
"Rayya, siapa menyuruh merapikan taman bunga?" Floretta melewati taman saat hari cerah setelah mengantar kedua buah hatinya ke sekolah.
"Saya diminta Tuan untuk menugaskan pengurus kebun merapikan taman, Nyonya." Rayya membuang nafas perlahan. Ia takut kalau Floretta marah atas tindakan yang tidak dikonfirmasi terlebih dulu padanya.
"Tuan melihat taman sudah ditumbuhi gulma dan bunga layu merusak pemandangan, Nyonya." Rayya menceritakan apa adanya.
Rasa hati Floretta berubah menjadi hangat. Jarvis yang selama ini abai dengan aktivitas dan kesukaan Floretta mendadak perhatian. Namun, Floretta melawan rasa yang menyelimuti hatinya.
Floretta meninggalkan Rayya yang cemas kalau-kalau diamuk oleh nyonyanya. Syukurnya, Floretta tidak mengucapkan apa-apa lagi.
Deretan mobil Jarvis yang lengkap di garasi dilewati Floretta, menandakan kalau pemiliknya sedang ada di rumah. Floretta melangkah cepat menuju ruang kerja Jarvis.
Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam, Floretta masuk memasang wajah dingin.
Jarvis menoleh ke arah pintu, cukup kaget Floretta datang menemuinya.
"Tiba-tiba mengurusi taman bungaku, ada apa denganmu? Aku tidak suka kau berlaku sesukamu pada apa yang aku pelihara." Floretta merasa perlu memasang batasan pada Jarvis mengingat sebentar lagi mereka akan bercerai. Perhatian Jarvis sangat mengganggu hati Floretta.
"Bunga-bunga itu juga makhluk hidup, perlu dirawat. Jangan mengorbankannya."
"Aku pemiliknya, aku akan mengurus sekehendak hatiku. Selama ini kau juga tidak pernah ikut campur."
Jarvis menyadari kalau perhatiannya yang mendadak tidak ditanggapi baik oleh Floretta. Floretta menunjukkan rasa tidak nyaman pada Jarvis.
"Berhentilah marah-marah padaku, Flo. Suaramu menyakiti telingaku," keluh Jarvis tidak ingin membicarakan soal taman bunga. Jarvis mengamati kembali dokumen kerjanya.
Floretta membeliak tidak terima dengan perkataan suaminya, "Apapun yang aku katakan baik di masa lalu maupun kini, semuanya tetap menyakiti telingamu, bukan!?"
Jarvis memilih diam tidak merespon celotehan Floretta. "Sebaiknya kau menyetujui kalau kita berpisah rumah."
Sontak, Jarvis berdiri dan mengempaskan dokumen ke meja kerjanya. Jarvis tersulut dengan ucapan Floretta yang merembet ke mana-mana.
Jarvis berjalan cepat mendekati Floretta. "Kau ingin kita berpisah, bercerai?" Jarvis menyeringai menatap istrinya.
"Tidak akan semudah itu, Floretta Conie. Setelah kau memaksaku untuk menikahimu sembilan tahun lalu, sekarang aku...," tunjuk Jarvis pada dirinya sendiri, "aku yang memaksamu untuk tetap dan terus menjadi istriku!" sembur Jarvis.
__ADS_1
Jarvis menarik kedua lengan Floretta untuk mendekat. "Menurutlah pada suami." Floretta melihat kilat amarah tertahan pada sorot mata Jarvis.
Floretta tidak takut, ia berusaha menantang Jarvis. "Kau gila!"
"Terserah apa katamu, istriku." Jarvis menarik tubuh Floretta semakin dekat padanya, lalu berbisik di telinga Floretta, "Aku berubah pikiran, caramu marah-marah menggetarkan jiwa lelakiku. Aku - membatalkan - niatku - untuk - menceraikanmu."
Bisikan disertai sentuhan ringan bibir Jarvis di telinga Floretta yang tercenung membeku, membuat Floretta bergidik.
Floretta gemetar mendengar provokasi Jarvis. Floretta mendorong tubuh Jarvis hingga melepas lengannya.
"Kau jahat! Aku yang akan menggugatmu, Jarvis!" Floretta memukuli dada dan lengan Jarvis, dia menjerit sampai mulutnya dibekap oleh Jarvis.
"Diam!" hardik Jarvis. Air mata Floretta bercucuran mengenai tangan Jarvis. "Lebih baik pikirkan anak dalam kandunganmu." Jarvis menurunkan tangan dari wajah Floretta sampai menyentuh perut yang membesar.
