
Floretta kembali ke ruangan rawat Jarvis. Menghubungi Jadden adalah jalan buntu bagi Floretta, kakak iparnya tidak memberi tahu dengan gamblang apa masalah yang menimpa keduanya.
Pembicaraan mereka malah menyerempet pada kisah masa lalu yang menurut Floretta telah berakhir lama. Nyatanya, belum bagi Jadden.
Floretta tidak berniat meneruskan perdebatan, ia akhiri komunikasi secara sepihak.
Di depan kamar rawat telah hadir Rayya, asistennya membawakan makanan dengan menu terjadwal untuk menunjang kesehatan Floretta.
"Nyonya dari mana? Saya khawatir tidak menemukan Nyonya bersama Tuan," ucap Rayya sedikitnya ia lega melihat Floretta datang dalam kondisi sehat-sehat saja.
"Dari taman. Apakah kau membawakan vitamin dan obatku dari dokter, Rayya?"
Rayya menyerahkan semuanya pada Floretta.
Di dekat mereka juga turut hadir Walden.
"Kalian sudah bisa kembali," perintah Floretta.
Belum Rayya menjawab, Walden memberanikan diri bertanya, " Nyonya, apakah Nyonya perlu ditemani mengingat tidak ada teman?"
Floretta menoleh pada sopir pribadinya itu. Ia mengulas senyum ramah. "Tidak perlu Walden. Antarkanlah Rayya. Bila perlu sesuatu, aku akan segera menghubungimu."
Walden membungkukkan tubuhnya menerima perintah dari Floretta. Keduanya pergi meninggalkan Floretta.
Floretta terkejut saat masuk, sebab Jarvis telah sadar dan sedang menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang pasien.
"Ka... kau sudah bangun?" Floretta gugup melontarkan pertanyaannya. Ia menggenggam erat tali tas kertas berisi makanan dan multivitamin serta obat untuk kehamilannya.
Tatapan Jarvis yang tajam membuat Floretta membeku di tempat. Nyali Floretta yang berani seperti singa malah menciut bagai tikus terjebak di kubangan lumpur.
"Apa yang kau bawa?"
"Ini makan malam untukku," jawab Floretta.
"Makanlah. Setelah makan aku ingin berbicara."
"Tapi... kau masih sakit," ingat Floretta, ia tidak ingin Jarvis mengalami tingkat cedera yang memburuk.
"Yang sakit rusukku, bukan mulut dan otakku, Flo," timpal Jarvis.
Floretta makan dalam diam, tidak konsentrasi, sedari tadi Jarvis menyorotnya dari ranjang pasien. Namun, apa boleh buat makanan dari Rayya wajib disantapnya demi pertumbuhan janin dalam rahim.
Usai Floretta makan, Jarvis memintanya duduk di dekat ranjang. Tidak memungkinkan Jarvis turun dan menempati sofa penunggu pasien.
Floretta melakukannya, ia bertekad tidak terpancing emosi bila berbincang dengan suaminya.
__ADS_1
"Apa kau sudah kenyang?" Kalimat pembuka yang aneh. Floretta hanya menganggukkan kepala di tempat duduknya.
"Baguslah, berarti kau siap berbicara denganku," ujar Jarvis. Ada banyak hal yang ingin diperbincangkan oleh Jarvis pada istrinya, sudah lama mereka tidak pernah membahas satu topik dengan jam khusus seperti saat ini.
"Aku mulai dari pertanyaan, mengapa kau melakukan percobaan bunuh diri?"
Floretta membeku, sebenarnya tidak tertarik untuk membahasnya. Kejadian itu mengingatkan Floretta pada posisinya sebagai istri yang tidak dipandang oleh Jarvis.
"Aku tidak ingin membicarakan," Floretta berdiri ingin beranjak dari bangku di samping ranjang pasien.
Jarvis spontan menahan lengan bawah Floretta. "Flo, aku akan memenuhi permintaanmu bercerai dariku, setelah aku mendengar apa alasanmu mengabaikanku sampai melakukan percobaan bunuh diri."
Floretta menoleh menatap Jarvis lalu kembali duduk di posisi semula. Jarvis ada benarnya, Floretta perlu menyampaikan secara terbuka isi hatinya, tidak peduli tanggapan Jarvis seperti apa usai mendengarnya.
"Kau mengetahui hubunganku dengan Alleta sejak sebelum kita menikah, kau berjanji setelah menjadi istri tidak akan mencampuri urusanku, berlaku hal yang sama denganku."
"Bila sekarang kau memperkarakan tentang perselingkuhanku masa silam, kau melanggar aturanmu sendiri bukan?"
Jarvis menyampaikan pandangannya mengenai kesepakatan mereka sebelum menikah.
"Kau memiliki anak dari perempuan itu, kau juga melanggar aturan!" Floretta tidak mau dianggap salah sendiri atas keadaan rumah tangga mereka.
