
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Alleta Nicoline menatap rindu pada Jarvis Meyer, pria pujaan hatinya. Bertahun-tahun lamanya ia menantikan Jarvis agar bersedia merasakan kembali gelora jiwa muda seperti hubungan mereka waktu awal-awal pernikahan Jarvis dan Floretta.
Namun, pria itu bak menghilang begitu saja setelah menikmati keuntungan dari Alleta. Sayangnya, perempuan itu masih merasakan getaran yang sama seperti dulu.
Berbagai cara diusahakan Alleta agar Jarvis berkomunikasi kembali dengannya, segala usahanya sia-sia. Cara terakhirnya barulah membuahkan hasil, Jarvis dengan rela melangkahkan kaki untuk menemuinya.
Jarvis memandang tajam perempuan yang penampilannya semakin berani. Dulu benar ia terpesona melihat Alleta yang polos dan lembut.
Satu kejadian setelah dua tahun hubungan mereka berjalan, terkuak kenyataan bahwa Alleta tidaklah semanis madu. Sampai-sampai Jarvis tidak ingin mengenal Alleta lagi setelah mengetahuinya.
Alleta menggerogoti Jarvis seperti pedikulus yang menghisap inangnya untuk bertahan hidup. Jarvis merasa Alleta tulus padanya, rupanya semua dilakukan demi uang.
Saat ini pria itu terpaksa harus menemui perempuan yang lancang membongkar aib mereka berdua. Jarvis sangat berhati-hati pada Alleta yang tega menghalalkan segala cara untuk keuntungan pribadinya.
"Jarvis, apakah kau tidak merindukanku? Setelah begitu banyak malam indah kita lalui bersama?" tanya Alleta maju selangkah mendekati Jarvis.
"Jangan mendekat," ujar Jarvis menolak kedekatan dengan Alleta.
"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan untuk menjatuhkanku. Tapi, kau lupa bahwa kau merendahkan dirimu sendiri dengan membuka kisah memalukan itu."
Alleta tertawa mendengarnya, dia mengibaskan tangannya lalu menutup bibirnya.
"Aku sudah dipandang rendah oleh publik, aku tidak mau sendirian Jarvis. Perselingkuhan kita dulu bukan hanya tanggung jawabku, tetapi juga kau," tuntut Alleta dengan geram.
"Apa keuntunganmu mengatakan itu semua? Apa kau tidak memiliki keluarga yang perlu dijaga perasaannya? Atau ini masih tentang uang?"
Alleta membalik tubuhnya mendekati jendela. Saat ini mereka berada di sebuah apartemen yang disewa oleh Jarvis untuk bertemu dengan Alleta di kota tinggal mereka di Heligore, ibu kota negara Filaneey.
Jarvis tidak sendirian, ia membawa sopir, orang kepercayaannya, untuk berjaga di depan. Pria itu tidak ingin dijebak oleh Alleta yang sedang melancarkan aksi gilanya.
"Kau memang yang paling tahu aku, Jarvis. Sayangnya, kita tidak bisa terus bersama." Alleta membalik kembali tubuhnya menghadap Jarvis.
__ADS_1
"Kau melemparkan tubuhmu pada banyak pria seperti memberi ikan pada kucing." Jarvis menyindir kehidupan Alleta yang gelap.
"Apa yang kau lihat, kadang tidak mewakili kenyataan yang ada. Ku akui bukan perempuan suci, tetapi hatiku bersungguh-sungguh padamu."
Jarvis tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Alleta. Ia berjalan menuju sofa, duduk di sana dengan mengangkat kakinya ke atas meja kaca.
"Apakah ada kenyataan lebih mengerikan dibanding menghisap kekayaanku?"
Alleta melempar tatapan sengit pada Jarvis, demikian pula Jarvis melakukan hal yang sama.
"Aku tidak masalah kau menginginkan harta, tapi menjalin hubungan di belakangku itu sama dengan pengkhianatan bagiku." Luka lama Jarvis terasa sakit kembali saat ia teringat foto-foto Alleta dengan beberapa pria rekan bisnisnya.
Kini giliran Alleta yang tertawa sumbang. "Pengkhianatan? Kau baru saja berbicara tentang pengkhianatan, Jarvis?" Tawa mengejek kembali pecah dari bibir Alleta.
"Saat bersamaku, apakah kau tidak sadar mengkhianati istrimu, Floretta?"
Jarvis terdiam mendengar nama istrinya disebut.
"Oh, tentu saja kau tidak sadar karena istri bodohmu hanya menunggu di rumah, sementara dirinya tahu kalau suaminya berselingkuh. Ahh... aku ingat, kalau dia sangat-sangat menginginkanmu menjadi suaminya dengan imbalan perusahaan keluarganya. Bodoh karena cinta."
