MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Fatal


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Floretta langsung ditangani oleh dokter di unit gawat darurat. Luka di lututnya pun dibersihkan oleh perawat.


Walden masih berada di dekat Floretta, mimik wajahnya menampakkan kekhawatiran pada nyonya yang dilayaninya.


Sementara itu, Gaby mengurus administrasi Floretta dan Rayya sibuk menghubungi Jarvis yang tidak mengangkat pada panggilan ke empat.


"Aduh, Tuan Jarvis tolong diangkat," cemas Rayya sambil berlalu lalang di depan unit gawat darurat.


"Rayya, aku ingin ke kamar kecil, dampingi Nyonya di dalam." Suara Walden menyela usaha Rayya untuk menghubungi Jarvis.


Tanpa membantah Rayya menuruti permintaan Walden masuk ke dalam dan menunggui Floretta.


Tidak lama Gaby turut bergabung dengan Rayya di unit gawat darurat setelah mengurus administrasi Floretta.


"Mohon maaf, dilihat dari pemeriksaan medis sementara oleh dokter, kami akan membawa Nyonya Floretta ke ruang observasi rumah sakit," ucap seorang perawat.


"Mana dokternya?" tanya Rayya yang tidak merasa berkuasa untuk menjawab nasihat medis perawat.


"Dokter sebentar lagi akan kemari, sedang mengurus pasien lain." Perawat undur diri untuk melanjutkan tugasnya.


"Bagaimana ini Gaby? Tuan Jarvis tidak bisa dihubungi."


"Coba lagi sana. Aku akan menemani Nyonya," ucap Gaby.


Lagi-lagi Rayya mencoba menghubungi tuannya, hasil yang didapatkan tetap sama. Jarvis tidak mengangkat panggilan Rayya.


Di kantor perusahaan Kireiguzedes, Jarvis telah selesai melakukan pertemuan dengan pihak digital kreator. Kerja sama mereka dalam bentuk pemasaran skin care Kireiguzedes selama periode tertentu. Jarvis harus hadir di sana untuk menandatangani perjanjian kerja sama.


Usai rapat yang tidak begitu lama berlangsung, Jarvis melangkah ke ruangan kerja pribadinya. Ponselnya ditinggalkan dengan alasan tidak ingin diganggu oleh pihak lain agar konsentrasinya terjaga baik saat penandatanganan kerja sama.


Nyatanya benar, Jarvis mengecek ponsel yang menampakkan panggilan Rayya berkali-kali.


"Ada apa?" tanya Jarvis, dia menghubungi Rayya balik sesaat setelah mengecek panggilan pada ponselnya.


"Tuan... Nyonya Floretta dilarikan di rumah sakit, tidak sadarkan diri."


Jarvis langsung gegas melangkah besar-besar menuju lobi perusahaan usai Rayya menyebut nama sebuah rumah sakit.


Dalam perjalanan turun dari lantai lima, Jarvis menyempatkan diri untuk menghubungi Maureen yang memang bekerja di rumah sakit tempat Floretta kini terbaring.


"Ha--"


"Apa kau punya waktu melihat kondisi istriku? Dia berada di unit gawat darurat saat ini." Jarvis langsung pada inti pembicaraan, nafasnya memburu.


Maureen melihat jam tangannya, sebentar lagi dia ada praktek di poliklinik. Namun, mengingat hubungan pertemanan dengan Jarvis, dia bersedia.


"Oke, aku akan ke sana."


Di ruang unit gawat darurat, Rayya, Gaby, dan Walden mendengar penuturan dokter perempuan bahwa tekanan darah Floretta tinggi dan mendadak suhu tubuhnya menaik sehingga perlu dilakukan observasi di rumah sakit agar tidak mengalami dehidrasi.


"Ya dokter, suami dari nyonya Floretta sedang menuju kemari. Tuan terlalu terkejut mendengar istrinya masuk rumah sakit lagi sebab sebelum ini sudah pernah dirawat karena melahirkan prematur," beber Rayya yang langsung mendapat colekan dari Gaby karena terlalu banyak bicara.


"Ya sudah, nanti silakan suaminya menemui saya."

__ADS_1


Selang beberapa waktu, sebelum dokter umum unit gawat darurat  pergi, bertepatan Maureen datang dengan langkah lari.


