MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Menemui Dael dan Rosalie


__ADS_3

Sore usai berkantor, Jarvis singgah ke kediaman orang tuanya. Ia ingin mengunjungi anak-anaknya, rasa rindu telah menggelisah dalam dada, ingin segera berjumpa buah hatinya.


Sambutan dan pelukan Dael juga Rosalie membuat air mata seorang Jarvis yang keruh hati menitik di pipi. Semenjak kejadian Floretta di Kowabuda, Jarvis menjadi orang yang lebih mudah tersentuh oleh hal-hal berbau relasi personal.


"Mana ibu, Ayah?" Pertanyaan Rosalie membuat Jarvis terdiam dalam posisi telut di hadapan anak-anaknya. Dael menatap di belakang tubuh Jarvis, mana tahu ibunya akan memberi kejutan dengan kemunculannya tiba-tiba.


Menunggu beberapa lama, Floretta tidak kunjung datang. Rosalie sampai mencari ke pintu depan, memang sosok ibu mereka tidak ada sama sekali.


Rosalie kembali pada Jarvis meminta penjelasan.


"Ibu... belum bisa mengunjungi kalian." Raut kecewa begitu kentara pada paras keduanya. Kalimat Jarvis sulit diterima oleh Dael dan Rosalie, wajah penuh pikir terbit tanpa ulas senyum.


"Kenapa?"


"Ibu... ibu kalian sedang sakit dan butuh perawatan," jawab Jarvis tidak sepenuhnya berbohong. Jarvis merasa seolah-olah berada di hadapan persidangan.


"Ibu sakit apa?" cicit Rosalie dengan mata berkaca-kaca. "Aku merindukan ibu." Air matanya tumpah, Rosalie mengira dia akan memeluk ibunya, setelah sekian bulan terpisah jarak.


"Maafkan Ayah. Ke marilah peluk ayah," hibur Jarvis pada Rosalie. Ia merentangkan lengannya, Rosalie memeluk Jarvis. Jarvis mengusapi punggung putri satu-satunya itu.


Dael bergeming, kondisinya tidak jauh beda dengan Rosalie. Hanya saja Dael berusaha tegar dan tidak cengeng. Jarvis menatap putra sulungnya.


"Kau juga ingin dipeluk lagi?" Sontak Dael menghamburkan diri ke pelukan Jarvis kembali lalu turut menangis di sana.


"Anggap saja ini pelukan dari ibu, ya. Ibu kalian sedang perawatan agar pulih seperti sedia kala."


"Ibu... sakit apa, Ayah?" Dael yang terisak menanyakan lagi perihal penyakit ibunya.


Jarvis menghembuskan nafasnya, ia bingung harus menjelaskan gangguan psikologis yang menimpa Floretta.


"Maafkan ayah, karena ayahlah ibu kalian menjadi sakit."


Lagi-lagi Jarvis mengutarakan permohonan maaf yang sebenarnya tidak cukup untuk menebus kesalahannya.


Dael dan Rosalie melepaskan pelukan mereka. "Ayah melukai ibu?" tanya Rosalie heran, dia tidak yakin ayahnya yang gagah adalah seorang penjahat seperti di kartun gadis berkerudung merah.


"Ayah...," Jarvis sungguh harus memilih kata-kata yang tidak menyakiti perasaan anak-anaknya. "Ayah tidak sadar melukai ibu, jadi ayah harus bertanggungjawab membantu ibu untuk pulih sehingga kita bisa berkumpul kembali."


Dael dan Rosalie saling bertatapan. Keduanya tidak mengerti benar apa yang disampaikan oleh ayah mereka. Namun, mendengar bahwa ayahnya membantu ibu mereka untuk pulih, hati keduanya menjadi lega.


Jarvis juga menanti respon anak-anaknya. Bisa saja mereka tidak terima kalau ibu yang dicintai malah terluka dan kini sakit.


"Kapankah kami bisa bertemu ibu?"


Ternyata keduanya tidak marah dengan amukan pada Jarvis. Hanya saja, pertanyaan itu membuat Jarvis tidak tahu harus menjawab apa.


