MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Anak-anak


__ADS_3

Dua malam Floretta harus menginap di rumah sakit. Selama itu ia hanya bisa melakukan panggilan video pada anak-anaknya di kala rindu. Jarvis menyembunyikan keadaan istri dari keluarganya dan keluarga Floretta. Hanya Jarvis yang menemani Floretta. Jarvis yang workacholic sampai rela tidak pergi bekerja.


Jarvis adalah seorang pengusaha, memiliki perusahaan yang memproduksi dan memasarkan produk kecantikan. Perusahaannya memiliki produk khusus untuk wajah wanita segala jenis kulit. Jenis produk kecantikan yang diproduksi seperti pembersih, pelembab, serum, scrub, sunscreen dan krim malam.


Produk perusahaannya yang bernama Kireiguzedes sangatlah diminati di negara Filaneey terlebih di kota Heligore.


Hal itu pula yang membuat Jarvis banyak memiliki relasi perempuan-perempuan cantik seperti aktris, model, hingga influencer kenamaan. Mereka terlibat dalam promosi produk kecantikan Kireiguzedes.


Dulu, Floretta Conie salah satu perempuan yang menjadi model untuk promosi produk. Dilihat dari keluarga Conie yang juga kaya raya dan berpendidikan tinggi, tidak seharusnya Floretta mengambil pekerjaan sebagai model iklan perusahaan yang baru berkembang.


Namun, perasaan yang menggebu-gebu pada Jarvis membuatnya menutup mata dan terus memperjuangkan cintanya, malah terkesan memaksakan cinta. Sampai-sampai Floretta meminta pada orang tuanya untuk memberikan bagian perusahaan Floretta untuk Jarvis agar pria itu bersedia menikahinya sembilan tahun lalu.


Floretta tidak lagi memiliki apa-apa dari keluarga Conie karena dirinya bersedia memindahkan kepemilikan haknya atas nama suaminya. Floretta percaya kalau perasaannya akan tetap menguatkan dirinya menghadapi badai gelombang kehidupan berumah tangga.


Kireiguzedes tidaklah sebesar sekarang pada sembilan tahun lalu, kesempatan baik itu diraih Jarvis untuk mengembangkan perusahaan produk kecantikannya. Terbukti produk itu digemari banyak perempuan dari kalangan mana saja karena harganya terjangkau.


Jarvis bersedia menikahi Floretta dengan beberapa catatan, salah satunya tidak mencampuri urusan pribadi suaminya dan tidak memperkarakan masalah harta benda di masa depan.


Dua hari ini Jarvis tidak masuk kerja, tentu bukan masalah besar bagi perusahaannya. Dia memiliki banyak anak buah yang bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.


"Hai, anak-anak," sapa Jarvis pukul tujuh malam dari ponselnya. Jarvis tengah duduk di sofa dalam ruang perawatan Floretta mengobrol dengan anak-anaknya.


"Ayah," balas Dael dan Rosalie bersamaan. Wajah ceria mereka membuat gembira hati Jarvis.


"Apakah ayah dan ibu masih lama pergi bekerja?" tanya Rosalie. Mereka disediakan sebuah komputer jinjing untuk melakukan panggilan video dengan keluarga. Ponsel ukurannya terlalu kecil untuk dipakai bersama-sama.


"Em... semoga besok kami sudah bisa kembali ke rumah," sahut Jarvis. Ya, Jarvis mengatakan kalau dirinya mendapatkan pekerjaan mendadak, ibu mereka turut menemani. Jarvis sengaja menyembunyikan keadaan Floretta yang sebenarnya sebab khawatir menganggu ketenangan batin anak-anaknya.


Dengan alasan itu saja, Rosalie sempat menangis meraung-raung begitu tahu ibunya tidak berada di dekatnya. Ini kali pertama Floretta jauh dari anak-anaknya selama dua malam penuh.


Para pengasuh kewalahan untuk menenangkan hati Rosalie yang bersedih, sehingga ia harus memanggil adik perempuannya, Mandy Meyer, untuk menginap di kediaman mereka. Mandy sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas negeri di kota Heligore.


"Janji ya Ayah, kalau besok akan kembali. Aku sudah merindukan ibu." Mata Rosalie memerah ingin menangis, Dael mendekapnya.


"Kau jangan menangis, aku jadi ikut bersedih. Tenang saja, ada aku bersamamu," ucap Dael menenangkan saudara perempuannya.

__ADS_1


Jarvis menyunggingkan senyum bangga pada anak laki-lakinya. Ia baru menyadari kalau Floretta begitu cakap dan telaten mengasuh kedua keturunan keluarga Meyer itu.


Mereka kompak di usia yang masih anak-anak. Dirinya dan Mandy juga kompak, hanya saja dengan kakak laki-lakinya, Jarvis sangat berjarak. Mereka seperti anjing dan kucing kala bertemu.


Kebiasaan sedari kecil Jarvis dan kakaknya, Jadden Meyer, selalu dibandingkan dan dijadikan rival oleh keluarga. Maksud mereka mungkin baik untuk mendukung prestasi keduanya, sayangnya setelah dewasa mereka tumbuh menjadi pribadi yang kompetitif.


Jadden sendiri belum menikah, ia juga orang yang sibuk bekerja dan hidup romansanya sangat kelam, ditinggal menikah oleh calon istrinya. Sejak saat itu, Jadden kerap bergonta-ganti pasangan.


"Ayah, ibu mana?" tanya Rosalie.


