
Pagi hari, Jarvis telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ini hari pertama Jarvis masuk kantor setelah berbulan-bulan di Kowabuda menemani Floretta.
Jarvis tidak melihat Floretta di ruang makan. Ia menduga kalau Floretta masih didominasi oleh pribadi Dolly Gobber. Sementara itu, Adam Meyer meski tinggal satu atap dengan mereka, belum diizinkan Jarvis untuk diasuh oleh Floretta.
Jarvis tidak tidur sekamar dengan Floretta, ia cukup khawatir bila Dolly, perempuan 35 tahun, dalam diri Floretta mengamuk dan bertindak sadis, maka Jarvis akan tinggal nama.
Sewaktu Jarvis sendiri di ruang makan, setelah ditinggal oleh pelayan yang bertugas mengurusi makanan, terdengar suara senandung dan siulan kecil mendekat ke arah ruang makan.
Jarvis memelankan kunyahan untuk mendengar lebih teliti suara perempuan yang mendendangkan satu lagu dengan nada merdu.
Ternyata, Floretta telah bangun dan bersiap untuk sarapan. Hal yang mengejutkan Jarvis adalah Floretta menggunakan pakaian rendah di dada dan rok pendek. Seketika Jarvis terbatuk-batuk memandang penampilan Floretta yang berbeda saat ini.
Floretta dengan tenang duduk di hadapan Jarvis. Floretta melayani dirinya sendiri untuk makan sebab pelayan telah keluar dari ruang makan.
Jarvis sampai melirik ke kiri dan kanan, cemas bila ada pekerja laki-laki yang melihat istrinya saat ini.
"Flo, apa yang kau kenakan? Itu pakaian untuk di kamar." Jarvis menegur Floretta dengan rasa keberatan tinggi.
Floretta melihat Jarvis berbicara padanya. "Ada masalah denganku?" tanya Floretta seakan-akan tidak merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Pakaianmu tidak pantas, terlalu minim." Jarvis menggelengkan kepalanya lantas berdiri dan berjalan menghampiri Floretta. Jarvis tidak peduli bila pribadi Dolly akan mengamuk padanya, Jarvis hanya ingin menyelamatkan istrinya dari rasa malu.
Jarvis menarik tangan Floretta agar berdiri dari tempat duduknya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Floretta menarik pergelangan tangan yang dicengkram oleh Jarvis.
Jarvis menatap tajam Floretta, ia bisa melihat kalau Floretta berdandan. Jarvis bisa melihat wajah Floretta disapukan kosmetik flawless.
"Untuk apa kau memakai pakaian seperti ini? Memperlihatkan buah dada dan paha." Jarvis menunjuk bagian tubuh Floretta yang tidak sepantasnya diumbar.
"Apa masalahnya? Aku senang melakukannya. Kau menyukainya juga, 'kan?" Floretta menggoyang bahunya dengan centil.
Jarvis melotot mendengar dan melihat perilaku Floretta yang terlihat seperti perempuan penggoda. Dulu Floretta melakukan hal semacam ini, hanya saja tidak dengan pakaian yang terbuka.
Mendadak Jarvis tersadar kalau pribadi saat ini berbeda dengan perempuan semalam yang kerjanya mengamuk dan kasar.
Jarvis menarik tangan Floretta, dia tidak ingin ada orang yang tahu tentang keadaan Floretta yang berganti-ganti kepribadian sebelum Jarvis membawa Floretta menemui dokter ahli jiwa.
Floretta terseok-seok mengikuti langkah besar Jarvis. Floretta ditarik menuju kamar pribadi mereka. Jarvis mengunci pintu kamar.
Floretta tidak gentar menghadapi Jarvis, ia berjalan menuju ranjang dan duduk menyilang sehingga terlihat sensual di mata Jarvis.
Jarvis menutup kedua matanya, ia harus menahan diri sebelum semuanya jelas.
__ADS_1
"Kau... siapa lagi. Kau bagian dari diri istriku juga?" Jarvis langsung menanyakan pada inti sembari menunjuk-nunjuk Floretta.
Floretta berdiri lalu berjalan mendekati Jarvis. Senyum Floretta begitu menggugah jiwa kelelakian Jarvis. Dengan berani Floretta mengalungkan lengannya pada Jarvis.
Mata Jarvis membelalak melihat kedekatannya dengan Floretta yang telah lama sirna. Tidak ingin terjadi hal macam-macam, Jarvis melerai pelukan Floretta yang melingkar di leher dan tengkuknya.
"Katakan kau siapa?"
Floretta tertawa manis, sungguh berbeda dengan tawa Dolly yang cenderung dingin dan sumbang.
"Aku... namaku Edith Muriel," jawab Floretta.
Floretta mengayunkan punggung tangannya ke arah Jarvis. Biasanya pria akan menyambut dengan mencium jemari perempuan dekatnya. Namun, Jarvis tidak melakukannya meski dia ingin.
Jarvis merasa tebakannya benar, ada kepribadian lain yang muncul dalam diri Floretta.
Selain Dolly Gobber, saat ini Floretta tampil dengan pribadi lain, bernama Edith Muriel.
"Kemana Dolly?" tanya Jarvis.
"Siapa Dolly?"
Pertanyaan balik yang diajukan oleh Floretta tidak ditanggapi Jarvis. Jarvis memijat keningnya yang tiba-tiba pusing.
