MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Berbahaya untuk Adam


__ADS_3

Floretta menghabiskan waktu di rumah, berjalan mengelilingi kediamannya, berkunjung ke taman, membaca buku lalu kembali ke kamar menyendiri.


Ada rasa kosong dalam diri yang sulit untuk dimengerti olehnya sendiri. Celah yang membuat jiwanya merasa kesepian. Floretta memandang bingkai foto yang terpajang di dinding kamarnya, menampakkan gambar Jarvis dan dua bocah cilik.


Floretta tahu itu adalah anaknya, hanya saja satu sisi pribadinya merasa tidak merindukan mereka, tetapi sisi lain keinginan memeluk mereka begitu kuat. Pikiran Floretta berdebat sengit di kepalanya.


"Diam kalian semua!" Floretta geram lalu berteriak di kamarnya. Dia menyuruh dirinya sendiri untuk tenang sebab begitu sulit meredam suara berisik dalam pikirannya.


Floretta menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, ia berjalan ke arah bingkai foto keluarga lalu menurunkannya dan menyenderkannya ke dinding dengan posisi gambar ke arah dinding.


Melihat foto itu Floretta merasa ada dorongan mengobrak-abriknya. Floretta harus melindungi dirinya sendiri, itu perintah dalam otaknya.


Floretta keluar dari kamar, setelah mengganti pakaian lengan panjang dengan bahan yang ringan, sepertinya menyendiri di kamar membuatnya tidak nyaman, Floretta perlu melakukan aktivitas lain.


Sore itu sekitar pukul lima, Floretta melangkah menuju ruangan gym milik suaminya, ia perlu mengalihkan pikiran yang terganggu dengan olahraga fisik agar pikiran tidak berkecamuk. Setelah itu, membasuh diri dan Floretta yakin kalau dirinya akan jauh lebih tenang.


Sebelum tiba di ruangan olahraga, Floretta mendengar suara tangisan bayi dari sebuah kamar yang bersebelahan dengan gym. Suara bayi itu begitu kencang di pendengaran Floretta, sayangnya tidak ada pengasuh, suster atau orang yang mendatanginya.


Floretta mendorong pintu kamar yang tidak menutup sempurna. Ia melangkah masuk perlahan, menatap seorang bayi menangis tanpa air mata, tidak lain adalah Adam, putra yang baru dilahirkan beberapa bulan lalu.


Adam dalam posisi tiduran di tempat tidur bayi.


Mendadak payudara Floretta terasa nyeri. Floretta menekan-nekan untuk mengurangi rasa sakit, tangisan kencang Adam malah membuat otak Floretta menjadi kusut.


"Kau diamlah," ujar Floretta pada Adam. Mengabaikan rasa sakit di payudara yang entah mengapa bisa terjadi secara mendadak, Floretta mengulurkan tangannya mendekati tubuh anaknya sendiri. Dorongan dalam diri yang menyuruh melakukan itu bagaimana agar Adam bisa diam.


Floretta membungkukkan tubuhnya, kedua tangannya meraih Adam.


Sekonyong-konyong dari belakang lengannya ditarik paksa hingga ia termundur beberapa langkah.


"Apa yang kau lakukan di sini!?" Jarvis berteriak di hadapan Floretta, tangis Adam menjadi-jadi mendengar suara keras.


Floretta mengerjap-ngerjap untuk memahami apa yang sedang terjadi, meski tidak mengatakan apa pun.


Jarvis cepat mengangkat dan menggendong Adam dalam dekapannya.


"Tenanglah, ada ayah di sini," bisiknya pada Adam, sembari menggoyangkan tubuh Adam pelan ke kanan dan kiri.


Jarvis menatap tajam Floretta, mengamati dari ujung kaki hingga kepala. Floretta juga menatap balik keduanya dengan wajah tanpa ekspresi.


Adam yang berada dalam dekapan Jarvis mulai tenang dan tidak menangis lagi, di saat yang bersamaan suster yang mengasuh Adam datang menenteng botol susu.


"Maaf Tuan, Nyonya, tadi saya meninggalkan tuan kecil untuk membuatkan susu ke bawah." Pengasuh Adam merasa bersalah setelah sayup-sayup mendengar tangisan Adam.