Jarvis mencoba untuk memberi pengertian lebih tentang kondisi Floretta tanpa harus menceritakan detail masalahnya.

__ADS_1


"Setelah ibu melalui proses penyembuhan dan dinyatakan sehat, secepatnya kalian akanĀ  bertemu ibu." Jarvis menanggapi dengan senyum optimis, agar Dael dan Rosalie tidak patah arang.


Usai bercakap-cakap, Jarvis mengajak anak-anaknya bermain bersama di ruang yang disediakan Stephanie untuk tempat bermain anak cucunya.


Dael dan Rosalie berubah menjadi anak yang ceria kembali dengan permainan mereka. Jarvis memutuskan untuk pergi mencari ibunya. Dia perlu menceritakan kondisi Floretta dan meminta bantuannya.


Sewaktu Jarvis keluar ruang bermain, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Jadden.


"Apa yang ku dengar dari mama apakah benar, kau membuat istrimu celaka sampai melahirkan secara prematur?" Jarvis yang sedang ingin ketenangan tidak menggubris ucapan Jadden.


"Aku ingin ke sana, tetapi mama mencegahku. Bagaimanapun juga Floretta pernah menjadi teman dekatku di masa lalu." Jadden terus mengucapkan perkataan yang bagi Jarvis tidak penting sama sekali.


Melihat Jarvis tanpa bantahan dan perlawanan, timbul ide Jadden untuk menghajar adiknya secara verbal.


"Suami macam apa yang diam-diam menemui anak mantan kekasih sementara dia pergi berlibur bersama istri dan anak-anaknya? Walaupun kau telah memberi penjelasan di publik, tetap saja sikapmu salah." Tanpa sadar tangan Jarvis terkepal di samping tubuhnya.


"Kalau kau tidak mampu menjadi seorang suami, seharusnya kau lepaskan Floretta agar dia bahagia."


Jarvis memandang rupa Jadden yang menyebalkan, sesaat kemudian dia menghujamkan bogem ke arah bibir Jadden.


Untungnya, Jadden dengan sigap mengelak sehingga Jarvis hanya meninju angin.


Masalahnya, Jarvis yang dilanda lelah menghadapi permasalahan istri dan anakya naik pitam dan ingin melampiaskannya pada Jadden yang bermulut ribut.


Jadden merasa senang dapat memantik emosi Jarvis. Secara sadar Jadden menangkal serangan Jarvis, sementara Jarvis sendiri dililit emosi marah yang besar.


"Floretta tidak pantas untukmu!" Jadden benar-benar membuat Jarvis ingin menghajarnya secara brutal. Elakan Jadden membuat mereka hanya berkeliling seperti pemain seni beladiri yang siap bertarung.


Jarvis melayangkan kembali tinjuannya ke tubuh Jadden. Kali ini, Jarvis dapat menjangkau areal wajah Jadden. Jarvis tersenyum bisa mengenai sedikit wajah Jadden.


"Hentikan!" teriak seseorang dari arah samping. Keduanya menatap sumber suara, di sana ada ayah dan ibu mereka dengan raut dingin.


"Setiap kali bertemu, apakah harus dengan kekerasan fisik?" tanya Jarish dari kursi rodanya. Sementara itu, rupa sedih ditunjukkan oleh Stephanie melihat kedua keturunan Meyer saling baku hantam.


"Jadden kau pergilah, Jarvis kau ikut kami. Kita perlu bicara." Stephanie mendorong kursi roda Jarish menjauh dari keduanya.


Sebelum pergi Jadden melontarkan kata-kata sengit. "Pria yang menyakiti istri sendiri pantas disebut sebagai pengecut." Jadden gegas melangkah pergi meninggalkan Jarvis yang menatap tajam punggungnya dengan aura negatif.


Jarvis memenuhi perintah ayahnya. Sebelumnya di Kowabuda, Jarvis telah menghubungi Stephanie untuk mengajak bertemu untuk menceritakan kondisi terbaru Floretta.


"Duduklah," ucap Jarish, Stephanie ada di sampingnya.


Saat Jarvis akan menceritakan tentang Floretta, Stephanie cepat angkat bicara.


