
Saat turun dari mobil, Floretta melihat kendaraan Jarvis telah terparkir rapi di dalam garasi bersama dua mobil mereka yang lain. Jarvis sudah pulang, tumben sekali, batin Floretta merasa aneh.
Suara riang Rosalie dan Dael memenuhi rumah bergaya arsitektur Filaneey, dindingnya bermaterial batu alam tanpa cat dengan lantai motif mozaik. Model bangunan kediaman ini pilihan Floretta sebelum mereka menikah.
Rosalie, Dael, dan ibunya baru pulang dari jalan-jalan sore setelah sebelumnya berjumpa dengan Alice Bouwer. Kegiatan sore dilakukan sembari membeli perlengkapan sekolah dan mainan kesukaan.
Dael dan Rosalie sangat gembira diajak jalan-jalan bersama ibunya. Dael tadi sempat meminta ibunya untuk menghubungi ayahnya agar menyusul mereka jalan-jalan sore.
Namun, Floretta menolak dengan alasan ayah mereka masih bekerja dan sangat sibuk di kantor. Dael dan Rosalie memahami apa yang dikatakan oleh ibunya, memang Jarvis juga jarang menghabiskan waktu dengan mereka, kecuali beberapa waktu belakangan ini.
"Anak-anak setelah ini ke kamar dulu, mandi. Baru nanti unboxing mainan kalian," ucap Floretta memberi arahan untuk anak-anaknya.
Rosalie dan Dael mengiyakan ibunya, segera mereka menuju kamar masing-masing, ditemani oleh para pengasuh. Sementara itu, Floretta menuju kamarnya sendiri.
Floretta tidak tertarik untuk mencari tahu ada di mana Jarvis saat ini. Kalau dulu, bila Jarvis pulang kerja Floretta seperti seorang anak-anak yang menyambut suaminya pulang tersimpul senyum bahagia dan berceloteh tentang apa yang ia dan anak-anak mereka alami.
Biasanya, respon Jarvis dingin dan cuek, antara mendengarkan ceritanya dan tidak, menurut Floretta.
Kini bagi Floretta, Jarvis pulang kemungkinan besar untuk putra dan putrinya, seperti tempo hari ia bersedia menghabiskan waktu bersama buah hati mereka.
"Kalian dari mana?" tanya Jarvis begitu Floretta tiba di kamar. Tubuh Floretta sedikit tersentak, tetapi dengan cepat ia menormalkan ekspresinya. Floretta ke kamar juga ingin segera membasuh dirinya setelah sekian jam keluar rumah.
"Jalan-jalan," sahut Floretta singkat tanpa memberi perhatian. Floretta menyibukkan diri dengan membuka lemari dan mengambil pakaiannya.
"Kemana dan dengan siapa?" tanyanya lagi penuh rasa ingin tahu.
"Teman."
Jawaban Floretta pendek. Floretta berjalan menuju kamar kecil membawa pakaiannya.
Jarvis geram melihat perubahan drastis sikap istrinya yang tidak peduli akan kehadirannya, seolah-olah ia tidak ada di sana.
__ADS_1
Saat Floretta akan menutup pintu kamar kecil, cepat Jarvis turut masuk ke dalamnya.
Mata Floretta membelalak melihat tindakan tiba-tiba suaminya.
"Apa yang kau lakukan? Keluar!" geram Floretta menaikkan nada suaranya lebih tinggi.
"Aku juga ingin mandi."
"Kau bisa melakukannya nanti, setelah aku!"
"Aku ingin bersamamu."
Floretta marah, baginya Jarvis juga mendadak berubah, seperti ingin mencari gara-gara dengannya. Floretta hilang kesabaran, ia memilih melangkah keluar dan membiarkan Jarvis membasuh diri terlebih dahulu.
Namun, sebelum berhasil keluar, tangan Floretta ditarik Jarvis hingga menubruk tubuhnya. Floretta berusaha menangkis, sayangnya kekuatannya tidaklah seberapa dibanding tubuh besar suaminya.
"Aku tidak nyaman dengan sikapmu, Flo. Jangan membuat aku benar-benar menunjukkan dominasiku sebagai seorang suami," ucap Jarvis geram menyorot netra Floretta. Jarvis mempererat pelukan di pinggang istrinya.
"Kau jangan menantangku Flo, kau membuat hasratku menanjak. Dominasi apapun bisa ku lakukan selama aku mau."