"Jangan merasa kau lebih suci dari padaku, Jarvis. Omong-omong bagaimana respon istrimu setelah aku mengungkap selama dua tahun suaminya betapa nyaman dengan perempuan lain? Oh, aku tebak saja, dia tetap tidak peduli?" Tawa keras Alleta memenuhi ruangan apartemen.
Sementara itu, Jarvis mengepalkan tangannya sembari menatap tajam Alleta. Kalau bukan karena perempuan, ingin Jarvis menghajarnya.
"Percuma aku berbicara padamu. Terserah padamu melakukan apa, yang pasti rumah tanggaku tidak goyah dengan isu murah yang kau lempar di media."
Jarvis beranjak menuju pintu, teriakan Alleta menghentikan langkahnya.
"Bila kau ingin aku berhenti berbicara, syaratnya sangat mudah, kembalilah padaku," tawar Alleta.
"Bermimpilah Alleta sampai kapan pun aku tidak tertarik kembali padamu."
Suara pintu menutup kencang membuat Alleta sontak menahan nafasnya.
__ADS_1
"Bila kau tidak bersamaku, tidak seorang pun akan memilikimu, termasuk perempuan yang bersamamu saat ini," tekad Alleta dengan rahang mengatup kencang dan tangan terkepal hingga kuku panjangnya menusuk ke kulit telapak tangannya.
Di tempat berbeda, Floretta mengajak Alice untuk bertemu membicarakan keinginannya untuk menjadi seorang vlogger seperti Alice. Ia membawa Rosalie setelah putrinya selesai bersekolah.
Kini mereka sedang berada di sebuah restoran berbahan dasar makanan organik dalam mall besar di kota mereka, Heligore. Floretta memesan makanan berat yang cocok untuk Rosalie, sementara bagi dirinya dan Alice hanya roti dan minuman.
"Kau benar-benar serius ingin menjadi vlogger? Tidak ingin menjadi pelaku pasar modal, investor barangkali?" tanya Alice.
"Ah, tidak Alice. Aku ingin melakukan hal yamg ringan dan bermanfaat buat yang menonton videoku. Tentu saja bukan menyiarkan kehidupan pribadi, melainkan ada edukasi di dalamnya."
Alice menganggukkan kepalanya. "Ya, aku rasa kegiatan itu bisa jadi sarana pemulihan buat hatimu yang dirundung masalah," ucapnya sambil tertawa ringan.
Floretta turut tertawa pula. Rosalie melihat suasana senang di hati ibu dan temannya ikut menimpali dengan sepenangkapannya.
"Ibu apa itu vlogger?"
Mereka berdua terdiam mendengar pertanyaan dari bocah usia 5 tahun itu. Mereka saling bertatapan satu dengan lain, seolah-olah menanyakan siapa yang akan menerangkan itu pada Rosalie.
"Ros, vlogger itu orang yang membuat video lalu disiarkan melalui media sosialnya. Apakah kau pernah melihat tayangan artis cilik yang suka berpetualangan?"
Rosalie mengangguk. "Ya, Tante. Aku senang sekali melihatnya berpetualangan ke berbagai tempat," ujar Rosalie dengan rasa senang.
"Ya, Ros, ibumu akan melakukan hal yang mirip seperti itu. Tapi, bukan berpetualangan ke berbagai tempat, melainkan bersamamu dan Dael."
Rosalie tersenyum bahagia dan antusias mendengar Alice berbicara. "Tentu juga bersama ayah kami, Tante. Jangan lupakan," ingatnya pada Alice.
Sontak Alice dan Floretta tersenyum sembari meringis mendengar ucapan Rosalie yang polos di hadapan mereka.
Jarvis pulang lebih cepat dari biasanya. Ia melangkahkan kaki ke kamar pribadinya, suasana sepi menyambutnya. Pria itu maklum kalau Floretta tidak berada di kamar karena mereka telah pisah kamar.
Jarvis segera membasuh tubuhnya, setelahnya ia menuju kamar anak-anaknya. Rasa rindulah membawanya pulang ke rumah lebih awal.
Sewaktu ia masuk ke kamar putra dan putrinya secara bergantian, Jarvis terkejut dengan kondisi sepi tanpa penghuni. Jarvis tahu kalau Floretta sudah mulai menjalankan apa yang dikatakannya tentang pekerjaan barunya.
__ADS_1
Jarvis berkecil hati, mendadak merasa tidak dianggap sebagai seorang suami. Helaan nafas kasar terdengar sebagai pertanda kesal.