Jarvis menyerahkan Adam pada pengasuhnya. "Berikan minum di kamar bermain. Saya ingin bicara dengan Nyonya di sini."


Pengasuh Adam bernama Meilany menuruti perintah Jarvis, menerima Adam dan melangkah ke luar menuju ruangan bermain anak-anak.

__ADS_1


Jarvis berjalan menuju pintu lalu menutupnya. Dia tidak ingin ada orang yang akan mendengar suaranya bila terlampau kencang.


Floretta melihat Jarvis mendekatinya, dia mundur sampai pinggangnya mengenai crib Adam.


"Katakan, apa yang ingin kau lakukan pada Adam?"


Floretta melihat sorot mata penghakiman dari Jarvis dilempar padanya. Posisi Jarvis yang berkacak pinggang, seakan-akan mengintimidasi Floretta.


Jarvis menatap pakaian Floretta yang tertutup. "Apa kau Dolly Gobber?" tanya Jarvis.


Floretta masih diam saja, Jarvis mulai tidak sabar lantaran pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya tidak mendapat jawaban.


"Mengapa kau diam saja? Kau ingin mencelakakan anakku!?" tuding Jarvis dengan nada lebih tinggi.


Floretta mengepalkan tangannya dan giginya gemeretuk kecil. Dia berusaha menahan emosi yang pecah.


"Aku tidak peduli kau istriku, tetapi tujuanmu buruk pada anakku. Sosokmu sangat merugikan istriku." Lagi-lagi Jarvis mengeluarkan tudingan buruk pada Floretta. Jarvis merasa orang yang berbicara padanya adalah sosok Dolly si perempuan kasar dan tidak menyukainya itu sehingga Jarvis tidak ada manis-manisnya berkata pada Floretta.


"Apa aku terlihat akan mencelakakannya?"


Floretta tertawa, tawa khas dengan garis bibir memanjang ke kiri.


"Tangisannya menggangguku, aku hanya ingin mendiamkannya. Bukankah dia anakku juga? Wajar saja aku menggendongnya."


Floretta merasa tuduhan Jarvis padanya tidak beralasan.


Floretta bertepuk tangan seolah-olah Jarvis telah memenangkan kompetisi tertentu.


"Kau sangat mengenal istrimu. Luar biasa."


Mendadak wajah Floretta berubah tanpa ekspresi.


"Sebaiknya kau dan orang-orang terdekatmu menjaga jarak dari Floretta bila tidak ingin musibah menimpa."


Jarvis semakin memahami kepribadian alternatif istrinya yang bernama Dolly Gobber merupakan karakter yang mengancam bisa saja mendatangkan bala bagi keluarganya.


"Kau tahu aku sangat tidak menyukaimu, Jarvis. Istrimu ini benar-benar perempuan yang harus dilindungi agar tidak hanyut dalam kebodohan cinta."


Jarvis teringat akan ucapan David dokter ahli kejiwaan yang menyebut bahwa kepribadian alternatif merupakan mekanisme koping untuk mematikan pengalaman traumatis di masa lalu. Pemahaman Jarvis semakin dalam mengenai sosok Dolly yang hadir dengan perlawanannya pada Jarvis terus-menerus.


"Istriku perempuan yang tangguh, kau hadir dalam dirinya hanya akan membuat Floretta melemah dan menjalani hidup tanpa cinta," ujar Jarvis menantang Floretta-Dolly.


"Aku memperkuat dan melindunginya. Floretta tidak akan tinggal diam bila kau bertindak seenaknya!" tunjuk Floretta-Dolly dengan kencang. Ingatan Floretta setahun belakangan meski belum sepenuhnya kembali, tetapi ia mengingat bagian tertentu dan bagaimana sikap Jarvis padanya selama tujuh tahun ke belakang.


Floretta semakin ingin menjauh dari Jarvis, ia mengeluarkan kalimat bernada ancaman agar suaminya merasa gentar lalu berjarak darinya.


Namun, pengakuan Floretta-Dolly sangat dibutuhkan Jarvis, malah membuat dia semakin mampu menilai karakter kepribadian-kepribadian alternatif yang muncul dalam diri istrinya.