"Aku masih muda, usiaku 25 tahun, pakaian seperti ini wajar aku kenakan." Floretta-Edith mencoba bernegosiasi.
"Astaga... apa begini cara Floretta membalaskan dendamnya padaku?" gumam Jarvis sembari menyugar rambut dan menariknya kasar.
Jarvis pergi meninggalkan Floretta, sarapannya pun tidak jadi dihabiskan.
"Kazem kita ke rumah sakit tempat Maureen bekerja," perintah Jarvis usai membaca kartu nama seorang dokter ahli kejiwaan dalam kendaraan yang sedang melaju.
Kazem melirik dari spion dalam, ia tidak dapat membantah titah Jarvis, padahal siang nanti Jarvis telah punya jadwal rapat internal di Kireiguzedes. Jarvis mengubah jadwalnya sendiri, baginya mengetahui apa yang terjadi pada Floretta lebih penting dari apapun saat ini.
Jarvis melangkah cepat di lorong rumah sakit, ia tadi menghubungi Maureen agar membantu mempertemukannya dengan dokter yang kartu namanya pernah Maureen beri pada Jarvis.
"Apa harus hari ini juga bertemu dengan dokter David?" tanya Maureen dalam ruang kerjanya. Untungnya, Maureen telah selesai bertugas membantu seorang perempuan melahirkam melalui bedah sesar.
"Sangat emergency, Maureen. Istriku terlihat aneh, kalau dokter di Kowabuda mengatakan Floretta mengidap kepribadian ganda. Aku butuh konsultasi lebih lanjut dengan ahlinya. Sikap Floretta membuatku bingung dan takut di saat bersamaan."
Jarvis tidak sabar, ia menuntut Maureen membantunya. Bertepatan dokter yang dicari Jarvis juga berpraktek di rumah sakit yang sama.
Maureen cukup terkejut mendengar diagnosis Floretta, ia tidak menyangka ada masalah berat yang pernah ditanggung oleh Floretta.
__ADS_1
Maureen menghubungi David, seorang dokter ahli jiwa, meminta untuk bertemu saat itu juga.
David yang mendengar permasalahan yang dialami oleh teman Maureen bersedia untuk ditemui. Tepat saat itu David baru saja selesai mengunjungi salah seorang pasiennya di rumah sakit jiwa yang tidak jauh dari lokasi.
"Jarvis, aku hanya mengantarkanmu menemui David. Satu jam lagi aku ada praktek dan tidak mungkin menungguimu."
Maureen dan Jarvis tiba lebih dulu daripada David.
"Tidak masalah. Terima kasih, Maureen."
Sewaktu Jarvis telah bertatap muka dengan David, Maureen memperkenalkan Jarvis.
Maureen undur diri, tinggallah Jarvis bersama David.
"Bisa Tuan ceritakan perilaku yang dlihat pada istri Anda?"
Jarvis menceritakan apa yang terjadi dari awal istrinya tidak sadarkan diri hingga perubahan perilaku di pagi hari tadi. Jarvis menyerahkan catatan pemeriksaan kejiwaan Floretta dari rumah sakit di Kowabuda.
"Dissociative identity disorder," gumam David membaca hasil pemeriksaan kejiwaan Floretta.
"Ya, dari catatan pemeriksaan, istri Anda disebut mengalami gangguan psikologis," jelas David lalu menutup berkas Floretta dan menaruhnya di meja.
"Sifatnya disasosiatif artinya Anda bisa melihat ketidaksesuaian antara pikiran, perbuatan, ingatan, dan identitasnya."
"Mengapa istri saya bisa berubah-ubah menjadi seperti orang lain?"
"Gangguan ini sebagai mekanisme koping, artinya dia berusaha untuk melepaskan diri dari pengalaman trauma yang menyakitkan, sumber pengalamannya dari masa kanak-kanak atau pengalaman buruk bertahun-tahun. Dan... dia tidak sadar akan hal itu. Kepribadian intinya tetap ada, tetapi tidak aktif, di samping itu muncul beberapa kepribadian lain yang bisa saja lebih aktif dan sering muncul."
"Dengan kata lain, istri saya ingin melarikan diri dari rasa sakit yang dialaminya dengan memisahkan diri dari dirinya sendiri?"
David menganggukkan kepalanya membenarkan pemahaman Jarvis.
Jarvis menyenderkan punggungnya ke bangku, kilas balik tentang Floretta memenuhi pikirannya.
Meskipun dulunya Jarvis tidak pernah mencari tahu secara mendalam mengenai keluarga Floretta, sepengetahuan Jarvis, Floretta tidak memiliki keluarga yang harmonis semenjak kematian ibunya dalam kecelakaan.
Floretta memiliki seorang kakak, hingga saat ini mereka tidak saling akur sebab Floretta pernah meminta warisan sewaktu ayahnya masih hidup.
Ditambah lagi, tekanan dan pengabaian oleh Jarvis selama Floretta menjadi istrinya.
Jarvis menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia menutup wajahnya menunjukkan rasa sesal mendalam.
"Apakah ini bisa sembuh?"
__ADS_1
"Sebaiknya istri Anda dibawa ke sini agar kita tahu penanganan yang tepat untuk penyembuhannya. Saran saya untuk Tuan adalah mendampinginya hingga pulih."