
Jarvis menunduk dengan wajah murung. Sudah 30 menit dirinya menunggu di luar kamar rawat Floretta.
Tidak lama kemudian, Stephanie dan Jadden akhirnya keluar. Jarvis langsung berdiri menyambut mereka.
"Sebaiknya kau pulang saja Jarvis, Floretta belum mau menemuimu," ucap Stephanie dengan sisa mata dan hidung memerah.
"Aku ingin menjelaskan --"
"Jangan bertindak egois, Jarvis." Jadden memotong perkataannya.
Sorot tajam dilempar Jarvis pada Jadden. "Ini bukan urusanmu," timpal Jarvis tidak suka.
"Ini juga urusan Jadden, Jarvis. Ini sudah menjadi urusan semua anggota keluarga Meyer karena menyangkut nyawa dua orang, Floretta dan calon bayinya." Stephanie meneruskan maksudnya dengan ucapan peringatan.
Mata Jarvis memelotot. "Mama, aku suaminya. Kami akan menyelesaikannya berdua dengan Floretta." Jarvis mendadak memaksa masuk, tetapi dihalangi oleh Jadden.
Belum pintu terbuka, Maureen datang bersama dengan dua orang perawat dalam rangka kontrol pasien rutin.
"Maaf, kenapa ada keributan? Akan mengganggu pasien-pasien," tegur Maureen berani dengan suara terkendali.
Jarvis menghentikan gerakannya. "Floretta sudah sadar, aku ingin masuk." Jarvis menjawab dengan kalimat lain.
Jadden menceritakan sedikit masalah yang terjadi tadi pada Maureen. Perempuan itu menepuk pundak temannya dengan rasa iba.
"Maaf Jarvis, kau memang suaminya. Namun, bila pasien menolak kehadiran seseorang, kita perlu menghargainya demi kemajuan kesehatan pasien."
Pundak Jarvis meluruh, benar-benar merasa tidak ada yang mendukungnya, termasuk temannya, Maureen.
"Permisi, kami akan memeriksa pasien," pamit Maureen masuk.
Stephanie dipapah oleh Jadden ke tempat duduk penunggu di depan kamar rawat. Di sana mereka berdua mengobrol, seolah-olah tidak ada Jarvis.
Jarvis mendadak merasa sendiri dan semua orang memusuhi dirinya, padahal Jarvis sebenarnya tidak ingin kejadian ini terjadi. Hari ini sampai ia akan membunuh Alleta demi membungkam mulut perempuan itu.
"Tuan, mari saya antarkan," ucap Kazem.
Jarvis menghela nafas panjang, Kazem saja yang masih mau menerima dirinya.
Tanpa berpamitan Jarvis meninggalkan ruang rawat Floretta. Langkah gontainya terlihat seperti atlit yang kalah bertanding.
__ADS_1
"Antarkan ke Heli Bar, Kazem," pinta Jarvis setelah masuk ke dalam kendaraan roda empatnya.
Kazem tahu kalau Jarvis sudah lama tidak menginjakkan kaki di tempat hiburan semacam itu. Sudah beberapa tahun ini Jarvis sibuk dengan pekerjaan, sehingga setelah bekerja ia biasanya akan langsung kembali pulang.
"Izin Tuan, apakah tidak sebaiknya kita pulang?" tanya Kazem sekaligus sebagai saran.
"Aku butuh hiburan, Kazem. Tidak seorang pun mendukungku, aku hanya ingin minum, bukan hal lain," sanggahnya.
Kazem melihat Jarvis dari kaca spion dalam. Dirinya merasa kasihan dengan keadaan Jarvis yang berat. Namun, Kazem tidak bisa membantah, ia melajukan kendaraan ke Heli Bar sesuai perintah.
Jarvis mengambil ponselnya, ia menghubungi seseorang untuk datang ke Heli Bar saat itu juga.
Di kediaman Jarvis, Dael dan Rosalie merengek meminta ibu dan ayahnya pada Rayya. Asisten Floretta itu bingung untuk menceritakan ada masalah yang menimpa ibu dan ayah mereka.
Stephanie tadi meminta agar tidak diceritakan apapun pada anak-anak selama Floretta berada di rumah sakit. Rayya sungkan untuk membantah, tetapi tidak tahu cara membohongi dua bocah kecil di hadapannya.
"Gaby, tolong... apa yang harus dikatakan?" bisiknya pada Gaby.
Gaby mengamati Dael dan Rosalie yang telah berlinang air mata. Dirinya berempati pada apa yang dirasakan oleh anak-anak itu. Mereka pasti bingung, ibunya pernah tidak pulang, malam ini juga tidak pulang.