Floretta dilepaskan oleh Jarvis, tubuh Floretta bergetar hebat disertai linangan air mata. Floretta merasa semakin tersakiti dengan sikap kasar Jarvis.
"Aku berusaha memperbaiki keadaan, tetapi kau terus-terusan memantik amarahku."
Jarvis membalik tubuh berjalan memunguti lembaran kertas yang jatuh ke lantai.
Jarvis meremas selembar kertas, rahangnya mengetat.
"Bila kau melakukannya, Dael dan Rosalie akan tinggal bersamaku, begitu juga dengan anak yang kau lahirkan nanti."
Jarvis tidak tahu lagi harus berbicara sebaik apa pada Floretta. Terpaksa Jarvis mengumbar ancaman pada Floretta, setidaknya Floretta berpikir ulang untuk bercerai.
"Mengapa kau seegois itu, Jarvis!?" Floretta menangis tersedu mengingat semua anaknya akan diambil oleh Jarvis.
Jarvis berdiri, menaruh lembaran kertas di meja kerjanya lalu membalik tubuhnya menghadap Floretta yang berdiri beberapa meter darinya.
"Kau tidak terima tawaranku untuk bersikap seperti normalnya suami dan istri menjelang perceraian, di sisi lain kau tidak percaya bila aku sungguh ingin berbaikan denganmu."
"Kau tidak memikirkan keadaan psikis Dael dan Rosalie, begitu juga anak yang ada dalam kandunganmu."
"Masa lalu tidak bisa diubah, Flo. Dan untuk cinta, jangan menuntutku."
__ADS_1
Floretta terpukul dengan lontaran kalimat demi kalimat dari Jarvis. Memang tidak ada asa dalam pernikahan mereka yang tergolong aneh.
Floretta hanya bisa menangisi nasibnya sendiri yang terpenjara dalam kungkungan cinta sendiri dan sikap dominasi Jarvis.
Floretta membalik tubuhnya mengarah ke pintu keluar. Floretta melangkah gontai, merasa kalah dan tidak berguna, tetapi apa mau dikata nasi sudah jadi bubur.
"Rayya perhatikan seksama Nyonya Floretta. Jangan lagi terjadi upaya bunuh diri."
Setelah Floretta meninggalkan ruangan, Jarvis memerintahkan Rayya melalui telepon internal untuk terus mengikuti Floretta kemana pun sebab ia tidak ingin Floretta mengalami hal buruk dengan kehamilannya.
"Kazem, atur keberangkatanku besok ke Kowabuda. Anak-anak juga turut serta, mereka bisa liburan akhir pekan di sana."
Kazem yang mendapat panggilan telepon dari tuannya segera melaksanakan tugasnya dengan menyiapkan pesawat pribadi keluarga Meyer di bandara kota Heligore untuk penerbangan besok.
Di tempat lain, Alleta mengadakan pertemuan singkat dengan pria misterius.
"Umpan yang kau lemparkan tidak dimakan oleh Jarvis!" ucap pria misterius kecewa dengan hasil tayangan langsung.
"Semua butuh proses, kau harus bersabar," ujar Alleta.
"Aku tidak bisa menemuimu sering-sering, Jarvis sepertinya mengirim orang untuk membuntuti dan mencari tahu tentang orang yang mendukungmu. Kalau aku salah bertindak, bisa akan ketahuan dan habislah kita."
Alleta terpaksa hanya mendengar satu arah omongan pria misterius, sebab waktu yang sedikit mengharuskan pria misterius cepat-cepat menjauh dari Alleta.
Floretta masuk ke dalam kamar bermain anaknya. Di sana ia memeluk mainan Dael dan Rosalie.
Keinginan bercerai terbentur dengan niat Jarvis yang akan memisahkannya dari ketiga anak-anaknya.
Ditambah lagi, jelas-jelas Jarvis mengatakan jangan menuntut kata cinta darinya. Apa begini cara Jarvis membalaskan dendam keterpaksaan menikahi Floretta?
Floretta tidak menyangka kalau perjalanan kisah pernikahannya menjadi sesakit ini.
Floretta merebahkan tubuhnya di playmate anak-anaknya, baru semalam dia dan Jarvis bersama-sama di ruangan ini. Namun, hari ini mereka kembali bertengkar hebat.
"Apa benar kata Jarvis kalau aku egois?" tanya Floretta pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dengan cepat Floretta menggelengkan kepalanya, menolak penilaian Jarvis. Jarvis pun juga egois menurut Floretta, mempertahankan istri yang nyatanya tidak ia cintai. Apa salahnya, melepaskan Floretta lalu meraih kebahagiaan masing-masing.