MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Stabil


__ADS_3

Floretta ditinggal di dalam ruang inapnya, hanya Jarvis yang pergi menemui David.


"Tuan, istri Anda perlu melakukan terapi rutin selain mengonsumsi obat-obatan. Mengingat latar belakang masalah Nyonya Floretta ada dalam lingkar keluarga, maka pengobatan kita gunakan adalah terapi keluarga."


"Terapi keluarga?"


"Dalam terapi ini akan melibatkan anggota keluarga lain, bisa dari pihak Tuan dan juga Nyonya Floretta. Selain pemulihan pasien yang memiliki gangguan mental, juga bisa membantu untuk memperbaiki hubungan yang bermasalah misalnya dengan pasangan, orang tua, dan atau anak-anak."


Jarvis merasa tertarik dengan teknik terapi yang dianjurkan oleh David.


"Hanya saja Floretta tidak lagi memiliki keluarga, sampai sekarang kakak satu-satunya tidak pernah berkontak selama kurang lebih sepuluh tahun."


David menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dari pihak Anda, Tuan?"


"Dengan anak-anak dan kedua orang tua saya, Floretta memiliki hubungan yang harmonis. Seperti yang saya pernah ceritakan, hanya pada saya masalah terbesar Floretta."


"Kalau begitu, Anda berdua yang melakukan terapi. Mendampingi pasien untuk pemulihan kesehatan mental juga tidak mudah Tuan, Anda juga perlu memperhatikan diri sendiri."


"Apakah terapi bisa dilaksanakan bila yang muncul bukanlah kepribadian inti?"


"Bisa, Tuan, selama kepribadian alternatif tidak menolak proses penyembuhan."


"Kapan terapi bisa dimulai?"


David meminta Jarvis dan Floretta datang mulai minggu depan sekali dalam sepekan.


David menyatakan kalau Floretta bisa pulang besok hari. Dia pun memberi nasihat untuk melatih kesabaran di kala kepribadian inti Floretta dan Dolly sedang aktif.


David mengingatkan kalau kondisi emosi negatif yang menguat tidak boleh dilawan dengan tindakan kekerasan.


Emosi diri Floretta mulai tenang, dia sedang menikmati tontonan yang ditayangkan melalui televisi kamar inapnya bersama Rayya.


Floretta telah mengenakan pakaian yang sesuai dengan selera dirinya sendiri. Dia merasa senang saat pakaian itu cocok di tubuhnya.


Saat Jarvis kembali masuk ruang rawat inapnya segera Rayya undur diri dari sana.


"Aku harus pergi ke kantor untuk kepentingan penandatanganan kerja sama, jangan lupa makan siang dihabiskan. Selesai dari kantor aku harus mengunjungi anak-anak."


Bersamaan dengan itu, ketukan pintu terdengar dan terlihat sosok Stephanie.


Floretta biasa akan menghampiri mama mertua lalu memeluknya. Kali ini tidak dilakukannya, dia hanya berdiam memandang ke arah pintu.


Stephanie teringat dengan apa yang dikatakan oleh putranya kalau Floretta sedang mengalami gangguan mental, oleh sebab itu dia tidak mempermasalahkan keanehan sikap Floretta.


"Sudah bagaimana keadaan Floretta?" tanya Stephanie pada Jarvis.


"Sudah mulai membaik, Ma. Hanya saja sewaktu-waktu dia bisa split kepribadian, terutama kalau suasana hatinya terganggu," jelas Jarvis.


Stephanie mengangguk-angguk sembari memandang menantunya dengan tatapan kasihan.

__ADS_1


"Ma, aku harus pergi ke kantor. Mama temani Floretta dulu, ya," pinta Jarvis.


Stephanie tidak siap untuk ditinggalkan berdua dengan Floretta, ia khawatir bila Floretta mengalami perubahan kepribadian yang bisa membahayakan diri.


Stephanie menghalangi Jarvis keluar dengan menarik lengannya.


"Kamu ini, mama datang malah pergi," bisik Stephanie. "Mama merasa canggung, istri kamu seperti orang lain. Jangan pergi dulu," protesnya masih membisiki Jarvis.


Jarvis juga melihat ke arah Floretta yang sedang menatapi dirinya dan mama bergantian sembari tersenyum.


"Tapi, aku ada pertemuan di kantor, Ma." Suara Jarvis membesar.


Meski demikian, Stephanie tetap tidak bersedia ditinggal berdua dengan Floretta. Ia menahan lengan Jarvis yang ingin melangkah keluar.


"Mama sudah melihat keadaan Floretta, mungkin mama bisa pulang juga."


Kegusaran hati Stephanie dapat dirasakan oleh Floretta.


"Mengapa mama cepat sekali pulang? Tidak mau menemani di sini?"


Stephanie yang tidak pernah berurusan dengan orang gangguan mental merasa asing dan bingung menyikapi pertanyaan Floretta.


"Mama... senang sudah melihat mu dengan kondisi yang sehat, Flo." Stephanie tersenyum pada Floretta, bahkan cukup berani menepuk lengan Floretta sebagai sinyal dukungan untuk menantunya itu.


"Bagaimana kabar anak-anak, Ma?"


Pertanyaan itu sontak membuat Stephanie dan Jarvis saling pandang, seakan-akan saling menanyakan siapakah kini yang sedang bersemayam dalam diri Floretta.


