notifikasi pesan. Ia menaruh buku di samping tempat duduk dan mengambil ponselnya untuk mengetahui pesan masuk.


Pesan itu dari Alice, ponsel Floretta sampai terjatuh ke pangkuannya setelah mengklik tautan berisi potongan video pengakuan Alleta Nicoline.


"Suamimu memang brengsek!" Alice tidak tahan dengan pria yang mengkhianati istri. Sebagai korban dari relasi asmara toksik, Alice hanya berharap Floretta bisa hidup bebas dari Jarvis. Jangan sampai terlalu lama menderita.


Tangan Floretta gemetar dan air matanya jatuh tidak tertahankan. Floretta berlari menuju kamarnya dengan menutup mulut dengan sebelah tangan. Rasa mual mengaduk perutnya, Floretta memuntahkannya di wastafel.


Mengingat Jarvis punya anak lain, tubuh Floretta gemetaran sampai terduduk di lantai kamar kecil. Isakannya berubah menjadi tangisan kencang.


Floretta menyeret tubuhnya keluar dari kamar kecil, mendengar berita itu ia seolah-olah menjadi lumpuh total. Suara jerit kemarahan dilontarkan Floretta pada angin.


Pintu kamar Floretta yang tidak tertutup sempurna membawa suara tangisan dan teriakannya sampai pada Rayya. Ia ingin masuk, tetapi khawatir salah bersikap. Hati Rayya tidak tenang mendengar galabah Floretta, ia mengintip di celah pintu, sayangnya tidak terlihat Floretta di sana.


Cepat-cepat Rayya menyingkir, ia menghubungi Jarvis untuk minta petunjuk harus melakukan apa.


Jarvis sedang rapat tentang pengembangan produk yang sedang diproduksi oleh perusahaan Kireiguzedes. Bertepatan Jarvis mempimpin rapat untuk mengetahui laporan perkembangan produksi skincare perusahaannya.

__ADS_1


Rayya tidak berhasil menghubungi Jarvis setelah lima kali panggilan. Akhirnya, ia memilih nama baru yakni Stephanie untuk dihubungi. Rayya tampak berpikir kembali, apakah nanti tidak akan jadi masalah bila ia menghubungi Stephanie?


Namun, di saat akan menekan tombol telepon, panggilan Jarvis masuk ke ponselnya.


Rayya spontan menyentuh dadanya sembari mengangkat telepon dari Jarvis.


"Rayya, ada apa?" Jarvis langsung bertanya ke inti. Ia izin pada anggota rapat untuk mengangkat telepon, kejadian langka di masa lalu.


"Tu... tuan... mohon maaf mengganggu. Nyonya... nyonya Floretta, Tuan." Rayya begitu gugup menyampaikan apa yang didengarnya, ini kali pertama Floretta berteriak tidak karu-karuan sampai Rayya ketakutan. Menelepon Jarvis baru kali ketiga selama sembilan tahun Rayya bekerja di keluarga Jarvis Meyer.


Biasanya ia berkontak dengan asisten Jarvis bila melaporkan sesuatu. Kali pertama dan kedua Rayya pernah menghubungi Jarvis adalah sewaktu Floretta akan melahirkan Dael dan Rosalie.


Bukan itu saja, beberapa pelayan lainnya, terlihat berkumpul di lantai bawah sambil melongok ke atas. Rayya sepertinya tidak perlu menyembunyikan kebenaran.


"Ada apa dengan Floretta?" tanya Jarvis panik.


"Nyonya Floretta sedang berteriak sambil menangis di kamar Tuan, pintu tidak terkunci, hanya saja saya tidak berani masuk. Dari suaranya, Nyonya terlihat sangat marah."


Belum lagi selesai perkataan Rayya, Jarvis telah mematikan panggilan suara di antara mereka.


Rayya refleks memukul pipinya sendiri, ia menganggap Jarvis marah dengan laporannya. Rayya menilai dirinya mengganggu Jarvis dengan memberitahukan kondisi istrinya.


