MAMPUKAH AKU MELEPASMU?

MAMPUKAH AKU MELEPASMU?
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Floretta terpaku memandang Jarvis yang tengah terlelap di dalam kamar rawat rumah sakit. Setelah Jarvis melontarkan keinginan untuk bercerai, kelopak matanya perlahan menutup.


Jarvis pingsan sebab sewaktu dipanggil dan digoncang, tubuhnya tidak merespon.


Floretta panik lalu berlari keluar memanggil Rayya dan Kazem. Rayya menghubungi dokter, sementara Kazem mengecek kondisi Jarvis. Sedikit banyak Kazem mengetahui pemeriksaan nafas, detak nadi Jarvis normal.


Setelah dokter datang lalu memeriksa Jarvis, pria itu sempat kembali siuman dengan kondisi tubuh yang lemah. Meskipun demikian, Jarvis menolak dibawa ke pusat kesehatan.


Dokter sempat melakukan pengecekan cidera kepala, Jarvis diminta untuk membuka mata, bergerak, dan berbicara untuk mengukur tingkat keparahannya. Sementara itu, untuk pemeriksaan perut hanya bisa ditanyakan posisi sakit yang  dirasakan Jarvis.


"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit," saran dokter keluarga. Dokter tidak berani bertanggungjawab bila hal memburuk terjadi. Saat itu Jarvis kembali tidak sadarkan diri.


Floretta mengikuti saran dokter. Hasil foto rontgen diketahui Jarvis mengalami cidera kepala ringan dan tulang rusuk.


Pihak rumah sakit mengharuskan Jarvis dirawat sebab dikhawatirkan bila salah penanganan patahan tulang rusuk dapat mengenai organ dalam lainnya.


Floretta menghela nafas dalam, masalah demi masalah menimpa keluarga kecil mereka. Floretta bisa saja bersikap tak acuh terhadap pengungkapan borok suaminya seperti selama menjalani pernikahan.


Bukan perselingkuhan yang menjadikan Floretta ingin mengakhiri pernikahannya dengan Jarvis, melainkan gagalnya usaha Floretta untuk mendapatkan cinta dari Jarvis setelah sembilan tahun berjalan.


Floretta selama ini merasa sendirian menjalani pernikahan,  meskipun kehadiran Dael dan Rosalie menggembirkan hidupnya, akan tetapi kehangatan suami tidaklah dirasakan Floretta.


Bila demikian untuk seterusnya, Floretta berpikir baik saja pernikahannya diakhiri dan mereka hidup masing-masing. Floretta akan membawa hati yang terluka untuk dipulihkannya sendiri.


Melihat Jarvis setiap hari tanpa ada binar cinta dari suaminya, membuat hati Floretta seperti dihimpit batu besar. Floretta tidak membenci suaminya, cintanya mengalahkan kebencian.


Namun, pemenangnya adalah rasa sakit di hati sehingga ia ingin menjauhi ayah dari anak-anaknya.


Floretta mengusap perutnya, kehamilan memasuki trimester kedua, perutnya menonjol menunjukkan ada janin yang bersemayam dalam rahimnya.


Ketiga anaknya adalah hasil cinta Floretta pada suaminya, mungkin tidak demikian bagi Jarvis.


Nafas Floretta bergetar, ia pun kembali menangis. Mungkin ini saatnya ia menata hati dan menatap masa depan tanpa ada suami. Bukankah selama sembilan tahun hal demikian yang terjadi?


"Kau harus kuat, Flo," lirih Floretta memberi dukungan pada dirinya sendiri.


Floretta menghapus air matanya, sebelum Jarvis bangun, Floretta merasa perlu mengetahui duduk perkara mengapa kedua kakak beradik Meyer saling menyerang.


"Aku akan kembali," ucap Floretta pada Jarvis yang tidak merespon apa-apa.

__ADS_1


Seorang pria dan wanita tengah menikmati minuman beralkohol di sebuah club malam. Mereka adalah Alleta dan si pria misterius yang tidak pernah menyebutkan nama saat mereka bertemu.


Keadaan ruangan yang remang-remang menyulitkan Alleta mengenali sosok pria bertopi di hadapannya. Pria itu kini berjanggut, penampilannya berbeda dari saat pertama bertemu. Sebenarnya Alleta sangat penasaran dengan sosok yang menginginkan rusaknya relasi antara Jarvis dan Floretta.


"Kita perlu merayakan usaha yang baik," ucap si pria dengan mengangkat highline glass yang berisi minuman beralkohol.


Alleta melakukan hal serupa, gelas kaca mereka saling dibenturkan pelan di udara. Mereka merasa selangkah maju setelah membuat Jarvis dan Floretta semakin jauh satu sama lain.


"Lakukan tayangan langsung melalui media sosial, katakan hal yang lebih memperuncing konflik Jarvis dan Floretta," perintah pria lalu menandaskan minumannya.


