MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Kena Mental


__ADS_3

Jarvis duduk bermenung di dalam ruang kerja, pandangannya tertuju pada foto dirinya dan Floretta bersama kedua buah hati mereka. Foto itu ditaruh dalam bingkai kecil dan dibawa oleh Floretta saat mengunjungi kantor Jarvis tiga tahun yang lalu.


Namun, oleh Jarvis disimpan dalam laci lemari hingga seminggu yang lalu ia keluarkan dan diletakkan kembali di meja kerja.


Percakapan terakhir sebelum Stephanie keluar ruangan terngiang-ngiang di pikirannya.


Niat Jarvis untuk pulang lebih cepat kandas, malahan mentalnya jeblok sebab mama kandungnya marah besar padanya.


"Tegas mama minta padamu agar isu memalukan ini tidak menyebar lebih luas. Selain mempermalukan keluarga Meyer, juga menyakiti perasaan Floretta dan cucu-cucu mama. Semoga saja cinta Floretta masih bisa membuatnya bertahan denganmu. Mama pulang, semakin lama di sini, jantung mama bisa berhenti mendadak."


Sewaktu memundurkan kursinya, Stephanie berdiri hendak menuju pintu. Langkahnya terhenti mendengar ucapan Jarvis bagai setrum listrik.


"Flo meminta aku menceraikannya, Ma."


Stephanie membeku mendengar penuturan putranya.


"Lalu, jawabanmu?" Stephanie membalik tubuhnya.


"Aku tidak akan pernah menceraikan Flo, Ma."


Stephanie menggeleng sembari menutup mata dan membuang nafas berat.


"Tidak cukup hanya kata 'tidak akan pernah menceraikan', Jarvis. Pakai otak cerdasmu cari cara merebut kembali hati istrimu." Stephanie menunjuk keningnya sendiri. Ia keki melihat Jarvis yang dikenal sebagai pengusaha seribu strategi bisnis tak punya pendekatan khusus pada istrinya.


Pantas saja Floretta meminta cerai setelah disakiti bertahun-tahun, batin Floretta.


"Caranya bagaimana, Ma?"


"Mama tidak akan beri arahan apapun, itu tugasmu. Kau yang menjalani rumah tangga, kau pula yang berselingkuh."


Stephanie melanjutkan langkah meninggalkan ruangan putranya. Jarvis memandang ke arah pintu hingga Stephanie benar-benar tidak terlihat lagi.


Jarvis gontai turun dari lantai 20. Ia hanya mengangguk datar saat ada karyawan menyapanya. Garis bibirnya sulit untuk melengkung ke atas barang sedikit pun.


Semakin lama bermenung, kepala Jarvis semakin pening memikirkan Floretta. Dirinya dilanda bingung harus memulai komunikasi seperti apa dengan Floretta.


Melihat Jarvis saja, Floretta seperti melihat hama yang harus dibasmi. Jarvis menjadi hilang akal menghadapi Floretta. Namun, pesan mamanya, Stephanie, menyuruhnya untuk mengatasi itu sendiri.


"Tuan Jarvis, silakan masuk, kendaraan sudah siap."

__ADS_1


Entah sudah yang ke berapa kali Walden mengatakan itu. Jarvis menggunakan jasa kemudi istrinya karena ajudan merangkap pengemudi sedang ditugaskan mengantar Stephanie pulang.


Tadinya Stephanie datang menggunakan taksi sebab Mandy - putrinya, sedang menggunakan jasa kemudi keluarga.


"Tuan Jarvis." Sekali lagi Walden memanggil nama tuannya dengan suara lebih tinggi, barulah Jarvis tersadar.


Rupanya sedari tadi Jarvis melamun di teras depan lobi perusahaan menunggui kendaraannya yang terhalangi oleh kendaraan lain yang sedang menjemput penumpang.


Di perjalanan Jarvis kembali hanyut ke dalam alam pikirnya. Saat ia menoleh sedikit dan menangkap sosok Walden, muncul keinginan bertanya dalam dirinya.


"Walden, bila kau mengantar jemput Nyonya Flo ke sekolah Dael dan Rosalie, siapa teman dekat Nyonya?"


Akhirnya, Jarvis memiliki ide untuk mencari tahu teman dekat istrinya di sekolah anak-anaknya. Mungkin saja, ia bisa berbicara empat mata dan menggali informasi mengenai Floretta dari temannya.


Meskipun usia pernikahan mereka telah berjalan sembilan tahun, Jarvis sadar bahwa dirinya tidak tahu-menahu eh... tidak mau tahu tentang hari-hari Floretta.


Jarvis memang pantas untuk dilempar umpatan.


"Seingat saya hanya Nyonya Alice Bouwer, Tuan."


"Apakah mereka sering bertemu, maksudku di luar jam sekolah?"


