
"Tes DNA Paternitas menunjukkan kalau anak Alleta bukanlah anak saya. Hasil yang dirilis Alleta disinyalir palsu atau nama orang lain. Saya berani mempertanggungjawabkan kebenarannya," ucap Jarvis sembari memegang hasil DNA Paternitas yang bermerek sebuah rumah sakit.
Alice membuka ruang untuk Jarvis berbicara tentang kebenaran, meskipun Alice tidak begitu menyukai rekam jejak Jarvis selama menjadi suami sahabatnya, Floretta.
"Saya dipanggil oleh polis sebagai saksi bukan pelaku seperti yang tertulis dalam media. Terkait foto yang tersebar, saya memang bertemu Alleta di rumah sakit kanker sebab saya tergerak sebagai seorang ayah prihatin melihat anak Alleta, tidak lebih."
"Di sini saya tegaskan untuk pihak yang memancing di air keruh agar berhenti menebar spekulasi tanpa dasar sebab merusak nama dan merugikan keluarga saya. Bila masih diteruskan tidak segan kami membuat laporan polis," tegas Jarvis penuh ketegasan.
"Saya sedang fokus dengan kondisi istri yang tengah dirawat di sebuah rumah sakit setelah melahirkan anak ketiga kami. Ini kali pertama dan terakhir saya memberi klarifikasi."
Kematian Alleta yang misterius dan tersebarnya nama Jarvis sebagai selingkuhan Alleta di masa silam memaksa Jarvis untuk memberi keterangan melalui media online. Perlawanan ini dilakukannya sebagai usaha menggertak pihak yang berusaha merusak nama baik dan relasi keluarganya.
Jarvis tidak pernah takut pada siapapun yang mengancam dirinya melalui pembunuhan Alleta. Ia hanya khawatir pada anak-anak dan istrinya kini.
"Terima kasih telah bersedia membantu," ucap Jarvis pada Alice usai penayangan klarifikasi.
"Terpaksa," ucap Alice dengan nada sewot. "Di satu sisi kau sangat menyakiti temanku. Di sisi lain, kebenaran harus diungkap."
Alice telah membesuk Floretta dan putra Jarvis dengan Floretta yang diberi nama Adam Meyer. Kondisi Floretta masih terlelap dengan bantuan alat-alat medis di tubuhnya.
Alice tidak bisa berlama-lama di Kowabuda sebab ia memiliki pekerjaan yang harus ditunaikan di Heligore.
"Pesanku padamu Jarvis, apa yang diminta Floretta saat ia terbangun dari komanya, kau seharusnya mengabulkannya."
Jarvis telah memikirkan apa yang dilontarkan oleh Alice jauh hari. Jarvis menyadari kalau dirinyalah yang menjadi sumber penderitaan bagi Floretta.
Telah saatnya Floretta yang terlambat dicintainya harus dilepaskannya untuk meraih bahagianya sendiri.
Filaneey Polis belum bisa memecahkan teka-teki pelaku pembunuhan Alleta. Bukti yang tidak mencukupi sulit menjerat seseorang menjadi tersangka dalam kasus ini.
Sudah hampir sebulan Jarvis berada di Kowabuda. Selama itu pula Jarvis mendampingi Floretta di rumah sakit.
Berhubung Floretta koma, anak mereka, Adam Meyer juga diminta Jarvis untuk dirawat di rumah sakit yang sama. Bagi Jarvis biaya kesehatan anak dan istrinya bisa ditanggungnya tanpa bantuan siapapun.
Jarvis terus berharap Floretta akan membuka mata dalam waktu dekat lalu bisa mendekap putranya yang bertambah sehat.
Jarvis tidak peduli dengan pemberitaan yang masih menyangkutkan namanya dengan kasus kematian Alleta. Hujatan warga internet pun diabaikan oleh Jarvis.
Selama itu pula Dael dan Rosalie diasuh oleh Stephanie dengan baik. Jarvis hanya bisa melakukan panggilan video pada kedua anaknya.
__ADS_1
Melihat pengertian Dael dan Rosalie pada kesibukannya, Jarvis semakin kagum pada istrinya yang mendidik kedua buah hatinya. Jarvis menilai Dael dan Rosalie bertumbuh dengan memiliki sikap empati.
Bukannya Jarvis tidak bisa terbang menggunakan jet ke Heligore, ia tidak sanggup saja meninggalkan Floretta yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Jarvis tidak ingin menyia-nyiakam kebersamaan yang bisa saja berakhir sewaktu Floretta membuka matanya. Jarvis terus berharap Floretta bisa lekas pulih, meskipun konsekuensi yang akan dihadapi Jarvis adalah perceraian.
Di siang hari yang cerah, tepat satu setengah bulan Floretta dirawat, Floretta sadarkan diri dari masa kritis. Dokter yang menangani cukup terkejut menyaksikan perkembangan kesehatan Floretta. Tim dokter sempat memprediksi bila masa kritisnya akan berlangsung lebih lama sebab alasan medis yang pernah mereka tangani pada pasien perempuan lain.
"Selamat Tuan Jarvis, istri Anda telah melewati masa kritis," ujar seorang dokter setelah memeriksa keadaan Floretta bersama para perawat.
Jarvis tersenyum senang menyambut kabar dari tim dokter.
"Kesetiaan Anda menjaga Nyonya Floretta berbuah baik. Tuan bisa mengunjungi Nyonya Floretta, saya harap percakapan nanti jangan membebani pikiran istri Tuan." Dokter berpamitan untuk melanjutkan tugasnya kembali.