Gaby menyamakan tingginya dengan Dael dan Rosalie. "Anak-anak hari ini sudah malam, saatnya kalian makan malam. Memang tanpa ayah dan ibu, sebab... ayah dan ibu sedang ada tugas perusahaan keluar kota," ucap Gaby menerangkan.
Gaby tidak tega juga sebenarnya untuk membohongi mereka, dengan menceritakan kebenaran pun Dael dan Rosalie belum mengerti.
"Kita lihat perkembangan besok ya, Dael. Sekarang ajaklah Rosalie makan bersama. Kalian harus sehat supaya nanti bisa berlibur bersama ayah dan ibu." Gaby menerangkan dengan sabar dan penuh kehati-hatian.
Dael mengangguk, ia mengusap air mata yang berlinang. Mendengar kata berlibur, hatinya menghangat. Dael senang sekali jalan-jalan karena bisa melihat banyak pemandangan luar.
"Ros, mari kita makan. Kita harus sehat. Besok kita akan menghubungi ayah dan ibu." Dael membujuk adiknya, ia menghapus air mata yang membasahi pipi Rosalie.
Gaby, Rayya, dan dua pengasuh yang menyaksikan sikap Dael terhadap Rosalie justru saling berpelukan terharu. Dael sungguh dapat diandalkan menjadi seorang kakak laki-laki untuk Rosalie.
Jarvis duduk di bangku bar dan telah menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol. Dirinya menawarkan Kazem minuman yang sama, tetapi pria paruh baya itu menolak.
Kazem fokus untuk mengamati dan melindungi Jarvis dari ancaman pihak lain. Kazem pun menyimpan senjata api di belakang tubuhnya yang bisa digunakan sewaktu-waktu bila terdesak.
Bila digunakan sembarangan, hukuman seumur hidup dipastikan akan menjadi hadiah terburuk dari pengadilan.
Di Filaneey, kecuali penegak hukum, orang-orang boleh memiliki senjata api dengan registrasi yang ketat. Harga senjata api juga dibandrol dengan sangat mahal setara harga kendaraan roda empat sehingga yang memilikinya adalah kalangan orang-orang yang benar kaya raya.
__ADS_1
Seorang pria berjaket hitam datang melangkah mendekati Jarvis.
"Tuan, ada yang sepertinya mendekati Tuan," lapor Kazem melihat tatapan pria itu lurus ke Jarvis.
"Ya, Kazem... aku ada janji dengannya."
Kazem menurunkan tangannya dari belakang punggungnya.
Pria itu duduk bersebelahan dengan Jarvis. Bartender menyuguhkan minuman untuknya lalu melayani tamu lain.
"Ada apa kau mencariku?" tanya pria itu lalu meneguk minuman alkoholnya.
"Cari tahu tentang perempuan ini dan pria ini." Jarvis menunjukkan foto dari ponselnya. Pria itu terdiam sejenak memperhatikan sosok yang ada di layar.
"Kirimkan saja ke ponselku," ucap si pria.
"Apa data yang ingin kau ketahui tentang perempuan itu?"
"Akan aku kirimkan detailnya juga ke ponselmu, Loban. Perempuan ini sedang mencoba mengancamku. Temukan apakah keduanya saling bekerja sama?" perintah Jarvis.
Setelahnya saling diam, menikmati minuman masing-masing.
"Aku mengerti. Masih ada tugas, aku pamit." Pria yang dipanggil Loban oleh Jarvis itu meninggalkan meja bar dan menghilang di pintu.
Jarvis memegang bibir gelas dan memutar telunjuknya di sana.
"Apakah caraku ini akan menemukan jawabannya, Kazem?"
"Strategi yang baik, Tuan." Kazem memberi tanggapan lalu membungkukkan tubuhnya.
"Mari kita pulang," ajaknya pada Kazem.
Sewaktu Jarvis berdiri lalu membalik tubuhnya, ia melihat seseorang yang dikenalnya melintas cepat ke arah belakang bar. Jarvis menutup matanya lalu menggeleng dengan cepat. Ia tidak yakin orang itu dikenalnya sebab saat membuka mata ia tidak menemukan sosok itu lagi.
"Kazem, apakah baru saja kau melihat Walden?"
Kazem menoleh pada Jarvis dengan kernyitan di kening.
"Izin Tuan, saya tidak melihat."
__ADS_1
Jarvis menganggukan kepalanya, dirinya percaya pada Kazem. Jarvis merasa salah mengenali, mungkin karena terlalu banyak minum dan lelah dengan masalah hidupnya.