"Bagaimana keadaannya?"


"Kau kenal dengannya?"


"Dia istri temanku. Bagaimana keadaannya?" tanya Maureen pada dokter umum yang keduanya tampak dekat sebagai sejawat dokter rumah sakit.


Dokter umum yang usianya di bawah Maureen itu menjelaskan kondisi awal Floretta sehingga membutuhkan observasi hingga sadarkan diri.


Maureen menganggukkan kepalanya, ia mengerti prosedur rumah sakit untuk pemantauan kondisi pasien gawat.


Maureen bergeser ke tempat lain lalu menghubungi Jarvis dan memberi tahu keadaan Floretta yang membutuhkan observasi di ruangan khusus, mengingat Floretta tidak sadarkan diri.


Beberapa waktu Floretta dimasukkan dalam ruangan observasi, Jarvis tiba di unit gawat darurat. Maureen sendiri telah pergi untuk melanjutkan layanan pada pasiennya, sesempatnya ia mengirim pesan mengenai keadaan Floretta pada Jarvis.


Setidaknya, kabar itu membuat Jarvis lebih lega, meskipun saat tiba di rumah sakit, Jarvis tidak lagi berjumpa Floretta.


"Setelah Tuan pergi ke kantor, saya melihat nyonya tergeletak di lantai tidak jauh dari kamar, Tuan," ujar Walden memberi kesaksian.


"Kau yang memutuskan membawa nyonya kemari?" tanya Jarvis pada Walden di hadapan Rayya dan Gaby.


"Siap, Tuan. Saya," sahut Walden.


"Terima kasih. Sekarang kalian boleh pulang, kecuali Rayya tetap di sini."


"Tapi, Tuan...." Kening Walden berkerut ingin melontarkan keberatannya. Namun, tatapan Jarvis membuatnya mengurungkan niat membantah.


Sekitar satu jam kemudian, suara jerit dan teriakan dari ruangan observasi terdengar sayup-sayup hingga pendengaran Jarvis. Satu orang perawat terlihat panik dan terburu-buru keluar ruangan entah pergi ke mana.


Lagi-lagi jeritan Floretta menggema dari tempat yang disebut sebagai ruangan observasi. Floretta telah sadarkan diri dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Aku ingin mati! Biarkan aku mati!" Begitulah jerit suara Floretta meronta-ronta dengan kekuatan optimal minta dilepaskan oleh perawat dan dokter yang memegang tubuhnya.


Floretta menghentak-hentakkan kaki di tempat tidur, sementara tangannya terus berusaha mencakar dan meninju apa dan siapapun di dekatnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Jarvis menghampiri perawat yang tadi keluar lalu masuk lagi dengan membawa sesuatu di tangannya, di belakangnya menyusul dua orang perawat wanita lainnya.


"Maaf, nanti saja dengan dokter. Saya terburu-buru, Tuan," ucap perawat meninggalkan Jarvis dengan perasaan was-was.


Tidak lama berselang, jerit suara Floretta menghilang. Floretta tadi terbangun dengan kondisi masih tidak stabil secara emosi.


Dokter memutuskan memberi obat penenang agar Floretta bisa terkendali.


Jarvis yang tidak tenang di luar ruangan, berjalan mondar-mandir diselimuti dugaan buruk pada diri Floretta.


Dari kejauhan, Jarvis melihat dokter David yang pernah ditemuinya untuk berbincang tentang Floretta berjalan menuju ruangan observasi.


David hanya mengangguk kala dia melewati Jarvis untuk masuk ke dalam. David dihubungi oleh perawat atas perintah dokter yang menangani Floretta. Tampaknya ini kesempatan Floretta untuk diperiksa langsung oleh dokter ahli kejiwaan.


Setelah beberapa waktu, David keluar dari ruangan observasi. Jarvis gegas mendapatinya.


"Bagaimana istri saya, Dokter?"

__ADS_1


David mengajak Jarvis masuk ke ruangan dokter.


"Nyonya Floretta perlu istirahat malam ini di rumah sakit, Tuan Jarvis. Keadaan emosinya sedang tidak stabil dan dapat membahayakan diri sendiri dan siapa saja di dekatnya. Dokter telah memberi obat penenang. Nyonya Floretta terpaksa dipakaikan pengekang agar tidak melukai dirinya saat terbangun."