"Ibumu ada di sini, sebentar," ucap Jarvis sembari melihat ke arah Floretta yang tidur membelakanginya.


Seharian ini Floretta menghindari Jarvis, tidur membelakangi dan tidak bersedia diajak bicara. Jarvis beruntung anak-anak bisa menjadi jalannya untuk bercakap dengan Floretta.


"Flo, apakah kau ingin bicara pada anak-anak? Mereka mencarimu." Jarvis menutup saluran suara dan video agar tidak terlihat kalau mereka sedang berada di rumah sakit.


Floretta sedari tadi mendengar apa yang diucapkan oleh anak-anaknya dan Jarvis, hanya saja Floretta tidak berminat untuk ikut gabung dalam percakapan ayah dan anak itu.


Floretta mengambil posisi duduk.


"Biar aku bantu," tawar Jarvis menelungkupkan ponselnya di tempat tidur. Floretta mengulurkan tangannya dan menggeleng pertanda menolak bantuan Jarvis.


"Halo, anak-anak Ibu," sapanya tersenyum bahagia.


"Ibu... ibu...," ucap keduanya bergantian. "Ibu sedang apa? Mengapa tadi tidak menelepon bersama Ayah?" tanya Dael.


Floretta tergagap mencari alasan. "Tadi... ibu sedang mengerjakan sesuatu, Sayang."


"Bagaimana kalian di sekolah hari ini?" tanya Floretta. Itu pertanyaan rutinnya pada Dael dan Rosalie. Dari cerita keseharian mereka, Floretta tahu bagaimana perasaan dan pikiran anak-anaknya.


"Aku... baik Ibu. Pelajarannya bisa ku ikuti. Tapi, tadi di sekolah Julia mengusiliku, dia menyembunyikan pensilky." Wajah Dael berubah kesal.


"Jadi, bagaimana kau menulis? Apakah pensilmu dikembalikan?" tanya Floretta tersungging senyum manis di wajahnya.


"Ya Bu, setelah aku adukan pada bu guru, Julia mengembalikan padaku. Sebelumnya, aku sudah meminta, tetapi Julia tidak mau."

__ADS_1


Floretta mengangguk, langkah Dael dinilainya sangat baik, sebelum mengadu pada guru, Floretta selalu bilang bicarakan pada teman, kalau tidak berhasil adukan pada guru.


"Syukurlah, pensilmu akhirnya dikembalikan. Ibu senang Dael bisa mengontrol emosi," puji Floretta pada putra semata wayangnya itu.


"Bagaimana dengan putri tercinta Ibu? Di sekolah kegiatan apa yang disenangi?" tanya Floretta pada Rosalie yang sedari tadi diam melihat Dael dan layar komputer jinjing secara bergantian.


"Tadi di sekolah kami melukis, Bu. Lukisanku dipuji oleh ibu guru," cerita Rosalie dengan nada riang gembira.


"Wah... kau melukis apa, Sayang?"


"Aku melukis keluarga, ada ayah, ibu, Dael dan aku. Kita sedang berlibur ke pantai," ucapnya jujur.


Wajah senang Floretta mendadak berubah datar, beberapa waktu kemudian berubah kembali tersenyum. Tadinya Floretta merasa sedih mendengarnya, kemungkinan besar ia tidak bisa memenuhi keinginan putrinya untuk berlibur ke pantai sebagai keluarga lengkap. Selama ini mereka kalau berlibur tanpa Jarvis, kalaupun Jarvis ikut serta pria itu tidak bisa berlama-lama dengan mereka.


"Apakah ibu boleh melihat gambarmu?" tanyanya lagi. Floretta tahu kalau Rosalie sangat senang dengan warna. Melukis salah satu cara Floretta untuk memfasilitasi kegemaran putrinya. Dan setiap lukisannya selalu ditunjukkan pada Floretta.


Rosalie menghilang dari layar, ia berlari mengambil gambar di kamarnya yang bersebelahan dengan ruang bermain mereka.


"Ini bu, ini," tunjuknya.


Floretta melihat gambar empat orang saling berpegangan tangan dan terlihat di belakangnya seperti gambar pantai dan ada ikan di laut biru. Ada matahari dan burung terbang di udara.


Mendadak Floretta diam membeku, muncul keinginan menangis. Floretta dirundung kesedihan mendalam. Keharmonisan dirinya dan Jarvis selama ini palsu dan tidak mengalami kemajuan.


Anak-anak itu sangat mencintai mereka berdua sebagai orang tua, tetapi niat Floretta bercerai dengan Jarvis bisa jadi mematikan mimpi kebahagiaan mereka.


Jarvis yang berdiri tidak jauh dari Floretta mendekatinya. Floretta menyerahkan ponsel itu, padahal panggilan video mereka belum putus.


Floretta merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya. Ia menangis tertahan di sana.


"Anak-anak, em... mendadak ayah mendapat panggilan dari rekan kerja. Video call-nya kita lanjutkan besok ya. Kalian juga harus bersiap tidur," ujarnya pada Dael dan Rosalie, Jarvis menyudut ke arah jendela.


Dael dan Rosalie mengikuti perkataan ayahnya. "Ayah dan Ibu sangat sayang kalian," tutupnya setelah itu panggilan berakhir.


Jarvis memandangi selimut yang bergerak-gerak karena tangisan Floretta, ia mendekati istrinya.

__ADS_1


"Flo."


"Aku ingin tidur, jangan ganggu!"


__ADS_2