MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Jarvis Pulang


__ADS_3

Siang hari cerah, Jarvis tiba di kediamannya. Tidak sabar Jarvis ingin berjumpa Dael dan Rosalie.


Dua malam di rumah sakit tidaklah mengenakkan bagi tipe Jarvis yang super sibuk. Beristirahat selama itu dirasa membuang-buang waktunya yang berharga.


Namun, apa mau dikata, Jarvis tidak bisa melawan hasil medis yang mengharuskan dirinya dirawat di rumah sakit.


Hanya Kazem yang menjemput Jarvis, Floretta benar-benar tidak datang ke rumah sakit.


Jarvis berdehem dalam posisi berdiri di depan ruang bermain anak-anaknya. Jarvis ingin memberi kejutan pada kedua buah hatinya.


Tidak lupa Jarvis menenteng hadiah bagi keduanya agar terlihat kalau Jarvis memang baru kembali dari tugas di luar kota. Itulah sebabnya Jarvis pulang sedikit terlambat dari jadwal karena ia meminta Kazem singgah ke toko mainan anak terlebih dulu sebelum pulang ke rumah.


Jarvis membawa mobil-mobilan yang bisa berubah menjadi robot dengan menggunakan pemgontrol wi-fi untuk Dael. Mainan itu telah diidamkannya semenjak beberapa bulan lalu. Sementara itu, untuk Rosalie, dibawakan boneka fashion sebab sepengetahuan Jarvis, Rosalie sedang belajar untuk berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain.


Pintu ruang bermain dibuka Jarvis secara perlahan, pintu kaca dorong yang ditutupi gorden tidak membuat suara gaduh, sehingga Jarvis aman masuk tanpa disadari oleh anak-anaknya.


Jarvis terpaku melihat Dael dan Rosalie sedang bermain dadu bersama Floretta. Mereka tertawa bahagia seakan-akan tidak ada kesusahan yang tengah dirasakan. Jarvis malah merasa kecil hati, ternyata tanpa dirinya Dael dan Rosalie tetap bisa dibuat bahagia oleh Floretta.


"Hore, aku tiba di puncak," Rosalie langsung berdiri melompat kegirangan, bidaknya berhasil tiba di puncak.


Jarvis tersenyum merasakan kegembiraan putri kesayangannya itu.


Pandangan Rosalie mengarah ke pintu. "Ayaaaah." Rosalie berlari mendapati Jarvis yang merentangkan tangannya.


Jarvis tidak siap dengan rusuk yang sehat, ia terbatuk-batuk sambil mendekap Rosalie, satu tangannya memegang rusuknya yang kurang nyaman.


"Aku merindukan, ayah," ujar Rosalie merebahkan kepalanya di pundak Jarvis. Jarvis tersenyum dan mengusap punggung putrinya.


"Ayah juga merindukanmu," balas Jarvis. Ia menciumi wajah Rosalie hingga putri kecilnya merasa kegelian sampai tertawa terbahak-bahak.


"Ayah ada hadiah untukmu." Jarvis memberikan bingkisan berwarna merah muda pada Rosalie.


Rosalie menerimanya dan berjingkrak kegirangan. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih," ulang Rosalie lalu menjauh menyeret kado yang dihadiahkan untuknya.


"Kau tidak menyambut ayah, Dael?" tanya Jarvis dari tempatnya.


Dael menatap tajam ayahnya lalu bersidekap dan memandang ke arah lain. Jarvis tersenyum melihat cara Dael merajuk persis dengan dirinya sewaktu kecil.


Jarvis mendekat ke arah Dael sembari menenteng hadiah untuk putra pertamanya. "Ayah dengar dari ibu, kau sangat merindukan ayah." Jarvis melirik Floretta yang langsung menyibukkan diri dengan membereskan permainan bidak mereka tadi.


"Ayah selalu sibuk," protes Dael masih mempertahankan emosi marahnya.

__ADS_1


"Ayah sibuk untuk kita semua, ayah pimpinan perusahaan dari ribuan karyawan. Kelak kau dewasa juga akan melakukan hal serupa," ucap Jarvis yang dihadiahi pelototan dari Floretta.


Floretta merasa kalimat terakhir Jarvis tidak perlu disebutkan karena bukan Dael yang perlu mengerti keadaan, melainkan Jarvis sebagai orang tua.


"Ya, hari ini ayah pulang membawakanmu hadiah yang kau idamkan," bujuk Jarvis. Menghadapi Dael tidaklah semudah Rosalie yang masih senangnya bermain. Diberi mainan, Rosalie akan lupa dengan masalahnya.


"Aku masih kesal dengan ayah," ungkap Dael dengan nada lebih rendah.


"Ya, maafkan ayah karena terlalu sibuk bekerja. Mungkin ayah perlu menambah asisten untuk menggantikan ayah bekerja ya," celoteh Jarvis yang bingung menghadapi putranya yang kritis.


"Ya, itu lebih baik," sambut Dael. Wajahnya telah beralih pada Jarvis. Jarvis merasa senang lalu merentangkan tangannya agar Dael masuk dalam dekapannya.


Dael yang sebenarnya amat sayang pada ayahnya, merespon dengan memeluk Jarvis.


"Kau anak pertama ayah yang baik. Ayah senang kau begitu penuh perhatian pada ayah." Jarvis mencium puncak kepala Dael.


