MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Khawatir


__ADS_3

Kondisi Floretta semakin membaik paska keluar dari rumah sakit. Hanya saja, Floretta lebih mudah lelah bila beraktivitas.


Floretta merenung di balkon kamar sembari menikmati pemandangan taman bunga. Keinginannya untuk menjadi seorang vlogger tampaknya harus dipertimbangkan ulang.


Floretta tidak mau bila profesi barunya berhenti di tengah jalan hanya gara-gara kelelahan.


Floretta mengusap pelan perutnya dan mengucapkan kata maaf berkali-kali. Floretta juga mencurahkan isi hatinya pada angin yang berhembus perlahan menerpa wajahnya.


"Angin, aku ingin melepasnya, mengapa serumit ini?"


"Sampaikan padanya kesakitan darinya selalu ku tanggung, kini aku hanya ingin bebas dari rasa sakit, meskipun aku masih sangat menyayanginya. Mungkin dengan jalan perpisahan, kami akan sama-sama bahagia."


Floretta diam lalu menarik nafas panjang dan dalam. Nafasnya bergetar, menandakan keinginan berpisah bertolak belakang dengan perasaannya.


"Rupanya kau di sini. Aku mencarimu sedari tadi." Floretta terkejut dengan kedatangan Jarvis yang tiba-tiba. Ia memandang ke arah Jarvis.


Pria itu tetap saja tampan rupawan dalam berpenampilan, meskipun sepanjang hari telah beraktivitas di luar. Akibat hati Floretta yang plin plan, Floretta memilih segera menjauh dari Jarvis.


Jarvis menangkap lengan Floretta mereka saling berhadapan. Sekuat tenaga Floretta menenangkan jantungnya yang berdegup tidak karuan. Jarvis mulai senang menarik paksa Floretta mendekat ke tubuhnya.


Floretta melepaskan diri, ia tidak ingin menjadi Floretta yang lemah karena rasa sayang pada Jarvis. Cukup sudah sembilan tahun merelakan masa muda dan kekayaan untuk pria yang tidak menganggap kehadirannya berharga.


Pergi pun Floretta tidak membawa apa-apa, tidaklah masalah. Ia hanya ingin lepas dari Jarvis.


Floretta berhasil keluar dari kamarnya, ia mengunjungi kamar bermain anak-anak.


"Anak-anak ke mana, Rayya?" tanya Floretta pada asisten pribadinya.


"Ada di kamar masing-masing, Nyonya."


Floretta melihat jam dinding yang menunjukkan waktu rutin anak-anaknya membasuh tubuh.


"Kalau mereka mencariku, katakan di ruang keluarga."


Rayya mengangguki permintaan Floretta. Floretta pergi ke ruang keluarga, di sana ia duduk membaca majalah sembari menunggu Dael dan Rosalie selesai.


Ponsel Floretta bergetar di atas meja, ia melirik siapa pihak yang menghubungi dirinya. Floretta mengulas senyum begitu tahu ibu mertuanya yang melakukan panggilan.


"Ya, halo Ma," sapa Floretta dengan suara sebiasa mungkin menjawab panggilan Stephanie. Floretta bisa dekat dengan Stephanie karena perempuan dua anak itu tidak memiliki ibu lagi, ia menganggap Stephanie telah seperti ibu kandungnya sendiri.


"Apa kabar, Flo? Mama mengganggu?" tanya Stephanie dari seberang.

__ADS_1


"Tidak, Ma."


"Sepertinya terdengar sepi Flo. Di mana Jarvis dan cucu-cucu Mama?" Stephanie sengaja menanyakan hal itu, ia ingin tahu jawaban Floretta.


"Cucu mama dan Jarvis sedang di kamar kecil, Ma." Stephanie cukup kagum dengan cara Floretta menyembunyikan fakta rumah tangganya.


Berarti, keinginan Floretta bercerai akan menjadi bom waktu bagi keluarga Meyer.


"Flo, mama ingin mengundang kalian pada Sabtu malam nanti. Anak mama, Jadden, akan kembali pulang, setelah sepuluh tahun menjauh dari keluarga Meyer."


Floretta senang mendengarnya, Jadden teman masa remaja hingga kuliah akan kembali ke kota Heligore.


"Ya, Ma... kami pasti akan ke sana," janji Floretta, hatinya menghangat.


"Jarvis belum mengetahui hal ini. Jangan lupa beri kabar ini padanya."


Mendengar tugas yang diberikan Stephanie padanya, Floretta tampak kurang siap melakukannya.


"Mengapa tidak mama yang memberi tahu?" tanya Floretta. Ia ingin menghindari tugas itu.