"Ohh... mengapa aku sampai lupa, kau rajanya dominasi negatif, semua keputusanmu tidak pernah mempertimbangkan aku bukan?" ucap Floretta terkekeh menyindir Jarvis.
"Aku tersanjung, Flo, kau sangat mengenalku." Jarvis tidak ingin jatuh dalam jebakan Floretta yang berupaya membuatnya marah. Bila itu dilakukannya, maka Floretta akan terus menuntut dan membenarkan perpisahan di antara mereka.
Floretta kesal dengan jawaban tenang Jarvis. Ia harus terus mengerahkan tenaga dan ucapan yang buruk agar Jarvis dongkol padanya.
"Sangat kenal, mataku sudah terbuka. Itulah sebabnya aku tidak ingin lebih lama hidup bersama pria hmmpt -- "
Jarvis berang mendengar ucapan Floretta yang terus-terusan menabuh genderang perang. Ia membungkam istrinya dengan cara yang sensual.
Floretta berusaha melepaskan dirinya dengan mendorong dada dan wajah Jarvis. Sayangnya, kekuatan Floretta tidak ada arti sama sekali.
__ADS_1
Jarvis menangkap kedua tangan Floretta dan mendorongnya ke dinding. Tubuh Floretta benar-benar terjebak antara dinding dan Jarvis.
Pria itu leluasa melakukan dominasi yang dimaksudnya. Lama Jarvis tidak menyentuh istrinya, ada kerinduan besar dalam dirinya.
Floretta berada dalam dilema, antara otak logisnya dan perasaan mendamba pada suaminya. Ia harus kuat agar tidak terlena dengan tiap sentuhan dan kecupan dari Jarvis.
Floretta menaikkan ke alam sadarnya bahwa tindakan Jarvis sebagai bentuk perendahan terhadap dirinya sebagai perempuan. Perasaan terabaikan dan tersakiti Floretta tidak mampu dibaca oleh Jarvis. Pria itu hanya mengikuti kehendaknya sebagai seorang pria dewasa.
Kekuatan Floretta bertambah-tambah. Saat Jarvis menghirup udara, cepat-cepat Floretta mendorong tubuh Jarvis lalu melayangkan tangannya keras ke arah pipi kiri Jarvis.
"Apa hanya ini caramu menyelesaikan masalah! Aku bukan selingkuhan atau gundikmu, Jarvis!" teriak Floretta dengan nafas terengah-engah dan mata memerah.
Jarvis terdiam membeku di tempat sembari memegangi pipinya yang panas akibat jari-jemari lembut istrinya berubah menjadi tajam akibat amarah yang meledak.
Kamar mereka kedap suara, tidak ada satu pun yang akan datang melihat apa yang terjadi pada pasangan suami istri itu.
Floretta menangis sejadi-jadinya. Ia melangkah menuju bath up dan menyalakan shower dengan kencang. Floretta mengusap kasar semua bagian tubuh terbuka yang disentuh oleh suaminya. Kulit light naturalnya memerah di beberapa tempat karena gesekan shower puff begitu kuat digosokkan oleh Floretta.
Perempuan itu seakan-akan ingin menghapus jejak Jarvis sampai tidak tersisa sama sekali, hingga tubuhnya bersih.
Semua tindakan Floretta diperhatikan oleh Jarvis. Dia merasa tidak bisa diam saja melihat Floretta menyakiti dirinya sendiri.
"Flo," panggilnya rendah. Floretta tidak menggubrisnya, ia masih terus menggosok tubuhnya. Jarvis menduga kemarahan Floretta yang ingin ditimpatkan pada dirinya ditahan-tahan sampai Floretta tidak kuat lagi dan memilih menyakiti diri sendiri.
Jarvis gegas melangkah masuk ke bath up, menghentikan aksi Floretta. Terpaksa ia harus bersentuhan dengan istrinya lagi, tetap saja dengan penolakan kasar.
"Flo... sadar... sadar... kau menyakiti dirimu sendiri." Floretta tidak kuasa melawan agar Jarvis menjauhinya. Tubuh Floretta melemah, lunglai dalam pelukan Jarvis dengan isakan pilu.
Jarvis mematikan shower dan membawa Floretta duduk di bath up. Jarvis mendekap erat Floretta sembari mengusap punggung dan lengan Floretta. Pria itu ikut merasa sedih melihat keadaan istrinya.
Dengan sisa kekuatan Floretta berseru dengan suara lirih bergetar, "Ajari aku membencimu, Jarvis."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat itu, Floretta tidak sadarkan diri dalam pelukan Jarvis dengan tubuh basah mereka.