"Ayah punya hadiah bagus untukmu." Jarvis mengurai pelukan mereka, ia menyerahkan bingkisan berwarna kuning bercampur biru pada Dael.


"Apa ini ayah?"


"Bukalah, ayah yakin kau akan gembira."


Dael menerima bingkisan untuknya, ia membawa ke sudut lain dalam ruangan bermain. Baik Rosalie maupun Dael sibuk membuka kertas kado tebal yang dihadiahi oleh ayahnya.


Siapa lagi kalau bukan Floretta yang mengajarinya. Jarvis menoleh ke arah Floretta yang duduk di playmate membereskan mainan yang lain.


Mendadak tiba ide kejahilan dalam pikiran Jarvis. Jarvis menggeser tubuhnya mendekat ke arah Floretta.


"Flo, kau tidak merindukanku?"


Tangan Floretta mendadak berhenti membenahi mainan Dael dan Rosalie. Floretta menyorot tajam pada manik Jarvis.


Jarvis yang dipandangi sebegitu dalam oleh Floretta hanya tersenyum.


"Kau ingin aku dekap juga?" Jarvis membuka lengannya lebar-lebar rela dadanya dipakai Floretta sebagai tempat merebahkan diri.


Sebaliknya, Floretta tidak merasa senang. Floretta berdiri lalu mengangkat kotak berisi mainan anak-anaknya dan menyimpannya di rak khusus.


Beberapa kotak telah diangkat bolak-balik oleh Floretta. Kotak terakhir diambil alih oleh Jarvis yang menaruhnya di rak mainan.


Saat membalik tubuh, ternyata Floretta melangkah keluar melalui pintu ruang bermain anak-anaknya. Jarvis membuntuti istrinya.

__ADS_1


"Tolong perhatikan Dael dan Rosalie. Aku ingin beristirahat di kamar," perintah Floretta pada Rayya dan pengasuh di luar ruang bermain. Mereka bertiga mengangguk memahami tugas yang diberikan.


Floretta merasa kurang enak badan, ianmasuk ke dalam kamar, berencana merebahkan tubuh di ranjang. Sebelum hal itu terjadi, Jarvis meraih lengan Floretta agar berhadapan dengannya.


"Flo, aku hanya bercanda. Jangan marah."


"Candaanmu tidak lucu!" Floretta melepaskan diri, membalik tubuhnya membelakangi Jarvis. Ada gejolak rasa tidak jelas bergemuruh di dada Floretta.


"Semakin hari kau semakin sensitif, mungkin itu terbawa oleh hormon kehamilan, ya?"


Floretta hanya diam saja mendengar ucapan Jarvis.


Jarvis berjalan ke hadapan Floretta. "Sebagai permohonan maaf, aku membawakanmu hadiah."


Jarvis menyerahkan kotak kecil berisi perhiasan untuk Floretta. Jarvis membuka kotak itu, terpampang anting dan gelang berlian yang berkilau.


Sepengetahuan Jarvis, Floretta menyukai berlian. Bila memenuhi undangan rekan bisnis dan keluarga, Floretta pasti menggunakan koleksi berliannya.


Jarvis yang tersenyum, memandangi Floretta dengan ekspresi datar.


"Kau tidak menyukai jenis berlian ini? Oh... maaf, aku kurang paham dengan --"


"Untuk apa kau memberikan ini padaku?" tanya Floretta dingin, menatap suaminya.


Jarvis bergeming, tersadar kalau Floretta tidak menyambut antusias kado yang dibingkiskan khusus untuk Floretta.


"Apa harus ada alasan seorang suami menghadiahi istrinya?"


Seketika Floretta meraih kotak perhiasan dan menghempaskan ke lantai. Anting dan gelang terserak dari kotaknya. Jarvis terkejut dengan reaksi garang Floretta.


"Suami, istri? Sejak kapan kau merasa menjadi suamiku, Jarvis?" Akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan, tidak terbendung lagi.


"Perceraian kita semakin dekat lalu kau melontarkan candaan padaku serta menghadiahiku perhiasan? Kau sedang meledekku dengan uangmu!?" Floretta meneriaki Jarvis dengan uraian air mata di pipinya.


"Hei, Flo. Tenanglah." Jarvis berusaha meraih kedua lengan Floretta. Belum tersentuh, Floretta memundurkan langkahnya.


"Kau merasa menjadi suami setelah melontarkan kata cerai padaku, setelah kau mendengar isi hatiku pada malam itu. Sekarang tujuanmu apa dengan barang-barang itu? Ingin memainkan perasaanku, Jarvis!?" Floretta memekik sampai terduduk di pinggir ranjang.


"Tidak. Bukan seperti itu maksudku, Flo."


"Aku tidak butuh uangmu!" Sontak Jarvis berlutut lalu memeluk Floretta yang mulai tidak terkendali.

__ADS_1


"Aku benci padamu, Jarvis!" Floretta meraung, memberontak berusaha melepaskan diri. Sampai memukuli Jarvis agar menjauhi dirinya.


"Flo, tenangkan dirimu. Ingat anak kita dalam kandunganmu," bisik Jarvis sembari mengusap lembut lengan Floretta dengan tetap mendekapnya erat.


__ADS_2