
Semenjak Floretta kembali pulang, ia telah melakukan beberapa kali terapi bersama Jarvis. Terapi mereka tidak dilakukan oleh David, melainkan oleh terapis di rumah sakit yang sama.
Jarvis dan Floretta mengikuti terapi keluarga sistemik untuk melihat bagaimana proses mereka dalam pernikahan, dampak apa yang terjadi dari perlakuan yang diberi sekaligus diterima, hingga perubahan apa yang terjadi seiring waktu dalam hidup berkeluarga.
Terapis nantinya rutin mengirimkan hasil perkembangan dari setiap kali terapi pada David.
Selain itu, Floretta juga diharuskan mengonsumsi obat-obatan dari David.
Selama sesi terapi kepribadian Edith yang muncul. Floretta inti dan Dolly seakan-akan tertidur.
Jarvis mulai merasa hidupnya lebih tenang semenjak terapi dilakukan, meskipun dia tidak bisa menjamin jika split kepribadian apakah Floretta masih dengan emosi yang meledak-ledak.
Ketiga putra dan putri Floretta masih dititipkan pada Stephanie. Dia tidak terlalu memikirkan keadaan anaknya, mungkin karena Edith tidak terlalu merasa terkoneksi sebagai seorang ibu.
Siang menjelang sore, Floretta yang tinggal sendirian sedang menikmati keindahan taman bunganya. Pakaian dengan leher rendah dan celana di atas lutut dengan wajah dipoles riasan tipis menambah kecantikan Floretta.
Rambut pendek Floretta telah melebihi batas pundaknya, sesekali ia mengibas rambut ke belakang.
Rayya sedang tidak berada di rumah menemani Floretta, ia ditugaskan untuk membeli obat-obatan Floretta di apotik yang hampir habis persediaan di kotak obat.
Seseorang mengamati Floretta dengan tatapan berkabut dan tajam. Floretta tidak menyadari kalau sedang diperhatikan oleh orang lain dari jarak beberapa meter.
Floretta berhasil memetik beberapa tangkai bunga, ia akan mengisi vas yang telah kosong di kamarnya. Jenis mawar, anggrek, aster, dan krisan terdapat dalam taman bunga di kediaman Jarvis.
Floretta membawa bunga-bunganya ke dalam rumah lalu dirangkai dalam vas yang telah disiapkannya.
"Cantik sekali bunganya, Nyonya."
Floretta terkejut mendapati Walden ada di belakang dekat lemari hiasan. Floretta menepuk-nepuk dadanya.
"Walden, kau mengaggetkanku saja. Iya, bunga ini sangat indah."
"Sama seperti pemiliknya, Nyonya."
Kalimat Walden berhasil membuat hati Floretta menghangat. Floretta tertawa lepas, ekspresinya menunjukkan seperti orang yang jarang dipuji.
"Terima kasih untuk pujianmu, Walden."
Floretta telah selesai merangkai bunganya, saat ia ingin melangkah ke dalam kamarnya, Walden telah menyiapkan satu permintaan pada Floretta.
"Maaf, Nyonya. Apakah saya boleh menawarkan sesuatu pada Nyonya?"
Floretta menoleh pada Walden lalu meletakkan kembali vas di meja ruang tengah dekat taman bunga.
"Katakanlah."
"Saya ingin mengajak Nyonya hari ini untuk menikmati taman bunga yang baru saja dibuka di sebuah pusat perbelanjaan baru," bujuk Walden. "Di sana juga ada pameran riasan produk kosmetik dari brand lokal. Bisa jadi... produk perusahaan Tuan Jarvis juga dipamerkan di sana. Mungkin nyonya perlu sesekali refreshing."
Walden mengetahui kalau tuan dan nyonyanya sering bolak-balik rumah sakit, meski tidak tahu untuk keperluan apa. Walden hanya tahu kalau Floretta mengalami perubahan besar dalam dirinya, ia semakin ceria, walaupun sebelum-sebelumnya pernah mengalami lonjakan emosi.
Mendengar ajakan Walden yang sangat menarik, Floretta berpikir menerima ajakan itu.
__ADS_1
"Ya, aku sudah lama sekali tidak menikmati keadaan luar rumah, apalagi pusat perbelanjaan. Tawaranmu sepertinya menarik," nilai Floretta dengan ekspresi ceria. "Tunggulah sebentar."
Walden tersenyum, ia melepas langkah Floretta menuju kamar pribadinya sambil membawa vas berisi rangkaian bunga.
Floretta keluar dengan penampilan yang terlihat muda, mengenakan casual dress midi perpaduan warna oranye dan kuning pucat, menenteng tas tangan mungil keluaran brand terkemuka di negara Filaneey.
Dari kejauhan Gaby melihat Walden dan Floretta memasuki kendaraan dan melaju keluar dari gerbang utama.
Bersamaan dengan itu, Rayya tiba di kediaman Jarvis. Rayya masuk dan langsung mencari keberadaan Floretta.
Beberapa kali mengetuk pintu kamar, tidak ada sahutan dari dalam.
Gaby mendekati Rayya lalu bertanya, "Bukannya kau tahu kalau Nyonya pergi bersama Walden?"
Rayya mengernyitkan keningnya kemudian menggeleng.
"Nyonya tidak mengatakan apapun tadi padaku, nyonya meminta membelikan obat-obatan."
"Kemana mereka pergi?" tanya Rayya gundah.
"Aku pikir kau tahu, aku hanya melihat dari dapur kalau mereka keluar."
Rayya risau mendengarnya, Jarvis selalu berpesan kalau Floretta pergi keluar rumah, Rayya wajib ikut serta.
"Bagaimana aku annti yang menjawab keberadaan nyonya pada tuan Jarvis?" Wajah Rayya memucat.
