
Jadden mengunjungi rumah sakit tempat Floretta dirawat. Ia datang bersama Stephanie yang khawatir begitu mendengar Floretta dilarikan ke rumah sakit dari pelayan di rumah Jarvis.
Hal mengerikan yang didengar Stephanie dari pelayan yang menangani Floretta sewaktu di dalam kamar, Gaby, adalah percobaan bunuh diri yang syukurnya gagal dilakukan.
Sepanjang perjalanan Stephanie terus-terusan meminta agar Jadden melarikan mobilnya dengan kecepatan lebih.
"Ini sudah kencang, Mama. Kita bisa celaka bila lebih kencang lagi." Begitulah Jadden menenangkan mamanya di perjalanan tadi.
Begitu sampai di lobi rumah sakit, Stephanie secepatnya keluar mobil lalu berjalan tergesa-gesa menuju ke resepsionis untuk menanyakan kamar rawat inap Floretta. Ia berlari menuju ruangan yang dituju tanpa menunggu putra pertama Meyer, Stephanie terlalu diserang panik.
Sesampainya di depan kamar rawat, Walden membungkuk sebagai tanda hormat pada Stephanie. Walden membukakan pintu dan membiarkan Stephanie masuk.
Stephanie iba hati begitu melihat kondisi Floretta yang terbaring dibantu alat medis di pergelangan tangannya.
Cerita Gaby di kediaman Floretta membuat Stephanie sedih, dirinya juga belum mengetahui mengapa menantu satu-satunya keluarga mereka memutuskan niat mengakhiri hidup.
Sebagai seorang perempuan dan ibu yang memiliki anak tiga, Stephanie mampu menemukan ada gurat lelah dan cemas di wajah Floretta yang kini hanya diam berbaring.
Stephanie terisak sendiri di kamar rawat menantunya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak bersuara dengan membekap mulut menggunakan sebelah tangan. Sementara tangan lainnya mengusap perut Floretta yang ditutupi selimut.
Selama sembilan tahun pernikahan Jarvis dan Floretta, Stephanie memang tidak pernah melihat keduanya bertengkar hebat atau Floretta menceritakan kesulitan dan atau keburukan putranya. Floretta selalu menunjukkan keceriaan sehingga Stephanie berpikir kalau Floretta hidup bahagia selama ini.
Stephanie senang saat mendengar Floretta kembali mengandung keturunan Meyer di saat pemberitaan menyudutkan Jarvis, meskipun media tidak menuduh langsung.
Semakinlah Stephanie paham sepertinya rumah tangga Jarvis benar-benar terancam perceraian bila motivasi percobaan bunuh diri Floretta ada kaitannya dengan Jarvis. Stephanie tahu kalau kekuatan dan kelemahan Floretta tertaut pada Jarvis.
Stephanie juga tahu bagaimana dulu usaha intens Floretta meluluhkan hati Jarvis. Itulah sebabnya Stephanie menjadi manusia garang kepada Jarvis sewaktu mendapat laporan perselingkuhan putra keduanya itu.
Mengapa akhir-akhir ini kejadian buruk menimpa keluarga Meyer? masgyul batin Stephanie.
__ADS_1
"Mungkin saat ini hatimu sedang kepayahan. Tetapi, apapun yang terjadi semoga kau berusaha kuat ya, Flo," bisik Stephanie sebagai kalimat terakhirnya. Ia menyentuh tangan Floretta yang bebas dari infus.
Stephanie kembali terisak-isak, kalau Floretta bercerai dengan Jarvis belum tentu ia akan mendapatkan menantu setulus Floretta dalam mengurus rumah tangga dan kewajiban lain sebagai anggota keluarga Meyer.
Stephanie berjalan gontai keluar ruangan. Jadden tertegun melihat wajah Stephanie yang berurai air mata. Sontak ia memeluk ibu sambungnya yang terlihat begitu sedih.
Jadden tidak menyangka kalau keadaan Floretta mampu sebegitu kuat mempengaruhi emosi seorang Stephanie yang dikenal sebagai perempuan tangguh di masanya. Stephanie banyak mengalami perubahan, nilai Jadden.
"Apa yang terjadi Walden?" tanya Stephanie dalam rangkulan Jadden. Walden dan Jadden saling bertatapan, hal itulah tadi yang mereka bicarakan. Jadden menganggukkan kepalanya dalam arti diperbolehkan menceritakan kejadian sebenarnya.
"Izin Nyonya, tadi Tuan Jarvis sebelum pergi memeriksa ponsel Nyonya Floretta dan mendadak marah besar. Hal itu terjadi setelah saya melaporkan bahwa Nona Alleta Nicoline memberi pernyataan terbaru di media milik Nona Brigitta Adams," terang Walden.
