
Floretta turun dari jet yang membawa mereka dari bandara Kowashina di Kowabuda sampai di kota Heligore. Wajah senangnya terpancar menambah daya cantiknya.
Mereka berjalan beriringan, Adam Meyer digendong oleh seorang perawat yang dipekerjakan oleh Jarvis untuk mengasuh anaknya.
"Tampan sekali," ucap Floretta begitu mereka tiba di ruang kedatangan. Jarvis bisa mendengar perkataan Floretta. Ia melihat arah pandang Floretta yakni menuju pada bayi mereka.
Bukannya senang, Jarvis mulai menduga-duga ada apa lagi dengan Floretta saat ini.
Tadi sewaktu persiapan penerbangan, Floretta bersikap manis pada siapa saja, termasuk pada dirinya, bahkan Floretta memilih duduk di sampingnya selama penerbangan.
"Siapa yang tampan?" Jarvis mencoba menelisik jawaban Floretta.
"Ah, bukan siapa-siapa," jawab Floretta tertawa, dia berjalan menuju mobil yang menjemput mereka.
Jarvis mendengkus mendengar jawaban Floretta.
Kendaraan Jarvis berbeda dengan putra mereka Adam. Jarvis memilih demikian sebab ia tidak ingin Adam terancam oleh ibu kandungnya sendiri atau Floretta yang merasa terancam akan keberadaan Adam di dekatnya.
Limousine melaju menuju kediaman Jarvis.
Suhu antara kota Kowabuda berbeda dengan Heligore. Floretta membuka kancing jaket panjangnya satu per satu, disaksikan oleh Jarvis.
Jarvis mencekal tangan Floretta. "Sebentar lagi sampai, nanti saja jaketmu kau buka."
Floretta menatap wajah suaminya. "Memangnya kenapa, udara di kota ini cukup terik. Memang di dalam kendaraan ini tidak panas, tetapi aku merasa gerah."
Floretta terus membuka kancing jaketnya. Sewaktu Floretta akan melepas dari lengannya, ia terkejut melihat pakaian yang dikenakannya.
Seketika Floretta menutup jaket dengan kedua tangannya. Jarvis membeku memperhatikan perilaku Floretta yang dinilainya aneh.
"Ada apa ini, mengapa aku menggunakan pakaian yang sangat minim?" Floretta terheran-heran dengan minimnya pakaian yang dikenakan. Pakaian yang cocok digunakan sewaktu akan istirahat malam.
"Apa yang terjadi Jarvis!?" Floretta malah tidak ingat rupanya mengenakan pakaian tipis. Ia mengancing kembali jaketnya hingga ke leher.
Jarvis menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ia merasa saat ini adalah kepribadian alternatif lainnya yang muncul dalam diri Floretta.
Pantas saja, semenjak di bandara Kowashina, Floretta tidak membuat gara-gara atau marah-marah pada Jarvis. Floretta sering mengulas senyum padanya dan tiap orang yang dijumpainya, Jarvis meringis dibuatnya.
Jarvis mengurut pelipisnya.
__ADS_1
"Pakaian itu kau yang pilih sendiri, tadi aku telah mengingatkanmu, tapi kau tidak menggubris perkataanku."
"Itu tidak mungkin, aku tidak menyukai pakaian minim. Aku malu mengenakan pakaian seperti itu, aku sudah punya banyak anak."
Jarvis menoleh cepat ke arah Floretta, terpaku menatapnya. Jarvis tidak bisa berkata-kata, Floretta yang di Kowabuda berbeda dengan di Heligore saat ini.
Floretta sendiri merasa aneh dengan dirinya, bila perkataan Jarvis bahwa dialah yang memilih pakaian minim itu benar adanya lalu mengapa saat ini dirinya tidak nyaman dengan pakaian itu?
Wajah Floretta suram hingga tiba di kediaman mereka. Jarvis melirik sesekali, meyakinkan diri bahwa Floretta yang sekarang bukan lagi pribadi yang sikapnya manis tadi.
Mengingat perubahan yang terjadi dalam diri Floretta, Jarvis sebelumnya telah meminta pada Stephanie agar anak-anak mereka tinggal sementara waktu di kediaman utama Meyer.
Stephanie sempat menanyakan alasan Jarvis, hanya saja menerangkan permasalahan tentang kepribadian Floretta yang berubah-ubah dijanjikan akan diceritakan nanti oleh Jarvis.
Floretta segera turun dari limousine begitu pintu penumpang di buka. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Floretta mengabaikan semua salam yang disampaikan oleh pekerja rumah tangganya. Mereka terheran-heran akan sikap dingin Floretta, tetapi tidak berani menilai perubahan itu.
Floretta masuk ke dalam kamarnya lantas mengganti pakaiannya lebih tertutup.
Jarvis menyusul masuk sewaktu Floretta berpakaian.
"Lancang kau masuk tanpa izin!" sembur Floretta, seakan-akan Jarvis melakukan kesalahan fatal.
Floretta yang berdiri di dekat meja rias mengambil bingkai foto bergambar mereka berdua lalu melemparkannya pada Jarvis.