Jarvis menyugar rambutnya, kondisi Floretta dirasanya semakin berat.


"Kepribadian yang mana melakukan tindakan itu?" lirih Jarvis lebih menyuarakan pertanyaan untuk dirinya sendiri.


"Ini tidak bisa diterka Tuan, harus melalui serangkaian pemeriksaan," jawab David.


"Apakah saya bisa menemuinya?"


"Nyonya Floretta akan pindah ruangan, setelah itu Tuan bisa menemuinya. Mohon sekali, menjaga ketenangan."


Jarvis berjalan gontai keluar dari ruangan.


"Pergilah pulang, saya akan menginap di rumah sakit. Bawakan perlengkapan pribadi nyonya dan saya untuk beberapa hari."


Rayya segera pamit diantar Kazem, lokasi rumah sakit tidak terlalu jauh dari kediaman Jarvis sehingga ia diperbolehkan diantar oleh Kazem.


Jarvis menduduki sebuah kursi panjang. Ia merogoh kantongnya dan mengambil ponsel. Jarvis menghubungi Stephanie untuk mengabarkan keadaan Floretta yang jauh dari kata baik.


Stephanie terkejut mendengar kabar berita dari Jarvis, padahal pagi itu Floretta terlihat dalam kondisi yang prima.


"Mama, Adam sebaiknya tinggal di rumah mama. Aku di rumah sakit menjaga Floretta, belum tahu selanjutnya bagaimana."


Stephanie memahami keadaan Jarvis yang akan sangat sibuk mengurus perusahaan dan istrinya.


"Ya sudah, besok pagi mama akan mampir ke rumah sakit melihat keadaan Floretta, sepulang dari sana Mama akan menjemput Adam dan pengasuhnya."


Ada kelegaan dalam diri Jarvis, setidaknya ia bisa menitipkan anak-anaknya di tempat yang aman dam nyaman untuk saat ini.


"Terima kasih, Mama. Maafkan aku yang sering terbawa emosi." Jarvis menyesali peristiwa tempo lalu yang membuatnya penuh amarah saat bertamu ke kediaman orang tuanya.


"Ya, semoga kau semakin mengerti maksud kami sebagai orang tua."


Usai bercakap-cakap melalui telepon, Jarvis menanyakan ke konter perawat tentang Floretta. Perawat menyampaikan nomor ruangan eksklusif baru Floretta.


Jarvis mengarah ke sana. Sebelum membuka pintu, ada keraguan yang melilit perasaannya, ragu akan penerimaan Floretta terhadapnya.


Menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan membuat ketenangan merasuki tubuh Jarvis. Ia membuka pintu perlahan hingga tampak Floretta yang sedang terbaring menutup mata di ranjang.


Jarvis masuk, mengambil tempat di sisi Floretta. Ia melihat Floretta dipakaikan alat pengekang, tetapi tidurnya pulas.


Jarvis mengulurkan tangannya menggapai kening Floretta. Menggunakan jemarinya, ia mengusap kepala dan wajah istrinya.


"Maafkan aku membuatmu menderita selama ini. Belakangan aku sangat takut kehilanganmu. Mengingat Dael, Rosalie, dan Adam tanpa ibu, rasanya sangat mengerikan. Aku mohon kuatlah untuk sembuh." Jarvis membisiki Floretta dengan motivasi agar istrinya berjuang untuk bertahan hidup.


Tanpa izin, Jarvis mengecup kening dan pipi Floretta, menyalurkan rasa rindu yang selama ini dipendamnya. Air matanya jatuh membasahi pipi Floretta. Jarvis mengusapnya cepat agar Floretta tidak merasakan kesedihan Jarvis.


Sementara itu, dalam diri Floretta, ia merasa tenang dan ingin terus beristirahat, hanya ada kedamaian bila ia tidak akan pernah membuka mata lagi dan berurusan dengan orang-orang.


Namun, ada seberkas cahaya bersuara yang memintanya untuk bertahan dan tidak pergi kemana-mana. Ingin rasanya Floretta mengabaikan suara menganggu itu, sayangnya ia hanya bisa menerima suara masuk, tidak bisa melontarkan keluar.

__ADS_1


__ADS_2