Jarvis menganggukkan kepalanya. Ia memang pernah melihat Alice dan istrinya bertemu. Jarvis pun kenal baik dengan Alice Bouwer, meskipun tidak seakrab dulu.


Jarvis merencanakan sebuah pertemuan dengan Alice. Harapannya Alice bisa menjadi pihak yang menjembatani dirinya dengan Floretta nanti.


Tidak terasa, Jarvis tiba di rumah. Kedatangan Jarvis disambut anak-anaknya, secara bergantian mereka dipeluk, dicium, dan digendong oleh Jarvis.


"Ayah, lama sekali pulang, padahal kami ingin bermain bersama Ayah," ungkap Dael dengan raut wajah seperti orang kecewa.


Jarvis menyejajarkan diri dengan anak-anaknya, ia mendengarkan curahan hati anak-anaknya.


"Kalian bisa bermain bersama Ibu, bukan?" tanya Jarvis.


"Kalau bersama ibu kami bermain setiap hari ayah, kami juga ingin bersama ayah." Rosalie memeluk leher Jarvis dari depan.


"Ya, Sayang. Ke depan ayah akan usahakan segera pulang bila urusan di kantor selesai."


Mendengar janji yang dituangkan oleh Jarvis, kedua bocah itu tampak senang sambil berjingrak di tempat. Jarvis senang melihat keceriaan anak-anaknya, Floretta mengasuh mereka memiliki jiwa bahagia.

__ADS_1


"Ros, Dael, ke mana ibu kalian? Ayah tidak melihatnya."


Meski kedatangan Jarvis disambut buah hatinya, Jarvis tidak lagi mendapat sambutan hangat Floretta. Begitulah kini suasana yang terjadi semenjak isu perselingkuhan Jarvis merebak.


"Ibu di kamar Ayah," jawab Rosalie.


"Tadi ibu katakan kurang enak badan, Ayah. Hari ini ibu juga tidak lama menemani kami bermain. Ibu mudah capek, begitu katanya." sambung Dael lebih panjang.


"Oke, kalian bermain lagi ya. Ayah ke kamar dulu melihat ibu. Kalau bermain, jangan rebutan mainan. Satu dengan lain harus sabar dan antri menunggu mainan selesai."


Dal dan Rosalie sama-sama mengangguk lalu mereka meninggalkan Jarvis pergi ke ruang bermain bersama para pengasuh.


Di dalam kamar Jarvis tidak melihat siapa-siapa. Ia melangkah masuk, mencari ke ruang walk in closet tempat menyimpan pakaian dan aksesories yang menyatu dengan toilet. Di sana pun Jarvis tidak menemukan siapapun.


Jarvis melihat pintu geser di balkon terbuka sedikit, ada angin berhembus membuat tirai bergerak-gerak.


Jarvis mendekat ingin menutup pintu geser. Aroma khas istrinya ikut terbang sampai di organ penciuman Jarvis.


Floretta ternyata sedang duduk sembari sesekali melihat ke arah taman bunga miliknya. Hal yang paling sering dilakukannya, mengusap perut ratanya dan berbicara pada calon bayi mereka.


Tanpa direncanakan, air mata Jarvis menitik. Tangannya terkepal mendengar ucapan pelan istrinya yang mengandung kisah perih hatinya.


Tidak lupa Floretta mengucapkan kata maaf pada calon bayi yang dikandungnya.


Hal yang membuat Jarvis punya harapan pada rumah tangganya adalah sewaktu Floretta mengatakan masih memiliki rasa sayang pada Jarvis meskipun ia berusaha menghapus itu semua agar tidak kesakitan lagi batinnya.


Jarvis seolah-olah baru datang, ia berdehem kencang. Floretta tersentak dan melihat ke arah belakang.


"Rupanya kau di sini. Aku mencarimu sedari tadi," ucap Jarvis menetralkan keadaan.


Floretta hanya diam saja, ia bangkit berdiri ingin kembali masuk ke kamar. Tanpa merespon Jarvis, Floretta melewati tubuh Jarvis.


Baru beberapa langkah, Jarvis menggenggam lengan bawah Floretta. Jarvis menariknya hingga mereka saling berhadapan.


Keduanya saling beradu pandang. Jarvis bisa melihat mata putih istrinya memerah seperti orang habis menangis. "Flo, aku mohon bicaralah padaku. Jangan mendiamkanku seperti ini."


Floretta menarik lengannya lalu menoleh ke arah lain. Tatapan Jarvis membuat gejolak lain di dalam diri Floretta. Pria di hadapannya masih menjadi kelemahan dan kekuatan Floretta.


Namun, Floretta mencoba melawan keinginannya untuk menikmati tatapan yang membuatnya dulu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Jarvis.

__ADS_1


__ADS_2