Syukurnya, Jarvis mampu mengelak dengan baik sehingga bingkai itu membentur dinding dan pecah berkeping.
Manik Jarvis membelalak, Floretta kini semakin berani melakukan tindakan kekerasan, setelah sewaktu di rumah sakit menimpuk dengan bungkus tisu kering ke dada Jarvis.
"Lebih baik kau keluar atau aku akan melemparmu dengan bangku ini," tunjuk Floretta pada kursi meja rias yang terbuat dari kayu.
Jarvis menggeleng-gelengkan kepalanya. "Masalahmu apa, Flo? Hanya karena aku masuk ke dalam kamar lalu kau memarahiku seolah-olah aku orang lain."
"Ya, kau orang lain, bukan siapa-siapa ku!" teriak Floretta dengan amarah yang bisa saja meledak lebih kencang.
"Aku suamimu, Flo!" Floretta kembali diperingatkan oleh Jarvis.
Floretta mengeluarkan tawa sumbang, seolah-olah menertawakan kalimat terakhir Jarvis. Tawa Floretta tidak berhenti-henti terdengar.
__ADS_1
"Floretta," panggil Jarvis agar Floretta memberi perhatian padanya. Jarvis memanggilnya hingga tiga kali, barulah tawa Floretta mereda.
Floretta menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan siapa yang dipanggil Jarvis. Sekali lagi Jarvis memanggil namanya.
"Aku bukan Floretta!" hardik Floretta.
Jarvis menutup kedua matanya, rasa lelah menyerang dalam dirinya. Floretta sungguh mencobai tingkat kesabaran Jarvis.
Waktunya habis berbulan-bulan menunggui Floretta hingga buka mata, menemani sepanjang hari sampai dinyatakan sembuh fiaiknya oleh dokter. Namun, Floretta menganggapnya orang asing.
Jarvis membuka matanya, berkata dengan nada rendah, "Lalu kau siapa?" Tangan Jarvis berkacak pinggang menunggu jawaban Floretta.
"Aku Dolly Gobber. Dan aku tidak menyukaimu," jawab Floretta membuat Jarvis tercengang bukan main. Floretta bersidekap sembari membuang pandangannya ke arah lain.
"Ohh... Floretta, jangan mempermainkanku. Siapa Dolly Gobber? Kau seperti orang kesurupan." Jarvis menyugar rambutnya dengan nafas lelah.
"Dolly Gobber usia 35 tahun, tidak menyukai pria mencla-mencle sebab tidak bisa dipercaya. Seperti mu," tunjuknya pada Jarvis.
Jarvis melongo menatap Floretta. Floretta sendiri yakin bahwa dirinya adalah Dolly Gobber, perempuan tangguh yang tidak suka direndahkan.
Dari awal Dolly Gobber dalam diri Floretta sudah tidak menyukai Jarvis. Dia menilai Jarvis pria yang sebenarnya cuek, tetapi memaksakan diri untuk memberi perhatian.
"Sekarang, lebih baik kau keluar dari kamarku. Sekarang juga," perintah Floretta-Dolly.
"Benar-benar kau tidak sopan. Entah siapapun kau, seharusnya kau berlaku sopan pada pemilik rumah ini." Jarvis juga orang yang tidak suka direndahkan. Apalagi oleh pribadi asing yang muncul dalam diri istrinya.
Floretta-Dolly tertawa kencang. "Apakah maksudmu lebih baik aku keluar dari rumahmu ini?" Tangan Floretta yang semula menunjuk Jarvis, bersidekap dengan tenang. "Aku tentu saja tidak keberatan." Senyum miring Floretta-Dolly seakan-akan mengancam Jarvis.
Jarvis mengepalkan tangannya, ia terlihat marah. Namun, mengamuk pada istrinya hanya akan merenggangkan hubungan mereka.
"Siapapun kau, jangan menjauhkanku dari istriku, Floretta," tegur Jarvis dengan tenang.
"Dia harus dibantu, perempuan lemah itu tertidur karena lelah denganmu, dengan hidupnya yang tanpa cinta dari siapapun. Bila perlu hentikan keterpaksaanmu menikah dengan kami," terang Floretta-Dolly. Jarvis benar-benar heran dengan kepribadian yang muncul pada diri Floretta.
Jarvis merasa Floretta secara fisik sehat, tetapi tidak dengan jiwanya. Jarvis merasa perlu mempercepat konsultasi dengan dokter ahli jiwa untuk mengetahui pemulihan apa yang tepat bagi istrinya ini.
"Kami? Aku tidak menikahi banyak perempuan. Istriku hanya Floretta. Kembalikan Floretta yang otentik."
Floretta-Dolly tertawa sumbang. "Kau juga harus menerima ku. Sayangnya, aku bukan perempuan lemah yang bisa ditindas oleh siapapun."
__ADS_1
"Keluar kau!!"
Floretta mengangkat bangku riasnya hendak melemparkan pada Jarvis yang lari terbirit-birit meninggalkan kamar mereka.