MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Kowabuda


__ADS_3

Floretta dan keluarga tiba di bandara Kowabuda sore hari. Saat Floretta turun dari pesawat pribadinya, ia membaca tulisan 'Selamat datang di bandara Kowashina', rasa bahagia membuncah di dadanya.


Kowabuda merupakan destinasi wisata yang diidamkan oleh Floretta, meskipun ia sudah beberapa kali datang ke kota yang punya sungai terpanjang di negara Filaneey. Hanya saja, datang bersama Jarvis menjadi pengalaman pertama untuknya.


Udara dingin menyapu kulit warm ivory-nya. Floretta tidak membawa jaket tebal, bahkan ia menolak saat tadi di kediamannya Rayya menawar untuk membawakan jaket untuknya.


Floretta menyesal tidak mengikuti perkataan Rayya yang memang terbiasa menyiapkan segala perlengkapan Floretta dengan baik.


Dael dan Rosalie membawa jaket tebal, sepatu boots, masker, serta penutup telinga. Para pengasuh membawa pakaian yang cocok dengan suasana kota Kowabuda yang sejuk cenderung dingin.


Floretta mengernyit berpikir sejenak, sepertinya hanya dirinya sendiri yang tidak berpakaian sesuai keadaan. Jemari Floretta menyentuh kedua lengannya yang terbuka sembari berjalan menuju ruang kedatangan.


Anak-anaknya telah jalan cepat hingga sampai duluan bersama para pengasuhnya. Floretta tidak bisa lebih ligat karena perut besarnya harus dijaga dengan baik.


Saat berjalan, hampir tiba di ruang kedatangan, seseorang menyampirkan pakaian tebal di bahu Floretta.


"Kau bisa menggigil tiba di hotel." Floretta menoleh melihat siapa orang yang melakukannya. Wajah Jarvis begitu dekat dengan Floretta.


Floretta memegangi jaket tebal pemberian suaminya. Jarvis memakai satu dan menenteng satu lagi yang kini dipakai istrinya.


"Kau tidak mengatakan kita akan ke sini," ujar Floretta mengalihkan pandangan dan menggerakkan tubuh agar tangan Jarvis terlepas dari pundaknya.


Jarvis tidak merespon, meski tetap berjalan berdampingan dengan Floretta.


"Kau memberi tahu pengasuh Dael, Rosalie, Kazem, dan Rayya kalau kita akan ke Kowabuda?" Floretta ingin tahu dengan jawaban Jarvis.


"Ehm... tidak, hanya memberi tahu kalau yang dituju daerah perbukitan bersuhu dingin." Ucapan Jarvis menghentikan langkah Floretta.


Jarvis juga turut berhenti lalu menoleh ke belakang melihat istrinya. Dugaan Jarvis, Floretta akan memprotes gaya komunikasinya lagi.


Tidak sesuai perkiraan, Floretta melengos berlalu dengan langkah lebih cepat meninggalkan Jarvis. Jarvis menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Floretta yang kerap berubah-ubah.


Floretta dan keluarga diantarkan ke sebuah hotel berbintang. Cuaca mendung menambah suhu dingin di kota Kowabuda. Kamar Jarvis dan Floretta berbeda dengan anak-anak mereka, tetapi disatukan dengan connecting door.


Sesampainya Jarvis di kamar hotel, Jarvis dihubungi oleh orang suruhannya. Posisi Jarvis menjauh ke arah balkon untuk menerima telepon di sana. Orang suruhan Jarvis menyebut nama salah satu rumah sakit tempat anak Alleta dirawat.


"Kazem akan mengatur tes DNA Paternitas, setelahnya aku akan membesuk anak itu. Pastikan ia tidak berpindah rumah sakit. Jangan melakukan tindakan yang mencurigakan."


"Tuan, Alleta sedang berada di sini. Keadaan putrinya tidak begitu baik."


Jarvis menghela nafas panjang. Keberadaan Alleta dapat membuat rencananya gagal. Jarvis tidak mungkin terang-terangan melakukan tindakan pembuktian anak Alleta apakah juga anaknya.