"Kau telah siap menceraikan Floretta?" Bercampur aduk perasaan Stephanie mengingat pernikahan Jarvis dan Floretta.


Jarish menggenggam tangan Stephanie lalu memandangnya, dia merasa Stephanie terlalu terbawa emosi, sampai-sampai belum menanyakan kabar putra mereka.

__ADS_1


Jarvis yang belum reda marahnya karena ucapan Jadden, mencengkram lututnya sendiri.


"Apa perceraianku yang ingin kalian bahas?" Jarvis merasa tidak perlu bersikap sopan pada orang tuanya saat ini.


"Jarvis, bukan begitu maksud ibumu. Tenangkan dirimu." Jarish tidak ingin ada keributan lagi di rumahnya.


"Lalu?"


Baik Jarish maupun Stephanie bergeming menatap raut putra mereka yang diliputi amarah. Jadden telah lebih dulu membajak pembicaraan, Jarish menyesalinya.


"Aku memang bukan suami yang baik untuk Floretta. Dan juga bukan ayah yang baik untuk anak-anakku, tetapi tidak seharusnya kalian membicarakan perceraian di saat aku membutuhkan bantuan kalian untuk mempertahankan pernikahanku."


Mata Jarvis berkaca-kaca memandang kedua orang tuanya.


"Pernikahan kalian terpaksa, Jarvis. Meskipun Floretta yang memaksakan pernikahan ini, nyatanya dialah yang menderita." Stephanie ingin mengungkit kisah lama.


Lagi-lagi Jarish mencengkram lebih erat jemari istrinya, Stephanie tidak nyaman lalu menghempas tangan Jarish.


"Jangan cegah aku untuk mengatakan kalau anak kita ini salah, Jarish. Floretta telah dibuatnya menderita dari awal pernikahan tanpa kita tahu sama sekali. Apa kita mau melihat Floretta meregang nyawa karena begitu menderita?" Stephanie mulai menunjukkan rasa keberatan pada Jarish yang terlihat mengulur-ulur waktu.


Jarvis berdecak kencang lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Mengapa kalian semua yang menjadi repot akan pernikahanku?


"Mama ini seorang perempuan Jarvis, jadi tahu penderitaan berat Floretta. Tidak sepantasnya kau meneruskan pernikahan tanpa cinta untuk Floretta."


Stephanie mengeluarkan isi hatinya.


Jarvis tertawa sumbang sembari menatap ke arah lain.


"Jangan dipikir aku tidak tahu bagaimana dulu mama dan papa memiliki hubungan di saat ibunya Jadden masih hidup."


"Cukup, Jarvis!!" teriak Jarish dengan tangan mengepal di atas pahanya.


Jarish terlihat menahan marah. "Kau tidak tahu apa-apa tentang masa lalu itu, kabar yang kau dengar tidaklah benar. Tapi, papa tidak ingin membahas mengenai hal itu sekarang."


"Lalu, mengapa kalian mengurusi pernikahanku tanpa bertanya bagaimana perasaanku pada Floretta setelah sembilan tahun menikah!?"


"Aku tidak punya banyak waktu di sini. Aku ingin mengabarkan kalau Floretta mengalami gangguan psikologis, diagnosis kepribadian ganda. Dan dia harus sembuh."


"Floretta tidak memiliki siapa-siapa lagi di muka bumi ini, kakaknya pun tidak mempedulikannya selama ini."


"Bila kalian masih terus mendorong kami bercerai, lalu siapa yang akan mendampingi pemulihannya? Jangan karena ketidaksukaan papa dan mama padaku, membuat Floretta semakin terpuruk dan menderita."


"Jadi, biarkan aku membantunya untuk pulih meskipun membutuhkan waktu berpuluh tahun sekali pun, aku akan bertanggung jawab. Jangan pernah mencampuri pernikahanku lagi!"


Jarvis berdiri lalu melangkah keluar ruangan tanpa mendengar respon orang tuanya. Jarvis meninggalkan Jarish dan Stephanie yang terpaku mendengar kabar buruk dari putra mereka mengenai kondisi Floretta.

__ADS_1


__ADS_2