Stephanie bingung harus menjawab apa, maka ia membuat alasan yang masuk akal.


"Ya, tadi mama menghubunginya. Mungkin masih di kamar kecil, Jarvis tidak mengangkat panggilan Mama. Kau bisa bantu mama menyampaikan hal ini 'kan, Flo?" Stephanie mengunci jawabannya.


Usai menutup telepon, Dael dan Rosalie mendatangi Floretta. Mereka berdua saling berebutan untuk duduk di pangkuan ibunya. Terlibat saling dorong dan sesekali mengenai tubuh Floretta, Jarvis yang melihat, refleks menegur mereka dengan suara agak keras hingga keduanya sontak tertunduk.


"Dael, Flo, apa yang kalian lakukan? Berbahaya kalau terkena ibu."


Floretta menatap tidak suka, sikap Jarvis dianggapnya berlebihan dengan memarahi keduanya.


Rosalie pun sampai sesenggukan merasa bersalah.


"Ke sini dekat ibu," ucap Floretta pada Rosalie. "Apa kau bersedih?" Rosalie mengangguk dengan berurai air mata.


"Anak ibu baik, Ibu mengerti itu tidak sengaja. Lain kali bergantian duduk di pangkuan ibu, ya."


Demikian Floretta melakukan hal yang sama dengan Dael. Bedanya Dael tidak sampai menangis. Memang anak perempuan berbeda dengan laki-laki.


Para pengasuh diminta Floretta untuk mengantar anak-anaknya ke ruang makan duluan menunggu jam makan malam tiba. Sementara itu, ia tinggal berdua dengan Jarvis.


"Kau menegur mereka terlalu keras, Jarvis. Apalagi Rosalie, anak perempuan sangat sensitif bila dimarahi ayahnya. Rosalie bisa menjauhimu."

__ADS_1


Floretta tidak mampu menahan diri untuk tidak menegur Jarvis.


Jarvis tersenyum memandang Floretta, tawa kecilnya terdengar.


Jarvis bergerak menduduki sofa yang sama dengan istrinya. Sementara itu, Floretta bergeser menjauhi Jarvis.


"Aku senang kau berbicara sepanjang itu, Flo."


Floretta tidak kuat melihat senyum manis Jarvis yang tersimpul di bibirnya. Dulu bagian itu menjadi candu Floretta pada Jarvis, sampai-sampai dirinya tidak peduli siapa saja perempuan yang pernah menikmati keintiman bersama suaminya.


Floretta mengarahkan tubuhnya ke tempat berlawanan, menjaga kuat hatinya yang rapuh.


"Kau mengkhawatirkan hubunganku dengan putri kita, hem? Aku tersanjung, Flo." Tubuh Jarvis menghadap penuh ke arah Floretta.


Floretta membeku. Benarkah demikian?


"Aku... mengkhawatirkan mental Rosalie. Sudahlah, bicara denganmu menghabiskan energi," bantah Floretta disertai rasa gugup yang melilit.


Floretta berdiri lalu beranjak menuju ruang makan. Teringat Floretta pesan Stephanie tentang undangan makan bersama di kediaman keluarga Meyer.


Floretta kembali pada Jarvis. Lagi-lagi pria itu menyambut dengan menyunggingkan senyum khasnya yang membuat jantung banyak wanita ketar-ketir dibuatnya, termasuk Floretta.


Jarvis gegas berdiri dan bertanya, "Ada yang bisa aku bantu, Flo?"


Floretta menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya ingin memberi tahu kalau Sabtu malam, mama mengundang kita jamuan makan."


"Apakah kita berdua saja atau anak-anak ikut serta?" Jarvis mencoba mengulur waktu agar bisa bercakap bersama Floretta lebih lama.


"Anak-anak juga ikut."


"Oh ya, itu sangat baik sekali. Lama anak-anak tidak berjumpa mama."


Floretta berdecih. "Sok tahu."


Jarvis tergelak melihat ekspresi ketus istrinya. Pria itu seolah-olah mulai menikmati lontaran kalimat demi kalimat tajam dari Floretta.


"Dalam rangka apa Mama mengundang kita, Flo?"


"Jadden kembali pulang."


Floretta membalik tubuhnya, berjalan meninggalkan Jarvis yang termangu mendengar kabar berita tentang kembalinya Jadden.

__ADS_1


Untuk apa dia kembali setelah 10 tahun berlalu? batin Jarvis.


Senyum manis Jarvis pudar begitu saja. Tangan pria itu terkepal, ia punya firasat kurang baik pada masa depan rumah tangganya.


__ADS_2