Jarvis merasa yakin kalau anak Alleta bukanlah anaknya, hanya saja orang-orang di sekitarnya, yakni keluarga Meyer tidak bisa diyakinkan tanpa bukti spesifik, mengingat Alleta sendiri pernah melemparke publik bukti DNA kalau ayah si anak berinisial J.


"Tugasmu dan anggota untuk memikirkan bagaimana cara mengalihkan perhatian Alleta agar besok tidak datang ke rumah sakit. Libatkan petugas kesehatannya."


Floretta yang baru saja keluar dari kamar kecil mendengar sayup-sayup perkataan Jarvis. Tidak begitu jelas, tetapi nama Alleta dan rumah sakit tertangkap di pendengaran Floretta.


Mendengar itu menjadi tawar hatilah Floretta. Apakah Jarvis memiliki rencana tertentu ke kota Kowabuda? batin Floretta.


Sewaktu percakapan Jarvis selesai, Floretta buru-buru memperlihatkan diri seolah-olah baru saja keluar dari kamar kecil.


"Pemanas ruangannya baru bekerja, kalau kau merasa kedinginan bisa menyalakan tungku perapian."


Floretta hanya menganggukkan kepala sebagai respon, begitu mereka saling berpapasan.

__ADS_1


"Besok pagi aku ada urusan sebentar mengunjungi temanku yang sedang dirawat di rumah sakit. Kau bisa bersama anak-anak untuk pergi ke tempat-tempat yang menarik."


Lagi-lagi Floretta hanya menganggukkan kepala. Di pikirannya berkecamuk pertanyaan, mengapa dirinya tidak diikutsertakan untuk membesuk teman Jarvis? Apakah ada hubungan dengan Alleta? Apa yang disembunyikan Jarvis darinya?


Jarvis mengawai tangannya di depan wajah Floretta yang berubah datar. Ia merasa ada yang aneh pada istrinya.


"Flo, kau dengar aku?" tanya Jarvis mendekatkan wajahnya pada Floretta sembari menjentikkan tangannya.


Tidak ingat melamun, Floretta mengerjap-ngerjap untuk kembali pada kesadarannya.


"Besok kau pulang jam berapa? Mengajak anak-anak, tetapi meninggalkan mereka."


Floretta merasa sensitif dengan pikirannya sendiri.


"Mungkin siang sudah kembali. Besok aku akan menyusul ke mana kalian pergi."


Floretta diam hanya menatap suaminya yang dirasa Floretta tidak berkata terbuka tentang apa yang sempat didengar olehnya. Namun, Floretta mengafirmasi dirinya agar paham posisinya selama ini sebagai istri yang tidak begitu diperhitungkan oleh Jarvis.


Tidak ada alasan untuk bersedih karena selama ini Jarvis juga tidak banyak melibatkan Floretta dalam pengambilan keputusan seperti pembatalan liburan secara mendadak. Kalaupun saat ini waktu Jarvis tidak sepenuhnya untuk berlibur, Floretta bisa apa.


Daripada berpikiran penuh dengan tanda tanya dan membuat hatinya dirundung kesedihan, Floretta memutuskan meninggalkan Jarvis tanpa suara berjalan ke arah pintu keluar.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Jarvis yang merasa lebih berbicara sendiri sedari tadi.


Langkah Floretta terhenti, ia membalik tubuhnya. "Ingin melihat anak-anak," ujarnya dingin.


"Kau bisa melewati pintu ini," tunjuk Jarvis diikuti pandangan Floretta.


"Ee... e... aku ingin ke bawah sebentar." Jarvis mendapati Floretta membohonginya.


Floretta melangkah mengambil jaket yang tadi disampirkan oleh Jarvis padanya dan berniat keluar.


"Biar aku menemanimu ke bawah." Jarvis bergerak ke pintu keluar.


Lagi-lagi langkah Floretta mendadak terhenti. Floretta sesungguhnya ingin menjauhi Jarvis dalam kesendirian menata suasana hatinya.


Floretta tidak ingin dirinya terpancing untuk marah-marah dan atau bersedih karena pikiran berlebih akan kemungkinan-kemungkinan buruk tentang suaminya.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin jalan-jalan sendiri melihat...." Floretta berpikir ucapan yang cocok selanjutnya, "keadaan hotel."