Masih di rumah sakit, Floretta menghubungi Stephanie untuk mengabarkan keadaan Jarvis yang tengah dirawat di rumah sakit.


"Entah apa yang terjadi pada mereka. Semoga Jarvis lekas pulih, Flo." Stephanie merasa sedih dengan keadaan yang menimpa anak-anaknya. Stephanie mengira kedatangan Jadden akan memberi suasana baru, Jarvis dan Jadden akan semakin dekat setelah berjauhan selama sepuluh tahun.


Namun, kenyataannya berkebalikan, mereka masih saja tidak akur. Stephanie merasa salah mendidik anak-anaknya dulu, mereka kerap dibanding-bandingkan satu dengan lain agar saling berlomba untuk maju. Sayang sekali hal sebaliknya terjadi, keduanya tidak pernah akrab hingga saat ini.


"Bagaimana kabar Jadden, Ma?"


"Jadden ada di kamarnya, hanya cedera ringan. Tadi makan malam kami masih bersama."


Mendengar penuturan Stephanie hati Floretta meradang, ia menduga Jadden sengaja melakukan kekerasan agar suaminya celaka. Floretta tahu Jarvis memiliki kemampuan bela diri yang baik, demikian pun dengan Jadden. Semenjak remaja mereka dilatih untuk membela diri sendiri di kala terdesak.


"Ma, bolehkah nomor kontak Jadden dikirimkan padaku?" tanya Floretta berhati-hati. "Aku belum menyimpan nomor ponselnya, Ma."


Usai keduanya bertelepon, pesan berisi nomor kontak Jadden masuk ke ponsel Floretta.


Cepat Floretta menghubungi nomor Jadden sebelum malam semakin larut.


Pada panggilan ketiga barulah panggilan Floretta terhubung.


"Halo," suara dingin Jadden menusuk pendengaran Floretta.


Kalau bukan karena suaminya, Floretta tidak ingin rasanya menelepon Jadden atau berurusan kembali dengannya. Cukup saja menjadi adik ipar, itu pun tidak lama lagi akan berakhir.


"Dengan siapa? Jangan diam saja!" Jadden yang tidak sabar, malah menghardik di telepon.


"Ini Floretta."


Keduanya terdiam beberapa waktu, angin membawa mereka pada memori lama di masa remaja hingga kuliah.

__ADS_1


Floretta dulunya akrab dengan Jadden sebab pria itu tampil apa adanya dan tidak terlalu mementingkan gaya seperti teman-teman dekat lainnya yang kerap mengagungkan gaya hidup berkelas.


Floretta merasa nyaman selama berteman dengan Jadden.


"Halo, adik ipar? Ada apa? Merindukanku?" goda Jadden terkekeh.


Floretta merasa tidak nyaman mendengarnya. "Apakah kau tidak bisa berbicara lebih santun pada adik iparmu?" Floretta menegur ucapan Jadden.


"Santun? Aku lupa apakah kau dulu memiliki sikap itu, Flo."


"Jadden, aku tidak punya waktu banyak. Katakan, masalah apa sampai kau dan suamiku terlibat perkelahian?"


Jadden diam dan tidak menjawab selama beberapa waktu. Floretta merasa geram dengan sikap diam Jadden.


"Apa kau menginginkan hal buruk terjadi pada Jarvis?" sangka Floretta tanpa menutupi lagi.


"Kau memfitnahku, Flo," ujar Jadden tenang. "Dia adikku."


Kini Floretta yang terdiam, apakah tudingannya terlalu berlebihan pada Jadden.


"Suamimu tidak punya kendali diri yang baik, dia yang menyerang lebih dulu," adu Jadden.


Floretta merasa tidak percaya pada apa yang didengarnya.


"Pasti kau memancing amarahnya."


Jadden terbahak mendengarnya. "Ucapanku biasa saja, suamimu dari dulu punya tabiat yang buruk."


"Jangan menilai yang bukan-bukan Jadden, kalian lama tidak saling berkomunikasi." Floretta tidak terima dengan komentar Jadden pada suaminya.


"Masih sebesar itu cintamu padanya, Flo? Kau membela dan menutupi busuk suamimu. Andai saja kau tetap bersamaku --"


"Tutup mulutmu, Jadden!"


Floretta tidak kuasa menahan diri lagi. Bentakan itu dilayangkan sebab Floretta merasa tidak menerima perkataan sopan dari kakak iparnya itu. Syukur saja lokasi Floretta sepi dan jauh dari ruang rawat pasien.


"Yang berlalu biarlah berlalu, Jadden." Floretta menurunkan nada suaranya, ia menyesalinya tetapi enggan meminta maaf.


"Lalu, bagaimana dengan hatiku yang terlanjur luka karena kau permainkan, Flo?"

__ADS_1


__ADS_2