Di sebuah pusat perbelanjaan, Floretta mengitari taman bunga yang didesain khusus untuk menarik minat pengunjung datang ke sana. Floretta sangat senang melihat bunga-bunga dengan banyak jenis.
Walden merasa senang melihat keceriaan Floretta. Dia merasa kalau Floretta nyaman bersamanya, meskipun pekerjaannya sebagai pengemudi keluarga Jarvis.
"Walden, bagaimana kalau kita ke pameran kosmetik yang kau katakan tadi?" Ada satu setengah hingga dua jam Floretta menghabiskan waktu di taman bunga.
Sementara itu, Walden agak tergagap menjawabnya. "Nyonya, izinkan saya membawakan bunga dan bibitnya." Walden berusaha mengalihkan pembicaraan.
Floretta menyerahkan tas berisi bunga dan bibit pada Walden.
"Saya akan menaruh di mobil."
Floretta merasa heran pada Walden, dia tidak menyuruh Walden ke mobil.
"Nanti saja, ayo kita ke pameran kosmetik." Floretta bersikeras meminta janji Walden yang akan membawanya ke spot pameran.
Kegelisahan Walden dapat dirasakan oleh Floretta. Namun, dalam sekejap Walden mampu mengubah raut wajahnya.
"Nyonya, maaf, pameran kosmetik itu ternyata dibuka esok hari," ucap Walden berbohong. "Sekarang kalau Nyonya bersedia, saya akan membawa Nyonya berkeliling kota."
Floretta memandang Walden yang terlihat aneh, tetapi Floretta tidak tahu alasannya.
"Besok? Dari mana kau tahu? Sedari tadi kau bersamaku, lagipula aku tidak berminat keliling kota."
Balasan Walden tersendat di udara, pameran kosmetik itu hanyalah karangannya belaka. Dia pikir dengan mengatakan jadwal pameran berganti esok hari Floretta akan terima tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
"Saya --"
"Sudahlah Walden lebih baik kita pulang saja," tampik Floretta lalu berjalan sendirian ke parkiran kendaraan.
Walden mengikuti dari belakang, dia sempat mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya.
Saat Walden telah membuka pintu kendaraan, Floretta masuk dengan suasana hati kurang senang. Keinginannya untuk memburu kosmetik pupus karena Walden tidak menepati janjinya, justru mencari alasan lain.
Walden melajukan kendaraan di tengah kota yang mulai terang dengan lampu sorot kendaraan dan pencahayaan gedung di pinggirnya.
Floretta melihat kalau Walden melajukan kendaraan tanpa membelok menuju kediaman Jarvis.
"Walden, kau salah jalan. Putar balik!" ketus Floretta nafasnya mulai sesak seperti ada yang ingin keluar dari dalam dirinya.
"Temani saya ke suatu tempat, Nyonya."
Floretta tidak terima dengan bantahan Walden. "Kau lancang Walden," teriak Floretta dengan tangan mengepal dan gemetar.
Mendadak Walden menghentikan kendaraan, ia mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya kemudian gegas menutup hidung Floretta.
Rayya gelisah di teras rumah besar karena Floretta belum pulang hingga tiba jam makan malam. Kekhawatirannya tentang Walden seakan-akan benar, meskipun belum tentu itu terjadi. Rayya telah menyiapkan berondong ucapan pedas untuk Walden yang tidak memberi kabar kalau membawa nyonya rumah mereka.
Rayya berulang kali menghubungi nomor ponsel Floretta dan Walden, sayangnya tidak diangkat oleh keduanya.
"Apa sudah dapat informasi keberadaan nyonya dan Walden?" Gaby bertanya pada Rayya. Gaby telah menyiapkan makan malam yang mulai dingin.
"Belum."
Bersamaan dengan itu sebuah kendaraan memasuki pekarangan, Rayya memucat sebab yang datang bukanlah kendaraan Floretta melainkan Jarvis.
Jarvis turun dari kendaraannya, ia melihat Rayya dan Gaby berdiri di depan teras seperti menyambut kepulangannya. Kening Jarvis mengerut bertanya-tanya dalam hati.
"Maaf Tuan, maafkan saya... nyonya Floretta tadi sore pergi dan belum kembali hingga kini." Rayya membungkuk tidak mampu menatap Jarvis.
Jarvis meradang mendengarnya. "Lalu mengapa kau ada di sini? Tugasmu mendampingi nyonya Floretta."
Rayya menceritakan kejadian siang mengapa dia tidak bisa menemani nyonyanya.
Selang beberapa waktu, Jarvis mendapat panggilan dari orang kepercayaannya yang dulu berhasil menemukan keberadaan anak Alleta di Kowabuda.
"Tuan, saya ingin mengabarkan dari orang dalam Filaneey Polis kalau Alleta tidak mati bunuh diri melainkan dibunuh. Dan pelakunya adalah pengemudi keluarga Anda sendiri, Walden. Anda harus berhati-hati, Tuan."
"Filaneey Polis sedang bergerak mencari Walden, mungkin Anda dan pekerja Anda perlu jaga jarak dari Walden agar tidak terjadi halangan dalam penangkapan Walden."
Jarvis menelan ludahnya, ia tidak menyangka kalau Walden orang yang membunuh Alleta. Namun, untuk alasan apa?
Setelah laporan selesai, panggilan diputus oleh Jarvis. Ia menatap Gaby dan Rayya. "Di mana Walden?"
"Bersama nyonya Floretta, Tuan?"
"Brengsek!!" maki Jarvis kuat sembari mengepalkan tangan membuat Gaby dan Rayya ketakutan. Tidak jauh dari mereka berdiri Kazem yang mematung terkejut tidak mengerti dengan kemarahan Jarvis.
__ADS_1