Rayya baru teringat selama ini Jarvis memang bukan suami yang perhatian pada Floretta, meskipun keadaan saat ini barulah terjadi untuk pertama kali.


Seorang pelayan perempuan naik ke lantai atas menemui Rayya.


"Rayya, ada apa dengan Nyonya? Mengapa hanya berdiam diri di sini? Kalau terjadi apa-apa pada Nyonya, kau harus bertanggung jawab," ketus pelayan yang biasa menyediakan makanan untuk keluarga Jarvis Meyer.


"A... a... aku bertanggung jawab?" Rayya masih merasa panik dengan keadaan yang mendadak.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya Rayya. Lakukan sesuatu. Mari kita masuk ke dalam melihat Nyonya."


"Aduh, nanti salah bersikap, Gaby, kita terancam dipecat," ucap Rayya khawatir akan dirinya sendiri. Ia menarik tubuh Gaby yang akan berbalik supaya tidak pergi menuju kamar Floretta.


Gaby menyentil kening Rayya dengan jarinya. "Kalau Nyonya ternyata bunuh diri di dalam, kau bukan hanya dipecat, tetapi dijebloskan ke dalam penjara, Rayya. Bodoh!" Gaby geram melihat Rayya yang menjadi tumpul otak pada keadaan seperti sekarang.


Gaby melangkahkan kaki ke dalam kamar, diikuti oleh Rayya. Gaby tidak mengetuk pintu kamar Floretta, Rayya meringis dibuatnya.


Namun, tindakan Gaby adalah benar-benar penyelamatan, sebab Floretta memang sedang mengangkat pisau kecil untuk menyayat pergelangan tangannya sendiri.


"Nyonya, jangan lakukan itu!" Gaby sontak berlari dan merebut pisau kecil dari Floretta yang masih terduduk di lantai.


Pisau itu adalah hadiah dari Jadden dulu yang masih disimpan dalam lemari pajangan di dalam kamar. Dulu Jadden mengatakan pisau itu bisa digunakan Floretta untuk membela diri.


Floretta mencoba memberontak, syukur saja Rayya yang panik tahu harus berbuat apa. Ia memegangi kedua tangan Floretta.


"Maafkan saya bersikap tidak sopan, Nyonya," ucap Rayya merasa tidak enak.


"Rayya jangan banyak omong, tolong ambilkan selimut itu," timpal Gaby setelah menjauhkan pisau tajam yang tadi digunakan Floretta untuk mengakhiri hidupnya.


Rayya segera mengambil selimut yang berada lebih dekat dengannya.


"Gaby, ini selimutnya. Tetapi, untuk apa? Nyonya sedang marah bukan ingin tidur." Rayya bingung kegunaan selimut besar yang diminta Gaby.


"Kau jangan banyak omong Rayya, setelah ini ku harap kau benar-benar dipecat oleh Tuan dan Nyonya." Gaby geram melihat kepolosan Rayya.


Sebenarnya, Gaby memaklumi Rayya. Ia adalah asisten yang tugasnya enak sebab nyonya mereka bukan orang yang pemarah dan pengatur. Meski, akhirnya Rayya tidak terbiasa mengatasi masalah seperti kejadian saat ini.


Dengan terpaksa Gaby membungkus tubuh Floretta dibantu oleh Rayya. Floretta terus meronta-ronta ingin menyakiti dirinya dengan jalan memukuli perutnya.

__ADS_1


Rayya benar-benar tercengang melihat sisi lain dari nyonya yang selama sembilan tahun ini ia layani. Tanpa sadar, dirinya menangis melihat Floretta tidak berdaya dibaringkan di ranjang dengan tatapan kosong.


"Ada apa ini!?" Jarvis terengah-engah masuk ke dalam kamarnya. Ia mendapati Floretta dibungkus selimut putih, di pipinya menjejak air mata, saat itu Floretta telah menutup matanya.


__ADS_2