Mendengar kata 'jalan sendiri', Jarvis merasa Floretta sedang tidak ingin bersamanya. Jarvis bisa saja memaksakan diri agar Floretta menerima tawarannya, tetapi hal itu bisa memicu pertengkaran di antara mereka.


"Ajaklah Rayya. Mungkin kau akan butuh bantuannya."


Floretta sontak tersenyum mendengar ucapan Jarvis seolah-olah menghawatirkan dirinya sebagai istri. Ada rasa hangat yang menjalar, sayangnya Floretta cepat menghalau agar tidak menetap di dadanya sebab akan berakhir dengan kekecewaan.


"Tidak perlu, Jarvis. Aku hanya berkeliling."


Floretta mengenakan jaket tebalnya lalu melangkah keluar disambut udara dingin di koridor hotel.


Floretta tidak tahu akan berjalan ke mana, tadi ia melihat ada taman bunga di hotel yang ditempatinya ini. Seingat Floretta taman bunga itu baru kali ini dilihatnya, meskipun telah beberapa kali menginap.


Duduk di taman dalam cuaca mendung sebenarnya tidak begitu baik untuknya. Hanya untuk menenangkan diri, Floretta ingin menikmati keindahan taman bunga warna-warni sendirian.


Floretta mengetatkan jaket tebalnya, hatinya bertanya-tanya bagaimana mencairkan hati suaminya yang dingin terhadapnya. Sedetik kemudian, Floretta mendengkus, mengapa ia masih saja berpikir untuk mendapatkan hati Jarvis.

__ADS_1


Apakah Floretta terbawa-bawa oleh temperamen kemauan kuatnya sehingga apapun masih terus diusahakan, sekalipun sudah terlihat hasilnya mengarah tidak sesuai ekspektasi?


"Sendirian?"


Seseorang menjeda lamunanya. Floretta menoleh ke arah sumber suara. Floretta mengamati paras penyapa-nya.


"William? William Kennedy?"


Seorang pria yang dikenalnya masih cukup baik, teman masa kuliah di kampus.


"Saya, Nyonya." William menaruh tangannya di dada dan membungkuk sedikit sebagai rasa hormat pada Floretta.


Floretta tergelak melihat cara William yang bersikap seakan-akan berasal dari kalangan yang lebih rendah dari Floretta.


"Kau ada keperluan apa di hotel ini?" tanya Floretta. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada temannya yang hampir sepuluh tahun tidak berjumpa. Pertemuan terakhir mereka adalah saat pernikahan Floretta dan Jarvis.


"Aku bekerja di sini."


Floretta cukup terkejut mendengar pengakuan William.


"Beberapa kali aku telah menginap di hotel ini, aku tidak menyangka kau bekerja di sini."


"Jangan salah sangka, aku baru saja bekerja di sini."


"Oh, oke... Coba aku tebak, kau sebagai general manager-nya?"


William menggelengkan kepalanya. Floretta penasaran dengan jawaban yang sebenarnya.


"Tidak perlu dipikirkan jabatanku di sini."


"Tidak... tidak... aku harus menebak dengan benar."


"Kau masih saja seperti Floretta yang lama, harus mendapat sesuatu yang kau inginkan."


Kembali Floretta tertawa mendengar sindiran halus William.


"Kau sebagai executive secretary?" Floretta masih menduga-duga.


"Bukan, Flo."


"Lantas? Kau harus memberitahu ku, Wil."


"Corporate owner."


Floretta membelalak sampai rahangnya terbuka. Sedetik kemudian, Floretta bertepuk tangan sambil tertawa seperti anak kecil.


"Jangan berlebihan, Flo." William menjadi malu melihat sikap Floretta yang lebih pantas disebut meledek.


"Ternyata temanku, William Kennedy, seorang pemilik hotel berbintang," ucap Floretta turut merasa bangga. "Oh, pantas saja ada taman bunga. Setahuku dulu tidak pernah ada taman di sini."


Pembicaraan di antara mereka mengalir, udara dingin tidak dirasakan oleh Floretta. Hatinya menghangat dengan perjumpaan dengan William.


"Floretta."


Suara berat seseorang menjeda tawa dan perbincangan antara Floretta dan William.

__ADS_1


__ADS_2