Stephanie mengurai rangkulan Jadden, ia tegakkan tubuhnya untuk mendengar info lebih lanjut.
Begitu mendengar penuturan Walden, Stephanie terkejut bukan kepalang. Memiliki anak di luar pernikahan adalah kejadian memalukan yang menimpa keluarga dari kalangan manapun di negara Filaneey, setelah perselingkuhan.
"Kau menuduhku memiliki anak denganmu. Itu tidak benar!!" teriak Jarvis di sebuah kamar hotel. Di sana ada Jarvis, Alleta, dan berdiri jauh dekat pintu asisten sekaligus sopir Jarvis.
"Tidak benar? Dari mana kau tahu, akulah yang melahirkannya," tantang Alleta menatap nyalang Jarvis.
"Berapa uang yang kau butuhkan, sebutkan! Setelah itu, pergilah menjauh dengan putrimu dari hidupku selama-lamanya!"
Alleta tertawa renyah mendengar perintah Jarvis. Sebelumnya uang memang alasan kuat Alleta untuk melakukan pengakuan di depan publik. Ia ingin memeras Jarvis, bila perlu mengulang kembali kisah perselingkuhan mereka.
"Aku tidak membutuhkan uangmu lagi," ucapnya tenang. Namun, kini Alleta mengubah jalan pikirannya.
Alleta semakin hari semakin tenar, meskipun dengan jalur hujatan dari warga internet. Setidaknya uang juga turut mengalir ke rekeningnya, belum lagi transferan dari pria misterius baru saja masuk dalam jumlah cukup besar.
Alleta telah siap dengan resiko memiliki pembenci karena dirinya menguak fakta pernah menjadi perebut suami perempuan lain sebab demikianlah kenyataan hidupnya.
__ADS_1
Hal yang penting bagi Alleta, putrinya tidak akan lagi mengalami penundaan dalam penanganan medis hanya karena keterbatasan biaya.
"Jangan munafik!" sembur Jarvis. "Sebutkan angkanya, aku akan transfer saat kau benar-benar sudah pergi dari negara ini."
Kembali terdengar tawa terbahak Alleta.
"Apakah telingamu kurang mendengar Jarvis? Aku tidak tertarik dengan uangmu. Kunjungilah putrimu yang sedang berjuang, jangan mengelak."
"Dia bukan putriku, aku tahu siapa kau Alleta!" sembur Jarvis muak terhadap perempuan yang terlalu banyak memainkan drama.
Alleta mendengkus agar Jarvis semakin kesal padanya. "Semua orang percaya padaku Jarvis, aku menunjukkan hasil DNA Paternitas putriku yang identik denganmu," ucapnya tenang menaruh sebuah map coklat di atas meja berisikan kopian hasil tes DNA Paternitas.
Jarvis mengabaikan bahkan tidak menyentuh map itu sama sekali. Ia tidak percaya kalau dirinya memiliki anak selain dari Floretta.
"Kita memang pernah berselingkuh, tetapi aku tidak bodoh untuk memiliki anak bersamamu! Aku akan membuktikan kalau kau merekayasa semuanya," peringat Jarvis sambil menunjuk-nunjuk paras ayu Alleta.
Alleta tertawa sampai sudut matanya berair. "Lalu kau akan mengumumkan hasil pembuktianmu ke publik Jarvis? Ooh... aku akan sangat berterima kasih untuk itu," jawab Alleta tak gentar sembari bertepuk tangan kencang.
"Istrimu akan semakin yakin untuk menceraikan pria sepertimu, bukan?"
Kekesalan Jarvis memuncak sampai ke ubun-ubun, telinganya terasa panas mendengar tawa mengejek perempuan dengan pakaian minim yang selalu menunjukkan sisi tubuh. Rahang Jarvis mengatup kuat menandakan api amarah siap meledak.
Negara itu sangat menghargai kebebasan berpakaian bagi setiap perempuan. Namun, tampil terbuka biasanya hanya untuk kalangan artis yang sedang menunaikan tugas keaktrisannya.
Tubuh yang menegang dengan kepalan tangan sebagai bentuk kegeraman membuat Jarvis tidak terkendali, ia meraih senjata api yang tersimpan di balik jas tepat di pinggang belakangnya.
Senjata itu dibidik Jarvis ke arah kepala Alleta yang mendadak kaku melihat keseriusan Jarvis ingin menghabisi nyawanya. "Kau terlalu banyak bicara. Matilah kau bersama kebohonganmu, Alleta!" teriak Jarvis dengan mata memerah.
"Tuaan!"
__ADS_1