__ADS_1


Siapa yang mengancam dan siapa yang bisa diajak kerja sama.


Jarvis beranggapan dengan karakter Floretta-Dolly, dirinya tidak bisa bernegosiasi. Floretta-Dolly terus-terusan menganggapnya musuh, mungkin saja memang itu tugasnya, pikir Jarvis.


Floretta merasa muak berada dalam satu ruangan bersama-sama dengan Jarvis. Beberapa waktu keduanya terdiam, Floretta melangkah ke arah pintu keluar.


"Aku peringatkan kau, jangan mendekati putraku!" Jarvis meneriaki pesannya.


Floretta sempat berhenti sejenak mendengar kalimat Jarvis lalu berjalan kembali tanpa merespon atau membalik tubuhnya.


Jarvis mengepalkan kedua tangannya, rasa rakut, khawatir, dan marah bercampur aduk dalam dadanya. "Ini bisa sangat mengerikan. Adam harus dijauhkan," desis Jarvis dalam gejolak perasaan tak menentu.


Keesokan hari saat Jarvis sarapan sendiri, Stephanie mengunjungi kediaman Jarvis, turut sarapan bersama. Di meja makan, hanya mereka berdua.


Sisa rasa marah masih tersimpan dalam diri Jarvis, dia tidak banyak bicara pada mamanya. Jarvis tidak ingin paginya rusak dengan kemarahan yang tidak terkontrol, bisa-bisa kerja seharian di kantor tidak akan nyaman.


"Floretta tidak sarapan bersama?" tanya Stephanie setelah satu sendok suapan ke dalam mulutnya. Ia memperhatikan Jarvis dari seberang meja. Setelah sekian menit sarapan bersama, Stephanie yang membuka percakapan.


"Tidak," jawab Jarvis pendek lalu melanjutkan suapan dalam diam.


Dari arah lain terdengar senandung merdu, telinga Jarvis bergerak-gerak memastikan kalau Floretta telah keluar dari kamarnya.


Floretta datang dengan pakaian tertutup, tetapi ketat sampai mencetak tubuh rampingnya yang indah. Pagi ini dia pun telah berdandan menambah pancaran keayuan.


"Hai," sapanya pada Jarvis dan Stephanie lalu duduk di salah satu bangku sederet Jarvis, dipisahkan satu bangku kosong.


Floretta mengenali kalau mertuanya datang berkunjung, ia mengulas senyum pada Stephanie.


Sementara itu, Stephanie terperangah dengan cara bicara berdandan, dan berpakaian Floretta, sampai-sampai saat Floretta tersenyum, Stephanie tidak membalas balik dengan senyuman.


Floretta menikmati sarapannya, memgabaikan tatapan dua orang manusia lain yang merasa seolah-olah terganggu dengan kehadirannya.


"Mengapa kau masih memggunakan pakaian tidak masuk akal itu?" tanya Jarvis setelah meyakinkan diri untuk menegur Floretta.


Floretta yang sedang mengunyah makanan, menatap suaminya lalu melihat tubuhnya sendiri.


"Apa yang salah? Ini pakaian tertutup dan sopan."


"Pakaianmu terlalu ketat," geram Jarvis ingin marah.


"Seusai sarapan aku berencana berjalan-jalan di sekitar komplek ditemani Walden dan Rayya," terang Floretta pada Jarvis. "Pakaian ini cocok digunakan."


Jarvis berdecak lalu membuang serbetnya ke meja makan.


"Ganti pakaianmu!" perintah Jarvis. Ia bersikap seperti seorang ayah yang berkeberatan akan pilihan putrinya.


"Tidak mauuu!" Floretta bersikap manja seperti sikap seorang anak remaja. "Mama katakan pada Jarvis, pakaianku ini baik-baik saja kalau digunakan untuk berkeliling komplek, bukan?"

__ADS_1


Stephanie yang masih terkejut, mengerjap-ngerjap saat diajukan pertanyaan pleh Floretta. Stephanie bingung dengan percakapan anak dan menantunya. Ada keanehan apa ini?


__ADS_2