Jarvis yang ditinggalkan sendiri oleh dokter di lorong ruangan intensif berada dalam dilema. Jarvis meragu apakah sebaiknya menampakkan diri atau menunggu hingga Floretta membaik.
Jarvis berjalan lalu lalang memikirkan pilihan yang tepat, hingga seorang perawat menegurnya. "Tuan, Anda sudah bisa mengunjungi Nyonya Floretta. Setelah ini kami akan memindahkan Nyonya Floretta ke kamar inap, Tuan bisa mengutus seseorang untuk mengurus administrasinya." Jarvis mengangguk menerima arahan dari perawat.
Segera Jarvis menghubungi ponsel Kazem, orang kepercayaan yang selalu setia dalam tugas.
"Kazem...." Nada suara Jarvis begitu khas di pendengaran Kazem, ia langsung tahu kalau ada kabar baik yang terjadi saat ini.
"Siap, perintah Tuan."
Kazem senang mendengar berita yang menggembirakan hati tuannya. Gegas Kazem melangkah ke bagian administrasi mengurus ruang pindah Floretta.
Dengan ragu Jarvis tetap melangkah masuk ke arah ruang intensif, setelah mengenakan jubah dan penutup kepala khusus.
Floretta terbaring di ranjang sembari menutup matanya. Apakah tertidur, Jarvis tidak begitu yakin.
Menatap Floretta sejenak sambil mengatur nafas sebab jantung Jarvis berdegup kencang. Perlengkapan medis tidak lagi sebanyak saat Floretta tidak sadarkan diri.
"Flo...," panggil Jarvis lalu menelan ludahnya yang terasa kering. Jarvis khawatir kalau pilihan menemui Floretta menjadi keputusan yang memburukkan kesehatan istrinya.
"Floretta," panggil Jarvis untuk kedua kali, bersamaan dengan itu, kelopak mata Floretta terbuka perlahan.
Jarvis terhenyak menatap Floretta, menunggu reaksinya.
Floretta mengedip-ngedip menyesuaikan cahaya masuk, bola matanya bergerak-gerak seolah-olah mengingat sesuatu. Floretta merasa dirinya tadi dipanggil oleh seseorang.
__ADS_1
"Jarvis," ucap Floretta dengan nada berbisik, menatap manik Jarvis tajam, ia berdiri di dekat kaki ranjang.
Floretta tersenyum pada Jarvis sembari menutup kelopak matanya yang masih perlu menyesuaikan dengan pencahayaan ruangan.
Jarvis terperangah melihat reaksi Floretta yang dinilainya cukup aneh. Jarvis melangkah pendek mendekati Floretta.
"Mengapa aku ada di rumah sakit, Jarvis?" Suara Floretta kecil sekali, tetapi Jarvis bisa mendengarnya dengan baik.
Di kediaman Meyer, Stephanie tengah mencoba menghubungi Jarvis. Stephanie selalu memantau kesehatan Floretta melalui Jarvis hampir setiap hari.
Panggilan yang tidak direspon Jarvis membuat dugaan buruk dalam pikiran Stephanie. Selama sebulan ini, Jarvis tidak pernah terlambat untuk menjawab panggilan darinya, Stephanie selalu menyesuaikan jadwal kunjungan Jarvis dengan waktu menelepon.
Stephanie diliputi pikiran berlebih, dia menghubungi Kazem untuk mengetahui apa yang terjadi pada Jarvis.
"Tuan Jarvis baik-baik saja Nyonya. Tadi saya dikabari bahwa nyonya Floretta telah siuman. Saya diminta mengurus ruangan rawat inap, nyonya mulai membaik."
Jawaban Kazem membuat Stephanie senang terharu sampai menitikkan air mata.
"Syukurlah, Kazem. Bila kau bertemu tuan Jarvis katakan kalau aku ingin berbicara padanya. Berita ini sangat menggembirakan."
Stephanie menutup teleponnya. Sebentar lagi ia akan menjemput Rosalie yang akan pulang lalu dilanjutkan ke sekolah Dael.
Harapan baik telah ada dalam pikiran Stephanie, meski dia sendiri tidak mengetahui bagaimana akhir dari hubungan anak dengan menantu kesayangannya itu.
"Jarvis," tegur Floretta. Jarvis tersadar setelah tenggelam dalam lamunan dengan penuh tanda tanya.
"Kau di rumah sakit karena melahirkan seorang anak laki-laki." Floretta terdiam memandang lekat Jarvis.
Apakah Jarvis bercanda, pikir Floretta. Floretta menyentuh perutnya hingga turun ke bawah, tindakan itu disaksikan Jarvis.
Floretta melakukannya untuk merasakan bekas sakit bersalin. "Persalinanmu diupayakan melalui bedah."
Floretta berusaha mengingat-ingat terakhir kali waktu kehamilannya. Namun, ia tidak ingat sama sekali, bahkan kepalanya terasa pusing sampai Floretta meringis dan menyentuh pelipisnya.
Jarvis mendadak menunduk dekat Floretta.
"Apa yang terjadi, kau tidak apa-apa?" tanya Jarvis panik.
Floretta hanya menggeleng. "Kepalaku hanya sakit, mungkin perlu istirahat," ucap Floretta.
__ADS_1
"Sebaiknya begitu Flo, aku akan keluar sebentar menemui dokter." Jarvis mengangkat tangannya perlahan lalu mengusap surai hitam Floretta tanpa ada penolakan. Floretta pun menikmati sentuhan tangan suami di punca kepala.
Setelahnya, Jarvis gegas keluar mencari dokter yang menangani Floretta. Tidak sabar Jarvis rasanya ingin menanyakan respon asing Floretta usai sebulan setengah mengalami koma.