"Em... ketiga cucu mama dalam keadaan sehat. Sekolahnya lancar. Mereka... sangat merindukan mu. Tapi, jangan khawatir, mereka anak yang tangguh."


Jarvis peka melihat perubahan paras Floretta. Ia menangkap tubuh Floretta lalu menarik dalam dekapannya.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Tenangkan diri mu, ya."


Kepala Floretta diusap lembut oleh Jarvis. Dia khawatir suasana hati menciptakan ketidakstabilan emosi Floretta. Jarvis sampai menaruh telunjuk ke bibir tanpa sepengetahuan Floretta agar Stephanie paham maksud hatinya.


"Kau istirahat dulu, ya. Dokter David bilang, besok kau sudah bisa keluar dari rumah sakit. Dan, mulai minggu depan akan melakukan terapi bersamaku."


Floretta mengurai pelukannya, ucapan Jarvis mampu menenangkannya. Floretta tersenyum menatap wajah suaminya.


"Sementara Rayya saja yang menemani mu. Mama harus pulang, pasti ada pekerjaan lain." Jarvis pandai mencari alasan agar kondisi hati Floretta terjaga normal.


Dalam diri Floretta saat ini hadir Edith. Perempuan dengan tipe penyayang muncul tanpa disadari sebagai bentuk perlawanan dari sikap kurang menyenangkan suaminya.


Tipe itu hadir agar Floretta tetap kuat dalam kondisi apa pun. Sayangnya, cenderung centil, menyukai pakaian terbuka, dan ramah pada setiap orang yang ditemui.


Pada Stephanie pun sebenarnya Floretta-Edith sangatlah ramah, hanya saja Stephanie belum memahami perbedaan kepribadian yang kini menetap dalam diri Floretta.


Floretta-Edith ditinggal bersama Rayya. Dia melayani nyonyanya dengan baik, segala kebutuhan Floretta dipenuhi oleh Rayya, termasuk menyediakan perlengkapan kosmetik.


Floretta-Edith menyenangi karya riasan wajah. Rayya belum menyadari adanya kepribadian lain dalam diri Floretta, dia hanya melihat perubahan sikap sebagai bentuk hal yang biasa.

__ADS_1


Usai Floretta makan siang, pintu rawat inapnya diketuk dari luar. Rayya gegas membuka pintu dan melihat sosok Walden berdiri di sana.


"Apakah ada yang memanggil?" tanya Rayya pada Walden. Walden tidak menjawab, ia melangkah masuk dalam ruang rawat.


"Selamat siang, Nyonya." Walden memberi hormat.


"Selamat siang, Walden."


"Bagaimana keadaan Nyonya hari ini? Saya khusus membawakan parcel buah dan bunga untuk Nyonya." Walden mengangkat bawaannya.


Floretta-Edith tampak senang melihat apa yang ditenteng oleh Walden.


"Bertepatan aku belum makan buah siang ini. Rayya tolong kupas buah dari Walden. Kemarikan bunganya, Walden."


Walden melangkah maju lalu menyerahkan buket bunga pada Floretta, sementara parsel buah diserahkan pada Rayya.


"Cantik sekali bunganya."


Pujian itu membuat hati Walden menghangat, ditambah lagi aura segar yang menguar dari diri Floretta.


Semenjak kejadian menggendong Floretta yang terjatuh, Walden terus terpikir pada nyonyanya.


"Bagaimana luka di lutut Nyonya?"


"Diobati dengan baik oleh perawat jadi tidak sakit lagi, Walden."


Keramahan Floretta menipiskan jarak dengan para pekerjanya.


Rayya menawarkan buah di sebuah piring kepada Floretta.


"Rayya, carikan wadah untuk menyimpan buket bunga ini."


Rayya berpikir cepat bila ia pergi maka akan meninggalkan Floretta dengan Walden. Hanya saja, Rayya merasa Walden tidak tanggap untuk segera keluar dari ruang rawat inap.


Saat Floretta menikmati buah potong yang dibawa oleh Walden, Rayya melempar bahasa isyarat agar Walden juga ikut keluar.


Walden yang merasa masih sebentar di dalam ruangan menolak memenuhi permintaan Rayya. Rayya tidak mungkin berdebat dengan Walden di hadapan Floretta.


Akhirnya, Rayya harus melakukan sesuatu.


"Nyonya, selamat menikmati buah potongnya. Saya dan Walden izin keluar sebentar."


Floretta memandang keduanya lalu mengangguk, rasa manis buah potong membuat otaknya fokus menikmati.


Rayya mendorong tubuh besar Walden ke arah pintu dampai berhasil keluar. Saat mereka berada di depan pintu yang telah tertutup, Walden menegur Rayya.


"Apa yang kau lakukan? Aku hanya membesuk Nyonya Floretta."


"Walden, jangan kau pikir aku tidak paham dengan caramu memandang Nyonya. Itu tidaklah benar Walden, kau harus menghormatinya."


Walden berkilah, "Apa yang kau katakan, tidak ada gunanya bicara dengan orang sepertimu."

__ADS_1


Walden meninggalkan Rayya yang terdiam memandang punggung yang menghilang di belokan koridor ruang rawat.


Rayya merasa ada keanehan dalam diri Walden yang sulit untuk dimengerti, meskipun Rayya bukan orang yang cekatan bekerja, tetapi Rayya memperhatikan orang-orang yang berada di sekeliling nyonyanya sebab itu adalah salah satu tugasnya sebagai asisten pribadi Floretta.


__ADS_2