Jarvis berdecak pelan. "Apa itu alasanmu mencoba mengakhiri hidup? Anak itu, bukan anakku." Jarvis langsung menyampaikan kebenaran menurut versinya sendiri.
Floretta menoleh ke arah lain, mengingat tayangan demi tayangan Alleta yang ditontonnya.
"Apakah hanya aku pria yang berinisial J?"
Floretta sontak melihat ke arah Jarvis, ia marah mendengarnya.
"Apakah kau menolak keturunanmu sendiri?"
Jarvis mengkerutkan keningnya, bingung dengan ekspresi istrinya sendiri.
"Kau berharap kalau itu anakku?"
"Kau harus membuktikan kalau memang bukan anakmu."
Jarvis mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu, bila tidak terbukti anak ku, kita tidak jadi bercerai?"
Floretta nanap menjawabnya, matanya tidak berkedip sembari berpikir. "Kau masih ingin bercerai." Jarvis menyimpulkan sendiri.
"Katakan sejujurnya, apa masalah yang tersembunyi padamu?"
Floretta merasa malu bila ia mengungkapkan alasannya. Namun, bagi Jarvis perbincangan mereka hampir menyentuh ke arah inti alasan Floretta meminta cerai.
__ADS_1
"Kau buktikan saja dulu. Sudahlah, ini saatnya kau istirahat," ujar Floretta menatap Jarvis. Hati Floretta menolak jujur, tangan Floretta menyentuh pinggiran ranjang berusaha untuk berdiri.
Jarvis menghentikan gerakan Floretta. "Flo, katakan yang sebenarnya. Aku bukan paranormal yang tahu isi otakmu." Jarvis menggenggam jemari Floretta, ada rasa geram dan gemas pada istrinya yang tidak mau terbuka.
Jarvis ingin sekali merengkuh istrinya, tetapi keadaan fisik tidaklah memungkinkan. "Dengan kau mengatakannya, aku pasti akan lebih cepat istirahat. Aku tidak mau bercerai karena alasan yang masih tersembunyi."
Di pikiran Floretta tampil kilas balik momen kebersamaan dengan Jarvis, bagaimana usaha-usaha keras sebagai istri dilakukannya, bagaimana ia merawat hatinya hanya untuk Jarvis. Namun, semuanya adalah kesia-siaan.
Tanpa sadar, air mata Floretta menitik membasahi pipi. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Jarvis.
"Biarlah hanya aku yang tahu."
Jarvis tidak akan membiarkan malam ini terlewatkan begitu saja. Jarvis malah menggenggam erat pergelangan tangan Floretta.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu, sampai kau bicara yang sesungguhnya."
Floretta merasa tidak nyaman.
"Mengapa kau menjadi egois?" tangis Floretta disertai pukulan kecil di tangan Jarvis yang menggenggam tangannya.
"Aku tidak tahu bagian mana dari sikapku yang sampai membuat seorang Floretta Conie yang kuat menjadi begitu lemah?"
"Aku hanya ingin tahu, Flo," sambung Jarvis, ia tidak peduli dikatakan egois atau memaksakan kehendak.
"Kau sudah tidak mencintaiku?" tanya Jarvis seyakin-yakinnya. Jarvis sangat percaya diri dicintai oleh Floretta.
Dulu setiap pagi, Jarvis mendengar ungkapan cinta dari Floretta secara terang setelah mereka bangun pagi, tidak peduli respon Jarvis seperti apa.
Floretta semakin terisak mendengarnya. Pukulannya di tangan Jarvis melemah.
Floretta terduduk kembali ke bangkunya, kakinya tidak kuat berdiri. Akhirnya, Floretta mengungkapkan isi hatinya.
"Kau tidak pernah mencintaiku, tidak mengharapkan keberadaanku. Aku tidak bernilai di hadapanmu, aku tidak penting untukmu."
Isakan pilu terdengar memasygulkan hati di sela ucapan Floretta.
"Aku salah telah memaksa mu menikahiku sembilan tahun lalu, rasa bencimu membunuhku, Jarvis. Aku lelah, lebih baik kita berpisah."
"Bersama atau tidak, tidak arti untukmu. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan tanpa cinta seperti ini. Tanpa sikap peduli darimu. Aku lelah menjadi pengemis cinta."
Genggaman Jarvis mengendur, putih mata Jarvis memerah mendengar curahan hati Floretta yang begitu menyayat.
Floretta terisak-isak di bangkunya sembari menyentuh perutnya. Anaknya mungkin saja turut merasakan kesedihan mendalam sang ibu, sesekali ada gerakan di dalam perut yang dirasakannya.
"Aku tidak berkekurangan apapun, uang, anak, keluarga semua aku miliki, kecuali cinta suamiku," lirih Floretta sembari menatap Jarvis yang tercenung kaku di ranjangnya.
__ADS_1
"Carilah jalan bahagiamu sendiri, Jarvis."